Ponsel Bima bergetar setelah ia pulang dari kampus. Pesan Ray masuk singkat: “Tadi makasih nggak nanya macem-macem.” Bima membalas bahwa ia selalu bisa menghubungi kalau ingin bicara, tetapi tidak harus malam ini.
Ray mengirim emotikon jempol dan tidak melanjutkan. Bima merasa cukup. Ia meneruskan pesan itu kepada Kahfi, bukan untuk minta Kahfi ikut bertanya, hanya memberi tahu bahwa Ray sudah merespons.
Kahfi sedang menidurkan Alfa ketika pesan masuk. Ia membacanya setelah memastikan anak itu nyaman. Ia menjawab Bima, “Bagus. Biarkan dia yang tentukan kapan mau cerita.”
Di rumah, Fiyah sedang menyiapkan buku kuliah untuk besok. Kahfi menceritakan pesan itu kepadanya. Fiyah berkata ia senang Ray punya teman yang tidak mendesaknya. Ia tidak meminta rincian perasaan Ray.
“Kalau dia mau cerita sama Fiyah juga, boleh,” katanya. “Tapi jangan disuruh ya.”
“Iya, abang tahu.”
Kahfi membantu Fiyah meletakkan buku di meja rendah agar mudah dijangkau. Ia lalu mengambil jadwal kuliah mereka dan memeriksa waktu yang bertabrakan. Ada satu pagi ketika Kahfi punya kelas sementara Fiyah ada kegiatan di kampus. Mereka belum tahu apakah bisa pulang bersama. Fiyah berkata ia akan menanyakan kemungkinan kepada teman sekelas, dan Kahfi berjanji melihat opsi lain. Belum ada yang diputuskan malam itu.
Alfa terbangun dan menangis pelan. Kahfi segera mendekat, tetapi Fiyah mengangkat tangan.
“Biar Fiyah coba dulu, Bang. Kalau kesulitan baru minta.”
Kahfi berhenti dan menunggu. Fiyah menggeser posisi duduknya, lalu meminta bantal diserahkan. Kahfi memberikannya tanpa mengambil alih. Ia duduk dekat, siap membantu bila diminta.
Fiyah menenangkan Alfa dan memeriksa kebutuhannya. Setelah beberapa saat, ia menyerahkan bayi itu kepada Kahfi untuk digendong sambil ia menyiapkan botol. Mereka bekerja tanpa saling menyalahkan ketika Alfa masih rewel.
“Sepertinya dia cuma mau dekat,” ujar Fiyah.
“Boleh dekat sama Umi atau Daddy,” kata Kahfi kepada anaknya.
Mereka tersenyum. Kahfi teringat ucapan Ray tentang jodoh. Ia tidak tahu apa yang membuat temannya berkata begitu dan tidak ingin mengarang jawabannya sendiri. Mungkin Ray hanya merasa lelah; mungkin ada pengalaman lain. Sampai Ray siap bercerita, ia cukup menjadi teman yang tersedia.
Di grup, Andi mengirim pesan tentang jadwal usaha. Bima menjawab akan membahasnya besok. Kahfi tidak menanggapi panjang karena malam itu ia ingin menutup urusan kampus dan memberi perhatian kepada keluarganya. Usaha mereka belum menghasilkan banyak; tidak ada gunanya membuat janji yang belum dapat dipastikan.
Fiyah menutup buku catatannya. “Hari ini capek, tapi Fiyah senang ikut kelas sampai selesai.”
“Alhamdulillah. Besok kalau ada pegal bilang ya. Kita cari cara yang enak, bukan berarti harus batal kuliah.”
“Iya, Bang. Fiyah juga akan bilang kalau memang perlu istirahat.”
Kahfi mengangguk. Mereka berdoa singkat sebelum tidur. Alfa tertidur di tempatnya sendiri, dan keduanya memastikan kebutuhan anak itu sudah siap untuk malam. Tidak ada janji bahwa esok akan ringan. Ada kelas, pekerjaan rumah, dan banyak hal yang belum mereka pahami. Namun malam itu mereka membagi tugas, saling memberi waktu, dan membiarkan Ray menentukan sendiri kapan ingin membuka ceritanya.
