3. Tidak Seirama
“Itu enggak cupu, sih.”
Ning menyeruput Es Teh Manis hingga kandas. Kemudian, perempuan itu mengambil lalapan agak banyak dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya. Pipinya menggembung seolah-olah sudah tak kuat untuk menampung. Ning tidak peduli. Dia sibuk mengunyah seperti tupai. Entah lucu atau tak punya malu. Beda tipis. Ning masih asik menikmati makanannya dengan baik. Meskipun, hari ini adalah pertemuan pertama, tetapi siapa yang bisa menolak jika disuguhi makanan seenak ini? Tidak peduli dengan gengsi. Perempuan, kalau perihal makanan selalu lemah!
Mulutnya masih sibuk mengunyah, tetapi dia sudah tidak sabar untuk mengungkapkan kata-kata yang ada di pikirannya saat ini. Jadi, dia menguyah dengan tergesa-gesa dan langsung menelannya detik itu juga. Untunglah, Ning baik-baik saja, tetapi kerongkongannya terasa sangat seret karena minumannya telah habis lebih dulu. “Halim, punya pengalaman pacaran enggak akan selamanya buat kamu jadi pacar yang baik. Begitu juga dengan yang enggak pernah punya pacar, bukan berarti suatu hari nanti dia akan memperlakukan pacarnya dengan buruk karena enggak punya pengalaman. Enggak usah khawatir, Halim. Enggak pernah pacaran bukan berarti cupu. Setiap manusia ‘kan punya batasan-batasan tertentu. Bisa jadi, dulu kamu enggak mau pacaran karena kamu punya batasan yang enggak ingin kamu ingkari. Misalnya, enggak mau punya pacar dulu karena mau kejar karier. Nah, banyak juga yang seperti itu. Jadi enggak usah takut. Siapa sih memangnya yang bilang kamu cupu hanya karena enggak pernah pacaran?” Ning berkata sangat santai dan menyakinkan Halim bahwa ini bukan masalah besar. Hal aneh yang sering Ning dengar adalah ketika banyak orang yang beranggapan kalau tidak pernah pacaran itu berarti cupu! Padahal ‘kan siapa yang tahu aja kalau orang itu tidak mau pacaran karena punya luka di masa lalu?
Halim menggaruk tangannya. Laki-laki itu sungguh gugup. Sangat susah menggendalikan diri pada situasi yang kurang kondusif. “Teman saya ... dulu, dia pernah berkata kalau saya terlalu cupu untuk jadi laki-laki. Bahkan, sampai sekarang pun kalau dia enggak sengaja ketemu saya di jalan, dia masih tetap berkata seperti itu karena saya masih sendirian selama ini. 28 tahun saya hidup, memegang tangan perempuan itu dapat membuat saya keringat dingin. Sampai sekarang saya mencoba terlihat baik-baik aja, tetapi sebenarnya tidak. Selain saya gugup, saya sering mendadak membeku di tempat. Saya tidak tahu mengapa. Berbicara dengan perempuan sangat membuat saya menjadi agak ketakutan, termasuk kamu, Ning. Sejujurnya, sangat sulit bagi saya untuk berada di tahap ini. Kalau bukan karena teman dekat saya yang memaksa, saya enggan menemui kamu. Bukan karena salah kamu. Kamu enggak salah apa-apa. Saya yang sangat takut. Jadi, saya sengaja datang ke restoran 30 menit lebih awal supaya saya bisa mempersiapkan diri saya sendiri. Saya sangat takut kalau nantinya saya akan mempermalukan diri saya sendiri di hadapan orang lain yang belum terlalu saya kenal. Sayangnya, saya melakukan itu tadi.”
Halim menghela napas. Kemudian, laki-laki itu menggelengkan kepalanya. “Saya tahu ini sangat canggung, saya benar-benar minta maaf atas kebodohan saya tadi itu. Saya benar-benar ceroboh. Maaf, saya tidak tahu harus membuka topik pembicaraan yang seperti apa agar tidak membosankan. Saya tidak bisa menenangkan diri saya yang terlalu gugup.”
