Ruang latihan tujuh sudah lama tak menyimpan hantu. Arsa Pradipta duduk di bangku panjang di depan upright tua yang dipindahkan institut ke sudut itu—bukan grand piano warisan, hanya piano latihan biasa yang tutsnya kekuningan—dan menunggu Profesor Danupraja. Sore turun perlahan lewat jendela tinggi, menaburkan debu keemasan di atas partitur yang berserakan. Ini pertemuan yang tidak dijadwalkan. Sang profesor hanya menitip pesan lewat penjaga: temui aku setelah kelas terakhir.
Danupraja datang tanpa map, tanpa metronom. Tangannya kosong, dan Arsa tak pernah melihat guru itu berjalan tanpa membawa sesuatu untuk dipukulkan ke tepi piano. Danupraja menarik kursi, duduk menghadap muridnya, dan untuk sesaat keduanya hanya diam di ruang yang dahulu menjadi saksi bagaimana jari manis Arsa menekuk sendiri tanpa perintah.
"Kau tahu," kata Danupraja akhirnya, suaranya lebih tua daripada yang Arsa ingat, "waktu pertama kali kau masuk kelasku, aku ingin kau berhenti."
Arsa mengangkat wajah.
"Bukan karena kau buruk. Karena kau terlalu mirip aku." Danupraja menatap tuts, bukan Arsa. "Otodidak. Lapar. Bermain seolah piano ini satu-satunya yang mencegahmu tenggelam. Aku dulu begitu. Dan aku tahu ke mana kelaparan seperti itu membawa tangan seseorang."
"Ke ruang ini," kata Arsa pelan. "Ke jari yang berkhianat."
"Ke ruang yang lebih sepi daripada ini." Danupraja mengatupkan bibirnya. "Aku keras padamu, Arsa. Aku membongkar setiap kebiasaanmu di depan kelas. Aku mempermalukanmu soal ketegangan itu jauh sebelum kau mengerti apa yang kubicarakan. Kau membenciku, aku tahu."
Arsa tidak menyangkalnya. Dulu benci itu nyata, panas, membuat matanya berair di koridor marmer sambil menahan diri agar tak ada yang melihat anak Wonokromo menangis. "Aku mengira Profesor menikmatinya," katanya. "Mempermalukan orang seperti saya."
"Aku sedang berteriak pada bayanganku sendiri." Danupraja tertawa kecil, tanpa geli. "Setiap kali kutegur teganganmu, aku mencoba memutar waktu—menghentikan pemuda bernama Danupraja empat puluh tahun lalu sebelum ia meremukkan tangannya sendiri di ruang latihan yang gelap. Aku pikir jika aku cukup keras, kau tak akan berakhir sepertiku." Ia berhenti. "Dan tetap saja kau berakhir sepertiku. Itu yang paling tak bisa kumaafkan dari diriku."
Ruang itu senyap. Di kejauhan, seorang mahasiswa cello berlatih tangga nada, naik-turun tanpa lelah.
"Distonia fokal tidak datang karena Profesor kurang keras," kata Arsa. Ia mengejutkan dirinya sendiri dengan ketenangan suaranya. "Dan tidak juga karena Profesor terlalu keras. Ia datang karena saya menyembunyikannya. Karena saya berlatih sampai fajar di grand piano itu, memaksa tangan yang sudah memberi tanda, dan berbohong pada semua orang—termasuk pada Profesor. Kejang di masterclass itu bukan salah Profesor. Itu tubuh saya yang akhirnya menolak dibohongi lebih lama."
Danupraja menoleh, dan ada sesuatu di matanya yang jarang muncul—sesuatu yang menyerupai keterbukaan seorang murid, bukan guru.
"Waktu Profesor menghentikan saya di depan semua orang hari itu," Arsa melanjutkan, "saya kira dunia saya runtuh. Tapi Profesorlah yang menyebut namanya. Distonia fokal. Momok diam para pianis. Semua orang lain akan membiarkan saya terus menghancurkan diri dalam penyangkalan. Profesor menghentikannya. Itu bukan kekejaman. Itu satu-satunya kebaikan yang bisa Profesor berikan saat itu, dalam satu-satunya bahasa yang Profesor tahu."
Bahu Danupraja turun, seakan sebuah beban yang telah ia panggul empat dasawarsa akhirnya diletakkan di lantai ubin itu.
"Aku menonton resitalmu," katanya. "Tangan kirimu. Nada B fals yang kau anyam ke dalam karya itu—cacat yang kau jadikan tanda tangan." Suaranya bergetar tipis, dan Arsa berpura-pura tak mendengarnya, memberi guru itu martabat. "Aku duduk di baris belakang dan aku menangis, Arsa. Bukan karena kau kasihan. Karena kau melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan. Ketika tanganku gagal, aku mengubur pianisku dan menjadi hantu yang mengajar. Ketika tanganmu gagal, kau menemukan musisi yang lain di dalam dirimu. Kau tidak menguburnya. Kau menerjemahkannya."
"Profesor mengajari saya menerjemahkannya."
"Tidak." Danupraja menggeleng. "Aku mengajarimu teknik tangan kiri. Kau yang memutuskan untuk hidup dengan tangan yang tersisa." Ia meraih tuts, menekan satu nada dengan jari telunjuknya yang kaku—B, dan piano latihan itu membalas dengan nada yang bersih, tak fals seperti milik gereja Wonokromo. "Eyang Wreksodiningrat menghabiskan tahun-tahun terakhirnya mengarang setelah tangannya gagal. Aku selalu menganggap itu penghiburan bagi orang kalah. Kau membuatku melihatnya sebagai kelanjutan, bukan akhir."
Arsa meletakkan tangan kanannya—tangan yang masih sesekali menekuk, yang tak akan pernah sama lagi—di atas tangan tua sang profesor, di atas tuts B yang masih berdengung samar.
"Saya sudah lama tidak membenci Profesor," katanya. "Saya cuma tidak tahu bagaimana mengatakannya."
Danupraja tidak menarik tangannya. Air matanya, langka dan mahal, jatuh sekali ke atas gading, dan ia tidak menyekanya. "Maafkan aku," bisiknya, "atas semua tahun ketika aku mengira kerasnya diriku adalah kasih sayang."
"Sudah," kata Arsa. "Lama sudah."
Mereka duduk begitu sampai cahaya sore benar-benar habis dan mahasiswa cello di kejauhan menutup latihannya dengan satu nada panjang yang membiarkan dirinya memudar. Danupraja bangkit, merapikan kerah jasnya, dan sejenak menjadi profesor yang keras itu kembali—tetapi hanya sejenak.
"Besok," katanya di ambang pintu, "bawa karyamu yang belum selesai. Bukan untuk kuperbaiki. Untuk kudengar." Ia berhenti. "Sebagai murid Eyang, aku belum pernah benar-benar mendengarkan siapa pun. Aku ingin mulai denganmu."
Arsa mengangguk, dan ketika pintu tertutup, ia tetap duduk di bangku itu, menekan satu tuts B yang bersih dan membiarkannya menyatu dengan ingatan akan B fals gereja—dua nada yang sama namanya, keduanya benar dengan caranya sendiri.