Reksa Wijanarko tidak pernah memanggil seseorang ke lantai empat puluh kecuali ia hendak mengukur isi nyali orang itu sampai ke dasar.
Renjana tahu itu sejak ia melihat nama Arsa muncul di kalender ruang direksi pagi itu, jadwal yang tidak melewati sekretaris, tidak tercatat di sistem, hanya satu baris pendek di layar Reksa yang sempat ia intip saat membawa berkas audit triwulan. Pukul sepuluh. Arsa Wijanarko. Tanpa agenda. Tanpa saksi.
Ia mengirim satu pesan ke ponsel sekali pakai yang ia titipkan pada Arsa minggu lalu. Tiga kata. *Apa pun, dingin.*
Balasannya datang lambat, dan itu yang membuat dada Renjana mengeras. Arsa tidak pernah lambat membalas kecuali tangannya gemetar.
Reksa duduk membelakangi kaca, kota Pradipa terbentang di bawahnya seperti papan catur yang sudah ia menangkan sejak lama. Ia tidak mempersilakan Arsa duduk.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu," kata Reksa.
"Tidak, Om." Arsa berdiri tegak. Renjana mengamati semuanya dari sudut ruang rapat kecil di seberang koridor, lewat celah pintu yang sengaja ia biarkan terbuka, pura-pura menyusun dokumen yang sudah ia susun tiga kali.
"Ada yang menggerogoti kita dari dalam." Reksa memutar kursinya perlahan. "Hendra jatuh. Hartono menghilang seperti tikus. Sekarang Sigit gelisah soal angka yang katanya tak pernah ia tulis. Aku tidak percaya pada kebetulan, Arsa. Aku percaya pada tangan."
"Aku tidak mengerti hubungannya denganku."
"Tentu kau tidak." Reksa tersenyum, dan senyum itu adalah hal paling berbahaya yang dimiliki Reksa, lebih berbahaya dari Damar dan seluruh regunya. "Karena itu aku akan memberimu kesempatan membuktikan kau bukan tangan itu."
Ia mendorong sebuah map tipis ke ujung meja.
"Ada orang bernama Yusuf di gudang dermaga tujuh. Mantan pegawai Hendra. Dia tahu terlalu banyak soal jalur lama, dan dia mulai bicara pada orang yang salah. Damar sudah menemukannya. Aku ingin kau yang menutup mulutnya."
Ruangan menjadi sunyi. Renjana berhenti membalik kertas.
"Menutup," ulang Arsa.
"Membayar dia diam, mengusirnya dari kota, atau—" Reksa membiarkan kalimat itu menggantung seperti pisau di langit-langit. "Damar akan menemanimu. Aku ingin tahu kau bisa kotor atau tidak, keponakanku. Karena keluarga yang tidak bisa kotor adalah keluarga yang akan mengkhianatiku saat aku berdarah."
Itulah ujiannya. Bukan apakah Arsa setia. Apakah Arsa bersedia berlumur.
Renjana mengatur napasnya. Tujuh tahun ia berlatih untuk tetap dingin, dan ia memerlukan setiap detik latihan itu sekarang, karena yang ia inginkan adalah berdiri dan menarik Arsa keluar dari ruangan itu. Yang tidak bisa ia lakukan. Yang tidak akan pernah ia lakukan.
Sebaliknya, ia bergerak.
Sore itu, sebelum Damar dan Arsa berangkat ke dermaga tujuh, Renjana sudah lebih dulu di sana. Bukan secara fisik—itu bunuh diri—tapi melalui Kelana, yang ia minta menanam dirinya sebagai mata di sistem kamera gudang dan, lebih penting, melalui Yusuf sendiri. Ia mengirim Yusuf sebuah pesan dengan nomor yang tak bisa dilacak: *Reksa mengirim orang malam ini. Salah satunya akan menyelamatkanmu kalau kau menurut. Saat dia memberimu amplop, ambil, naik bus terakhir ke utara, jangan pernah kembali. Diam adalah hidupmu.*
Ia menyiapkan amplopnya sendiri. Uang yang cukup untuk seseorang menghilang. Ia menyelipkannya ke saku jaket yang akan Arsa pakai, lewat satu pertukaran cepat di lift parkir yang berlangsung tujuh detik, tangan menyentuh tangan, dan untuk tujuh detik itu mereka tidak berkata apa-apa.
