Lampu di kamar kos itu satu-satunya yang masih menyala di lantai tiga. Arsa duduk di tepi ranjang, tiga lembar kertas terbentang di lantai di depan kakinya, seperti tiga pintu yang tak satu pun ingin ia buka. Ia sudah menatapnya sejak azan isya, dan kini jam di ponselnya menunjukkan pukul sebelas lewat. Jari manis kanannya beristirahat di pangkuan, tenang, patuh — dan justru ketenangan itu yang paling ia takuti, sebab ia tahu betapa cepat tangan itu bisa berubah pikiran.
Di kertas pertama ia menulis satu kata: Berhenti. Ia tak menambahi apa pun. Kata itu berdiri sendiri, gemuk dan dingin, dan anehnya paling mudah dibayangkan. Ia bisa pulang ke Wonokromo, membantu ayah yang mulai sembuh menata perkakas reparasi, mengiringi kidung di gereja dengan tangan kiri saja bila perlu, dan membiarkan nama Arsa Pradipta luruh menjadi cerita yang orang-orang di institut ceritakan sambil menggeleng. Tak ada lagi malam yang dihabiskan menunggu jari berkhianat. Tak ada lagi rasa malu di masterclass. Damai, pikirnya. Tetapi kata itu terasa seperti menutup peti sebelum orang di dalamnya benar-benar mati.
Kertas kedua bertuliskan: Komposisi. Mengajar. Itu jalan yang masuk akal, yang bahkan Dr. Prasetya isyaratkan dengan lembut — bahwa seorang musisi tak harus jarinya yang bicara, bahwa ada hidup di belakang panggung, di bangku sebelah murid, di atas kertas bergaris lima. Danupraja pun, dengan cara kasarnya, pernah menyebut Arsa punya telinga yang terlalu berharga untuk disia-siakan hanya pada dua tangan. Absolute pitch-nya masih utuh; itu tak ikut dikhianati tubuhnya. Ia bisa menulis untuk orang lain memainkannya. Aman. Terhormat. Dan, Arsa tahu betul, sedikit pengecut — karena artinya ia menyerahkan tuts kepada tangan-tangan yang tak pernah gagal, dan menonton dari kegelapan.
Kertas ketiga hanya berisi coretan yang ia buat lalu ia hampir robek: Resital. Tangan kiri. Ia menatapnya paling lama. Gagasan itu mustahil menurut ukuran mana pun yang ia warisi dari institut ini — seorang pianis yang dulu menembus peringkat teratas, kini naik panggung dengan satu tangan, memainkan repertoar yang lahir justru dari para penyintas cedera, di hadapan orang-orang yang mengenalnya sebagai prodigi. Mereka akan menganggapnya nekat. Bramantyo akan tersenyum. Ia bisa membeku di tengah karya, seperti yang sudah pernah terjadi, dan kali ini di depan semua orang yang penting.
Ada ketukan di pintu. Pelan, dua kali. Arsa tahu ritme itu.
"Belum tidur," kata Renjana ketika ia membuka pintu. Bukan pertanyaan. Ia membawa termos kecil dan bau hujan malam di kardigannya. Matanya jatuh ke tiga lembar kertas di lantai, dan ia tidak berkomentar, hanya duduk bersila di dekatnya, meletakkan termos di antara mereka seolah itu perapian.
"Aku sudah dengar soal audisimu di luar kota," kata Arsa akhirnya. "Kau harus mengambilnya."
"Aku bukan datang untuk membicarakan aku." Renjana menunjuk kertas ketiga dengan dagunya. "Yang itu. Kenapa hampir kau robek?"
Arsa menarik napas. Suaranya keluar lebih serak dari yang ia niatkan. "Karena aku takut. Karena kalau aku memilih itu dan gagal, aku tak cuma kehilangan tangan. Aku kehilangan alasan untuk berbohong pada diri sendiri bahwa aku masih bisa. Selama aku tidak mencoba, aku masih boleh membayangkan aku sanggup." Ia menekan pelipisnya. "Dua yang lain lebih aman. Yang satu aku pulang. Yang satu aku menulis untuk orang lain. Keduanya waras."
"Dan keduanya," kata Renjana pelan, "membuatmu berhenti mendengar musik dari dalam dirimu sendiri."
Arsa terdiam. Di luar, seekor anjing menyalak jauh, dan dalam kepalanya — ia tak bisa menahannya — nada gonggongan itu jatuh persis di antara A dan B, fals, seperti nada B piano upright gereja yang selama ini menghantuinya. Dulu suara itu teror. Malam ini, entah bagaimana, terdengar seperti seseorang memanggil namanya dari Wonokromo.
"Waktu Pak Pendeta bilang nada B gereja sudah fals empat puluh tahun," Arsa berkata, lebih kepada dirinya sendiri, "jemaat tetap menyanyi. Tetap menangis waktu menyanyi. Fals-nya tidak membunuh apa pun." Ia mengangkat tangan kirinya, membalik-baliknya di bawah lampu. Tangan yang selama ini cuma pengiring, cuma bayangan tangan kanan. "Kalau aku menulis untuk orang lain, aku menyembunyikan cacatku di balik jari-jari mereka yang sempurna. Kalau aku berhenti, aku pura-pura cacat ini tak pernah punya suara. Cuma yang ketiga —" ia menelan ludah, "cuma yang ketiga yang membiarkan cacat ini bicara sendiri. Di depan orang. Tanpa disembunyikan."
"Itu yang paling menyakitkan," kata Renjana.
"Itu yang paling jujur." Arsa memungut kertas ketiga. Tangannya — tangan kirinya — tidak gemetar. "Kalau aku ambruk di panggung, orang akan tahu persis siapa aku sekarang. Tak ada lagi kepura-puraan penjarian ulang, tak ada trik satu tangan yang aku sembunyikan dari Ibu Widari. Semua terbuka." Ia tersenyum tipis, getir. "Danupraja bilang dia dulu juga kehilangan tangannya, lalu jadi guru yang keras karena tak sanggup melihat orang lain kehilangan seperti dirinya. Aku tidak mau jadi seperti itu. Aku tidak mau menghabiskan sisa hidup menjaga jarak dari piano supaya tidak patah hati lagi."
Renjana tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menuang teh dari termos, mengulurkan satu gelas, dan gelas itu berhenti sejenak di udara sampai tangan kiri Arsa yang menerimanya. Uapnya naik di antara mereka.
"Kalau begitu aku akan ada di kursi penonton," katanya. "Kau tahu itu, kan? Ke mana pun audisiku membawaku."
Arsa mengangguk. Ia mengambil dua kertas pertama, melipatnya rapi, dan meletakkannya di laci — tidak dirobek, karena keduanya bukan pengecut, keduanya cuma bukan dirinya. Lalu ia meletakkan kertas ketiga di atas meja, di bawah lampu yang menyala sendirian, agar itu jadi hal pertama yang ia lihat besok pagi.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ia tidur tanpa menunggu tangannya berkhianat. Ia sudah memilih. Bukan jalan yang menyembuhkannya — ia tahu tak ada jalan seperti itu. Ia memilih jalan yang membiarkannya tetap bernyanyi meski fals. Besok, ia akan menemui Danupraja dan mengucapkan satu kata yang paling menakutkan dan paling membebaskan: resital.