Fiyah duduk beberapa menit sebelum berdiri. Ia mengatur posisi kaki dan menarik napas pelan. Kahfi melihatnya, tetapi tidak buru-buru menawarkan gendongan.
“Sudah siap?” tanyanya.
“Sudah. Temani dari samping saja.”
Kahfi berjalan sejajar dengannya. Alfa tertidur di gendongan depan, sementara tas perlengkapan dibawa Kahfi. Mereka bergerak pelan menyusuri koridor menuju tempat kendaraan. Sesekali Fiyah berhenti untuk mengatur langkah. Kahfi berhenti bersamanya tanpa mengeluh.
“Kalau mau berhenti lebih lama, bilang ya,” katanya.
“Fiyah bilang kalau perlu.”
“Siap.”
Di ujung koridor, Fiyah meminta duduk di bangku dekat jendela. Ia memijat ringan pahanya sendiri, bukan untuk memaksa kaki, hanya mengurangi pegal. Kahfi menunggu sambil menjaga Alfa agar tidak terbangun.
“Dulu Fiyah malu kalau harus berhenti di depan orang,” katanya. “Sekarang masih malu sedikit, tapi enggak mau pura-pura kuat.”
Kahfi menoleh. “Abang senang Fiyah bilang apa yang dirasain. Tapi jangan karena abang senang terus Fiyah harus cerita setiap saat.”
Fiyah tersenyum. “Abang makin pintar.”
“Belajar dari Umi Alfa.”
Mereka kembali berjalan sampai ke kendaraan. Kahfi memastikan Fiyah duduk nyaman sebelum menaruh tas. Ia memasang Alfa dengan hati-hati dan memeriksa pengait gendongan. Fiyah mengingatkan bahwa topi anak tertinggal di kelas. Kahfi hendak kembali mengambilnya, tetapi Fiyah berkata ia sudah meminta salah seorang temannya menjaga topi itu dan akan mengambilnya esok. Mereka tidak perlu kembali hanya untuk satu barang.
Perjalanan pulang berlangsung pelan karena lalu lintas padat. Alfa terbangun sebentar, mengeluarkan ocehan kecil, lalu kembali tenang ketika Fiyah menyentuh jemarinya dari samping. Kahfi bertanya apakah ia ingin berhenti sebentar.
“Tidak usah, Bang. Fiyah cuma mau dengar suara Alfa.”
Kahfi menurunkan volume musik. “Begini cukup?”
“Iya.”
Beberapa menit mereka hanya mendengar ocehan bayi dan suara kendaraan. Fiyah lalu bertanya apakah Ray tadi baik-baik saja. Kahfi tidak ingin menyembunyikan, tetapi ia juga tidak ingin mengumbar percakapan pribadi temannya.
“Ray bilang dia kadang merasa ketinggalan. Bima menawarkan diri untuk mendengar kalau dia mau cerita. Ray belum siap ngomong banyak.”
Fiyah mengangguk. “Jangan langsung dicarikan jodoh ya, Bang.”
“Bima juga sudah janji nggak begitu.”
“Bagus. Kadang orang cuma butuh ditemani, bukan dibetulkan.”
Kahfi mengingat kalimat itu. Ia bisa saja bercanda bahwa semua orang akan bertemu jodoh, tetapi itu bukan jawabannya. Ray sendiri yang berhak memberi arti pada perasaannya.
Sesampainya di rumah, Kahfi mengangkat tas lebih dulu. Fiyah meminta waktu turun sendiri dengan pegangan di pintu kendaraan. Ia menunggu sambil menyangga Alfa. Setelah Fiyah berdiri, Kahfi menawarkan lengannya. Fiyah menerimanya untuk beberapa langkah, lalu berkata sudah cukup.
Di ruang tamu, mereka menurunkan barang-barang dan memeriksa kebutuhan Alfa. Fiyah ingin mengganti pakaian anak, sementara Kahfi menyiapkan air dan kain bersih. Mereka berbagi tugas tanpa perlu memperdebatkan siapa yang lebih lelah. Hari itu terasa panjang, tetapi Fiyah pulang dari kelas dengan rasa bangga kecil yang tak ingin ia sembunyikan.