Ning terdiam. Benar-benar iba. Ning pernah berpikir kalau dialah yang paling menyedihkan di dunia ini. Ternyata, tidak juga. Ning sedikit lebih beruntung daripada Halim. Sedikit dalam sekali lihat, luas jika sudah dipahaminya.
“Halim, enggak apa kok. Aku enggak marah ke kamu, enggak sakit hati juga. Menurut aku, itu masih pertanyaan yang sangat wajar. Hanya saja, tidak semua orang itu suka terhadap pertanyaan yang kamu lontarkan tadi. Lebih hati-hati, ya, Halim. Kalau mau tanya tentang sudah-pernah-punya-pacar-apa-belum, kupikir itu lebih baik kalau lawan bicaramu setidaknya udah nyaman sama kamu. I knows, tetapi jangan terlalu terburu-buru. Nanti, lawan bicaramu malah bisa-bisa sudah pulang duluan. I mean, itu topik sensitif ... bahkan itu untuk kamu juga, ‘kan?”
Halim mengangguk setuju. Untunglah keduanya sama-sama mengerti tentang kondisi masing-masing.
Ning berdiri dari tempat duduknya, hendak mencuci tangan karena waktu makannya telah selesai. Makanan itu telah ludes tanpa tersisa sedikit pun. Sebelum itu, dia berkata, “Oke, jangan bahas ini lagi, ya. Enggak usah pikirin lagi,aku enggak apa-apa soalnya.”
Halim buru-buru menghalangi jalan Ning dengan tangan kirinya. “Tunggu, kalau gitu bahas apa? Kayaknya saya sudah enggak punya topik lagi buat dibahas.”
Ning terdiam sebentar. Dia kira hari ini akan selesai dengan cepat. Ternyata, laki-laki itu masih mau bersamanya untuk saat ini.
“Kamu masih mau bareng aku?”
“Kalau kamu enggak keberatan ... ya, saya masih mau. Namun, kalau enggak juga enggak apa-apa. Saya juga ngerti, kok.”
Ning mengangguk. “Boleh. Hari ini aku enggak sibuk. Kalau kamu mau, jangan di sini enggak apa? Di luar aja. Bahas apa pun yang tiba-tiba ada di otak. Apa kamu mau? Aku enggak maksa sih.”
“Aku mau. Enggak keberatan sama sekali.
Ning tersenyum sedikit. “Oke! Kalau begitu.”
**
Jalan raya sibuk seperti biasa. Orang-orang sibuk lalu-lalang dengan kendaraan mereka masing-masing. Ada yang berjalan kaki, seperti yang dilakukan Ning dan Halim kali ini. Meski cuaca sangat panas sebab mentari berada di titik sudut paling atas dalam lingkaran, itu tidak menyurutkan semangat keduanya.
Jalan tampak agak lenggang ketika mereka memilih memilih jalan yang lebih sempit untuk ditelusuri.. Ada taman kota yang bersembunyi di tengah-tengah perumahan. Letaknya memang agak terpencil. Untunglah taman kota ini bisa dikunjungi oleh semua kalangan. Jadi, mereka tidak perlu repot-repot menyewa tempat hanya untuk sekedar berbincang sebentar.
Sesampainya mereka di sana, taman kota tampak begitu sepi. Tidak ada anak-anak. Hanya ada mereka saja. Mungkin karena ini masih jam satu siang. Itu sebabnya taman kota sepi pengunjung, padahal suasananya begitu asri. Warna hijau memikat netra, itu lebih baik dipandang daripada gedung-gedung tinggi walau tampak lebih memukau.
Ning memilih duduk di ayunan sembari memainkan ayunan itu dengan gerakan pelan. Sementara, Halim duduk di bangku panjang yang letaknya sangat dekat dari Ning.
“Selama bertemu, kita hanya saling kenal nama.” Halim membuka pembicaraan setelah mereka sudah sepuluh menit saling berdiam.
Ning mengangguk setuju. “Soalnya aku udah baca biodata kamu, walaupun enggak yakin itu benar-benar valid, sih, tetapi aku enggak kecewa karena kamu enggak jauh-jauh dari apa yang kamu tulis di data diri. Mungkin, malah sebaliknya. Kamu yang kecewa sama aku karena di data diri itu aku terlalu berlebihan.”
