Papan pengumuman di lorong utama Institut Musik Wreksodiningrat masih basah oleh lem ketika Arsa membacanya untuk kedua kalinya, seakan mengulang bisa membuat namanya sendiri muncul di sana. Tidak. Yang tercetak paling atas, dengan huruf yang sengaja dibuat lebih tebal karena ia juga peraih nilai ujian tertinggi semester itu, adalah nama Bramantyo — delegasi tunggal institut untuk kompetisi antarbangsa di Wina, bulan depan.
Di belakangnya, dua mahasiswa biola berbisik kagum, menyebut nama Bramantyo seolah itu sudah jadi gelar tersendiri — anak konglomerat yang juga jenius, seakan dua hal itu memang seharusnya datang sepaket. Arsa dulu akan menelan bisikan semacam itu seperti menelan pecahan kaca. Sekarang ia hanya mendengarnya lewat, seperti angin yang tak lagi berkepentingan dengannya.
Arsa sendiri tidak merasa iri seperti dulu. Sejak tangannya menekuk sendiri di depan seluruh kelas Profesor Danupraja, iri hati terasa seperti kemewahan yang tak sanggup lagi ia beli. Yang tersisa hanya rasa ganjil menyaksikan hidup orang lain berjalan lurus, sementara hidupnya sendiri harus dibongkar dan disusun ulang dari reruntuhan.
Ia baru hendak berbalik menuju Ruang Latihan 7 — tempatnya kini menghabiskan malam bukan untuk kesempurnaan, melainkan untuk membujuk tangan kirinya mengenal jalan yang biasanya ditempuh dua tangan sekaligus — ketika suara di ruang resital kecil menahan langkahnya. Pintunya terbuka sedikit. Di dalam, Bramantyo berdiri kaku di depan seorang pria berjas kelabu yang parfumnya tercium sampai ke lorong.
"Nilai memang tertinggi," kata pria itu, tanpa basa-basi, tanpa juga menyebut kata selamat. "Tapi Wina bukan sekolah musik kabupaten. Di sana kau akan bertemu anak-anak yang sudah main dengan orkestra sejak umur dua belas."
"Saya tahu, Pa." Suara Bramantyo datar, jenis kedataran yang hanya bisa dilatih bertahun-tahun.
"Kau tahu?" Pria itu melangkah mendekati piano ekor di tengah ruangan, mengetuk tepi tutupnya seperti mengetuk meja rapat. "Kakekmu membangun tiga pabrik dari nol. Ayahmu membesarkannya jadi sepuluh. Yang kauminta dari keluarga ini cuma satu hal, dan itu piano. Jangan sampai satu-satunya yang kauminta berakhir jadi yang paling memalukan."
Tidak ada jawaban. Bramantyo berdiri dengan punggung lurus, dagu terangkat sedikit — sikap yang selama ini Arsa kira congkak, ternyata, dilihat dari sudut ini, tak jauh beda dengan sikap seorang prajurit yang menahan diri agar tidak roboh di depan komandannya.
Pria itu pergi tanpa memeluknya, tanpa menepuk bahunya, hanya melirik jam tangan dan berkata akan ada rapat direksi jam tujuh. Pintu kaca berderit menutup. Bramantyo berdiri sendirian di tengah ruang resital yang gemanya masih menyimpan suara langkah ayahnya, dan untuk beberapa detik ia tidak melakukan apa-apa selain berdiri, seperti orang yang baru saja diberitahu bahwa gedung yang ia tinggali sebenarnya sudah lama retak.
Lalu ia duduk di depan piano ekor itu dan mulai bermain — bukan repertoar kompetisi, bukan juga sesuatu yang pernah Arsa dengar sebelumnya. Sesuatu yang terdengar seperti diulang-ulang untuk dirinya sendiri, tanpa penonton, tanpa nilai, jenis permainan yang biasanya hanya keluar ketika seseorang lupa ada yang mendengarkan. Tangannya sempurna secara teknis seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang hilang dari nada-nadanya, sesuatu yang Arsa — dengan telinga yang bisa membedakan satu nada sumbang di antara delapan puluh delapan tuts — tak bisa tidak dengar: kesepian yang dimainkan dengan sangat presisi.
