"Tunggu, Mbaknya mau ke mana?" tanyanya, menghentikan langkah Reva.
"Saya mau ke apotek sana!" ketusnya.
"Dengan hujan-hujanan seperti ini?"
"Memangnya kenapa? Lagipula saya sudah terlanjur basah."
"Ya sudah, kita menyeberang bareng. Saya juga mau ke apotek," sahutnya sambil mendekatkan payung ke kepala Reva.
Reva terkesiap. Baru pertama kali dia sedekat ini dengan pria selain ayah dan kakaknya. Dia mundur sedikit, gugup.
"Em... te-terima kasih. Nggak perlu repot-repot..."
Pria itu tersenyum dan mengangguk.
"Nggak apa-apa kok, Mbak. Ayo."
Hujan masih deras. Setelah jalanan sepi kendaraan, mereka menyeberang bersama. Pria itu membukakan pintu kaca apotek untuk Reva.
Reva mengibaskan lengan bajunya yang basah. Tubuhnya menggigil kedinginan.
Pria itu menutup payungnya, menyimpannya di pojok ruangan, lalu langsung membeli obat pesanan ibunya.
Reva pun mengantre untuk membeli obat. Tapi saat melihat harga di struk, wajahnya berubah. Uangnya tidak cukup.
"Em... maaf, Mbak. Saya nggak jadi beli," ucapnya pelan.
Si mbak apoteker hanya mengangguk.
_Harga obat Bapak ternyata mahal sekali..._ pikir Reva, dadanya sesak.
Dia keluar dari apotek dengan langkah berat. Pria tadi melihatnya dari luar, lalu menyusul.
"Ada apa? Mbak nggak jadi beli obatnya?"
Reva menoleh dan tersenyum pahit.
"Emm... uangku nggak cukup. Maaf ya, saya harus pulang dulu. Permisi..."
Dia membungkuk sedikit, hendak pergi. Tapi lagi-lagi langkahnya dihentikan.
"Tunggu sebentar, Mbak. Obat apa yang mau kamu beli tadi?" tanyanya tiba-tiba.
Reva menengok, mengernyit bingung.
"Eng... memangnya kenapa, Mas?"
"Biar saya yang belikan. Anggap saja ganti rugi karena aku yang bikin bajumu kotor," jawabnya santai.
"Nggak perlu repot-repot, Mas!" Reva menolak, sungkan.
"Nggak apa-apa kok. Aku senang bisa bantu."
Reva menunduk malu. Akhirnya dia mengangguk pelan. Kesempatan ini sayang kalau dilewatkan.
"Nama obatnya Cordepro Bharata," ucapnya pelan, nggak berani menatap lama.
"Baik. Mbak tunggu di sini ya," katanya lembut, lalu masuk lagi ke apotek.
Dari balik kaca, Reva memperhatikan punggung lebar pria itu. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul. Jarang ada orang asing yang baik seperti ini.
Tak lama, pria itu keluar membawa kantung obat.
"Ini, Mbak."
Reva menerima dengan tangan bergetar. Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih ya, Mas... terima kasih banyak."
"Sama-sama. Oh iya, obat ini untuk siapa? Mbak yang sakit ginjal?"
Reva menggeleng.
"Ini untuk Bapak saya, Mas."
Pria itu mengernyit.
"Sudah berapa lama Bapak sakit?"
"Dua tahun lebih, Mas. Sejak aku lulus SMA. Dulu Bapak kerja terlalu keras di sawah, jarang minum air. Akhirnya ginjalnya meradang dan makin parah," ujar Reva, suaranya melemah.
Pria itu mengangguk, ikut prihatin.
Reva masih menggigil. Melihat itu, pria itu langsung melepas jaket tebalnya dan menyampirkannya ke bahu Reva.
"Mbak pasti kedinginan. Pakai ini."
"Te-terima kasih, nggak perlu, Mas..." Reva menolak malu-malu.
"Sudahlah, pakai saja. Nanti masuk angin."
Jaket itu terasa hangat di punggungnya. Kebaikan pria ini bikin Reva diam-diam kagum.
Tak terasa hujan reda. Jam sudah menunjukkan pukul 22.30.
"Sudah larut. Nggak baik kalau gadis pulang sendirian. Biar aku antar sampai rumah," tawar pria itu tiba-tiba.
"Nggak perlu, Mas. Rumahku dekat, cuma satu kilometer dari sini."
"Nggak apa-apa. Ayo, aku antar."
Dia membukakan pintu mobil. Karena memang sudah nggak ada angkutan, Reva akhirnya mengangguk.
Di dalam mobil, suasana canggung. Reva diam, tangannya meremas ujung jaket. Akhirnya pria itu yang buka suara.
"Emm... boleh tahu, Mbak habis dari mana sampai beli obat malam-malam begini?"
"Saya habis pulang kerja, Mas."
"Kerja di mana sampai larut begini?"
"Di Restoran Amuz."
Pria itu tersedak.
"Apa? Restoran Amuz? Bukannya tutup jam 9 malam?"
"Iya, tapi tadi banyak kerjaan. Jadi aku lembur," jawab Reva sambil menghela napas panjang.
Pria itu meliriknya sekilas. Wajah Reva jelas terlihat lelah.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di pinggir gang kecil.
"Sampai di sini saja, Mas. Mobilnya nggak bisa masuk. Dari sini aku jalan kaki," kata Reva sambil menunjuk gang di samping.
"Oh... ya, ya," gumam pria itu, lalu mematikan mesin.
Reva membuka sabuk pengaman dan turun.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya, Mas. Sudah belikan obat buat Bapak dan nganterin aku pulang."
Pria itu terpaku sebentar melihat senyum Reva.
"Manis," gumamnya pelan.
"Apa?" Reva kaget.
"Ah, nggak... maksudku sama-sama, Mbak," jawabnya gugup sambil menggaruk kepala. Pipi Reva memerah.
"Ehm... tunggu, Mbak. Boleh tahu namanya siapa?" tanyanya cepat sebelum Reva pergi.
"Revalina Maulida. Panggil saja Reva."
Pria itu mengulurkan tangan.
"Namanya cantik, sama seperti orangnya. Perkenalkan, aku Radith. Radithiya Alvaro."
Reva tersipu, lalu menjabat tangannya pelan.
"Terima kasih, Mas Radith."
Setelah berpamitan, Reva turun dari mobil. Radith memutar arah dan melajukan mobilnya pelan.
_Hem... ternyata dia kerja di restoran mamaku,_ pikirnya sambil tersenyum kecil.
_Kalau dilihat-lihat, dia manis juga. Mirip Yaya... kangen juga sama kekasihku di Singapura._
Dari kejauhan, Reva menatap mobil itu menghilang.
"Radith... Radithiya Alvaro," gumamnya, pipinya masih merona.
Baru beberapa langkah masuk gang, Reva baru sadar.
"Hah! Jaketnya! Ya ampun, aku lupa ngembaliin!"
Dia menatap jaket tebal di tangannya, terbelalak kaget.
*Bersambung...*