Nama itu ada di urutan kelima dari bawah.
"Arsa Wijanarko — keponakan, usia 17 (saat itu), status: saksi, dipindahkan ke pengawasan keluarga."
Renjana menatap layar tanpa berkedip. Arsa Wijanarko. Keponakan Reksa. Seorang remaja tujuh belas tahun—seusianya saat itu—yang ada di lokasi malam keluarganya dibantai.
Saksi.
Otaknya bekerja cepat, menyusun ulang ingatan yang sudah ia kunci rapat. Malam itu, di tengah api dan tembakan, sebelum ia dibanting ke aspal, ia ingat sekilas wajah—seorang anak laki-laki sebayanya, berdiri di pojok pekarangan, menatapnya dengan ekspresi yang tidak ia mengerti saat itu. Bukan kebencian. Bukan keganasan seperti yang lain.
Ketakutan. Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang menyerupai... penyesalan.
Ia tidak pernah memikirkan anak itu selama tujuh tahun. Wajahnya tenggelam di antara potongan ingatan yang terlalu menyakitkan untuk dibuka. Tapi sekarang, dengan nama di depan matanya, ingatan itu kembali jernih.
Arsa Wijanarko ada di sana. Dan ia hidup.
Renjana mencari lebih jauh dalam berkas. Catatan menyebutkan bahwa Arsa, setelah malam itu, dikirim ke luar negeri oleh Reksa. "Untuk pendidikan," tertulis dalam laporan, tapi Renjana tahu membaca yang tersirat: untuk dibungkam. Untuk menjauhkan saksi yang tidak bisa dipercaya akan tetap diam.
Dan kini, menurut catatan tambahan Bagas yang ia selipkan di folder terpisah, Arsa Wijanarko baru saja kembali ke tanah air. Dua bulan lalu. Direkrut Reksa untuk masuk ke jajaran direksi Wijanarko Group.
Dua bulan lalu. Hampir bersamaan dengan saat Renjana mulai mendekati Reksa.
Tangan Renjana mengepal di atas meja. Terlalu banyak kebetulan. Foto Silla Mahendra yang muncul di depan pintunya—mungkin bukan dari Bagas sama sekali. Mungkin dari seseorang yang benar-benar mengenali wajahnya. Seseorang yang pernah menatapnya di tengah api tujuh tahun lalu.
Apakah Arsa yang mengirim foto itu? Untuk memperingatkannya, seperti Bagas? Atau untuk memancingnya keluar?
Renjana tidak tahu. Dan ketidaktahuan adalah hal yang paling ia benci.
Ia menghabiskan dua hari berikutnya menyelidiki Arsa. Lewat jaringan Wira, lewat catatan publik, lewat pengamatan diam-diam. Yang ia temukan membingungkan. Arsa Wijanarko bukan seperti pamannya. Ia menjauhi pesta. Ia tidak pernah terlibat dalam transaksi kotor yang Renjana lacak. Ia menjalankan satu divisi kecil perusahaan—divisi yang anehnya bersih, transparan, hampir seperti sengaja dijaga jauh dari bagian gelap kerajaan Reksa.
Seolah Arsa sedang membangun sesuatu. Atau menunggu sesuatu.
Pada hari ketiga, Renjana memutuskan ia tidak bisa lagi bergerak dalam ketidakpastian. Ia harus melihat sendiri. Ia mengatur agar bertemu Arsa dalam sebuah rapat investasi yang sah, di kantor Wijanarko Group, dengan kehadiran beberapa direksi lain sebagai pelindung.
Saat Renjana memasuki ruang rapat, ia melihatnya untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Arsa Wijanarko sudah menjadi pria dewasa—tinggi, tenang, dengan mata gelap yang sama yang ia ingat dari malam itu. Ia berdiri di dekat jendela, menatap kota di bawah. Saat Renjana masuk, ia berbalik.
Mata mereka bertemu.
Dan dalam sepersekian detik itu, Renjana tahu—dengan kepastian yang membuat darahnya berdesir—bahwa Arsa Wijanarko mengenalinya. Bukan sebagai Renjana Asmara, pemodal. Tapi sebagai Silla Mahendra, gadis yang ia tatap di tengah api.
Lelaki itu tidak terkejut. Ia sudah tahu. Sudah lama tahu.
Dan ketika para direksi lain mempersilakan rapat dimulai, Arsa berjalan mendekat, mengulurkan tangan, dan berkata dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Renjana:
"Akhirnya kau datang juga... Silla."