Kahfi menyelesaikan botol susu Alfa sambil mendengarkan Bima dan Andi berdebat soal jadwal rapat. Bayi itu sudah kenyang, tetapi masih memegang ujung jari ayahnya. Di sekretariat fakultas ekonomi, suara kipas angin bercampur dengan obrolan mahasiswa yang keluar masuk.
Koko berdiri di dekat pintu sambil memegang rokok yang belum sempat dinyalakan. Kahfi meliriknya.
“Ko, kalau mau merokok di luar aja ya. Alfa di sini.”
Koko segera menyimpan rokoknya. “Santai, Kaf. Gue nggak jadi nyalain.”
“Bukan nyuruh lo berhenti. Cuma tolong jaga ruangannya sebentar. Gue juga nggak mau dia kena asap.”
“Iya, ngerti.” Koko membuka jendela dan menggeser kursi agar udara lebih leluasa. Ia lalu duduk menjauh dari bayi. “Udah minum, Fa?”
Kahfi mengangguk. Ia mengangkat Alfa ke bahunya dan menepuk punggung mungilnya pelan, seperti yang biasa ia lakukan di rumah. “Sudah kenyang, sekarang sendawa dulu.”
Bima memperhatikan mereka lalu terkekeh. “Kaf, lo kalau gendong anak rapi banget. Kayak udah ikut pelatihan.”
“Belajar karena tiap hari latihan. Kalau salah posisi, Fiyah yang ngajarin.”
“Lah, kirain insting Daddy muda langsung keluar,” kata Andi.
“Insting juga perlu belajar, Di.” Kahfi tersenyum sambil menaruh kain kecil di bahunya. “Jangan karena sayang terus ngerasa semuanya pasti bisa sendiri.”
Bima berhenti tersenyum ketika melihat Ray yang duduk di ujung ruangan. Sejak beberapa menit lalu temannya itu lebih banyak menunduk pada ponsel. Tadi, setelah mereka membicarakan pasangan dan keluarga, Ray berkata jodohnya mungkin tidak ada di dunia. Kalimatnya terdengar seperti candaan, tetapi nada akhirnya membuat Bima menatapnya dua kali.
Kahfi tidak langsung bertanya. Ia meletakkan Alfa di pangkuannya, memastikan kepala anak itu tersangga, lalu membiarkan Bima memilih cara mendekati Ray.
“Ray,” kata Bima, suaranya ringan. “Ucapan lo tadi serius atau lagi cari bahan buat bikin kita panik?”
Ray mengangkat bahu. “Dua-duanya bisa.”
“Kalau cuma bercanda, gue ketawa. Kalau nggak, gue dengerin.”
Ray menatap Bima beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Nggak usah dibahas sekarang. Lagi rame.”
“Ya udah,” jawab Bima. Ia tidak mengulang pertanyaan. “Kalau nanti mau ngomong, kabari.”
Andi hendak menyahut, tetapi Kahfi menggeleng kecil. Ia tidak ingin kalimat Ray berubah menjadi hiburan satu ruangan. Andi menelan komentarnya dan mengalihkan pembicaraan ke jadwal rapat.
Alfa mulai menggeliat. Kahfi berdiri perlahan dan menggendongnya dekat jendela yang sudah dibuka. Koko ikut berdiri, menjaga supaya orang yang masuk tidak menyalakan rokok di dalam.
“Kalau ada yang protes?” tanya Koko.
“Bilang aja ada bayi. Kita cari ruang lain kalau memang nggak bisa dijaga.”
“Gampang.”
Kahfi merasa lega. Ia tidak perlu memarahi siapa pun. Ia hanya meminta ruang yang aman untuk anaknya, dan Koko bersedia membantu.
Saat Alfa kembali tenang, Kahfi memeriksa ponsel. Fiyah belum mengirim pesan bahwa kelasnya selesai. Ia tidak ingin mengganggu kuliah istrinya, jadi ia menulis singkat: “Kalau kelas selesai, kabari abang. Kita pulang bareng. Alfa sudah minum dan baik-baik saja.”
