Alfa mulai rewel saat Kahfi baru selesai menaruh tas kuliah. Fiyah duduk di kursi ruang tengah dan memeriksa apakah botol yang mereka bawa sudah kosong. Kahfi mendekati putranya, tetapi menunggu Fiyah menyelesaikan urusannya sendiri.
“Fiyah mau gendong dulu atau abang?” tanyanya.
“Abang saja. Kaki Fiyah pegal, mau duduk sebentar.”
Kahfi mengangguk dan menggendong Alfa. Ia berjalan pelan di sekitar ruang tamu, bersenandung lirih. Fiyah mengambil buku catatan kuliah dan merapikan halaman yang perlu ia baca lagi. Ia masih lelah dari perjalanan, tetapi ingin mengingat materi sebelum malam.
“Bang, Fiyah mau belajar setengah jam. Bisa jaga Alfa?”
“Bisa. Kalau dia perlu minum atau ganti, abang urus dulu. Kalau ada yang abang nggak yakin, abang tanya.”
“Terima kasih. Nanti setelah itu Fiyah gantian.”
Mereka membuat kesepakatan sederhana: Kahfi menjaga Alfa selama Fiyah membaca, lalu Fiyah mengambil alih setelah istirahat. Tidak ada yang menganggap giliran itu sebagai bantuan luar biasa. Mereka adalah orang tua bersama.
Alfa tertidur setelah digendong sebentar. Kahfi menaruhnya di tempat tidur kecil dan duduk di lantai dekat sana. Ia membuka catatan kuliah, tetapi matanya beberapa kali kembali ke arah anaknya. Fiyah melihat itu dan tersenyum.
“Bang, baca dulu. Kalau Alfa bangun, Fiyah dengar kok.”
“Iya. Abang cuma memastikan napasnya tenang.”
Kahfi kembali ke catatan. Sesekali ia membacakan poin kuliah dengan suara pelan, dan Fiyah menjawab bila mendengar sesuatu yang bisa ia bantu. Ruangan itu hening dan nyaman. Setelah setengah jam, Kahfi menutup bukunya.
“Gantian. Fiyah mau lanjut atau istirahat?”
“Istirahat dulu. Fiyah sudah baca bagian penting.”
“Baik.”
Fiyah memilih duduk bersama Kahfi. Mereka membicarakan kelasnya, tugas yang belum selesai, dan jadwal kuliah Kahfi. Ia bertanya apakah Kahfi bisa menjemputnya lagi jika jadwal mereka bertepatan. Kahfi menjawab bisa, tetapi ia tidak ingin menjanjikan semua hari sebelum melihat jadwal.
“Kalau nggak bisa, Fiyah akan cari cara lain sama teman sekelas atau naik kendaraan yang biasa,” ujar Fiyah. “Fiyah nggak mau kuliah abang terganggu terus.”
“Abang juga nggak mau Fiyah mengira harus mengurus semua sendiri. Kita atur sesuai keadaan.”
Mereka menulis dua kemungkinan jadwal di kalender rumah. Belum ada keputusan tetap karena jadwal kelas minggu depan bisa berubah. Namun menuliskannya membuat mereka punya titik awal untuk dibicarakan.
Malamnya, Kahfi menyiapkan makan malam sederhana. Fiyah membantu dari kursi, menyebutkan letak bahan dan memotong sayur yang mudah dijangkau. Kahfi mengerjakan bagian yang memerlukan berdiri lama. Mereka tidak berlomba membuktikan siapa paling mampu.
Saat makan, Kahfi bercerita bahwa Bima bersedia mendengarkan Ray. Fiyah menyarankan agar mereka tidak mengolok ucapan Ray di grup.
“Ray sering bercanda, tapi belum tentu semua yang dia bilang bisa dijadikan bahan bercandaan,” katanya.
“Iya. Bima paham. Gue juga bilang jangan buru-buru cari solusi.”
Fiyah mengangguk. Ia lalu mengalihkan pembicaraan pada materi kuliah yang ingin ia tanyakan kepada Bu Siska. Itu urusan lain yang akan mereka bicarakan setelahnya, bukan malam ini.
