4. Aneh
Tadi siang hingga petang adalah hari pertama Ning memulai misinya yang berdasarkan atas rencana Tante Yuli. Sejujurnya, hari itu berlangsung dengan benar-benar baik, meski tidak terlalu sesuai dengan rencana awal. Ning dan Halim sama-sama saling tahu bahwa mereka memang tidak cocok untuk masing-masing calon. Sepertinya, ini agak kurang pas jika dijadikan pasangan hidup. Meskipun, satu frekuensi, tetapi terlalu banyak lubang sehingga mereka tidak seirama. Keduanya pun tidak mau saling memaksa. Karena sudah saling tahu, mereka memilih berpisah hari ini. Di halte itulah perpisahan terakhir mereka. Meski tampak menyedihkan, tetapi itu jauh lebih baik daripada memaksakan kehendak. Serahkan semua kepada semesta. Kalau memang sudah jodohnya, sesulit apa pun jalan ini, tetap akan bertemu.
Halim adalah laki-laki yang pertama kali Ning temui selepas perempuan itu keluar dari zona nyaman yang selama ini mengurungnya dalam titik keputusasaan. Pertemuan kemarin dengan Halim menghasilkan keputusan bahwa mereka sama-sama tidak cocok untuk satu sama lainnya. Ada banyak kekurangan yang dapat ditutupi sebenarnya, tetapi ketidakpastian membuat mereka meragu. Akhirnya, keputusan dibuat dengan tekad yang bulat. Tidak harus bersama jika memang bukan jadi takdirnya dan masih boleh berhubungan dalam tanda kutip sebagai teman dekat.
Bagi Ning, hari ini cukup berhasil dengan baik. Tidak perlu sempurna. Ini awal yang cukup seru untuk dilakukan. Ning tidak sabar menanti hari esok. Dia benar-benar tidak dapat menutupi betapa antusiasnya dia untuk bertemu dengan calon kedua. Dia memang sudah tahu. Tepatnya, dia sudah melihat semua data diri tentang para calon yang akan dikenalkan kepadanya. Fantastis, tetapi tidak ada yang benar-benar menarik. Ning hanya tahu tentang calon itu secara garis besar saja.
Namun, pertemuannya dengan Halim sangat berkesan, tetapi tidak benar-benar menarik perhatiannya sampai-sampai dia dapat menaruh hati pada Halim. Tidak apa-apa. Ning tidak masalah. Dia masih mau melakukannya esok. Kalalu dipikir-pikir lagi, Tante Yuli juga tidak salah-salah amat. Terkadang, ada benarnya juga. Kalau dia hanya berdiam diri, seharian di kamar tanpa melakukan kegiatan produktif, mana bisa jodoh langsung datang begitu saja tanpa butuh usaha dulu. Betapa bodohnya dia karena terlalu takut untuk melangkah maju, dia jadi sangat malas untuk berusaha. Belum juga dicoba, sudah pesimis duluan.
Walau begitu, Ning tetap bersyukur hari ini. Halim adalah orang yang baru dia kenal sejak 10 jam yang lalu, tetapi Halim telah mengajarkannya tentang arti rasa syukur. Lebih hebatnya lagi, hal itu membuat hatinya terbuka. Dia menyadari bahwa selama ini dia terlalu egois, merasa sebagai si orang-yang-paling-berhak-marah karena Ning sempat berpikir bahwa dia itu sangat menderita padahal ada orang lain yang lebih menderita daripada dia sendiri. Bukan berarti penderitaannya sangat sepele dibanding dengan penderitaan orang lain. Ning boleh marah, Ning boleh menangis sepuasnya, Ning boleh melampiaskan segala hal yang dia pendam selama ini. Hanya saja dia tidak boleh seperti ini terus. Ini egois. Ego telah membuat matanya membuta. Untunglah dia bertemu Halim sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Terlepas dari keberhasilan hari ini, Ning telah melupakan segudang rencana rumit milik Tante Yuli. Itu gawat! Ning akan mendapatkan banyak bom yang akan meledak dalam waktu dekat.
