Renjana Asmara keluar dari ruang rapat lantai empat puluh dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia masuk. Tidak lebih cepat, tidak lebih lambat. Tujuh tahun ia melatih tubuhnya untuk berbohong, dan kini latihan itu menyelamatkan nyawanya — bukan nyawanya saja, ia mengoreksi diri di dalam kepala. Nyawa Dani.
Di belakangnya, pintu kaca menutup dengan desis pelan. Di balik kaca itu Reksa Wijanarko masih tertawa pada sesuatu yang dikatakan Damar, kepala keamanannya, tertawa dengan gigi putih dan sepatu kulit yang memantulkan lampu langit-langit. Renjana hafal sepatu itu. Tujuh tahun lalu sepatu itu berdiri di samping kepalanya yang berdarah di lantai ruang tamu, sementara seseorang menghitung mundur napas keluarganya.
Selembar kertas ada di saku jasnya. Ia tidak perlu membacanya lagi. Empat kalimat dari tangan Arsa, terselip di tengah dokumen proyek pelabuhan. Adikmu, Dani, masih hidup. Reksa menyekapnya. Dan dia akan membunuhnya kalau tahu kau kembali.
Selama tujuh tahun, dendam adalah satu-satunya hal yang Renjana miliki. Dendam itu sabar. Dendam bisa menunggu setahun lagi, dua tahun, selama yang diperlukan untuk menyusun setiap potongan papan catur dengan presisi yang membuat lawan tidak pernah melihat bidaknya jatuh. Tapi seorang adik yang hidup tidak sabar. Seorang adik yang hidup adalah jam yang berdetak di tangan musuh.
Ia menekan tombol lift. Di permukaan logam yang mengilap, ia melihat pantulan wajahnya sendiri — pucat, tenang, mata yang tidak menunjukkan apa-apa. Bagus. Tangannya tidak gemetar. Itu yang penting.
Sepuluh tahun. Dani sepuluh tahun saat malam itu. Sekarang ia tujuh belas. Renjana mencoba membayangkan wajah anak laki-laki yang dulu tidur dengan mulut terbuka di kamar sebelah, yang menangis kalau lampu dimatikan, yang menyimpan kelereng di kotak biskuit. Ia tidak bisa. Tujuh tahun telah memakan wajah itu dari ingatannya, dan kesadaran itu terasa seperti pisau yang masuk dari sisi yang tak ia jaga.
Lift terbuka. Ia masuk, menekan lantai parkir bawah tanah, dan baru ketika pintu menutup sepenuhnya — saat tidak ada kamera yang ia tahu menyorot wajahnya dari sudut yang benar — ia membiarkan dirinya menarik satu napas yang dalam dan panjang. Hanya satu. Lalu ia menyimpannya kembali.
Berpikir, perintahnya pada diri sendiri. Jangan merasa. Berpikir.
Pertama: apakah ini benar. Arsa Wijanarko adalah keponakan Reksa, saksi malam itu, orang yang baru dua bulan kembali dari luar negeri dan menjalankan divisi kecil yang anehnya bersih. Ia bisa saja pengirim foto biru Silla yang ditaruh di pintu Renjana. Ia bisa saja sekutu. Ia juga bisa saja umpan paling sempurna yang pernah dirancang Reksa — sepotong harapan yang dijatuhkan tepat di depan kaki orang yang sudah tujuh tahun tidak punya harapan, untuk melihat apakah orang itu akan menyambarnya dan menunjukkan dirinya.
Kalau Renjana bergerak terlalu cepat untuk menyelamatkan Dani, dan Dani adalah jebakan, ia mati. Kalau Renjana tidak bergerak dan Dani benar hidup, Dani yang mati. Reksa, kalau memang ia yang merancang ini, telah menyusun perangkap yang indah: setiap pilihan adalah kalah.
Kecuali satu. Verifikasi tanpa menunjukkan tangan.
Lift berhenti. Parkir bawah tanah dingin, berbau beton lembap dan oli, lampu neon berdengung di langit-langit rendah. Mobilnya — sedan hitam, tidak mencolok, sengaja — terparkir di sudut. Dan bersandar di tiang beton tiga meter darinya, dengan tangan di saku mantel dan wajah yang berpura-pura sedang menunggu sopir, berdiri Arsa.