“Hahaha. Kenapa harus kecewa? Bukannya aku yang lebih mengecewakan?”
“Karena aku bedaaaa banget dari apa yang tertulis di situ. Karena yang nulis bukan aku, tetapi tanteku. Katanya sih ya, lebihin dikit dari faktanya tuh enggak bakal bikin masalah. Dikit menurut tante aku itu banyak sebenarnya. Maaf ya, pasti kamu kecewa.”
“Mungkin, itu wajar. Saya enggak tahu banyak tentang kamu. Jadi, kayaknya saya enggak terlalu mikirin tentang itu sih. Fine-fine aja. Saya serius. Waktu saya lihat kamu, saya pikir kayaknya malah wajar banget kalau tante kamu selalu heboh tiap beliau bercerita tentang kamu. Kamu sangat baik. Bahkan sampai saat ini, kamu enggak meninggalkan saya setelah saya membuat kamu enggak nyaman. Tadi saya berpikir, orang seperti kasama kamu enggak berjodoh, enggak apa-apa. Saya rela banget, Ning. Soalnya, saya masih kurang pantas buat kamu.”
“Halim, kamu kacau banget, deh. Ucapan kamu kayak orang lagi mabok. Setelah tante aku dan keluargaku, kayaknya kamu adalah orang nomor sekian yang bikin aku makin malas. Serius, ya, ini.”
“Saya juga serius. Ini enggak bohong. Kamu memang kayak gitu. Jadi, ini enggak berlebihan menurut saya.”
“Itu ‘kan menurut kamu, Halim. Aku sangatttt serius. Kamu berlebihan banget. Aku enggak perfect seperti yang kamu bilang. Gini, deh. Aku kasih tahu aja, ya. Ini aslinya rahasia, soalnya aku malu banget bicara tentang ini. Sebenarnya, aku tuh suka mengumpat ... ya di dalam hati aja sih. Terlebih untuk hal yang membuat aku kesal dan perasaan aku langsung memburuk detik itu juga. Kayak yang kamu lakuin tadi, hampir aja aku ngomong kasar atauburuk tentang kamu. Jadi, jangan puji aku berlebihan kayak gitu. Maaf, bukannya aku enggak tahu terima kasih, tetapi aku kurang suka aja. Kamu enggak apa-apa kan, Halim?”
“Ya, enggak apa-apa dong. Masa kayak gitu aja jadi masalah. Saya pikir kita banyak kehilangan poin-poin dalam komunikasi. Bagaimana kalau kita kenalan dari ulang? Enggak sekedar biodata aja? Apa kamu mau? Mungkin kalau ini bisa lebih asik lagi?”
“Aku mau.masih di sini juga. Kalau begitu bagaimana caranya? Aku kurang tahu soal itu.”
“Dari yang paling gampang aja. Mungkin nama dan sebagainya? Meskipun sudah sama-sama tahu dari biodata, saya pikir bakalan jauh lebih seru kalau kita bercerita langsung.”
“Oke! Siapa yang mau mulai duluan? Kamu atau aku?”
“Kamu, Ning. Saya penasaran, karena nama cukup kamu unik. Ayo, ceritakan tentang diri kamu yang belum banyak diketahui orang-orang!”
Ning menghela napas. “Nama aku Nur Wahyuningsih Sumantri. Panggil Ning aja biar gampang diingat. Aku anak satu-satunya. Keluargaku orang Jawa asli, tetapi aku enggak bisa bahasa Jawa sama sekali. Usia aku 26 tahun. Kelahiran 1994. Udah dua bulan aku jadi pengangguran setelah memilih berhenti dari tempat kerja yang lama. Seperti yang aku bilang waktu kamu tanya soal pacar. Aku enggak punya pacar, tetapi aku mantan, ada dua jumlahnya. Terakhir aku pacaran, saat kuliah sampai semester akhir sepertinya. Alasan masih jomlo, tidak tahu. Aku juga sepertinya makin ke sini semakin kurang berminat buat pacaran. Aku ke sini juga karena dipaksa keluarga aku yang udah khawatir banget kalau aku enggak nikah-nikah. Awalnya, aku tetap enggak mau, malas banget. Kayaknya aku terluka, deh. Enggak tahu kenapa aku merasa aku tuh jadi cewe yang paling enggak laku gitu. Sampai-sampai harus dipaksa kayak gini. Sebenanya, ini hari pertama, dan kamu cowok pertama yang aku temui berdasarkan saran dari keluargaku. Jadi, kalau hari ini berjalan enggak terlalu baik, aku masih bisa maklumin, sih. Secara garis besar, aku cuma bisa cerita itu. Apa kamu mau tanya sesuatu sebelum nanti giliran kamu yang bercerita?”