Arsa berdiri di ambang pintu lebih lama dari yang seharusnya. Bagian dirinya yang masih menyimpan luka dari ancaman Bramantyo soal jarinya yang gagal, dari cibiran soal sepatunya yang usang dulu di hari pertama, ingin berbalik dan pergi tanpa suara, membiarkan orang itu tenggelam sendirian seperti Arsa nyaris tenggelam sendirian. Tapi bagian lain — bagian yang belakangan ini semakin sering muncul, sejak ia berhenti berpura-pura di depan komite beasiswa — justru mengenali sesuatu yang menyakitkan untuk diakui: mereka berdua terjerat oleh syarat yang tak pernah mereka tulis sendiri. Punya Arsa berbunyi seperti angka di rekening dan tangan yang harus tetap utuh. Punya Bramantyo berbunyi seperti nama keluarga yang harus tetap besar. Bentuk kandangnya berbeda, tapi sama-sama tak bisa keluar begitu saja.
Lantai berderit di bawah sepatunya. Bramantyo berhenti bermain seketika, menoleh, dan wajahnya kembali mengeras seperti topeng yang buru-buru dipasang lagi.
"Mengintip, Pradipta?"
"Lewat saja." Arsa nyaris berbalik, lalu entah kenapa tidak jadi. "Aku dengar kau ke Wina."
"Kau senang?" Ada sesuatu yang menantang dalam suaranya, tapi juga, samar-samar, sesuatu yang lain — semacam kewaspadaan seorang yang terbiasa dikomentari, menunggu sindiran datang seperti biasanya.
"Nggak tahu," jawab Arsa jujur. "Aku cuma dengar permainanmu barusan. Bukan yang biasa kaumainkan di depan orang-orang."
Bramantyo menatapnya lama, seperti menimbang apakah ini serangan baru atau bukan. Rahangnya sedikit mengendur. "Itu bukan urusanmu."
"Nggak," Arsa mengangguk, "bukan urusanku." Ia berdiri sesaat lagi, tak tahu harus menambah apa, sampai akhirnya berkata, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Bramantyo, "Aku juga baru belajar main untuk diriku sendiri dulu. Sisanya belakangan."
Ia tidak menunggu tanggapan. Ia berjalan ke Ruang Latihan 7, dan dari balik dinding, samar, ia masih bisa mendengar piano itu berbunyi lagi — kali ini lebih pelan, lebih ragu, seperti seseorang yang baru sadar ada yang mendengarkan dan tidak lagi yakin bagaimana caranya bermain jujur dengan saksi di dekatnya.
Di Ruang Latihan 7, Arsa meletakkan tangan kanannya di pangkuan seperti biasa dan membiarkan tangan kirinya sendirian menjelajah oktaf-oktaf bawah. Ia memikirkan ayah Bramantyo yang tak sekali pun menyebut kata sayang, lalu ayahnya sendiri di Wonokromo yang tak pernah bisa membelikannya apa-apa selain doa dan tangan yang lelah memperbaiki kulkas orang lain. Dua kemiskinan yang berbeda rupa, sama-sama menagih harga yang tak pernah lunas. Untuk pertama kalinya sejak permusuhan mereka dimulai, Arsa tidak membenci Bramantyo. Ia hanya merasa kasihan — dan diam-diam waspada, karena tahu betul, rasa kasihan bisa jadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit daripada dendam.
Ia tidak tahu apa yang akan tumbuh dari perasaan itu, atau kapan. Yang ia tahu, malam itu, ketika akhirnya berhenti berlatih dan mematikan lampu Ruang Latihan 7, piano di ruang resital sudah lama sunyi — tapi ia masih membayangkan Bramantyo duduk di sana sendirian, menghitung berapa lama lagi ia sanggup menjadi satu-satunya hal yang boleh diminta dari keluarganya.