"Kau tidak perlu menjadi seperti mereka," bisik Renjana. "Kau hanya perlu terlihat seperti mereka. Beri dia amplop ini. Yusuf sudah tahu harus pergi. Damar akan melihat orang yang kabur ketakutan, dan itu cukup."
Arsa menatapnya. Di mata itu ada sesuatu yang membuat Renjana harus berpaling. "Bagaimana kalau Damar ingin lebih dari sekadar kabur?"
"Maka kau biarkan aku yang memastikan dia tidak. Kelana sudah di sistem. Bus terakhir berangkat sepuluh menit setelah kalian tiba. Yusuf akan sudah pergi sebelum Damar sempat berpikir." Ia menelan sesuatu yang pahit. "Aku tidak akan membiarkanmu membunuh, Arsa. Bukan untuk Reksa. Bukan untuk dendamku."
Malam itu berjalan seperti yang ia susun. Yusuf, ketakutan dan patuh, menerima amplop, lalu lenyap ke dalam bus utara seperti uang yang dicuci—ada lalu tiada. Damar berdiri di bibir dermaga, menyalakan rokok, menatap lampu belakang bus yang menjauh, dan tidak melihat apa pun selain seorang pengecut yang lari. Arsa lulus. Ujiannya jadi abu yang tidak meninggalkan jejak.
Tapi harga ujian itu baru terasa di apartemen aman tiga jam kemudian, saat Arsa muncul di pintu Renjana, tangannya masih gemetar, wajahnya pucat dari sesuatu yang lebih dalam dari ketakutan.
"Aku hampir," katanya. "Di mobil tadi, Damar bilang kalau Yusuf melawan, aku yang harus. Dan aku—aku memegang sesuatu di sakuku, Renjana, dan aku tidak tahu apakah aku akan benar-benar berhenti."
Renjana menariknya masuk, menutup pintu, dan untuk sekali ini ia tidak menghitung. Tidak menyusun. Tidak menimbang risiko. Ia hanya memegang wajah Arsa di antara kedua telapaknya, kulit yang dingin, dan berkata, "Tapi kau berhenti. Kau tidak melakukannya. Itu yang membedakanmu dari mereka. Itu yang akan selalu membedakanmu."
"Bagaimana kalau suatu hari aku tidak berhenti?"
"Maka aku akan ada di sana untuk menghentikanmu." Suaranya retak di kata terakhir. "Seperti kau menghentikanku."
Mereka berdiri di sana, dua orang yang menyamar di sarang yang sama, yang sepanjang hidup belajar tidak mempercayai siapa pun, dan jarak di antara mereka runtuh tanpa keputusan, tanpa rencana, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun Renjana melakukan sesuatu yang tidak ia perhitungkan terlebih dahulu. Ciuman itu rasanya seperti bernapas setelah lama tenggelam—dan ia tahu, bahkan saat bibir mereka bertaut, bahwa ia baru saja memberi Reksa Wijanarko sebuah senjata. Karena sekarang ia punya sesuatu yang bisa hilang.
"Ini bodoh," bisiknya, dahi menempel di dahi Arsa.
"Aku tahu."
"Mereka akan menggunakan ini melawan kita kalau mereka tahu."
"Aku tahu." Arsa menutup matanya. "Tapi aku sudah tujuh tahun mati rasa karena diam di malam itu. Izinkan aku merasakan satu hal yang bukan rasa bersalah."
Renjana tidak menjawab. Ia hanya membiarkan dirinya, untuk satu malam, menjadi manusia alih-alih alat. Dan di suatu tempat di belakang kepalanya, suara Karyo yang sudah lama mati berbisik—*kalau jadi monster, ingat jalan pulang*—dan untuk pertama kalinya, ia menyadari jalan pulang itu mungkin bukan tempat. Mungkin orang.
Itu menakutkan lebih dari apa pun yang pernah Reksa lakukan padanya.