Halim berpikir sejenak. Ning itu tidak cantik. Wajahnya biasa saja, serupa dengan perempuan Jawa lainnya. Kulitnya pun kuning langsat dengan rambut agak bergelombang. Ning tidak memakai riasan hari ini. Rambutnya hanya diikat seperti ekor kuda. Ning memakai pakaian serba hitam dan tas selempang berwarna cokelat. Setahu Halim, Ning itu termasuk anak berada, tetapi yang Halim lihat Ning biasa saja. Tidak memakai sesuatu yang berlebiham dan tetap menghargai Halim walau mungkin saja Ning yang lebih kaya darinya. Sebenarnya, Halim snegaja menunjukkan merek ponselnya. Hal yang membuat Halim berdecak kagum adalah ketika Ning melihat dan tahu akan hal itu, Ning tidak bertanya-tanya atau sebagainya. Ning justru duduk tenang di bangkunya seolah-olah itu bukan hal yang besar bagi perempuan iu. Inilah definisi orang kaya sejak lahir. Karena Ning sudah terbiasa, itu sebabnya dia tampak santai.
“Ah, tipe ideal kamu seperti apa?” tanya Halim. Untung saja dia tidak melewatkan pertanyaan itu. Halim agak penasaran, kira-kira seperti apa tipe ideal Ning?
“Enggak tahu. Tepatnya, tbagi aku tipe ideal itu bukan jadi standar dalam menyukai orang lain. Enggak ada yang pasti. Meskipun, tipe ideal aku bisa aja kayak Tom Holland, siapa yang tahu aku malah suka sama orang yang mirip Baim Wong? Enggak ada yang tahu, ‘kan. Aku mah mana bisa ngatur hati buat suka sama orang lain. Mau tahu neggak buktinya? Dua mantan aku ini, dua-duanya beda banget. Udah gitu juga enggak mirip sama sekali dengan tipe idealku.Nah, sebenarnya secara garis besar ... aku suka pria yang baik, yang jauh lebih konsisten sama sikapnya. Terus mungkin fisiknya, bentuk tubuhnya mirip Tom Holland kali, ya? Ah, aku enggak tahu juga, sih. Pokoknya, kayak begitu deh kira-kira mah. Lalu, kalau masalah wajah aku biasa aja. Enggak terlalu mempermasalahkan. Lagipula aku sendiri juga mukanya standar aja. Jadi, enggak mau muluk-muluk. Enggak harus wow cetar membahana juga.””
Ning menunjuk Halim. “Udah jelas, ‘kan? Apa masih ada yang mau ditanyain lagi?”
Halim menggeleng. “Enggak ada.”
“Kalau gitu sekarang giliran kamu! Ayo, ceritakan tentang diri kamu lebih dalam, Halim!”
“Nama saya itu Halim Syah Hakim. Aneh, ya, namanya, Ning?”
“Enggak kok. Itu unik. Lajutin lagi, Halim. Jangan takut.”
