Bima menyelesaikan rapat kecil lebih cepat dari biasanya. Mereka mencatat tugas yang harus diperiksa sebelum pertemuan berikutnya, lalu Andi pergi menemui dosen. Ray masih duduk sambil memutar ponsel di telapak tangannya. Bima menunggu sampai orang lain keluar sebelum kembali mendekat.
“Lo mau makan dulu?” tanyanya.
“Belum lapar.”
“Ya udah. Gue cuma mau bilang, soal tadi gue nggak minta lo cerita sekarang.”
Ray memasukkan ponsel ke saku. “Gue tahu.”
“Kalau lo cuma capek lihat Kahfi punya anak, bilang aja. Kalau ada hal lain, juga nggak apa-apa. Gue nggak akan maksa.”
Ray mengembuskan napas pendek. “Gue kadang ngerasa ketinggalan. Tapi itu bukan salah Kahfi.”
Bima mengangguk. “Iya. Hidup kita beda-beda.”
“Gue cuma nggak mau setiap orang langsung nyariin calon buat gue begitu gue bilang begitu.”
“Gue ngerti. Gue nggak bakal bikin grup jodoh-jodohan.”
“Bagus. Grup bisnis aja kadang udah cukup bikin pusing.”
Keduanya tertawa kecil. Bima tidak bertanya lebih jauh. Ia mengambil tas dan mengingatkan Ray agar mengabari kalau nanti berubah pikiran. Ray membalas dengan anggukan.
Kahfi tetap menunggu kabar Fiyah. Alfa tertidur di gendongan. Ia menggeser kursi supaya tak menghalangi orang lewat, lalu membuka catatan jadwal kuliahnya. Kelasnya sendiri tidak lama lagi mulai, tetapi ia tak ingin pergi sebelum tahu apakah Fiyah butuh bantuan pulang. Ia juga tidak mau menganggap dirinya satu-satunya orang yang bisa menjaga anak mereka. Hari ini ia membawa Alfa karena Rahmi dan Angga sedang di luar kota, bukan karena Fiyah tidak mampu mengurusnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Fiyah masuk: “Kelas selesai sekitar dua puluh menit lagi. Fiyah bereskan catatan dulu. Kaki agak pegal, tapi masih bisa jalan pelan.”
Kahfi segera membalas, “Baik, abang tunggu di dekat kelas. Mau dibantu atau mau jalan sendiri sampai koridor?”
Balasan Fiyah datang beberapa saat kemudian: “Temani saja, jangan langsung digendong ya. Fiyah mau coba jalan sampai koridor.”
Kahfi tersenyum. “Siap.”
Ia mengajak Bima menunggu bersamanya. Sebelum keluar, ia meminta Koko tetap memastikan ruangan bebas asap. Koko mengangkat ibu jari.
Di koridor, Kahfi menaruh Alfa di gendongan depan dan berjalan perlahan. Bima membawa tas perlengkapan bayi. Mereka berhenti di bangku dekat kelas Fiyah, tidak berdiri tepat di depan pintu agar mahasiswa lain bisa lewat.
“Lo mau gue pegang tasnya?” tanya Bima.
“Nggak usah, gue bisa. Kalau Alfa bangun baru gue minta.”
Tak lama kemudian Fiyah keluar bersama beberapa teman sekelasnya. Ia melihat Kahfi dan Alfa, lalu senyumnya muncul. Kahfi tidak langsung menghampiri. Ia menunggu sampai Fiyah mendekat dengan langkah kecil dan stabil.
“Capek?” tanyanya.
“Sedikit. Tapi Fiyah senang bisa ikut kelas sampai selesai.”
“Alhamdulillah. Mau duduk dulu?”
“Iya, sebentar.”
Mereka duduk di bangku koridor. Fiyah menyentuh tangan Alfa dan membisikkan salam kepada putranya. Kahfi menceritakan bahwa Alfa minum dan tidur, Koko menjaga ruangan tanpa asap, dan Bima membantu membawa tas. Ia tidak menyebut ucapan Ray untuk menambah beban sebelum Fiyah beristirahat.
Bima menyapa Fiyah dan bertanya tentang kelasnya. Mereka bicara soal tugas dan jadwal, lalu ia pamit lebih dulu agar pasangan itu bisa pulang bersama. Sebelum pergi, ia menepuk bahu Kahfi pelan.
