Dalam dunia pencucian uang, kebohongan yang paling sulit disembunyikan bukanlah uang yang masuk. Uang yang masuk mudah dikarang — sewa fiktif, faktur palsu, donasi yayasan. Yang sulit disembunyikan adalah uang yang keluar untuk hal yang tidak menghasilkan apa-apa. Karena pengeluaran selalu meninggalkan jejak yang sah, dan jejak yang sah bisa dibaca mundur.
Renjana menghabiskan tiga hari berikutnya membaca mundur.
Ia melakukannya di tempat yang paling tidak menimbulkan curiga: di dalam pekerjaannya sendiri. Sebagai pemodal yang kini menjadi penasihat keuangan kepercayaan Reksa dalam proyek pelabuhan, ia punya alasan sah untuk meminta laporan konsolidasi grup. "Aku tidak bisa menaruh uang Pak Wira di proyek ini," katanya pada Reksa dengan nada datar seorang profesional yang membosankan, "kalau aku tidak yakin neraca induknya sehat. Investor yang menaruh modal tanpa membaca neraca konsolidasi adalah investor yang segera menjadi miskin."
Reksa tertawa dan menepuk bahunya. "Kau yang paling teliti yang pernah kutemui," katanya, dengan kekaguman seorang lelaki yang merasa dirinya terlalu pintar untuk perlu khawatir. "Ratri pun tidak seteliti kau." Lalu ia memerintahkan stafnya membuka akses. Itulah kelemahan terbesar Reksa, yang sudah Renjana petakan sejak bulan pertama: ego yang membuatnya percaya bahwa orang yang berguna baginya tidak mungkin berbahaya baginya.
Maka Renjana mendapat angka-angkanya.
Ia bekerja di apartemennya, larut malam, dengan tirai tertutup dan layar yang diredupkan, menyusun arus pengeluaran keamanan seluruh properti grup ke dalam satu lembar kerja. Sebagian besar masuk akal. Gedung kantor pusat butuh keamanan. Tambang butuh keamanan. Pelabuhan butuh keamanan. Angka-angka itu naik dan turun sesuai logika bisnis.
Lalu ada satu baris yang tidak.
Sebuah aset yang dicatat sebagai "Vila Argapura — properti residensial, tidak disewakan." Nilai bukunya kecil. Pendapatannya nol. Tapi biaya operasionalnya — terutama yang dikategorikan samar sebagai "pemeliharaan dan pengamanan" — adalah tiga ratus dua puluh juta rupiah per bulan. Naik perlahan setiap tahun selama tujuh tahun terakhir. Renjana menyusuri grafiknya dengan ujung jari di layar. Biaya itu mulai membengkak tepat di bulan yang sama, tahun yang sama, dengan malam keluarganya dibantai.
Tiga ratus dua puluh juta sebulan untuk menjaga rumah kosong. Itu setara dengan menggaji selusin penjaga bersenjata, mengganti sistem kamera setiap tahun, dan membayar seseorang untuk diam.
Arsa tidak berbohong. Setidaknya, tidak tentang ini.
Renjana menyandarkan punggungnya. Di luar jendela, kota Pradipa berkedip dalam jutaan lampu, dan di suatu tempat di balik perbukitan utara, di balik tembok tinggi sebuah vila yang tidak ada di peta mana pun yang masuk akal, ada seorang anak laki-laki yang berharga tiga ratus dua puluh juta rupiah sebulan untuk dikurung.
Ia tidak akan membiarkan dirinya merasakan apa pun tentang itu. Belum. Perasaan adalah kemewahan orang yang sudah aman, dan ia jauh dari aman.
Ia menyimpan lembar kerja itu ke dalam berkas terenkripsi, lalu menghapus jejak sementaranya, lalu — karena tujuh tahun mengajarinya bahwa paranoia adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri — ia memeriksa apakah ada salinan otomatis di server perusahaan yang tertinggal. Tidak ada. Bagus.
Esok paginya, di kantor, Damar mencegatnya di koridor.
Damar tidak pernah mencegat secara kebetulan. Lelaki itu bergerak seperti sesuatu yang dibangun untuk mengantisipasi: bahu lebar, langkah yang tenang, mata yang tidak pernah benar-benar beristirahat. Tujuh tahun lalu mata itu menatap Silla dari atas sebelum tangan itu membantingnya ke aspal. Setiap kali Renjana melihatnya, sebagian kecil dirinya yang berusia tujuh belas tahun ingin lari. Ia membunuh dorongan itu, seperti biasa, dan tersenyum tipis profesional.
"Pak Damar."
"Bu Renjana." Damar berdiri sedikit terlalu dekat. "Saya dengar Anda meminta laporan konsolidasi grup."
"Saya investor. Saya membaca neraca. Itu pekerjaan saya."
"Tentu." Damar mengangguk pelan, tapi matanya tidak ikut mengangguk. "Hanya saja, akses yang Anda buka tiga hari lalu mencakup aset-aset yang tidak ada hubungannya dengan proyek pelabuhan. Vila Argapura, misalnya. Properti residensial. Tidak ada kaitannya dengan investasi Pak Wira." Ia memiringkan kepala sedikit. "Untuk apa seorang investor pelabuhan tertarik pada rumah kosong di perbukitan?"
Inilah momennya. Renjana merasakan adrenalin menetes dingin ke perutnya, dan ia menyambutnya, karena adrenalin mempertajam, bukan melemahkan, kalau kau sudah belajar memeganginya. Ia tidak terburu-buru menjawab. Orang yang terburu-buru menjawab adalah orang yang berbohong.
"Karena," katanya, dengan nada bosan seorang akuntan yang menjelaskan sesuatu yang membosankan, "rumah kosong yang menghabiskan tiga ratus juta sebulan adalah lubang di neraca, Pak Damar. Dan lubang di neraca membuat angka rasio utang grup terlihat lebih buruk dari seharusnya. Saya tidak peduli pada rumahnya. Saya peduli pada angkanya — karena angka itu mempengaruhi penilaian risiko yang akan saya laporkan ke Pak Wira." Ia membiarkan secercah ketidaksabaran masuk ke suaranya, karena orang jujur yang lelah cenderung tidak sabar. "Kalau Anda mau, saya bisa mengeluarkan vila itu dari analisis dan menganggapnya tidak ada. Tapi kalau Pak Reksa kelak bertanya kenapa rasio yang saya laporkan tidak cocok dengan neraca sebenarnya, saya akan menyebut nama Anda sebagai orang yang menyuruh saya mengabaikannya."
Untuk satu detik, mata Damar dan matanya bertemu, dan di antara mereka ada sesuatu yang lebih tua dari percakapan ini — meski hanya satu dari mereka yang mengetahuinya.
Lalu Damar tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. "Tidak perlu," katanya. "Masukkan saja. Saya hanya bertanya."
"Tentu saja Anda hanya bertanya," kata Renjana, dan berjalan pergi, langkahnya tenang, punggungnya lurus, sementara di dalam dadanya jantungnya memukul tulang rusuk seperti tahanan yang menggedor pintu.
Ia tahu apa yang baru saja terjadi. Ia telah lolos. Tapi ia juga telah belajar sesuatu yang membuatnya lebih takut daripada yang ingin ia akui: Damar menjaga vila itu seperti seseorang menjaga rahasia yang akan menggantungnya. Yang berarti apa pun yang ada di balik tembok Argapura, itu cukup berharga untuk membunuh demi melindunginya.
Dan ia baru saja menempelkan namanya, sedikit, pada rahasia itu.