Sesudah makan, mereka membersihkan meja bersama. Kahfi mencuci piring, sementara Fiyah mengelap meja dari kursinya. Ketika Alfa bangun, Kahfi mengambil giliran mengganti popok. Fiyah menyiapkan keperluan berikutnya.
Sebelum tidur, Kahfi bertanya apakah ia perlu membantu Fiyah berwudhu. Fiyah menerima tawaran itu, lalu mereka menunaikan ibadah malam dengan cara yang sudah biasa mereka lakukan. Kahfi menyadari hari itu ia tidak harus melakukan semuanya sendiri agar menjadi ayah yang baik. Ia hanya perlu hadir, bertanya, dan berbagi.
Setelah Alfa tertidur, Kahfi membuka ponsel dan melihat pesan dari Bima. Ray mengucapkan terima kasih karena mereka tidak memaksanya menjawab di kampus. Kahfi menunjukkan pesan itu kepada Fiyah.
“Balas saja kalau dia butuh teman, kita ada,” kata Fiyah.
Kahfi mengetik, “Sama-sama. Kalau mau ngobrol kapan pun kabari. Nggak harus malam ini.” Bima meneruskan balasan itu kepada Ray. Tidak lama, tanda terbaca muncul, tetapi Ray tidak membalas. Kahfi tidak menganggap diamnya sebagai penolakan.
Mereka membuka grup teman untuk membaca pesan Andi tentang usaha. Ia menanyakan apakah rapat bisa digeser ke akhir pekan. Kahfi menjawab ia perlu melihat jadwal keluarga dan kuliah sebelum memastikan. Bima mengusulkan mengirimkan bahan rapat lebih dulu agar Kahfi bisa memeriksanya dari rumah.
Fiyah melihat layar ponsel Kahfi. “Jangan langsung iya kalau waktunya bentrok. Bilang saja nanti setelah kita cek.”
“Iya. Usaha penting, tapi bukan berarti semua urusan lain harus berhenti.”
Kahfi menulis bahwa mereka akan memberi kepastian setelah jadwal kuliah keluar. Andi membalas dengan santai, lalu mengirim stiker bayi. Fiyah tertawa kecil. Percakapan itu mengingatkan mereka bahwa usaha masih dibangun bersama, belum menjadi sumber penghasilan tetap yang bisa dijanjikan untuk kebutuhan keluarga.
Sebelum tidur, Fiyah menanyakan apakah Kahfi akan membawa Alfa ke kampus lagi bila jadwalnya diperlukan.
“Kalau perlu, kita atur. Tapi kita tanya dulu apa Fiyah nyaman dan pastikan perlengkapannya siap.”
“Fiyah nyaman hari ini. Besok kita lihat lagi.”
“Baik.”
Kahfi menyimpan ponsel dan menyiapkan baju ganti Alfa untuk malam. Fiyah memeriksa tas kuliahnya sendiri. Ia menyusun buku di tempat yang bisa dijangkau, lalu meminta Kahfi menggeser satu map yang terlalu jauh. Kahfi melakukannya setelah bertanya apakah letak barunya cocok.
“Sudah pas. Nanti Fiyah bisa ambil sendiri.”
Kahfi mengangguk. Ia tidak memindahkan barang lain tanpa bertanya.
Alfa mengeluarkan suara kecil dari tempat tidurnya. Kahfi mendekat, memastikan putranya nyaman, kemudian kembali ke sisi Fiyah. Mereka berdoa bersama dengan suara pelan. Fiyah berkata hari itu melelahkan tetapi menyenangkan, dan ia berharap besok bisa tetap ikut kelas tanpa memaksakan kakinya.
“Kita jalani pelan-pelan. Kalau perlu berhenti, kita berhenti. Kalau masih sanggup, kita lanjut,” kata Kahfi.
“Fiyah yang akan bilang kalau perlu berhenti.”
“Iya, abang akan dengar.”
Mereka mematikan lampu setelah memastikan Alfa tertidur. Di kampus, Ray belum menceritakan apa yang membuatnya merasa jodohnya tidak ada di dunia. Kahfi dan Bima tidak akan menebak atau mendesak. Mereka bisa menjaga ruang untuknya, sementara masing-masing tetap menjalani tanggung jawab sendiri.