Renjana tidak menjabat tangan itu langsung.
Ruang rapat penuh dengan orang—lima direksi, dua sekretaris, dan di kepala meja, kursi kosong yang menunggu Reksa. Satu kata salah, satu reaksi yang keliru, dan tujuh tahun kerja keras bisa runtuh dalam sedetik.
Ia memaksa wajahnya tetap tenang, memaksa tangannya tidak gemetar, dan menjabat tangan Arsa dengan senyum profesional yang sudah ia latih ribuan kali.
"Renjana Asmara," katanya, suaranya jernih dan ramah, cukup keras untuk didengar yang lain. "Senang akhirnya bertemu langsung, Pak Arsa. Saya banyak dengar tentang divisi Anda."
Mata Arsa berkilat—pengakuan diam bahwa ia mengerti permainan ini. Ia tersenyum tipis, dan saat yang lain sibuk dengan dokumen, ia berkata dengan suara rendah, "Kau pandai sekali. Tujuh tahun benar-benar mengubahmu."
"Saya tidak tahu apa maksud Anda," balas Renjana, sama pelannya, sambil duduk dan menata berkasnya. Topengnya sempurna.
"Tidak perlu pura-pura denganku." Arsa duduk di sampingnya, membuka laptop seolah membahas proyek. Layarnya menampilkan grafik investasi. Tapi bibirnya membentuk kalimat lain. "Aku menyimpan fotomu selama tujuh tahun. Aku yang menaruhnya di depan pintumu. Bukan untuk mengancammu. Untuk memberitahumu bahwa ada orang lain yang tahu kebenaran. Dan masih hidup karena merasa bersalah setiap hari."
Renjana membeku sepersekian detik, lalu menutupinya dengan mengetuk layar laptopnya sendiri. "Kalau kau merasa bersalah," bisiknya, mata tetap pada grafik, "kenapa kau diam tujuh tahun?"
"Karena aku tujuh belas tahun saat itu. Karena pamanku mengirimku ke ujung dunia dan mengancam membunuhku kalau aku bicara. Karena aku pengecut." Suaranya bergetar, hampir tak terdengar. "Tapi aku kembali untuk satu alasan, Silla. Sama denganmu. Aku ingin menjatuhkannya. Dan aku tahu sesuatu yang bahkan kau tidak tahu."
Renjana menoleh sedikit, cukup untuk menatap mata gelap itu. "Apa?"
Sebelum Arsa menjawab, pintu ruang rapat terbuka. Reksa masuk, diiringi Damar yang berdiri seperti bayangan di belakangnya. Suasana ruangan langsung berubah, semua direksi menegakkan punggung.
"Maaf terlambat," kata Reksa, tersenyum lebar, mengambil kursi di kepala meja. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Renjana dan Arsa yang duduk berdampingan. Sesuatu yang dingin dan menghitung melintas di sana. "Wah. Dua orang terpintar di perusahaan ini duduk bersebelahan. Aku harus waspada, ini."
Tawa basa-basi mengisi ruangan. Renjana ikut tersenyum.
Tapi di bawah meja, jari Arsa menggeser secarik kertas ke pangkuannya. Renjana menutupinya dengan telapak tangan, tidak menunduk, mata tetap pada Reksa yang mulai bicara soal proyek pelabuhan.
Perlahan, saat semua perhatian tertuju pada Reksa, Renjana membuka lipatan kertas itu di pangkuannya dan menundukkan pandangan sekilas.
Hanya ada satu baris tulisan tangan di sana. Tapi satu baris itu membuat seluruh dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar, membuat jantungnya yang sudah tujuh tahun beku berdetak liar untuk pertama kalinya:
"Adikmu, Dani, masih hidup. Reksa menyekapnya. Dan dia akan membunuhnya kalau tahu kau kembali."
Renjana mengangkat kepalanya perlahan. Di seberang meja, Reksa tertawa pada leluconnya sendiri, gelas air di tangannya, raja di atas kerajaan yang ia bangun dari abu keluarga Mahendra.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, rencana dingin Renjana retak. Karena dendam bisa menunggu. Dendam bisa sabar.
Tapi seorang adik yang masih hidup—tidak bisa.
Dan saat tatapan Renjana bertemu mata Reksa di seberang meja itu, ia tahu satu hal dengan kepastian sedingin baja:
Permainan baru saja berubah. Dan kali ini, dia tidak punya tujuh tahun. Dia mungkin tidak punya tujuh hari.