Ning mengambil mengambil selembar kertas yang sudah ada tulisan di dalamnya dari bawah bangku bus. Perempuan itu kemudian buru-buru memasukkan ke dalam tasnya. Lalu, dia berteriak kepada kernet agar bus berhenti dan dia dapat turun di sini.
Setelah bus kembali melaju, dia melangkahkan kakinya menuju sebuah kafe bernuansa klasik. Ketika dia membuka pintu, sebuah bel berbunyi nyaring, itu tidak menggangu. Alunannya justru terdengar merdu.
Kemudian, Ning duduk di bangku yang kosong. Kafe klasik ini masih sepi pengunjung. Hanya ada 3 orang pengunjung secara keseluruhan, termasuk dirinya sendiri.
Kemarin, orang yang dia temui adalah orang yang paling aneh sekaligus paling seru. Awalnya, Ning sudah mulai putus asa. Permainan ini tidak seru menurutnya, sebelum bertemu orang itu. Namanya Juned, sesuai dengan sapaan akrabnya Ning memanggilnya seperti itu. Walau nama aslinya Junaedi. Cowok itu lebih muda tiga tahu dari Ning. Awalnya, Ning enggan berekspektasi lebih dalam tentang orang ini. Siapa yang sangka kalau Juned ternyata agak menarik perhatiannya. Saat ini, Ning agak bersemangat. Walau orang yang akan ditemuinya kali ini bukanlah Juned.
Tidak masalah. Ning berdoa dalam hatinya, semoga laki-laki yang akan ia temui termasuk orang yang seru. Tidak perlu muluk-muluk. Tidak perlu ganteng seperti selebriti. Yang terpenting nyambung aja sih. Karena love language Ning adalah words dan action.
Agak lama kali ini, biasanya dia yang terlambat datang. Ternyata, menunggu itu tidak nyaman, tidak setenang yang dia lihat.