Damar tidak pernah berhenti berburu. Itulah yang membuatnya berbahaya—bukan kekejamannya, yang sudah Renjana kenal sejak aspal menghantam wajahnya tujuh tahun lalu, tapi kesabarannya. Damar memburu kebocoran di dalam organisasi Reksa dengan ketelatenan seekor anjing pelacak, mengikuti setiap aroma, mengeliminasi setiap kemungkinan, mempersempit lingkaran satu nama demi satu nama.
Dan benang yang ia ikuti, malam itu, membawanya ke Pak Wira.
Renjana baru menyadarinya terlambat. Ia melacak pola pergerakan Damar—kebiasaan yang ia bangun sejak menyadari betapa berbahayanya kepala keamanan itu—dan menemukan bahwa selama tiga hari terakhir, orang-orang Damar telah mengawasi kantor lama Wira, mengikuti mobilnya, memetakan rutinitasnya. Damar tidak tahu pasti siapa Renjana. Tapi ia tahu bahwa pemodal bernama Renjana Asmara muncul dari mana-mana, dan ia menarik benang ke belakang sampai menemukan sumber modal dan perlindungan: investor tua bernama Wira.
Renjana menelepon Wira lima kali malam itu. Tidak diangkat.
Ia mengemudi ke rumah Wira di pinggir kota dengan tangan mencengkeram kemudi sampai buku-buku jarinya memutih, melanggar setiap aturan kehati-hatian yang ia tegakkan selama tujuh tahun, karena ada hal-hal yang lebih besar dari kehati-hatian, dan Wira adalah salah satunya. Wira yang menemukannya sebagai akuntan muda yang dingin dan melihat sesuatu di matanya. Wira yang memberinya pintu masuk ke dunia Wijanarko. Wira yang, ketika Renjana akhirnya mengaku sebagian kebenaran, memilih berdiri di sisinya alih-alih menyelamatkan diri.
Ia menemukan mobil Wira di tikungan jalan menurun tiga kilometer dari rumahnya, ringsek menabrak pembatas beton, kap depan terlipat seperti kertas. Tidak ada bekas rem.
Polisi menyebutnya kecelakaan. Rem blong. Jalan licin. Orang tua mengemudi malam-malam. Tapi Renjana, berdiri di tepi jalan dalam gerimis dingin, menatap garis ban yang tidak ada di aspal, tahu persis apa ini. Ini pesan. Ini Damar memutus sumber. Ini cara dunia Reksa mengajari Renjana bahwa setiap orang yang ia cintai adalah leverage—persis pelajaran yang sama yang mereka berikan padanya lewat Dani, lewat keluarganya, lewat sungai.
Wira masih hidup ketika ambulans tiba. Hampir tidak.
Di ruang gawat darurat rumah sakit Pradipa, Renjana berdiri di balik kaca, menatap tim dokter bekerja di atas tubuh yang dulu begitu tajam dan sinis dan hidup, kini diam dan berdarah dan dikelilingi mesin yang berbunyi seperti hitungan mundur. Tulang rusuk patah menusuk paru. Pendarahan dalam. Tulang panggul hancur. Kalimat-kalimat dokter melayang di sekitarnya seperti asap.
Renjana tidak menangis. Ia sudah lama lupa caranya. Tapi sesuatu di dalam dadanya, sesuatu yang sempat mencair semalam di pelukan Arsa, membeku kembali—lebih keras, lebih tajam, lebih dingin dari sebelumnya. Godaan itu datang seperti air pasang: untuk berhenti bermain catur. Untuk berhenti dengan kesabaran dan kecerdasan dan jalur yang panjang. Untuk pergi ke rumah Damar malam ini juga dan melakukan pada lelaki itu apa yang lelaki itu lakukan pada keluarganya.
Ia berdiri di lorong rumah sakit yang sepi, menatap pantulan dirinya di kaca jendela gelap, dan untuk satu menit yang panjang dan mengerikan, ia tidak mengenali wajah yang menatap balik. Wajah itu adalah wajah seseorang yang siap membunuh. Wajah Reksa. Wajah Garda. Wajah yang sudah tujuh tahun ia bersumpah tidak akan ia kenakan.
*Kalau jadi monster, ingat jalan pulang.*
Renjana menutup matanya. Ia mengepalkan tangan sampai kukunya menggores telapaknya, sakit kecil yang nyata yang menariknya kembali dari tepi.
Bukan begini, ia berkata pada dirinya sendiri, suara di kepalanya tipis dan retak. Kalau aku membunuh Damar malam ini, aku membuktikan mereka benar—bahwa keluargaku, ayahku, hanyalah penghalang yang pantas disingkirkan oleh siapa pun yang cukup kejam. Kalau aku membunuh Damar malam ini, aku membunuh Bramantyo Mahendra untuk kedua kalinya.
Ia membuka matanya. Wajah di kaca masih dingin. Tapi kini ada keputusan di dalamnya—bukan untuk berhenti berburu, tapi untuk berburu dengan cara ayahnya akan berburu. Lewat kebenaran. Lewat bukti. Lewat keruntuhan yang sah dan total dan tak bisa dipulihkan. Damar akan jatuh. Tapi ia akan jatuh ke dalam jeruji, bukan ke dalam tanah, dan ia akan jatuh tahu persis siapa yang menjatuhkannya.
Arsa tiba menjelang fajar, basah oleh hujan, dan menemukan Renjana berdiri tak bergerak di lorong yang sama selama berjam-jam. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sebelahnya, dan menyelipkan tangannya ke dalam tangan Renjana yang dingin, dan menahannya di sana.
"Mereka tahu kita punya sesuatu untuk kehilangan," bisik Renjana akhirnya. "Itu kelemahan kita."
"Atau," kata Arsa pelan, "itu satu-satunya hal yang membedakan kita dari mereka."
Renjana menatap ke balik kaca, ke arah lelaki tua yang nyaris mati karena percaya padanya, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu selain dendam. Ia membiarkan dirinya berduka. Dan duka itu, ia menyadari, jauh lebih berat dari kebencian—tapi juga, entah bagaimana, jauh lebih jujur.