Pagi setelah ia membiarkan dirinya menjadi manusia, Renjana kembali menjadi pisau.
Permainan dengan Sigit Prawira telah memasuki babak yang ia rancang berminggu-minggu: kolaborasi investasi rumit yang ia sisipkan kesalahan terstruktur ke dalamnya, jebakan yang hanya bisa dibongkar oleh audit forensik yang tak akan dilakukan Reksa kecuali ia sudah curiga. Tapi untuk memasang jebakan itu, Renjana harus terlebih dahulu memetakan ke mana uang Sigit benar-benar mengalir. Dan di sanalah, di antara baris-baris transaksi yang lebih bersih dari air destilasi, ia menemukan sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.
Kelana mengirim datanya pukul tiga pagi, terenkripsi tiga lapis, dengan satu catatan: *Aku tarik benang Sigit sampai ujung. Sebagian besar pulang ke Wijanarko lewat cangkang. Tapi ada satu kolam yang tidak. Aku gak ngerti yang ini, Bos. Lihat sendiri.*
Renjana melihat sendiri.
Ada sebuah rekening tujuan, di yurisdiksi yang bahkan Sigit—arsitek labirin yang seharusnya tahu setiap belokannya—memperlakukan dengan kehati-hatian yang aneh. Setiap transfer ke rekening itu dipecah, dilapis, dikirim lewat tiga negara, dan tidak pernah, sekali pun, kembali ke Wijanarko Group. Uang itu masuk dan tidak pernah keluar. Seperti persembahan. Seperti upeti.
Dan di kolom referensi internal—kolom yang seharusnya hanya berisi kode angka—satu transaksi memiliki dua huruf yang lolos dari sistem pembersihan otomatis Sigit, mungkin karena tergesa, mungkin karena bahkan Sigit takut menyentuh entri ini terlalu lama.
PA.
Renjana menatap dua huruf itu sampai matahari naik.
Ia sudah membangun seluruh dendamnya di atas satu asumsi: bahwa Reksa Wijanarko adalah puncak. Raja di lantai empat puluh, tangan yang memerintahkan pembantaian keluarganya, sosok terakhir yang harus ia jatuhkan sebelum buku catatan empat nama itu bisa ditutup. Tujuh tahun ia mengasah pisaunya untuk satu leher.
Tapi rekening ini bukan milik Reksa. Renjana mengenali pola pengeluaran Reksa lebih baik daripada Reksa sendiri—kapal pesiar, properti, suap rutin pada Wibowo, dana operasi Damar. Reksa membelanjakan uang seperti orang yang yakin tidak akan pernah ditagih. Tapi pada rekening PA, ia mengirim uang seperti orang yang takut. Seperti orang yang membayar agar tetap hidup.
Reksa Wijanarko, yang Renjana kira sebagai monster paling tinggi di puncak rantai makanan, sedang membayar upeti pada sesuatu di atasnya.
Ia menelepon Pak Wira sebelum jam tujuh.
"Kau membangunkan orang tua," gerutu Wira di seberang, meski Renjana tahu lelaki itu sudah lama bangun, sudah membaca koran ekonomi, sudah menghitung dunia.
"Pak Wira, kalau seseorang seperti Reksa—seseorang yang merasa dirinya raja—mengirim uang dalam jumlah besar ke satu tempat dan tidak pernah mengambilnya kembali, apa artinya?"
Hening sejenak di seberang. Suara cangkir diletakkan. Ketika Wira berbicara lagi, nadanya berubah—lebih tua, lebih hati-hati, suara orang yang pernah melihat raja-raja jatuh.
"Artinya dia bukan raja, Nak. Artinya dia gubernur yang membayar pajak ke kaisar yang tidak pernah ia lihat wajahnya secara terbuka. Di dunia yang kau masuki, uang yang mengalir ke atas tanpa kembali hanya punya satu nama: perlindungan. Reksa membeli izin untuk tetap ada." Wira berhenti. "Pertanyaannya bukan ke mana uang itu pergi. Pertanyaannya adalah siapa yang cukup besar sampai Reksa Wijanarko sendiri membayarnya seperti pengecut. Dan kalau kau benar-benar menemukan orang itu—berhenti. Pulang. Karena itu bukan lagi dendam, Nak. Itu perang."
Renjana menutup telepon dan duduk lama di kegelapan apartemennya, dua huruf itu berputar di kepalanya.
Ia memikirkan ayahnya. Bramantyo Mahendra, akuntan jujur yang melaporkan pencucian uang ke polisi—dan dibantai untuk itu. Tujuh tahun Renjana percaya laporan itu mengancam Reksa. Tapi kalau Reksa hanya gubernur, kalau ada kaisar di atasnya, maka mungkin laporan ayahnya tidak pernah benar-benar tentang Reksa sama sekali.
Mungkin ayahnya menemukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang membuat orang di atas Reksa memerintahkan bukan sekadar pembunuhan, tapi pemusnahan—seluruh keluarga, dibakar sampai ke akar, seakan keberadaan mereka sendiri adalah ancaman.
Mungkin mereka menyisakan Dani hidup bukan karena belas kasih. Karena Dani tahu sesuatu. Atau memiliki sesuatu. Sesuatu yang sangat berharga bagi kaisar yang membayar tidak pernah dilihat.
Renjana membuka buku catatannya yang lama, halaman dengan empat nama. Damar. Hartono. Bagas. Reksa. Tinta yang sudah memudar tujuh tahun.
Di bawahnya, dengan tangan yang sangat tenang, ia menulis dua huruf baru.
PA.
Dan ia tahu, dengan kepastian dingin yang sama dengan kepastian saat ia bangun di tepi sungai tujuh tahun lalu, bahwa dendamnya baru saja berlipat ganda menjadi sesuatu yang lebih besar dari satu lelaki di lantai empat puluh. Sesuatu dengan akar yang menjalar ke tempat-tempat di mana uang menjadi kekuasaan, dan kekuasaan menjadi kekebalan.
Ia perlu nama. Dan untuk menemukan nama itu tanpa mati lebih dulu, ia perlu menjadi lebih sabar, lebih dingin, dan lebih cerdas dari yang pernah ia bayangkan.