“Oke. Sebelumnya, mukin kamu juga udah tahu. Saya dari Medan. Kalau di Medan, setahu saya cukup umum ada nama Syah atau Shah di sana. Orang tua saya juga keduanya asli orang Medan walau papa suku Melayu dan mama suku Batak Karo. Saya lahir dan besar di Medan sampai usia lima belas tahun. Lalu, setelah itu orang tua saya pindah ke Bekasi dan menetap sampai sekarang karena kata papa, tinggal di Jawa jauh lebih mudah daripada di Sumatera. Selain itu, kakak saya juga kuliah di Jawa. Jadi, papa bilang sekalian aja biar bisa ngawasin kakak saya lebih dekat. Saya itu korban bullying sejak saya pindah ke Bekasi. Culture shock yang saya alami adalah semudah itu orang lain melakukan body shaming tanpa beban. Di Medan mungkin saya tetap kena bullying karena badan saya waktu itu agak gempal, tetapi paling tidak mungkin enggak separah ini, ‘kan? Yang paling bikin saya kaget, Cuma demi kesenangan sementara, mereka menghancurkan jiwa-jiwa yang seharusnya tumbuh dengan baik, kini malah kacau balau. Saya dulunya hidup di desa. Setelah tinggal di kota besar, saya sangat terkejut. Kota besar jauh lebih jahat dari yang saya bayangkan selama ini. Saya memiliki perawakan gempal sejak kecil. Mama saya selalu bilang kalau saya itu tidak gemuk, saya hanya tumbuh dengan baik. Namun, orang lain mengejek saya, bahkan mempermalukan saya karena berat badan saya yang tergolong lebih berat dari orang lain. Setiap istirahat, saya dititipi makanan yang harus diseludupkan ke kelas. Padahal, OSIS melarang membawa makanan ke dalam kelas. Teman kelas saya enggak peduli. Saya kadang enggak mau ngelakuin itu, terus tas saya disembunyiin. Kalau bekal saya yang di laci meja, mereka bakalan habisin ramai-ramai. Katanya, itu ganjaran buat saya yang enggak mau nurut sama mereka. Kelas saya bukan unggulan, justru kelas terburuk. Kelas yang isinya anak-anak nakal. Jadi, saya enggak bisa melawan banyak. Saya masuk ke sana juga karena bangku kosong hampir semuanya penuh. Cuma di kelas itu yang masih tersisa. Jadi, mau enggak mau saya harus tetap nurut.”
Halim menatap cakrawala, sedikit silau sebab sinar mentari terlalu terang. Kemudian, dia melanjutkan perkataannya. “Awalnya, saya tidak mau ambil pusing gendut, saya lebih percaya dengan orang tua saya alih-alih mereka. Sebab orang tua saya lebih tahu tentang saya dari apa pun. Namun, itu tidak cukup ternyata. Yang saya butuhkan banyak dari itu semua. Pengakuan seperti itu tidak cukup menolong saya dari perudungan. Sampai SMA, orang-orang selalu berkata buruk bahwa saya yang sangat gemuk ini tidak akan berhasil dalam apa pun. Saya pendiam, ceroboh, tidak berguna. Itu kata mereka yang saya dengar saat mereka ngomongin saya dari belakang. Saat kelas sebelas, saya menyukai orang lain untuk pertama kalinya. Sialnya, teman kelas saya tahu. Jadi, mereka berkata kepada orang yang saya sukai di tengah-tengah lapangan, yang mana banyak orang yang melihat itu semua, mereka berkata keras sampai-sampai orang yang saya sukai membenci saya sejak itu karena saya telah memalukannya di depan umum. Sejak kapan dunia terasa tidak adil? Saya cukup sering melihat itu di i********:. Jawabannya, sejak saya dan keluarga saya pindah ke sini. Ke kota besar yang sangat dekat ibukota.”
“Aku minta maaf ya karena udah dengar hal buruk yang kamu alamin. Kamu hebat banget! Itu mengapa kamu tidak pernah pacaran? Mereka jahat banget ke kamu. Apa pernah mereka minta maaf?”
“Enggak pernah. Mana ada. Justru saya yang semakin disumpah serapahi. Saya terkadang bingung sama rencana Tuhan. Saya enggak mengerti mengapa pembully masih hidup tenang sementara saya susah payah untuk hidup baik-baik aja.” Halim bergerak gusar. “Sampai sekarang. saya selalu gugup sama perempuan. Saking gugupnya, keringat saya bisa banjir. Pernah waktu itu saya hampir dipukuli karena dikira m***m padahal saya gugup banget. Mana ada kepikiran otak kotor. Berada di samping perempuan itu bagi saya bukan hal yang biasa. Selain mama saya, saya masih gugup termasuk bareng kamu saat ini. Memang enggak segugup tadi, ini lebih baik karena saya bisa mengontrolnya. Terkadang, saya sangat takut kalau saya melalukan hal-hal yang bodoh. Saya yang membuatnya malu, atau justru saya sendiri yang membuat diri saya menjadi memalukan. Hanya dua hal itu.”
