Renjana mendekati Sigit Prawira lewat satu-satunya bahasa yang bisa menembus benteng dinginnya: keunggulan profesional.
Ia memakai posisinya sebagai tangan kanan Pak Wira. Wira, yang kini telah memilih berdiri penuh di pihaknya, menyetujui rencana itu setelah mendengarnya — dengan peringatan tua dan sinis: "Kau bermain dengan orang yang menjadikan angka agamanya. Jangan biarkan satu desimal pun ceroboh. Orang seperti itu mencium kebohongan dalam pembulatan."
Tawarannya elegan dalam kesederhanaannya. Wira Capital, kata Renjana pada Reksa di sebuah rapat, ingin masuk ke struktur investasi bersama Wijanarko Group — sebuah dana ventura lintas negara untuk proyek infrastruktur pelabuhan kawasan. Dana besar, sah, menguntungkan kedua pihak. Tapi untuk dana sebesar itu, dengan kerumitan lintas yurisdiksi, dibutuhkan arsitektur keuangan yang sempurna. Dan Renjana, dengan kerendahan hati yang diperhitungkan, mengatakan ia ingin bekerja langsung dengan "orang terbaik di organisasi Wijanarko untuk hal semacam ini."
Reksa, yang egonya tergelitik oleh validasi atas timnya, menugaskan Sigit Prawira.
Pertemuan pertama berlangsung di ruang rapat steril di lantai tiga puluh delapan menara Wijanarko. Sigit datang tepat waktu, mengenakan kemeja abu-abu polos, membawa satu map dan satu pena. Tidak ada basa-basi. Matanya — Renjana mencatat — adalah mata yang membaca orang seperti membaca neraca: mencari ketidakseimbangan, mencari pos yang tak cocok.
"Bu Renjana," kata Sigit, suaranya datar dan presisi. "Saya sudah membaca proposal struktur Anda. Ada tujuh hal yang akan saya ubah."
"Saya menghitung sembilan," jawab Renjana tenang. "Tapi dua di antaranya sengaja saya biarkan untuk melihat apakah Anda menangkapnya."
Untuk pertama kalinya, ada jeda mikroskopis dalam ekspresi Sigit. Bukan senyum — orang ini mungkin tak pernah tersenyum. Tapi sesuatu di matanya bergeser. Ketertarikan. Predator yang mengenali predator lain.
"Tunjukkan dua itu," katanya.
Renjana menunjukkannya. Keduanya nyata, cerdas, kesalahan terstruktur yang ia tanam sengaja sebagai umpan untuk membuktikan ia layak. Sigit memeriksanya, mengangguk satu kali, dan untuk sisa pertemuan dua jam itu mereka berbicara dalam bahasa yang hanya bisa diikuti oleh segelintir orang di dunia — bahasa lapisan kepemilikan, arbitrase pajak, struktur cangkang, titik konsolidasi. Dua master mengukur satu sama lain di atas papan.
Dan inilah keindahan dingin dari rencana Renjana: ia tidak menanam kesalahannya di pertemuan pertama. Ia membangun kepercayaan lebih dulu. Selama tiga minggu, ia menjadi satu-satunya lawan bicara yang Sigit anggap setara — satu-satunya orang yang menantang angkanya, menemukan celah kecilnya, memaksa otaknya bekerja. Bagi seorang seniman yang sepuluh tahun bekerja sendirian di menara dingin, dikelilingi orang-orang bodoh yang hanya menginginkan uang, menemukan lawan main yang layak adalah candu yang lebih kuat dari narkotika apa pun.
Sigit mulai menanti pertemuan itu. Renjana melihatnya. Cara ia datang lebih awal. Cara ia menyiapkan tantangan kecil untuk diuji pada Renjana, seperti pecatur menyiapkan pembukaan baru. Egonya, yang tak pernah punya pintu, telah membuka satu untuk satu-satunya hal yang bisa memikatnya: pengakuan dari yang setara.
Di situlah Renjana menanam baloknya.
Dalam struktur dana ventura yang mereka bangun bersama, di antara ratusan transaksi sah dan rumit, Renjana menyisipkan satu rangkaian — disebar tipis-tipis melintasi empat yurisdiksi dan sembilan entitas — yang menciptakan ketidaksesuaian yang sangat halus. Bukan kesalahan kasar yang akan tertangkap audit biasa. Sebuah anomali yang dirancang berlapis: jika kau memeriksa setiap entitas sendiri-sendiri, semua seimbang sempurna. Hanya jika seseorang dengan keahlian forensik tinggi mengkonsolidasikan keempat yurisdiksi pada satu titik waktu yang spesifik — sebuah konsolidasi yang takkan pernah dilakukan dalam operasi normal — barulah selisihnya muncul. Selisih yang akan tampak persis seperti penggelapan dana yang mengalir keluar dari sistem Wijanarko ke tangan yang tak dikenal.
