Sigit Prawira tidak pernah membuat kesalahan. Itulah reputasinya, dan reputasi adalah satu-satunya tubuh yang dimiliki seorang akuntan hitam. Tanpa keluarga, tanpa kemewahan, tanpa cacat yang bisa dilihat, Sigit hidup di dalam kesempurnaan angkanya seperti pertapa di dalam guanya. Renjana sudah lama menyimpulkan bahwa lelaki itu tidak punya kelemahan moral untuk diserang. Yang ia punya hanyalah kesombongan—keyakinan total bahwa tidak ada tangan yang bisa menata papannya tanpa ia ketahui.
Maka di sanalah Renjana memukul.
Selama berminggu-minggu, lewat kolaborasi investasi yang tampak menggiurkan, Renjana menyusupkan kesalahan ke dalam struktur yang dikelola Sigit—bukan kesalahan kasar yang akan langsung ketahuan, tapi penyimpangan halus yang terakumulasi, selisih kecil yang, jika diaudit secara forensik, akan tampak persis seperti penggelapan. Dana yang seharusnya mengalir ke kolam PA tampak menyusut. Tidak banyak. Cukup untuk menimbulkan pertanyaan. Cukup untuk membuat seseorang seperti Reksa, yang membayar upeti pada kaisarnya dengan tangan gemetar, bertanya: ke mana sisa uangku?
Lalu Renjana membocorkannya. Bukan ke Reksa langsung—itu terlalu telanjang. Ia mengaturnya agar "audit internal rutin" yang ia usulkan kepada Reksa, dengan dalih memperketat keamanan setelah Hendra jatuh, menemukan selisih itu sendiri. Renjana hanya perlu mengangkat alis pada angka yang tepat, di rapat yang tepat, di hadapan mata Reksa yang sudah paranoid.
"Mungkin tidak ada apa-apa," kata Renjana dengan hati-hati, dalam rapat tertutup di lantai empat puluh. Ia mendorong kertas ke arah Reksa, kertas yang sudah ia susun agar mata Reksa langsung jatuh ke baris yang salah. "Tapi aliran ke rekanan luar negeri—yang kode internalnya saya tidak punya akses—berkurang dua koma sekian persen dari yang dicatat Pak Sigit di buku besar. Selisihnya kecil. Tapi pada angka sebesar ini..."
Renjana sengaja tidak menyebut huruf PA. Ia tidak perlu. Ia hanya perlu Reksa tahu, di dasar perutnya yang dingin, bahwa uang yang seharusnya sampai ke tempat yang tidak boleh kurang—telah berkurang.
Wajah Reksa tidak berubah. Tapi Renjana, yang telah menghabiskan berbulan-bulan mempelajari setiap kedutan wajah lelaki ini, melihat sesuatu lewat di sana—bukan kemarahan. Ketakutan. Ketakutan murni dari seseorang yang tahu apa yang terjadi pada orang yang menilap dari kaisar yang tidak terlihat.
"Sigit yang mengatur rekanan itu," kata Reksa pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Renjana.
"Saya yakin ada penjelasannya," kata Renjana, dan ketulusan palsu dalam suaranya adalah jarum terakhir. Karena orang yang membela tersangka di hadapan raja paranoid hanya memperdalam kecurigaan raja itu.
Dua hari kemudian, Sigit Prawira melakukan kesalahan pertamanya dalam sembilan tahun.
Renjana mendengarnya dari Kelana, yang menyadap komunikasi internal: Sigit, yang biasanya tak tergoyahkan, menghabiskan satu malam penuh menarik dan menyusun ulang transaksi-transaksi tiga bulan ke belakang, panik mencari sumber selisih yang tidak ia buat dan tidak bisa ia temukan, karena selisih itu memang tidak ada—itu ilusi yang Renjana lukis di antara angka-angka asli. Dalam kepanikannya, Sigit memindahkan dana antar-rekening untuk "menyeimbangkan buku" sebelum ada yang menyelidiki lebih dalam. Dan pemindahan dadakan itu, yang tidak terenkripsi dengan disiplin biasanya karena ia gemetar, meninggalkan jejak digital yang nyata—jejak pertama yang pernah Sigit tinggalkan.
Renjana menatap jejak itu di layarnya seperti pemburu menatap kaki yang masuk ke jerat.
Lalu ia melakukan langkah yang paling kejam, dan paling cerdas, dalam seluruh permainan ini. Ia mendekati Sigit. Bukan sebagai musuh. Sebagai penyelamat.
Mereka bertemu di kafe sepi di kaki menara, dua orang yang sama-sama membaca angka untuk hidup. Sigit tampak lebih tua dari biasanya, kantung di bawah matanya gelap, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang tidak ia sadari—orang sempurna yang retak.
"Reksa mencurigaimu," kata Renjana, tanpa basa-basi. "Aku tahu kau tidak menilap. Aku melihat datanya. Selisih itu anomali sistem, bukan pencurian. Tapi Reksa tidak akan mendengar penjelasan. Kau tahu apa yang terjadi pada orang yang dicurigai Reksa."
Sigit menatapnya, dan untuk pertama kalinya Renjana melihat sesuatu yang menyerupai manusia di balik topeng akuntan itu—rasa takut akan mati.
"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanya Sigit, suaranya tipis.
Renjana mencondongkan tubuh, suaranya menjadi lembut, hampir bersahabat. "Karena aku butuh seseorang yang mengerti angka sebaik aku. Dan karena orang sepertimu terlalu berharga untuk mati karena kesalahan yang tidak kau buat." Ia berhenti, membiarkan jerat itu mengencang dengan sendirinya. "Aku bisa melindungimu, Sigit. Tapi kau harus membiarkanku masuk. Aku perlu melihat seluruh peta agar bisa membuktikan kau tidak bersalah. Kau harus mempercayaiku."
Itu bohong yang dibangun di atas kebenaran—dua bahan paling berbahaya dalam genggaman Renjana.
Dan Sigit Prawira, akuntan tanpa wajah, untuk pertama kalinya dalam karier sempurnanya, mulai mempertimbangkan untuk membuka labirinnya kepada satu-satunya orang yang berpura-pura memegang lentera di kegelapan—orang yang justru menyalakan api itu sejak awal.