Surat itu datang di amplop tebal berlogo dua huruf yang dijalin seperti tangan menggenggam. Nayla yang menerimanya dari tukang pos, dan ia berlari masuk sambil berteriak, mengira itu hadiah, karena di gang mereka tak ada yang pernah mengirim surat secantik itu kecuali tagihan, dan tagihan tak pernah secantik ini.
Arsa membukanya dengan tangan yang ia paksa tenang. Ibu berdiri di sampingnya, Ayah berhenti menyolder dan menengok. Baris pertama sudah cukup. "Dengan ini kami menyampaikan bahwa Saudara Arsa Pradipta dinyatakan DITERIMA sebagai penerima Beasiswa Penuh."
Ibu menutup mulut dengan kedua tangan. Ayah tidak bilang apa-apa, tapi obeng di tangannya bergetar, dan ketika ia meletakkannya di meja, ia meletakkannya dengan hati-hati seperti meletakkan sesuatu yang berharga, padahal itu hanya obeng. Nayla melompat-lompat tanpa mengerti apa yang ia rayakan. Untuk satu sore, rumah petak itu penuh oleh sesuatu yang jarang singgah: kemenangan.
Arsa membiarkan dirinya merasakannya selama beberapa menit. Lalu ia membaca lembar kedua.
Lembar kedua tidak ditulis untuk dirayakan. Di situ, dalam huruf yang sama besarnya dengan huruf di lembar pertama, tidak disembunyikan, tidak dikecilkan, dijelaskan apa yang ditanggung beasiswa dan apa yang tidak. Beasiswa menanggung biaya kuliah penuh. Beasiswa tidak menanggung biaya hidup. Tidak menanggung asrama. Tidak menanggung buku dan partitur. Dan, di poin yang membuat Arsa membaca ulang tiga kali untuk memastikan ia tidak salah, beasiswa tidak menyediakan instrumen untuk latihan mandiri di luar jam studio kampus.
Arsa meletakkan surat itu. Ia tidak menjelaskan apa-apa pada Ibu dan Ayah yang masih tersenyum. Ia perlu menghitung dulu. Ia selalu perlu menghitung dulu.
Malam itu, setelah Nayla tidur, ia menghitung dengan keras, di atas kertas, supaya Ayah dan Ibu mengerti, supaya kemenangan sore tadi tidak membutakan mereka. Studio latihan kampus, ia tahu dari surat itu, dipakai bergantian oleh ratusan mahasiswa, jatahnya beberapa jam seminggu, kalau beruntung. Mahasiswa lain pulang ke rumah dengan grand piano di ruang tamu mereka, berlatih enam, delapan, sepuluh jam sehari. Arsa akan berlatih beberapa jam seminggu di studio yang harus ia rebut antrean.
"Aku tidak akan bertahan satu semester, Yah," kata Arsa. Ia mengatakannya bukan untuk mengeluh, tapi karena itu fakta, sejernih nada yang fals di telinganya. "Mereka latihan tiap hari. Aku tidak punya piano."
Ayah tidak menjawab dengan kata-kata harapan. Ayah tak pernah punya kata-kata harapan. Ia mengangguk pelan, menerima fakta itu seperti menerima diagnosis kerusakan pada mesin: pertama akui rusaknya, baru cari komponennya.
Dua hari kemudian, Arsa kembali ke kampus untuk daftar ulang, dan di sanalah seorang staf yayasan, perempuan muda berkacamata yang ramah dengan keramahan yang terlatih, menyebut satu kata yang akan mengubah segalanya. "Untuk mahasiswa beasiswa yang terkendala instrumen," katanya, "yayasan punya program peminjaman. Beberapa instrumen warisan. Tidak banyak, dan ada syaratnya, tapi mungkin kamu memenuhi kriteria."
Ia menyerahkan map. Di dalamnya ada satu lembar perjanjian, dan di atasnya tertulis nama instrumen yang ditawarkan: sebuah grand piano, merek yang Arsa hanya pernah dengar, bekas milik mendiang pendiri institut, Daliman Wreksodiningrat.
Arsa membaca perjanjian itu di tempat, di kursi lobi yang dingin, sementara staf itu menunggu dengan sopan. Ia tidak membacanya cepat-cepat. Ia membaca setiap baris, karena ia anak Ayah, dan Ayah selalu membaca sisi belakang. Ia membaca bahwa pinjaman bisa ditarik kapan saja jika nilai akademiknya turun di bawah ambang tertentu. Ia membaca bahwa pinjaman bisa ditarik jika ia mencemarkan nama yayasan. Dan ia sampai pada satu klausul, di tengah halaman, dicetak dengan huruf yang sama dengan yang lain, tidak disembunyikan: pinjaman akan ditarik apabila penerima mengalami kondisi, termasuk namun tidak terbatas pada cedera atau gangguan kesehatan, yang menyebabkan ia tidak mampu tampil dalam pertunjukan resmi institut.
Arsa membaca klausul itu dua kali. Ia mengerti persis apa artinya. Artinya: instrumen yang membuatnya mampu latihan akan ditarik justru di saat ia paling membutuhkannya, yaitu kalau tubuhnya sampai gagal. Artinya, sejak detik ia menandatangani, ia berjanji untuk tidak boleh rusak.
Ia diam cukup lama sampai staf itu bertanya apakah ada yang ingin ia tanyakan.
"Tidak," kata Arsa. "Saya mengerti semuanya."
Dan itu benar. Ia mengerti. Itu yang akan ia ulang pada dirinya sendiri bertahun-tahun kemudian: ia mengerti. Tidak ada cetakan kecil yang menjebaknya, tidak ada pasal tersembunyi, tidak ada yang menipunya. Ia membaca klausul cedera itu sejelas ia mendengar nada B yang fals, dan ia tahu persis taruhannya. Pilihannya hanya dua: menandatangani dan punya kesempatan, atau menolak dan pulang ke piano gereja yang fals untuk menonton dirinya gagal dengan terhormat.
Ia membawa map itu pulang. Ia menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibu, termasuk klausul cedera, tidak menyembunyikan apa pun, karena ia tidak mau ada yang menanggung beban ini tanpa tahu beratnya. Ayah mendengarkan, lalu lama menatap noda hitam di jarinya sendiri.
"Kamu yang main," kata Ayah akhirnya. "Kamu yang tanggung. Tapi Le," ia berhenti, mencari kata yang bukan kata harapan, "jangan pernah pura-pura sehat di depan mesin yang rusak. Mesin yang dipaksa jalan dengan kerusakan disembunyikan itu yang paling cepat hancur."
Arsa mengangguk. Ia kira ia mengerti nasihat itu. Ia belum tahu bahwa ia akan melanggarnya, bukan karena bodoh, tapi karena ia tak akan punya pilihan lain yang tidak menghancurkan semua orang yang ia cintai.