Pagi di Wonokromo datang dengan bau solder dan oli. Arsa terbangun oleh bunyi yang ia kenal sejak kecil: ketukan obeng pada pelat logam, pelan dan sabar, seperti orang mengetuk pintu yang tahu takkan segera dibuka. Ia mengintip dari balik tirai kamar sempit itu. Di teras, ayahnya duduk di bangku plastik, membungkuk di atas sebuah kulkas bekas yang dibalik telentang, isi perutnya terburai—pipa tembaga, kompresor hitam, gulungan kawat yang menguning oleh usia.
Tangan kanan ayahnya masih dibebat perban tipis, sisa cedera yang belum benar-benar pulih. Namun ia bekerja juga, memindahkan beban ke tangan kiri, menjepit tang dengan cara yang mesti ia temukan sendiri, canggung tapi tak berhenti. Arsa menonton lama sebelum keluar.
"Punya siapa?" tanya Arsa, duduk di undakan.
"Bu Har, ujung gang." Ayahnya tak mengangkat wajah. "Sudah divonis mati sama tukang sebelah. Suruh beli baru. Mana punya uang beli baru."
Arsa memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, refleks yang sudah jadi kebiasaan buruk. Jari manis kanannya berdiam di sana seperti tahanan. Ia tak ingin tangan itu terlihat, tak ingin ada yang bertanya mengapa jari-jarinya kadang menekuk sendiri seolah punya kehendak yang bukan miliknya.
"Bisa hidup lagi?" tanyanya, hanya untuk mengisi sunyi.
Ayahnya menegakkan punggung, meletakkan tang, dan menyeka dahi dengan lengan. Wajah lelaki itu keras oleh matahari bertahun-tahun, tapi matanya jernih pagi ini. "Kompresornya sudah, itu jantungnya, mati total. Diganti pun harganya lebih mahal dari kulkasnya sendiri." Ia mengetuk badan kulkas dengan buku jari. "Tapi bodinya masih tebal. Karetnya masih rapat. Rak-raknya utuh."
"Lalu untuk apa kalau tak bisa dingin?"
Ayahnya tersenyum, senyum yang lambat, senyum tukang yang sudah melihat ribuan barang rusak dan tahu tak ada yang benar-benar jadi sampah. "Bu Har jualan gorengan. Dia butuh lemari yang rapat, anti-tikus, anti-semut, buat nyimpen terigu sama minyak. Nggak butuh dingin. Butuh rapat." Ia mengetuk lagi. "Aku cabut mesinnya, bersihkan dalamnya, pasang engsel baru. Besok sudah jadi lemari kering paling awet di gang ini. Dia senang, aku dapat sedikit."
Arsa memandang bangkai kulkas itu. Sesuatu di dadanya mengetat, dan ia tak tahu apakah itu perih atau harap.
"Kamu tahu kenapa tukang tadi bilang ini mati?" lanjut ayahnya, kembali membungkuk, mencungkil klem karet dengan hati-hati. "Karena dia cuma tahu satu guna. Kulkas gunanya dingin. Nggak dingin, berarti mati. Buang." Ia menggeleng pelan. "Orang yang cuma tahu satu guna itu gampang nyerah. Dia lihat yang hilang, nggak lihat yang tinggal."
Kata-kata itu masuk terlalu dalam. Arsa mengalihkan pandang ke halaman, ke jemuran ibunya yang bergoyang, ke apa saja selain wajah ayahnya. Ia belum menceritakan apa-apa. Belum tentang grand piano yang ditarik, belum tentang peringkatnya yang runtuh, belum tentang kata yang diucapkan Profesor Danupraja empat mata—distonia fokal, momok diam para pianis. Ia hanya bilang ia pulang sebentar, capek, butuh istirahat. Tapi ayahnya adalah lelaki yang seumur hidup membaca kerusakan dari bunyi, dari getar, dari hal-hal yang tak diucapkan.
"Tanganmu kenapa, Le?"
Arsa membeku. "Nggak apa-apa. Cuma pegal."
Ayahnya tidak memaksa. Ia hanya mengangkat tangan kanannya sendiri yang berbebat, memutarnya di udara seolah menimbang. "Tanganku ini nggak akan sekuat dulu. Dokter puskesmas sudah bilang. Ada urat yang nggak balik seratus persen." Ia berkata biasa saja, tanpa iba pada diri sendiri. "Dulu aku bisa angkat kompresor sebelah tangan. Sekarang harus dua, harus pelan, harus mikir dulu tiap gerak." Ia menoleh pada Arsa. "Tapi aku belum berhenti jadi tukang. Aku cuma jadi tukang yang beda caranya."
"Itu beda, Yah." Suara Arsa nyaris tak terdengar. "Punya Ayah cuma pelan. Punyaku—" Ia berhenti, hampir mengucapkan terlalu banyak.
"Punyamu apa?"
Arsa menelan ludah. Angin membawa bau gorengan dari gang. Di kejauhan, lonceng gereja Pak Pendeta berdentang, dan telinganya yang terkutuk oleh kesempurnaan itu langsung menangkapnya—nada B yang fals, selalu fals, mengambang setengah koma di bawah yang seharusnya. Ia menutup mata.
"Punyaku, kalau rusak, ya sudah. Nggak ada guna lain." Air mata menggenang tanpa izin. "Yang kupelajari cuma satu. Cuma itu."
Ayahnya meletakkan tang untuk kedua kalinya. Ia mendekat, duduk di sebelah anaknya di undakan, tak menyentuh tangan yang disembunyikan itu, hanya duduk berdampingan seperti dua tukang yang mengaso.
"Le, dengar Ayah." Suaranya rendah, tanpa khotbah. "Ayah nggak ngerti musikmu. Ayah nggak tahu not, nggak tahu tuts. Tapi Ayah tahu mesin. Dan Ayah belum pernah ketemu mesin yang cuma bisa satu hal." Ia menunjuk kulkas telentang itu dengan dagunya. "Yang mati bukan barangnya. Yang mati itu bayangan lama tentang barangnya. Kalau kamu ngotot ini harus tetap kulkas, ya, ini bangkai. Kalau kamu tanya barang ini masih bisa apa—dia masih banyak bisanya."
Arsa menunduk. Setetes jatuh ke lantai semen.
"Ayah nggak bilang gampang," lanjut lelaki itu. "Nyari guna baru itu lebih susah daripada benerin yang lama. Harus mikir dari nol. Harus tahan malu diketawain tukang yang cuma tahu satu guna." Ia menepuk lutut Arsa, sekali, tangan kirinya yang masih kuat. "Tapi tangan yang nggak bisa lagi kayak dulu, masih bisa bangun sesuatu. Belum tentu yang sama. Mungkin yang lebih tahan."
Untuk waktu yang lama mereka duduk begitu, ayah dan anak, di depan kulkas yang sedang belajar jadi lemari. Arsa tak menjanjikan apa-apa. Ia belum sanggup. Tapi ketika ayahnya bangkit dan kembali membungkuk pada pekerjaannya, memindahkan beban ke tangan yang tersisa dengan sabar yang keras kepala, Arsa mendapati dirinya menarik tangan kanannya keluar dari saku. Ia memandanginya di bawah matahari pagi—jari-jari yang mengkhianatinya, jari-jari yang dulu sempurna. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tak buru-buru menyembunyikannya kembali.
Di kejauhan, nada B fals gereja masih menggantung di udara, cacat dan keras kepala dan hidup.