Seperti yang dibilang tadi, tidak lama kemudian ponselnya berdering. Ada panggilan telepon dari Tante Yuli. Sebenarnya, Ning membenci telepon karena dia sering mati kutu, terlebih selalu bingung bagaimana mengakhiri obrolan. Ning lebih menyukai pesan dan tatap muka. Hanya saja, Ning malas. Setiap kali seseorang mengajaknya keluar, itu berarti dia harus menyiapkan tenaga khusus untuk tetap tenang di saat berhadapan dengan banyak orang. Kalau tentang pesan, Ning sangat lambat dalam membalasnya. Terkadang, tidak juga, sih. Begitu melihat notifikasi di jendela layar, sebenarnya dia sudah membaca pesan. Lalu, dia akan membalas pesan tersebut ketika dia sudah membuka aplikasi pesan itu. Ada lagi yang paling bikin jengkel, Ning sudah membaca pesan melalu notifikasi, tetapi dia lupa membalasnya dan membiarkan pesan itu tidak terbalas dalam kurun waktu yang lama. Alhasil, tidak mengherankan jika banyak orang yang memilih meneleponnya begitu ada sesuatu hal yang penting untuk disampaikan. Meskipun tidak suka, Ning tetap menjawabnya.
Ning menekan tombol hijau. Itu artinya, Ning mengangkat panggilan dari Tante Yuli.
"Halo?" tanya Ning, dengan suara samar.
"Ning, kenapa kamu angkatnya lama banget?"
Ning terdiam sejenak. Dia harus memikirkan kata apa yang cocok untuk dijadikan alasan. Karena tadi, dia sengaja menunda-nunda untuk mengangkatnya. Malas sekali. Sangat malas untuk berbicara dengan orang lain.
"Ning sibuk, Tante."
Hanya itu, ucapan tanpa perlawanan.
"Kamu sibuk? Sibuk apa? Pengangguran kayak kamu bisa sibuk, ya, Ning?"
Seperti pisau yang menusuk jantung, ucapan Tante Yuli membuatnya sedikit terkejut, walau sudah tidak asing lagi.
Benar. Itu sangat benar. Ning pengangguran yang tidak punya kesibukan. Daritadi, dia hanya menggulir layar di aplikasi Twitter. Membaca berita terkini, kemudian iseng-iseng ikut me-reply yang mana berakhir saling bergunjing. Atau bisa jadi saling bergelut.
Ning tidak sibuk sama sekali. Hari-harinya selalu lenggang. Dia pura-pura sibuk untuk menutupi ketiadaan aktivitas produktif.
Tidak mengherankan jika Tante Yuli berkata demikian.
"Ada apa Tante malam-malam gini call aku?" tanya Ning, tidak ingin berlama-lama dalam mempermalukan diri sendiri. Jadi, dia dengan cepat mengganti topik.
"Bagaimana hari ini? Seru enggak, Ning? Tadi sore, Tante tanya mamamu, dia bilang kamu belum pulang. Jadi, Tante pikir kayaknya kamu kabur lagi, ya?"
Untunglah Tante Yuli adalah seseorang yang perngertian. Beliau langsung mengganti topik pembicaraan ke suatu hal utama yang dibahas sekarang.
Ning menghela napas berat. Baru mulai saja langsung dituduh begitu. "Kabur bagaimana, sih, Tante?”
"Jadi, rencananya gagal?" tanya Tante Yuli, sudah seperti dukun saja, sudah tahu apa yang terjadi tanpa perlu diberitahu dahulu.
"Iya, Tante. Rencananya memang gagal."
"Oh, udah Tante tebak, sih."
Ning kesal. Kalau sudah tahu begitu kenapa justru bertanya padanya coba?
"Tante cuma mau memastikan aja. Ini, cowok ini. Namanya Halim Syah Hakim, Tante enggak terlalu kenal dia. Jadi, Tante enggak tahu dia bagaimana. Lalu, waktu Tante tanya kepada teman Tante, yang mengenalkan Halim ke Tante, dia bilang kalau Halim tuh sangat pendiam, apalagi kalau sama perempuan. Tante udah kepikiran bakalan gagal rencana kita tadi siang. Yang ada di pikiran Tante, kamu pasti kabur karena Halim bakal sangat gugup sampai kacau banget. Mungkin kamu pura-pura mules ke kamar mandi atau entahlah. Yang pasti, kamu bakalan kabur dari Halim. Iya, 'kan?" Tante Yuli menjelaskan panjang lebar.
Ning menanggapinya dengan tertawa . Hal itu membuat Tante Yuli agak bingung dengan tingkah Ning yang sedikit berbeda dari biasanya. Apa jangan-jangan Ning kesurupan?
"Tante salah sangka. Karena Tante salah tebak, jadi pion terdepan milik Tante sudah aku makan. Rencana Tante tadi siang itu gagal total, tetapi itu bukan berarti hari ini adalah hari yang buruk. Aku enggak kabur. Enggak ada yang kabur di antara aku dan Halim. Karena ini baru pertama, nama Halim harus digeser daftar perjodohan. Halim didiskualifikasi.”