Penggelapan yang, di mata Reksa nanti, hanya bisa dilakukan oleh orang yang merancang seluruh struktur itu.
Oleh Sigit Prawira sendiri.
Renjana menanamnya dengan tangan Sigit. Itu bagian paling elegan dan paling kejam. Ia memancing Sigit untuk membuat keputusan-keputusan struktural tertentu — masing-masing tampak optimal, masing-masing pilihan profesional yang Sigit ambil sendiri karena merasa itu solusi terbaik — yang secara kolektif merangkai jebakan. Sigit menandatangani setiap langkah. Sidik jarinya ada di seluruh struktur. Renjana tak meninggalkan jejaknya sendiri; ia hanya membimbing, menyarankan, membiarkan kebanggaan Sigit menyelesaikan kalimat-kalimatnya.
Pada minggu keempat, struktur itu lengkap. Cantik. Mematikan. Tertidur seperti ranjau, menunggu satu konsolidasi forensik untuk meledak.
Tapi Sigit Prawira bukan orang bodoh, dan inilah momen yang membuat tangan Renjana, untuk sesaat, terasa dingin.
Di akhir pertemuan terakhir, saat mereka menutup map, Sigit tidak segera berdiri. Ia menatap Renjana dengan mata datarnya yang membaca neraca, lama, terlalu lama.
"Bu Renjana," katanya pelan. "Dalam dua puluh tahun, saya belum pernah bertemu orang yang berpikir seperti saya. Itu... menyenangkan." Jeda. "Tapi membuat saya bertanya. Struktur yang kita bangun ini sempurna. Terlalu sempurna untuk sebuah dana ventura biasa." Matanya menyipit sepersekian milimeter. "Saya merasa seperti sedang memainkan permainan yang papannya sudah ditata oleh orang lain sebelum saya duduk. Dan saya tidak suka perasaan itu. Karena saya selalu yang menata papan."
Renjana tidak berkedip. Setiap saraf di tubuhnya tenang, dingin, terkontrol — tujuh tahun latihan berkumpul dalam satu momen.
"Pak Sigit," ia menjawab dengan senyum tipis yang sempurna, "kalau Anda merasa ada tangan lain di papan ini, periksalah. Bongkar setiap balok. Itu hak Anda. Saya justru akan kecewa kalau Anda tidak melakukannya." Ia menutup mapnya, tenang. "Tapi saya rasa yang sebenarnya Anda rasakan bukan kecurigaan. Itu sesuatu yang lebih jarang Anda alami. Anda tidak terbiasa menemukan seseorang yang bisa mengikuti Anda. Itu membuat Anda waspada. Manusiawi sekali."
Itu pukulan yang sempurna — menyangkal tuduhan dengan memujinya, mengarahkan kecurigaan Sigit kembali ke dalam, ke ego-nya sendiri yang tak terbiasa pada kesetaraan, bukan ke luar, ke jebakan yang sebenarnya ada.
Sigit menatapnya satu detik lebih lama. Lalu ia berdiri, mengangguk satu kali, dan pergi.
Tapi saat pintu tertutup, Renjana mengembuskan napas yang ia tahan, dan ia tahu — orang ini bukan Hendra, bukan Hartono. Sigit mencium sesuatu. Mungkin tak cukup untuk menemukan jebakannya, tapi cukup untuk membuatnya memeriksa, memeriksa lagi, mencari tangan tak terlihat yang menata papan.
Catur belum selesai. Ranjau sudah tertanam, tapi lawan kini tahu ada ranjau di suatu tempat. Pertanyaannya sekarang bukan apakah Sigit akan mencari — tapi siapa yang akan menemukan selisih itu lebih dulu: Reksa, yang akan menghukum mati pengkhianatnya, atau Sigit sendiri, yang akan membongkar perangkap sebelum ia jatuh ke dalamnya.
Renjana mengemasi dokumennya, melangkah ke lift lantai tiga puluh delapan, dan menatap pantulan dirinya di pintu baja yang mengilap. Untuk pertama kalinya dalam permainan ini, ia menghadapi seseorang yang mungkin sama pintarnya dengannya. Dan ia tahu, kemenangan kali ini takkan datang dari kekuatan — tapi dari satu detik, satu langkah, satu napas lebih cepat dari musuh yang sama dinginnya dengan dirinya.
Lift menutup. Angka turun. Dan di suatu tempat di menara yang sama, sang akuntan tanpa wajah mulai membongkar papannya sendiri, mencari hantu yang Renjana tanam di sela-sela angka.