Saat kendaraan mereka keluar dari area kampus, Fiyah bertanya tentang teman-teman Kahfi. Ia sempat melihat Bima berbicara dengan Ray sebelum kelas selesai.
“Bima cuma menawarkan untuk mendengar. Ray bilang dia capek dan belum tahu mau cerita apa.”
“Bagus kalau Bima nggak mendesak.”
“Dia ngerti.”
Fiyah menyandarkan punggung dan memejamkan mata sebentar. Ia tidak tertidur, hanya mengistirahatkan kaki dan pikirannya. Kahfi menjaga kecepatan kendaraan tetap nyaman. Alfa mulai mengoceh dari kursi belakang. Setiap kali terdengar suara anak mereka, Fiyah membuka mata dan tersenyum.
“Fiyah tadi khawatir ninggalin Alfa,” katanya. “Tapi ternyata Fiyah bisa ikut kelas dan dia tetap baik-baik aja.”
“Abang juga belajar percaya sama orang yang bantu jaga. Mama sama Papa sudah sering rawat Alfa.”
“Bukan karena Fiyah nggak percaya mereka. Cuma Fiyah baru terbiasa jadi ibu.”
“Abang paham. Kita masih sama-sama belajar.”
Sampai di rumah, Kahfi membawa tas masuk sementara Fiyah meminta waktu untuk turun sendiri. Ia berdiri dengan hati-hati di sisi kendaraan. Kahfi menunggu dekat pintu dan memberikan lengan ketika Fiyah meminta. Mereka masuk bersama tanpa tergesa-gesa.
Alfa terbangun, lalu menangis singkat. Fiyah meminta Kahfi menggendongnya sementara ia duduk. Kahfi menenangkan anak itu dan memeriksa popoknya. Fiyah menyiapkan botol air, kemudian bertanya apakah Kahfi ingin ia mengambil alih. Kahfi menjawab ia masih sanggup, tetapi menerima bantuan Fiyah untuk menyiapkan kain bersih.
Mereka berbagi pekerjaan di ruang tamu. Kahfi mengganti popok, Fiyah menghibur Alfa dari kursinya. Ketika anak itu sudah tenang, Fiyah meminta waktu dua puluh menit untuk membaca kembali catatan kelas. Kahfi setuju menjaga Alfa. Setelah Fiyah selesai, ia akan mengambil giliran agar Kahfi dapat makan.
Pembagian itu tidak membuat mereka harus selalu menghitung siapa lebih banyak berkorban. Mereka hanya menyebut kebutuhan dengan jelas dan bertukar tugas jika keadaan berubah. Kahfi mulai mengerti bahwa menjadi ayah bukan berarti mengambil semua beban, sama seperti menjadi suami bukan berarti memutuskan apa yang boleh dilakukan istrinya.
Setelah membaca, Fiyah menutup buku dan memanggil Kahfi. “Sekarang giliran Fiyah. Abang makan dulu.”
Kahfi menyerahkan Alfa dengan hati-hati. “Dia tadi sudah minum, mungkin mau diajak ngobrol saja.”
Fiyah menggendongnya dekat dada. “Umi juga kangen dari tadi.”
Kahfi menuju dapur dan menyiapkan makanan sederhana untuk mereka. Ia bertanya dari ruangan sebelah apakah Fiyah butuh sesuatu. Fiyah menjawab tidak. Ia akan memanggil jika perlu.
Malam turun ketika mereka selesai makan. Kahfi memeriksa kembali jadwal kuliah, lalu meminta Fiyah melihat tanggal yang sudah ia tandai. Ada satu hari ketika jadwal Kahfi dan Fiyah mungkin bertabrakan.
“Kita belum tahu pasti,” kata Fiyah. “Besok Fiyah tanya teman kelas soal jadwal pulang. Abang juga cek kelasmu.”
“Setuju. Jangan kita putuskan dari sekarang sebelum jadwalnya keluar.”
Mereka menulis pertanyaan di kalender. Belum ada jawaban, tetapi mereka tidak lagi menganggap satu orang harus mengorbankan kelas tanpa bicara.
Fiyah beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Ia tidak meminta maaf karena perlu berhenti, dan Kahfi tidak membuatnya merasa bersalah. Mereka berdiri kembali hanya setelah Fiyah mengatakan siap.