“Kalau Ray nanti mau cerita, gue dengerin.”
Kahfi mengangguk. “Jangan buru-buru cari solusi.”
“Gue tahu.”
Menunggu Fiyah membuat Kahfi teringat beberapa bulan lalu, ketika membayangkan dirinya membawa anak ke kampus terasa mustahil. Dulu ia sering pulang hanya untuk beristirahat setelah kelas dan mengurus usaha. Kini tas bayi berisi botol, kain, dan pakaian ganti menggantung di lengannya. Ia tidak mengeluh. Ia hanya belajar agar ingat memeriksa semua barang.
Bima duduk di sisi bangku yang berbeda. “Kalau Ray belum mau cerita, kita biarkan dulu.”
“Iya.”
“Gue sendiri pernah ngerasa hidup gue jalan lambat dibanding orang lain. Tapi nggak semua rasa harus langsung dibahas.”
Kahfi mengangguk. “Yang penting jangan bikin dia merasa gagal karena belum punya pasangan.”
“Betul.”
Pintu kelas terbuka dan beberapa mahasiswa keluar. Fiyah muncul setelah mereka, memegang buku catatan di dada. Kahfi berdiri, tetapi tidak langsung menyentuhnya.
“Fiyah mau ke sini sendiri?” tanyanya.
“Iya. Abang berdiri saja, jangan ditarik.”
“Baik.”
Fiyah melangkah perlahan dengan bantuan tongkatnya. Kakinya belum stabil sepenuhnya, jadi ia berhenti sekali di tengah koridor. Kahfi menahan diri untuk tidak meraih tangannya. Ia bertanya apakah Fiyah ingin bantuan. Fiyah menjawab belum, lalu melanjutkan sampai bangku.
Setelah duduk, Fiyah mengembuskan napas. “Ternyata kelas hari ini lebih padat dari yang Fiyah kira.”
“Pegal?”
“Sedikit. Tapi Fiyah senang bisa duduk di kelas lagi.”
Kahfi mengeluarkan botol air dari tasnya dan meletakkannya di dekat Fiyah. Ia tidak memaksanya minum. Bima menyapa dari sisi lain dan bertanya bagaimana perkuliahan. Fiyah menjawab bahwa ia masih menyesuaikan diri dengan jadwal, tetapi Bu Siska sudah membantu menjelaskan urusan administrasi. Ia belum tahu semua kelasnya akan seperti apa.
“Kalau butuh waktu istirahat, bilang ya,” ujar Kahfi.
Fiyah tersenyum. “Fiyah tahu. Tapi jangan langsung batalkan kuliah kalau dengar kaki Fiyah pegal.”
“Abang akan tanya dulu.”
Bima pamit untuk mengurus urusannya sendiri. Ia mengingatkan Kahfi bahwa ia bisa menghubunginya jika perlu bantuan membawa barang. Kahfi mengucapkan terima kasih, lalu menunggu Fiyah siap berdiri.
Mereka berjalan menuju kendaraan dalam langkah pendek. Kahfi membawa Alfa dan tas, Fiyah bergerak di sampingnya. Ia memilih berpegangan pada lengan Kahfi ketika permukaan lantai berubah, lalu melepaskannya saat merasa cukup stabil. Kahfi tidak mengomentari kapan ia membutuhkan bantuan.
Di kendaraan, Kahfi menaruh Alfa di kursi bayi dan memastikan pengaitnya benar. Fiyah memeriksa apakah buku catatannya tertinggal. Mereka menemukan semuanya, kecuali satu pulpen yang ternyata terselip di tas perlengkapan bayi. Fiyah tertawa melihat barang-barang mereka bercampur.
“Aku bawa rumah ke kampus ya?”
“Bukan rumah, cuma perlengkapan penting. Abang juga tadi sempat bawa kain sendawa di saku.”
“Pantas dari tadi bahu abang wangi sabun bayi.”
Kahfi tersenyum. Mereka meninggalkan kampus perlahan, tidak terburu-buru mengejar waktu. Fiyah meminta musik dikecilkan agar bisa beristirahat. Kahfi melakukannya dan bertanya apakah ia mau berhenti di jalan jika kaki terasa semakin pegal. Fiyah berkata ia akan memberi tahu.