"Ning!"
Karen berteriak antusias begitu melihat tumpukan buku klasik di Toko Serba Antik. Cowok itu langsung melenggang masuk, meninggalkan Ning sendirian di depan pintu. Ning menghela napas, dia kemudian masuk ke dalam toko itu tanpa semangat yang membara.
Melihat Karen yang sibuk lalu-lalang ke segala arah, Ning memutuskan untuk berdiam diri di dekat pintu, setidaknya jika di sini dia dapat mudah terlihat oleh Karen. Lagipula, Ning juga ingin melihat-lihat buku-buku yang ada di sini. Siapa yang tahu, ada yang menarik.
Buku-buku di sini hampir semuanya sudah menguning, saking lamanya usia terbit. Bahkan ada yang sudah dimakan rayap, tetapi masih tetap bertengger tegak di rak buku. Ning berpikir positif, barang kali, pemilik toko lupa menaruh buku yang sudah rusak itu ke dalam tumpukan buku yang sudah tidak layak dibeli.
Atau, apa mungkin ada alasan lain?
Ning mengambil buku itu. Judulnya Terbenam. Hanya satu kata saja, sangat sederhana. Blurb-nya menggunakan ejaan bahasa Indonesia lama. Awalnya, Ning sangat kesulitan membacanya karena cukup asing dan dia pun tidak terbiasa.
Terbenam.
Warna djingga membara api. Merebak pada tingkat-tingkat cakrawala.Terbenam.
Terbenam.
Sanj mentari moelai tenggelam di kaki langit. Api masih membara. Beloem padam walaoe malam akan datang.
Terbenam
Seperti kamoe, yang sudah hilang sejak air menenggelamkan satu kota.
"Ning! Baca apa?"
Kaget. Entah sejak kapan Karen berada di belakangnya. Ning kemudian memperlihatkan buku yang baru saja dibacanya.
"Ini, enggak tahu bukunya tentang apa. Aku baru baca blurb-nya aja. Agak kurang mengerti sih, soalnya ini sastra lama."
"Judulnya apa? Enggak kelihatan di mataku."
"Iya, memang samar banget. Bukunya jauh lebih tua dari usia kita. Judulnya Terbenam. Terbit di tahun 1930an. Lama banget. Indonesia merdeka aja belum."
"Ya ampun, Ning. Bisa aja kamu temu berlian."
"Eh? Itu bukunya udah dimakan rayap, loh. Jadi, aku penasaran sih. Bingung aja bukunya udah rusak seperti ini, tetapi masih dipajang di rak."
"Berarti ini benar-benar berlian. Soalnya, pemilik toko ini tuh tahu banget mana buku sastra lama yang benar-benar bagus apa biasa aja."
"Serius? Kalau gitu, kamu mau beli?"
"Enggak, Ning. Sewa aja kali, ya? Aku enggak kuat bau bukunya. Blurb-nya bagus sih. Kamu tahu enggak artinya apa?"
"Memangnya apa, Ren?"
"Penulis ini, nulis buku Terbenam berdasarkan dari kekasihnya yang hilang saat tsunami datang. Nah, tepatnya, kekasihnya ini hilang pas matahari mulai terbenam."
Ning terdiam.
"Ning!"
Karen berteriak antusias begitu melihat tumpukan buku klasik di Toko Serba Antik. Cowok itu langsung melenggang masuk, meninggalkan Ning sendirian di depan pintu. Ning menghela napas, dia kemudian masuk ke dalam toko itu tanpa semangat yang membara.
Melihat Karen yang sibuk lalu-lalang ke segala arah, Ning memutuskan untuk berdiam diri di dekat pintu, setidaknya jika di sini dia dapat mudah terlihat oleh Karen. Lagipula, Ning juga ingin melihat-lihat buku-buku yang ada di sini. Siapa yang tahu, ada yang menarik.
Buku-buku di sini hampir semuanya sudah menguning, saking lamanya usia terbit. Bahkan ada yang sudah dimakan rayap, tetapi masih tetap bertengger tegak di rak buku. Ning berpikir positif, barang kali, pemilik toko lupa menaruh buku yang sudah rusak itu ke dalam tumpukan buku yang sudah tidak layak dibeli.
Atau, apa mungkin ada alasan lain?
Ning mengambil buku itu. Judulnya Terbenam. Hanya satu kata saja, sangat sederhana. Blurb-nya menggunakan ejaan bahasa Indonesia lama. Awalnya, Ning sangat kesulitan membacanya karena cukup asing dan dia pun tidak terbiasa.
Terbenam.
Warna djingga membara api. Merebak pada tingkat-tingkat cakrawala.Terbenam.
Terbenam.
Sanj mentari moelai tenggelam di kaki langit. Api masih membara. Beloem padam walaoe malam akan datang.
Terbenam
Seperti kamoe, yang sudah hilang sejak air menenggelamkan satu kota.
"Ning! Baca apa?"
Kaget. Entah sejak kapan Karen berada di belakangnya. Ning kemudian memperlihatkan buku yang baru saja dibacanya.
"Ini, enggak tahu bukunya tentang apa. Aku baru baca blurb-nya aja. Agak kurang mengerti sih, soalnya ini sastra lama."
"Judulnya apa? Enggak kelihatan di mataku."
"Iya, memang samar banget. Bukunya jauh lebih tua dari usia kita. Judulnya Terbenam. Terbit di tahun 1930an. Lama banget. Indonesia merdeka aja belum."
"Ya ampun, Ning. Bisa aja kamu temu berlian."
"Eh? Itu bukunya udah dimakan rayap, loh. Jadi, aku penasaran sih. Bingung aja bukunya udah rusak seperti ini, tetapi masih dipajang di rak."
"Berarti ini benar-benar berlian. Soalnya, pemilik toko ini tuh tahu banget mana buku sastra lama yang benar-benar bagus apa biasa aja."
"Serius? Kalau gitu, kamu mau beli?"
"Enggak, Ning. Sewa aja kali, ya? Aku enggak kuat bau bukunya. Blurb-nya bagus sih. Kamu tahu enggak artinya apa?"
"Memangnya apa, Ren?"
"Penulis ini, nulis buku Terbenam berdasarkan dari kekasihnya yang hilang saat tsunami datang. Nah, tepatnya, kekasihnya ini hilang pas matahari mulai terbenam."
Ning terdiam.