Wira selamat. Setelah operasi sembilan jam, setelah dua hari di mana mesin bernapas untuknya, ia membuka matanya pada hari ketiga dan, dengan suara yang nyaris tak terdengar, meminta perawat menyingkirkan bunga karena baunya membuatnya mual. Renjana, yang belum pulang sejak malam kecelakaan, hampir tertawa mendengarnya—suara getir yang lebih dekat ke isak daripada tawa. Hanya Wira yang akan terbangun dari ambang kematian untuk mengeluh tentang bunga.
Tapi lelaki yang berbaring di ranjang itu bukan lagi Wira yang sama. Tulang panggulnya hancur tak akan pernah pulih utuh; ia tidak akan berjalan tanpa bantuan lagi. Paru-parunya yang tertusuk meninggalkan napas yang pendek dan berbunyi. Tubuh yang dulu mengisi setiap ruangan dengan kehadirannya kini tampak kecil di antara seprai putih. Tapi matanya—mata sinis tua itu—masih tajam seperti pisau.
"Duduk," kata Wira, ketika kamar akhirnya sepi dari perawat. "Berdiri terus seperti penjaga makam membuatku merasa sudah mati."
Renjana duduk. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Mesin berdenyut pelan. Di luar jendela, Kota Pradipa berkilau dengan ratusan ribu lampu, masing-masing menyembunyikan transaksinya sendiri.
"Aku yang menyebabkan ini," kata Renjana akhirnya. Kalimat itu telah duduk di dadanya seperti batu sejak malam itu. "Damar mengikuti benang ke Bapak karena aku ceroboh. Karena aku membiarkan Bapak terlalu dekat."
"Jangan," kata Wira, dan kerasnya suara itu mengejutkan dari tubuh yang serapuh itu. "Jangan kau ambil ini sebagai dosamu, Nak. Aku tahu apa yang aku pertaruhkan ketika aku memilih berdiri di sisimu. Aku orang tua yang sudah membaca dunia ini terlalu lama untuk tidak tahu harganya. Aku memilih. Dan aku akan memilih lagi." Ia berhenti, mengatur napasnya yang pendek. "Tapi dengarkan aku baik-baik, karena aku tidak punya banyak napas untuk diboroskan."
Renjana mencondongkan tubuh.
"Aku melihat wajahmu malam kau mengira aku tidak akan bangun. Aku melihatnya dari balik obat dan rasa sakit. Wajah orang yang siap menyeberang garis." Mata Wira mengunci matanya. "Aku tahu wajah itu. Aku sudah melihatnya pada orang-orang seperti Reksa, dulu, sebelum mereka menjadi seperti sekarang. Mereka semua punya alasan baik untuk langkah pertama. Selalu ada alasan baik. Dan kemudian tidak ada lagi jalan kembali."
"Aku tidak melakukannya."
"Aku tahu kau tidak. Itu sebabnya aku masih bicara padamu seperti pada manusia, bukan pada bangkai." Wira menarik napas berbunyi. "Dengar. Dendam akan menjatuhkanmu kalau kau membiarkannya menjadi satu-satunya hal yang kau punya. Aku sudah lihat itu menghancurkan orang lebih kuat darimu. Tapi kau punya sesuatu yang mereka tidak punya. Kau punya adik yang masih hidup untuk diselamatkan. Kau punya anak Wijanarko yang menjaga punggungmu dan menatapmu seperti kau matahari. Kau punya alasan untuk menang yang bukan hanya alasan untuk membakar." Ia mencengkeram pergelangan Renjana dengan tangan yang gemetar tapi mengejutkan kuat. "Jangan bakar dunia, Nak. Bangun sesuatu di atas abu mereka. Itu balas dendam yang sebenarnya. Hidup. Hidup adalah dendam yang tak bisa mereka cabut darimu."
Renjana menelan, tenggorokannya kering.
Wira melepas cengkeramannya, lalu menunjuk lemari di sudut kamar dengan dagunya. "Map cokelat. Di dalam tas. Ambil."
Renjana mengambilnya. Di dalamnya ada dokumen—surat kuasa, akses akun, kunci brankas, daftar kontak yang tidak akan ditemukan di buku telepon mana pun. Sebuah peta dari kerajaan finansial kecil yang Wira bangun selama empat puluh tahun.
"Aku tidak akan bisa bertarung di garis depan lagi," kata Wira. "Tubuh tua ini sudah selesai untuk itu. Tapi uang tidak peduli apakah pemiliknya bisa berjalan. Semua yang aku punya—modal, koneksi, akses—sekarang ada di tanganmu. Pakai. Bukan untuk membakar Reksa. Untuk membuatnya bangkrut, telanjang, dan tak berdaya di hadapan hukum. Untuk membuat orang di atasnya, siapa pun PA itu, ikut runtuh bersamanya." Senyum tipis dan sinis muncul di bibir pucatnya. "Hancurkan mereka dengan cara yang membuat ayahmu bangga. Lewat angka. Lewat kebenaran. Itulah senjata keluarga Mahendra. Itulah senjata yang membunuh mereka—dan itulah senjata yang akan menjatuhkan mereka."
Renjana memegang map itu—amunisi yang baru saja berlipat ganda di tangannya—dan menyadari bahwa kesedihan dan kekuatan bisa datang dalam paket yang sama, terikat erat, tak terpisahkan.
"Aku akan menang, Pak," katanya pelan. "Tapi aku akan menang sebagai manusia."
"Itu," kata Wira, menutup matanya yang lelah, suaranya melayang ke ambang tidur, "satu-satunya kemenangan yang pernah berarti."
Renjana duduk di samping ranjang itu sampai napas Wira mereda menjadi tidur yang dalam dan teratur. Lalu ia berdiri, menyelipkan map cokelat itu ke dalam jaketnya, dan berjalan keluar ke malam Kota Pradipa dengan kesedihan yang mengeras—bukan menjadi racun, tapi menjadi tulang punggung.