Renjana tidak melambat. Ia berjalan ke arah mobilnya seolah Arsa tidak ada di sana, mengeluarkan kunci, lalu — saat ia melewati lelaki itu, hanya saat itu, dengan suara yang nyaris tak lebih keras dari embusan ventilasi — ia berkata, "Kalau ini bohong, kau yang pertama kubuat menyesal."
Arsa tidak menoleh. Matanya tetap pada jam tangannya. "Aku tahu," katanya, sama pelan. "Aku sudah memperhitungkan itu."
"Buktikan dia hidup."
"Aku tidak bisa menunjukkan dia padamu. Belum. Kalau aku ke sana, Damar tahu dalam dua jam." Jeda. Lalu, dengan nada yang berubah, lebih rendah, hampir sakit: "Tapi aku bisa memberitahumu satu hal yang hanya diketahui Reksa, Damar, dan aku. Dani punya bekas luka. Di sini." Arsa menyentuh sisi alisnya sendiri dengan ujung ibu jari, gerakan sekecil mengusap debu. "Reksa bilang itu dari malam itu. Sebuah pecahan kaca. Kau tahu itu?"
Renjana berhenti membuka pintu mobil.
Dunia, untuk satu detik penuh, menjadi sangat sunyi.
Vas. Vas keramik biru milik ibunya, yang pecah saat dilemparkan ke arah salah satu orang Damar, yang serpihannya beterbangan, dan satu di antaranya — ia ingat sekarang, ingatan itu kembali bukan sebagai gambar tapi sebagai suara, jeritan kecil seorang anak — satu di antaranya merobek pelipis Dani. Darah di wajah anak itu. Renjana menjeritkan namanya. Lalu seseorang memukul tengkuk Renjana dan dunia jadi gelap.
Ia tidak pernah menceritakan vas itu pada siapa pun. Tidak pada Karyo. Tidak pernah menulisnya. Itu bukan dokumen, bukan berkas, bukan sesuatu yang bisa dipalsukan atau diintai. Itu hanya ada di dalam tengkoraknya. Dan di dalam tengkorak satu orang lagi yang berdiri tiga meter di belakangnya.
Dani hidup.
Renjana membuka pintu mobil dengan gerakan yang sempurna, tenang, mati rasa. "Pukul sembilan malam," katanya, masuk. "Garasi parkir mal Pradipa Timur. Lantai lima. Datang sendiri."
Ia menutup pintu sebelum Arsa sempat menjawab, menyalakan mesin, dan keluar dari parkir bawah tanah dengan kecepatan yang persis sama seperti setiap malam.
Baru setelah ia berbelok ke jalan raya, terbenam dalam arus lampu merah kota Pradipa, ia mengizinkan tangannya mencengkeram kemudi sampai buku jarinya memutih. Tujuh tahun rencana yang ia susun seperti jam Swiss — masuk perlahan, menjadi tak tergantikan, menjatuhkan Hartono, lalu Damar, lalu Bagas, lalu Reksa, satu per satu, dalam hitungan tahun — runtuh oleh satu bekas luka di pelipis seorang anak.
Ia tidak punya tahun lagi. Mungkin tidak punya minggu. Begitu Reksa, dengan instingnya yang seperti serigala, mencium bahwa anak Mahendra yang dibuang ke sungai itu hidup dan berdiri di dalam menaranya sendiri, ia akan membunuh Dani sebagai pertama, sebagai pesan, sebagai penutup urusan.
Renjana harus mempercepat segalanya. Dan ia harus melakukannya tanpa membuat satu pun riak di permukaan yang bisa dilihat Reksa.
Tujuh tahun ia bermimpi menghancurkan lelaki itu pelan-pelan, agar Reksa merasakan setiap tulang kerajaannya patah satu per satu. Sekarang ia harus bekerja cepat, bersih, dan diam — seperti pisau, bukan palu.
Lampu hijau. Ia melepas rem.
"Bertahanlah," bisiknya ke kaca depan, ke arah seorang anak laki-laki bertujuh belas tahun yang tidak bisa mendengarnya, di suatu tempat di kota ini. "Kakak datang. Tapi pelan. Karena kalau Kakak cepat, kau mati."
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dendam bukan lagi satu-satunya hal yang ia miliki.