Ia membaca ulang pesannya agar tidak terdengar seperti memerintah. Lalu mengirimnya dan menyimpan ponsel.
Di seberang ruangan, Ray mulai ikut membahas angka-angka usaha dengan Andi. Ia masih belum banyak bicara, tetapi setidaknya tidak lagi menunduk sendirian. Kahfi tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Ray. Ia hanya berharap temannya memahami bahwa ia boleh bicara tanpa harus langsung diberi jawaban.
Koko kembali ke sekretariat setelah mengantar berkas ke ruangan sebelah. Ia melihat Kahfi masih menggendong Alfa dan kursi-kursi sudah bergeser menjauhi pintu.
“Gue tadi udah matiin rokok, tapi kalau ada yang masuk bawa rokok gimana?” tanyanya.
“Bilang aja jangan nyalain di sini. Kalau mereka tetap butuh merokok, bisa keluar dulu. Gue nggak mau ribut, tapi Alfa juga nggak bisa pindah sendiri.”
Koko mengangguk. “Oke, gue yang ingetin.”
Kahfi berterima kasih. Ia tahu Koko tidak harus mengambil tanggung jawab menjaga ruang itu, tetapi bantuan kecil tersebut membuatnya bisa fokus pada putranya. Ia mengambil kain dari tas, menyeka sedikit susu di dagu Alfa, lalu memastikan botol tertutup rapat sebelum disimpan.
Ray yang sejak tadi diam akhirnya berdiri untuk mengambil air minum. Bima tidak menyusul atau menahannya. Ia hanya bertanya apakah Ray ingin sekalian dibawakan sesuatu dari kantin. Ray menjawab tidak, lalu berhenti di dekat meja.
“Gue cuma lagi capek aja, Bim,” ujarnya pelan. “Jangan bikin kesimpulan sendiri.”
“Gue nggak bikin.”
“Bagus. Gue juga belum tahu mau ngomong apa.”
Bima mengangguk. “Kalau nanti sudah tahu, gue dengar. Kalau nggak mau cerita juga nggak apa-apa.”
Ray mengangkat botol airnya sebagai tanda terima kasih. Ia kembali duduk dan mulai membantu Andi membaca jadwal pekerjaan. Percakapan itu kecil, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak sedang diminta menjelaskan diri di depan semua orang.
Sebelum kelas Fiyah selesai, Kahfi memeriksa pesan sekali lagi. Belum ada kabar baru. Ia tidak mengirim pertanyaan berulang. Ia tahu Fiyah sedang mencatat materi dan ingin menyelesaikan kelas dengan tenang. Bima bertanya apakah Kahfi perlu kembali ke rumah dulu untuk mengambil sesuatu.
“Semua kebutuhan Alfa ada di tas. Kalau Fiyah selesai, kita pulang bareng.”
“Lo udah siapin semuanya?”
“Fiyah yang nyiapin. Gue cek ulang sebelum berangkat.”
Bima tertawa kecil. “Berarti teamwork.”
“Harus. Gue nggak bisa merawat anak dengan menganggap Fiyah cuma penonton.”
Tak lama kemudian pesan Fiyah masuk. Kelasnya akan berakhir dalam dua puluh menit. Ia meminta Kahfi menunggu di koridor dan tidak perlu membawa kursi roda dari mobil. Ia ingin mencoba berjalan sendiri sampai bangku, lalu beristirahat sebelum pulang.
Kahfi menjawab, “Siap. Abang tunggu di dekat kelas. Bilang kalau ada yang berubah.”
Setelah mengirim pesan, ia memberi tahu Bima. Mereka membawa tas bayi dan berjalan ke koridor. Koko tetap di sekretariat, memastikan ruangan tidak menjadi tempat merokok. Kahfi merasa lega karena permintaan sederhana tadi diterima tanpa perlu membuat orang lain merasa diserang.