"Loh, kenapa? Apa karena kamu suka dia?"
Ning tersenyum, mulutnya membentuk busur terbalik sehingga area tulang pipi terlihat menonjol. "Suka sebagai apa?"
"Ya, pasti suka sebagai pacar, dong. Iya, 'kan, Ning?"
Suara Tante Yuli terdengar sangat antusias di seberang sana. Belum sempat Ning menjawab, Tante Yuli kembali melanjutkan perkataannya.
"Tante tanya serius. Apa benar kamu suka Halim? Enggak biasanya loh kamu kayak gini. Kalau benar begitu, Tante sama mama kamu akan sangat senang. Enggak usah butuh waktu yang lama, cuma satu kali pertemuan dan kamu langsung jatuh cinta sama Halim. Wow! Keren! Memangnya apa yang dibilang Halim ke kamu tadi siang? Kamu bahkan enggak kabur seperti biasanya. Pasti dia membuat kamu tertarik, 'kan? Ya, seperti yang kamu bilang waktu itu, Halim juga enggak ganteng banget, enggak jelek juga. Sangat pas 'kan sama kamu? Soalnya, 'kan satu level. Yang kayak kamu bilang semalam." Tante Yuli mengatakan semua itu dalam satu kali tarikan napas. Secepat itu. Benar-benar cepat. Kalau Tante Yuli masih muda, pasti tantenya itu bisa menjadi idol Korea dengan posisi sebagai main rapper. Benar-benar keren hingga Ning tidak tahu harus menjawab apa saking cepatnya Tante Yuli berkata. Ning bahkan tidak inget berapa banyak pertanyaan yang diajukan Tante Yuli dalam waktu sekaligus.
Ning memutar bolanya kemudian mendengkus. "Tante Yuli, bisa enggak bicaranya satu-satu? Aku bahkan enggak tahu Tante Yuli tanya apa aja. Sabar, oke? Aku masih berdiri di tempat. Belum pergi ke mana-mana. Jangan ngebut begitu bicaranya. Santai aja."
"Jadi, benar?"
"Apa?"
"Ya, kamu suka sama Halim, dong."
"Suka sebagai apa? Banyak soalnya perngertian dari suka, Tante."
"Sebagai pacar, Ning. Masa gitu aja enggak tahu. Enggak usah pura-pura begitu, Tante udah tahu."
"Serius? Memangnya Tante tahu apa? Oh, tentang Halim ini ... aku enggak benar-benar tertarik sama dia. Maksudku, di pertemuan pertama hari ini enggak buruk kok, lancar-lancar aja. Hanya saja udah sama-sama saling tahu, ya emang kalau enggak cocok pada dasarnya mau diapakan?" Ning melirik jam dinding, sudah mau beranjak pukul sepuluh malam. "Aku memang suka dia, kok, Tante. Dia baik banget. Seperti yang dibilang Tante, Halim memang sangat gugup sampai keringat dingin, tetapi aku bisa memakluminya. Enggak ada yang salah dengan itu. Aku suka Halim, tetapi sebagai teman aja. Halim juga suka aku dan dia menganggap aku sebagai teman juga. Cerita aku sama Halim, udah berhenti sejak sore tadi. Karena dari awal memang udah enggak cocok ... aku sama Halim enggak mau saling memaksa."
Tante Yuli bergeming di tempatnya. Entah terpaku atau bagaimana, Ning tidak tahu. Yang pasti, telepon itu hanya diam tanpa suara apa pun. Ning menarik napas, kemudian diembuskan perlahan.
"Masalah tentang rencana Tante, besok aku mau melakukan ... ya, kalau itu tidak ada kendala aja. Jadi, jangan khawatir. Aku, enggak bakal selamanya jadi perawan tua, kok. Aku tahu Tante kayak begini tuh karena Tante sayang aku. Makasih, ya. Aku mau istirahat dulu. Selamat malam."
Ning mematikan telepon tanpa memberikan kesempatan Tante Yuli untuk menjawab. Terlepas ucapannya didengar atau tidak. Dia tidak peduli. Cerita hari ini harus berakhir, tidak peduli betapa banyaknya rasa penasaran orang lain. Hari ini harus ditutup karena ada hari esok yang telah menanti untuk disambutnya.
***
Jika kemarin, Ning bersiap diri dengan seadanya saja. Maka hari ini setidaknya dia harus terlihat lebih baik. Tidak perlu memakai dress atau memaksakan diri untuk memakai baju yang tidak ia sukai. Cukup menggunakan kaos putih dan rok tartan selutut untuk menambah kesan feminim pada looks hari ini.
