Pukul sembilan kurang dua belas menit, Renjana sudah berada di lantai lima garasi parkir Mal Pradipa Timur selama empat puluh menit.
Ia tidak datang pukul sembilan. Orang yang datang tepat waktu ke pertemuan yang ia atur sendiri adalah orang yang berasumsi semua berjalan sesuai rencananya. Renjana tidak pernah berasumsi. Ia tiba lebih awal, memarkir mobilnya di lantai tujuh, lalu turun dengan tangga darurat dan mengamati lantai lima dari balik mobil van yang teronggok di sudut. Empat puluh menit ia mempelajari setiap kendaraan yang masuk, setiap orang yang lewat, mencari pola — dua mobil yang datang beriringan, seseorang yang duduk terlalu lama di kursi pengemudi, pantulan lensa di kaca seberang.
Tidak ada. Atau setidaknya, tidak ada yang bisa ia lihat. Itu bukan jaminan, tapi itu sebanyak yang bisa ia dapatkan.
Sebelum ini, ia sudah memasang verifikasi keduanya. Pukul tujuh ia menelepon Pak Wira.
"Aku butuh tiga hal," katanya pada mentornya tanpa basa-basi, karena Wira benci basa-basi. "Pertama, daftar lengkap properti yang dimiliki Wijanarko Group lewat perusahaan cangkang, terutama yang dibeli dalam tujuh tahun terakhir dan tidak menghasilkan pendapatan sewa. Kedua, semua yang bisa kau gali tentang Arsa Wijanarko — ke mana ia dikirim setelah usia tujuh belas, sekolah apa, rekening apa, kapan kembali. Ketiga—" ia berhenti sebentar. "Ketiga, kalau aku tidak menghubungimu sebelum tengah malam, buka amplop cokelat di laci kedua mejaku dan lakukan persis seperti yang tertulis."
Di ujung sana, Wira diam sejenak. Lelaki tua itu sudah cukup tua dan cukup sinis untuk mengenali suara seseorang yang sedang berjalan ke arah bahaya. "Kau tahu," kata Wira akhirnya, "aku merekrutmu karena kau tidak pernah melakukan hal bodoh. Jangan mulai sekarang."
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh," kata Renjana. "Aku akan melakukan hal yang perlu."
"Itu bukan jawaban yang menenangkan."
"Bukan maksudku menenangkan."
Sekarang, pukul sembilan kurang satu menit, sepasang lampu mobil menyapu lantai lima. Mobil Arsa — sedan abu-abu, biasa, sama hati-hatinya seperti milik Renjana — berhenti di area kosong di tengah. Arsa keluar. Sendiri. Ia berdiri di samping mobilnya dan menunggu, tangan terlihat, tidak menyentuh saku.
Renjana membiarkannya menunggu tiga menit lagi. Cukup lama untuk seseorang yang menyiapkan jebakan menjadi gelisah, cukup lama bagi penembak yang bersembunyi untuk salah menghitung waktu. Tidak terjadi apa-apa. Akhirnya, ia muncul dari balik van, mendekat dari arah yang tidak diperhitungkan Arsa, dari belakang, sehingga lelaki itu sedikit terkejut saat suaranya terdengar.
"Kenapa kau memberitahuku?"
Arsa berbalik. Wajahnya — Renjana sudah mempelajari wajah itu selama dua bulan terakhir — lelah, tapi tenang. "Karena seseorang harus."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang jujur." Arsa bersandar ke mobilnya. "Tujuh tahun lalu aku tujuh belas tahun. Aku ada di rumah itu. Aku melihat apa yang mereka lakukan pada keluargamu. Aku tidak melakukan apa-apa, karena aku ketakutan, dan karena Reksa adalah pamanku, dan karena anak tujuh belas tahun tidak tahu apa yang harus dilakukan saat melihat dunia ternyata dibangun di atas darah." Suaranya tidak naik, tapi sesuatu di dalamnya mengeras. "Mereka mengirimku ke luar negeri agar aku diam. Tujuh tahun aku belajar diam dengan sangat baik. Lalu aku kembali, dan aku melihatmu di gala itu, dan aku mengenali matamu sebelum aku mengenali wajahmu. Karena mata seseorang yang seluruh hidupnya direnggut tidak pernah berubah."
Renjana tidak menjawab. Ia mempelajari setiap kata, mencari retak, mencari naskah yang dihafal. Yang ia temukan justru ketidakrapian — jeda di tempat yang salah, kalimat yang patah. Orang yang berbohong terlatih cenderung terlalu lancar. Arsa tidak lancar.
"Bukti," kata Renjana. "Kau bilang tadi pagi kau tidak bisa menunjukkan Dani padaku. Lalu apa gunanya kau."
Arsa mengeluarkan ponsel — perlahan, membiarkan Renjana melihat tangannya sepanjang gerakan itu — dan menggesernya di atas kap mobil ke arahnya. Di layar, sebuah foto. Sebuah bangunan: vila bergaya kolonial, dikelilingi tembok tinggi, di tepi yang tampak seperti perbukitan di luar kota. Tidak ada plang, tidak ada nama.
"Wijanarko Group memiliki properti ini lewat tiga lapis perusahaan cangkang," kata Arsa. "Di atas kertas, ini vila kosong, warisan keluarga, tidak ditinggali. Aku pernah melihat anggaran operasionalnya secara tidak sengaja saat audit divisiku. Vila 'kosong' itu menyedot biaya keamanan tiga ratus juta rupiah per bulan. Untuk apa kau menjaga rumah kosong dengan biaya sebanyak itu?"
Renjana menatap foto itu lama. Lalu ia menatap Arsa.
Ini bisa benar. Ini juga bisa langkah pertama menuntunnya ke tempat di mana Reksa menunggu dengan senyum dan pistol. Tapi — dan inilah yang membuat dadanya terasa dingin sekaligus hangat — informasi ini bisa diverifikasi tanpa Arsa. Anggaran. Aliran dana. Tiga ratus juta per bulan tidak bisa disembunyikan dari mata seorang akuntan yang tahu cara membaca. Arsa tidak memberinya harapan; ia memberinya angka. Dan angka bisa diperiksa.
"Aku tidak mempercayaimu," kata Renjana akhirnya, mengembalikan ponsel itu.
Arsa menerimanya. "Aku tahu."
"Tapi aku akan memeriksa apa yang kau berikan. Kalau angkanya benar—" Renjana berbalik untuk pergi, lalu berhenti. Tanpa menoleh, ia menambahkan, dengan suara yang lebih pelan: "—maka kau dan aku punya hal yang sama untuk dibenci. Dan itu, untuk sekarang, lebih berguna daripada kepercayaan."
Ia berjalan ke tangga darurat dan menghilang ke atas, ke arah mobilnya di lantai tujuh, meninggalkan Arsa berdiri sendiri di bawah lampu neon yang berdengung.
Di mobilnya, sebelum menyalakan mesin, Renjana mengirim satu pesan singkat pada Wira. Aku aman. Tutup amplop. Tambahan: lacak biaya keamanan semua cangkang Wijanarko. Cari yang biayanya tidak masuk akal untuk aset yang tidak menghasilkan.
Lalu ia duduk diam beberapa saat di kegelapan, memikirkan tiga ratus juta per bulan, dan apa — atau siapa — yang berharga sebanyak itu untuk dijaga.