“Maaf, aku mau tanya, tetapi mungkin ini keluar dari topik. Kamu ‘kan kelahiran 1993, pernah enggak mama dan papa kamu memaksa kamu untuk menikah?”
Halim menggeleng. “Enggak apa, Ning. Kayaknya enggak pernah, deh. Karena saya sangat terbuka dengan orang tua saya, mereka sudah tahu apa aja yang pernah saya alami hingga membuat saya trauma. Saya sangat bersyukur, orang tua saya sangat pengertian. Mereka mendukung saya, bahkan mendoakan saya agar suatu hari, saya bisa mendapat jodoh yang baik. Seseorang yang tidak perlu sempurna, tetapi bisa membuat saya merasa nyaman saat berada di dekatnya. Seperti, saya telah menemukan rumah kedua. Saya hanya berandai-andai, sih. Sama seperti kamu, ini adalah langkah pertama yang saya lakukan setelah sekian lama berpikir panjang. Pertemuan pertama, tidak buruk sama sekali bagi saya. Bahkan jika tidak menemukan titik temu, saya pikir saya enggak apa-apa. Hari ini juga saya pikir saya udah cukup berani setelah sekian lama jadi pecundang.”
“Halim, kamu sudah berada di titik ini ... itu artinya, kamu sangat keren! Lebih keren dari apa pun yang selama ini ada dalam pikiranmu. Aku sampai enggak bisa berkata-kata lagi saat mendengarnya. Aku cuma bisa kasih saran. Maaf kalau ini sok tahu. Aku pikir, pasti kadang kamu mau kabur dari semua masalah. Ada satu hal yang kamu enggak boleh lupa. Jangan lupain masa lalu karena itu mustahil. Kalau kita memaksa semua luka yang kita rasakan itu harus menghilang sekarang juga, bukannya jadi lebih baik eh malah makin memburuk. Kamu harus mencoba menerimanya pelan-pelan. Aku kurang tahu tentang hal lebih dalam karena aku tidak merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Aku bukan Psikiater ataupun Psikolog, tetapi kalau kamu butuh bantuan, aku bisa membantu kamu sebisa aku.”
“Aku enggak masalah. Kamu jauh lebih baik dari yang aku duga. Aku harap, kamu tepati ucapanmu. Tolong, jangan lupa buat balas pesanku kalau aku lagi butuh bantuan kamu.”
“Iya, Halim. Jangan khawatir.”
Halim tiba-tiba berdiri, kemudian laki-laki itu mengulurkan tangannya. Ning mendongak, tidak mengerti apa maksudnya.
“Makasih, ya, Ning. Makasih karena kamu udah mau dengerin semua cerita saya. Kamu bahkan enggak menyela ucapan saya. Kamu tunggu saya nyelesain ucapan saya dulu, baru kamu bicara. Saya enggak akan lupa tentang hari ini. Kamu adalah perempuan pertama setelah mama saya yang hargain saya dengan baik. Saya benar-benar berterimakasih sama kamu, Ning.”
“Eh ... iya. Sama-sama, Halim. Aku juga beruntung ketemu kamu hari inu. Kamu serius udahan di sini?”
“Iya, saya serius. Lagipula enggak ada topik lain yang bisa dibahas, ‘kan? Kita udah kehabisan sejak tadi. Kamu pulangnya naik apa?”
“Eh ... iya juga. Naik TransJakarta.”
“Saya antar sampai depan halte, apa kamu mau?”
“Boleh. Enggak ngerepotin kamu kan, tetapi?”
“Enggak, kok. Aku santai aja.”
Langkah-langkah kaki itu membawa mereka munuju halte terdekat. Keduanya berjalan beriringan sebelum pada akhirnya berpisah sebab arah yang tidak sama. Halte menjadi tempat perpisahan terakhir bagi kisah mereka kali ini.
Pertemuan pertama, tidak buruk sama sekali seperti yang Ning dan Halim bayangkan.
Hari yang cerah di suatu kisah tak terduga.
Ning jadi sangat tidak sabar dengan calon kedua! Akankah lebih baik dari hari ini?