Kahfi merapikan barang yang akan dipakai pagi hari. Fiyah memeriksa isi tasnya sendiri, meminta Kahfi membacakan nama beberapa map yang ia siapkan. Satu berisi catatan kelas, satu lagi tugas yang harus ia kumpulkan. Ia menaruh keduanya di kompartemen berbeda agar mudah ditemukan.
“Kalau besok abang ada kelas duluan, Fiyah bisa minta teman sekelas menemani sampai pintu,” katanya. “Tapi Fiyah kabari abang supaya tahu jadwalnya.”
“Boleh. Abang juga akan kirim jadwal kelas. Kita nggak perlu menebak-nebak.”
Fiyah tersenyum. “Hari ini Fiyah senang Abang nggak langsung mengangkat Fiyah waktu melihat Fiyah berhenti di koridor.”
“Abang hampir refleks, tapi abang ingat Fiyah bilang mau mencoba sendiri.”
“Kalau Fiyah minta bantuan, baru bantu. Kalau Fiyah cuma berhenti, tanya dulu.”
“Abang ingat.”
Mereka mendengar suara Alfa bergerak di tempat tidurnya. Kahfi bangkit, tetapi Fiyah meminta menunggu sebentar. Bayi itu hanya menggeliat dan kembali diam. Kahfi duduk lagi. Mereka tertawa pelan karena ternyata tidak semua suara berarti ada masalah.
Sebelum tidur, Kahfi mengecek ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan baru dari Ray. Ia menahan diri untuk tidak mengirim pertanyaan tambahan. Bima sudah membuka pintu percakapan, dan Ray tahu ia bisa kembali kapan saja.
“Abang kepikiran Ray?” tanya Fiyah.
“Iya. Tapi abang nggak tahu apa yang dia rasain. Jadi abang nggak mau sok tahu.”
“Kadang teman cuma perlu tahu kita nggak akan menghakimi.”
Kahfi mengangguk. Ia bersyukur Bima lebih dekat dengan Ray dan bersedia menjadi pendengar. Dirinya bisa mendukung tanpa mengambil alih. Sama seperti mengasuh Alfa, perhatian tidak selalu berarti harus melakukan semuanya sendiri.
Mereka berdoa sebelum beristirahat. Fiyah berkata besok ia akan melihat kembali catatan kuliah dan mengabari Kahfi jika jadwal kelas berubah. Kahfi mengatakan ia akan membicarakan jadwal usaha dengan Andi dan Bima setelah memastikan waktu keluarga.
“Jangan lupa istirahat juga,” kata Fiyah.
“Fiyah juga.”
Mereka menutup hari dengan tenang. Ucapan Ray masih belum terjawab, tetapi teman-temannya tidak memaksanya memberi penjelasan. Kahfi dan Fiyah tahu bahwa mereka tidak bisa menentukan bagaimana hidup Ray seharusnya berjalan. Mereka hanya dapat menjadi teman yang mendengar, sebagaimana mereka berusaha menjadi orang tua yang belajar bersama.
Kahfi meletakkan ponsel di meja agar tidak terus memeriksa pesan. Ia ingin hadir untuk keluarga, bukan hanya menunggu kabar dari temannya. Jika Ray ingin bicara nanti, ia bisa menghubungi mereka. Jika belum, mereka tetap akan menyapanya seperti biasa tanpa menjadikan setiap pertemuan sebagai pemeriksaan.
Fiyah menyusun rencana sederhana untuk hari berikutnya. Ia akan menyiapkan buku sebelum tidur, lalu meminta Kahfi melihat jadwalnya setelah jadwal kelas keluar. Mereka sepakat tidak membuat janji yang belum pasti. Bila salah satu dari mereka kelelahan, mereka akan membicarakan perubahan tugas daripada memaksakan semuanya.
Kahfi menggendong Alfa sebentar sebelum menaruhnya kembali. Fiyah mengucapkan selamat malam kepada putranya dan merapikan selimut. Tanggung jawab mereka hari itu selesai satu per satu, bukan karena semuanya berjalan sempurna, tetapi karena mereka saling memberi tahu apa yang dibutuhkan.