Butuh dua minggu bagi Kelana untuk merakit profil Sigit Prawira, dan ketika selesai, yang paling mengganggu Renjana bukan apa yang ada di dalamnya — melainkan betapa sedikit yang ada.
"Tidak ada apa-apa," kata Kelana, melempar tablet ke meja dengan frustrasi. Lengannya sudah pulih, tapi suaranya masih membawa jejak malam terowongan. "Aku menggali orang ini sampai ke akar. Biasanya ada sesuatu — utang tersembunyi, selingkuhan, kebiasaan judi, keluarga yang bisa ditekan, foto memalukan. Setiap orang punya kerangka dalam lemari. Sigit Prawira tidak punya lemari."
Renjana mengambil tablet itu dan membaca. Kelana benar. Profil itu kosong dengan cara yang justru menakutkan.
Sigit Prawira, lima puluh dua tahun. Lahir di kota provinsi kecil dari keluarga guru. Cemerlang sejak kecil — peringkat satu di setiap sekolah, beasiswa akuntansi, lulus terbaik. Bekerja singkat di firma audit ternama, lalu menghilang dari dunia formal lima belas tahun lalu untuk masuk ke bayangan Wijanarko Group. Tidak menikah. Tidak punya anak. Orang tuanya sudah meninggal. Tidak ada saudara dekat. Tinggal di apartemen sederhana — sederhana, padahal ia mengelola dana ratusan miliar — yang ia beli tunai dua puluh tahun lalu dan tak pernah direnovasi.
Tidak ada mobil mewah. Tidak ada rekening pribadi yang menggelembung mencurigakan. Tidak ada kekasih, tidak ada perselingkuhan, tidak ada kebiasaan buruk. Ia berangkat kerja pukul enam pagi dan pulang pukul sebelas malam. Makan di tempat yang sama setiap hari. Membaca jurnal keuangan. Berolahraga dengan disiplin militer. Tidak punya teman yang bisa ditemukan.
"Dia tidak mencuri untuk dirinya sendiri," kata Renjana pelan, menyadari implikasinya. "Itu yang membuatnya berbeda dari Hendra, dari Yuda, dari hampir semua orang di organisasi ini. Mereka semua mencuri. Sigit tidak. Dia mengelola pencurian dengan sempurna, tapi ia sendiri tidak mengambil sepeser pun lebih dari gajinya."
"Kenapa?" Arsa, yang baru tiba, melepas jaketnya. "Siapa yang mengelola pencucian uang ratusan miliar dan tinggal di apartemen butut?"
"Seseorang yang tidak peduli pada uang," jawab Renjana. "Seseorang yang peduli pada... permainannya. Sigit bukan pencuri. Sigit seniman. Uang baginya bukan tujuan — itu bahan baku. Dia menikmati membangun struktur yang tak bisa dibongkar siapa pun. Itu satu-satunya hal yang ia cintai. Bukan hasilnya. Prosesnya. Kerumitannya. Keindahannya."
Renjana menyandar di kursi, memikirkan musuh ini dengan rasa hormat yang dingin dan waspada. Ia pernah menghadapi orang yang serakah — mudah, beri mereka lebih banyak dari yang bisa mereka tolak. Ia pernah menghadapi orang yang takut — mudah, tunjukkan jurang di bawah kaki mereka. Tapi orang yang tidak menginginkan apa pun dari dunia luar adalah benteng tanpa gerbang. Tak bisa disuap. Tak bisa diancam. Tak bisa dirayu.
"Dia tak bisa diserang lewat moral, karena dia tak punya yang bisa kita cabik," lanjut Renjana. "Tak bisa lewat keserakahan, karena dia tak serakah. Tak bisa lewat cinta atau takut, karena dia tak mencintai siapa pun dan tampaknya tak takut apa pun." Ia menatap profil kosong itu. "Tapi ada satu hal yang dimiliki setiap seniman, Arsa. Dan itu yang akan menghancurkannya."
"Apa?"
"Kebanggaan." Renjana mengetuk layar di mana satu baris menonjol — bukan rahasia memalukan, tapi sebaliknya. Dalam wawancara langka di sebuah jurnal akuntansi profesional, dua belas tahun lalu, sebelum ia masuk bayangan, Sigit muda pernah berkata: *Sebuah laporan keuangan yang sempurna adalah seperti bangunan yang dirancang dengan benar — tidak ada satu balok pun yang bisa dicabut tanpa meruntuhkannya, dan tidak ada satu balok pun yang berlebih. Kesalahan adalah dosa. Saya tidak membuat kesalahan.*
"Saya tidak membuat kesalahan," ulang Renjana lirih. "Itu bukan deskripsi pekerjaan. Itu identitas. Itu seluruh dirinya. Sigit Prawira telah membangun citra diri di atas satu pilar: bahwa ia tak pernah keliru, bahwa ia melihat segalanya, bahwa tak ada angka yang lolos dari matanya, tak ada struktur yang bisa dibangun orang lain yang tak bisa ia bongkar." Ia menatap Arsa dan Kelana. "Jadi inilah yang akan kita lakukan. Kita tidak akan menyerangnya. Kita akan membangun sesuatu di bawah hidungnya — sebuah struktur, sebuah kesalahan yang ia tak lihat, sebuah angka yang tak cocok yang lolos dari mata yang ia banggakan tak pernah meleset. Kita akan membuat akuntan yang tak pernah keliru, membuat satu kesalahan fatal."
"Dia akan curiga," kata Kelana. "Orang seperti itu memeriksa segalanya tiga kali."
"Ya. Dan justru kewaspadaannya yang akan kita pakai melawan dia." Renjana berdiri, dan untuk pertama kalinya sejak terowongan, ada api yang kembali di matanya — bukan api duka, tapi api seorang ahli strategi yang menemukan papan yang layak dimainkan. "Orang yang yakin tak pernah keliru punya titik buta yang sangat spesifik: dia tak pernah membayangkan bahwa kesalahan bisa ditanam dengan sengaja, oleh seseorang yang sama pintarnya dengannya, untuk dibongkar oleh orang ketiga pada waktu yang tepat. Dia memeriksa segalanya untuk mencari kesalahannya sendiri. Dia tak akan pernah memeriksa untuk mencari kesalahan yang dirancang agar dia tak menemukannya."
Ia berjalan ke jendela, menatap menara-menara kaca kota Pradipa, di salah satunya Sigit Prawira sedang duduk di mejanya hingga larut, membangun labirin yang ia kira sempurna.
"Aku akan mendekatinya bukan sebagai musuh," kata Renjana. "Tapi sebagai satu-satunya orang di dunia ini yang cukup pintar untuk ia anggap setara. Aku akan menawarinya sesuatu yang lebih menggoda dari uang bagi orang seperti dia: lawan main yang layak. Sebuah teka-teki. Dan saat dia mulai bermain denganku — saat egonya membuatnya tak bisa menolak permainan yang menantang — di situlah aku akan menanam balok yang akan meruntuhkan seluruh bangunannya."
Catur dimulai. Lawan yang paling dingin. Papan angka. Dan satu-satunya cara menang adalah membuat sang juara mengalahkan dirinya sendiri.