Ruang arsip Otoritas Jasa Keuangan di lantai dasar gedung pemerintah Kota Pradipa adalah tempat yang dilupakan orang—dingin, berdebu, diterangi lampu neon yang berkedip seperti jantung sekarat. Renjana datang dengan surat kuasa atas nama perusahaan investasi Wira, permintaan yang sah secara hukum untuk menelaah dokumen registrasi cangkang yang sudah dibubarkan. Sebuah alasan yang tak akan menarik perhatian, kecuali bagi orang yang sudah tahu ke mana harus melihat.
Ia mencari jejak rekening PA mundur ke hulu—mencoba menemukan perusahaan pertama yang pernah mengirim uang ke kolam yang tak pernah surut itu, perusahaan yang mungkin masih menyimpan nama direktur asli di formulir kertas tua yang belum sempat dibersihkan oleh tangan-tangan seperti Sigit.
Ia tidak menyadari ada orang lain di lorong rak yang sama sampai sebuah suara berkata, "Kotak G-empat-belas, kalau Anda mencari registrasi cangkang tahun itu. Saya baru saja mengembalikannya."
Renjana berbalik perlahan, wajahnya sudah netral sebelum ia sempat memikirkannya.
Seorang perempuan berdiri di ujung rak, jas abu-abu sederhana, rambut diikat ketat, dan mata yang membuat Renjana langsung tahu bahwa ini bukan pegawai arsip. Mata itu mengukur, mengkalkulasi, menyimpan. Mata yang sama dengan miliknya sendiri.
"Terima kasih," kata Renjana datar, mengambil kotak yang ditunjuk.
Perempuan itu tidak pergi. Ia bersandar di rak, menyilangkan tangan, menatap dengan keingintahuan yang tidak ia sembunyikan sama sekali—dan justru itu yang membuat Renjana waspada. Orang yang tidak menyembunyikan keingintahuannya biasanya sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar.
"Inspektur Larasati," kata perempuan itu. "Unit kejahatan keuangan."
Renjana merasakan udara di ruangan itu mengencang. Ini dia. Mata yang sudah berminggu-minggu ia rasakan membuntuti dari kejauhan, pola yang Kelana peringatkan—nama Renjana Asmara yang selalu muncul tepat sebelum guncangan di lingkaran Wijanarko. Selama ini ia membayangkan sang penyidik sebagai bayangan abstrak. Sekarang bayangan itu berdiri tiga meter darinya, di lorong yang sama, menarik benang yang sama.
"Renjana Asmara," ia membalas, menyodorkan tangan dengan ketenangan yang ia latih bertahun-tahun. "Konsultan investasi. Saya tidak tahu OJK mengirim inspektur untuk membaca arsip lama."
"Saya tidak dikirim." Laras menjabat tangannya—genggamannya kuat, kering, tidak ramah, tidak bermusuhan. Profesional. "Saya memilih datang. Ada pola transaksi yang menarik perhatian saya. Cangkang-cangkang yang mati lalu hidup lagi, uang yang berputar tanpa pernah menghasilkan apa pun. Anda tahu, hal-hal yang tidak masuk akal sebagai bisnis tapi sangat masuk akal sebagai sesuatu yang lain."
"Pencucian," kata Renjana.
Sesuatu berkedip di mata Laras. "Anda mengucapkannya dengan sangat santai untuk seorang konsultan investasi."
"Saya menghabiskan hidup saya membaca laporan keuangan, Inspektur. Saya kenal aroma uang kotor seperti petani kenal aroma hujan." Renjana membiarkan setengah senyum muncul. "Tapi mengenali aromanya dan terlibat di dalamnya adalah dua hal berbeda."
"Tentu saja." Laras tidak balas tersenyum. Ia menatap kotak di tangan Renjana, lalu kembali ke wajahnya. "Boleh saya tanya cangkang mana yang sedang Anda telusuri? Demi efisiensi. Mungkin kita mencari hal yang sama."
Dan di sanalah ujungnya. Renjana tahu, dengan kepastian dingin, bahwa mereka memang mencari hal yang sama. Mereka berdua sedang menarik benang yang berujung pada dua huruf yang sama. PA. Sebuah aliansi tak terucap berdiri di antara mereka seperti hantu—dua pemburu mengejar monster yang sama, dari dua sisi yang berlawanan, satu lewat hukum, satu lewat pisau.
Tapi mengaku berarti mati. Karena jika Laras menarik benang PA cukup jauh, suatu hari ia akan menemukan mayat-mayat yang berjatuhan di sekitar Renjana—Hendra di penjara, Hartono menghilang, Wira yang akan terluka, dan entah berapa banyak lagi. Benang yang sama yang menuntun ke kebenaran juga menuntun ke jeruji untuk Renjana sendiri.
"Saya hanya membersihkan portofolio klien," kata Renjana, menutup kotak. "Memastikan kami tidak pernah bersinggungan dengan cangkang yang dipertanyakan. Uang yang bersih harus tetap bersih, Inspektur. Anda lebih dari siapa pun mengerti itu."
Laras menatapnya lama. Cukup lama untuk Renjana tahu ia tidak sepenuhnya tertipu. Cukup lama untuk Renjana tahu bahwa ini bukan terakhir kalinya.
"Tentu," kata Laras akhirnya, mengambil tasnya. Di pintu, ia berhenti. "Tn. Asmara. Saya akan memberi Anda satu nasihat gratis, dari satu orang yang membaca angka kepada orang lain. Ketika Anda menarik benang yang sangat panjang—pastikan Anda tahu apa yang ada di ujungnya. Karena kadang yang di ujung benang bukan kebenaran. Kadang itu jaring laba-laba, dan Anda baru menyadarinya saat sudah terjerat."
Lalu ia pergi, langkahnya tegas di lantai yang dingin.
Renjana berdiri sendirian di antara rak-rak berdebu, jantungnya berdetak dengan irama yang ia kenali sebagai bahaya. Ia baru saja berhadapan langsung dengan ancaman gandanya, dan menemukan bahwa pemburunya tidak korup—justru itu yang membuatnya jauh lebih berbahaya, dan, dalam pikiran terjauh yang belum berani ia sentuh, jauh lebih berguna.
Suatu hari, pikirnya, ia mungkin akan butuh perempuan ini. Hari ini, ia hanya perlu tidak tertangkap olehnya.