Untuk pertama kalinya dalam pertemuan itu, Bagas tampak terkejut. Lalu, perlahan, ia tertawa—tawa serak orang tua yang sudah lama tidak menemukan sesuatu yang layak ditertawakan.
"Ayahmu juga begitu," katanya. "Selalu selangkah di depan. Kupikir kau hanya mewarisi matanya. Ternyata otaknya juga."
"Jangan bicara tentang ayah saya," potong Renjana, suaranya tiba-tiba sedingin es. "Anda tidak berhak."
Bagas mengangkat tangan, tanda menyerah. "Baik. Kalau begitu mari kita bicara bisnis. Aku punya sesuatu yang kau butuhkan, dan kau punya sesuatu yang aku butuhkan. Aku tidak peduli kau mengancamku tadi. Di usiaku, ancaman mati tidak lagi menakutkan. Yang menakutkan adalah mati tanpa melihat Reksa jatuh lebih dulu."
Renjana menimbang. Lelaki ini berbahaya—ia penutup kasus, ia pengecut yang membiarkan keadilan diinjak selama tujuh tahun. Tapi ia juga punya akses ke arsip kepolisian, ke nama-nama, ke bukti yang tak bisa Renjana sentuh dari luar.
"Apa yang Anda punya?" tanya Renjana akhirnya.
Bagas mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku jasnya. "Salinan berkas penyelidikan asli kasus keluargamu. Yang asli, sebelum dipalsukan. Termasuk foto-foto lokasi, laporan forensik yang menunjukkan tembakan, bukan korsleting, dan—" ia berhenti, menatap Renjana dengan ekspresi yang sulit dibaca, "—daftar nama orang-orang yang ada di lokasi malam itu. Satu nama akan menarik perhatianmu."
Renjana mengambil flashdisk itu, tapi tidak melepaskan tatapannya dari mata lelaki tua itu. "Nama siapa?"
"Lihat sendiri. Tapi siapkan dirimu." Bagas menyeret napas berat. "Tidak semua yang kau kira mati, mati malam itu. Dan tidak semua yang kau kira musuh, adalah musuh."
Kalimat itu menggantung di udara seperti pisau yang menggantung di benang.
Renjana ingin bertanya lebih, tapi Bagas sudah berbalik, melangkah ke arah pintu gudang. "Pelajari berkas itu. Kita bicara lagi tiga hari. Dan Silla—" ia berhenti tanpa menoleh, "—hati-hati dengan Damar. Dia mencium ada yang tidak beres. Dia mulai mengawasi orang-orang baru di sekitar Reksa. Termasuk kau."
Lalu lelaki itu lenyap ke dalam gelap.
Renjana berdiri sendirian di gudang itu, menggenggam flashdisk yang terasa berat seperti bara. Daftar nama orang-orang di lokasi malam itu. Tidak semua yang kau kira mati, mati.
Pikirannya melompat ke satu wajah yang selama tujuh tahun ia paksa untuk tidak ia ingat karena terlalu menyakitkan.
Dani. Adiknya. Anak laki-laki sepuluh tahun.
Apakah mungkin—
Tidak. Ia menggeleng keras, memaksa harapan berbahaya itu kembali ke kotaknya. Harapan adalah kelemahan. Harapan membuat tangan gemetar di saat yang salah.
Ia keluar dari gudang, di mana dua orang sewaannya menunggu. Mereka mengantarnya pulang dalam diam. Sepanjang jalan, Renjana menatap lampu-lampu kota yang berkelip, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia merasakan tanah di bawah rencananya bergeser.
Ia datang ke kota ini dengan satu kebenaran yang ia yakini mutlak: keluarganya mati, dan ia sendirian.
Tapi kalau Bagas benar—kalau salah satu dari mereka selamat—maka segalanya berubah. Dendamnya tidak lagi hanya tentang menghancurkan. Mungkin, untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang harus ia selamatkan.
Dan itu membuatnya jauh lebih berbahaya. Karena orang yang hanya punya dendam bisa diprediksi. Tapi orang yang punya sesuatu untuk dilindungi—dia akan membakar dunia.
Malam itu, di apartemennya, Renjana menancapkan flashdisk ke laptop. Layar menyala. Folder demi folder terbuka. Foto lokasi yang mengerikan, yang ia paksa dirinya untuk menatap tanpa berkedip. Laporan forensik. Dan akhirnya, sebuah dokumen berjudul "Daftar Personel di Lokasi".
Ia membukanya. Matanya menyusuri nama demi nama.
Lalu jantungnya berhenti.