Tidak ada pita atau penjepit rambut. Ning memilih untuk menggerai rambut sebahu itu. Tanpa hiasan apa pun di kepalanya, benar-benar polos. Ning juga berdandan, tetapi dia memakainya sangat sedikit dan itu agak tanggung. Tidak ada perona mata. Hanya bedak tabur, perona pipi yang sangat amat samar, lipstik varian mouse yang sengaja dipakai tipis-tipis agar terlihat natural, dan terakhir Ning menambahkan maskara agar bulu matanya tampak lentik sehingga membuatnya tampak lebih cantik.
Riasan simpel kali ini telah selesai tanpa membutuhkan waktu yang lama. Ning segera beranjak menuju lemari, mengambil tas berwarna hitam dan sepatu hitam merk Converse. Bagaimanapun penampilannya hari ini, kenyamanan tetaplah nomor satu.
Pukul sembilan pagi, tersisa satu jam sebelum pertemuan dimulai. Ning sengaja datang lebih awal, tidak enak membuat orang lain menunggu seperti itu meski bukan salahnya jika orang lain datang lebih cepat padahal sebenarnya dia juga tidak bisa dibilang datang terlambat.
Untuk hari ini, sesuai kesepakatan bersama, mereka akan bertemu di kafe terkenal. Jaraknya cukup jauh dari rumah Ning sehingga dia harus melakukan tiga kali transit Transjakarta dan ratusan meter langkah kaki sebelum akhirnya tiba di sana.
Masih dalam perjalanan, dia berjalan kaki menuju halte sambil mendengarkan musik kesukaannya. Terlalu asik, dia tidak sadar bahwa perjalanan semakin cepat hingga dia tiba di depan halte. Biasa saja, sih. Dia merogoh kantong, ada kartu ATM khusus yang sudah disiapkan sebelum berangkat. Ketika kartu itu ditempelkan, warna hijau menyala. Dia melenggang masuk menuju bis datang pada dua menit kemudian.
Halte tetap ramai meski bukan jam kerja. Bus datang lebih lambat dari perkiraan karena seperti biasa, kemacetan mulai merajalela. Karena Ning sudah mengantisipasi hal ini, dia jadi santai saja. Dia memasuki bus yang penuh. Kemudian berusaha masuk ke dalam area khusus wanita. Untunglah dia bisa. Bersebelahan dengan perempuan yang kurang lebih seusianya, dia merasa jadi lebih tenang dari sebelumnya.
Bus melaju lambat karena kemacetan semakin merayap. Meski harus berdesakan dan tidak jarang pula bis mengerem mendadak sehingga tubuhnya acapkali tidak seimbang, Ning mencoba merasa nyaman di tengah kondisi di mana dia agak sulit untuk tetap berdiri tegak.
Itu semua demi keluarganya. Semoga, orang kedua yang akan dia temui tidak membuatnya kecewa. Butuh banyak usaha ke tempat kafe sesuai yang diinginkan oleh calon itu. Semoga, hari ini hari yang baik.
***
Rencana Tante Yuli adalah jual mahal. Ya, kalian semua tidak salah mendengar. Ning harus jual mahal kepada calon laki-laki itu dengan elegan. Tante Yuli mengharuskan Ning untuk bersikap anggun. Jangan terlalu banyak bergerak. Duduk tegak. Cobalah untuk bersikap tenang sebisa mungkin. Pancarkan aura mahal tanpa perlu memakai hiasan mahal. Meski memakai pakaian sederhana, kalau punya aura mahal, pakaian sederhana pun bisa menjadi elegan. Selain itu, katanya sih ini akan membuat para laki-laki itu akan tertarik padanya. Ning juga harus membuat dirinya seolah-olah misterius sehingga nantinya akan ada banyak pria yang penasaran dengan seorang Nur Wahyuningsih Sumantri.
Ini tidak masuk akal. Sangat tidak masuk akal. Pertama, Ning bukanlah Angelina Jolie. Ning tidak punya aura mahal seperti Jolie. Ning biasa saja. Dia tidak memiliki aura spesial yang dapat menarik perhatian orang lain. Kedua, Ning bisa melakukan ini. Agak gila mungkin. Namun, Ning berpikir bahwa dia benar-benar bisa melakukannya. Tante Yuli berkata, yang harus Ning lakukan adalah duduk elegan, tidak perlu banyak bicara. Jawablah pertanyaan lawan dengan lugas dan percaya diri. Jangan terlalu sering tersenyum. Itu mudah. Ning akan melakukannya, dengan versi malas dan tidak niat.
Pada pertemuan pertama, gagal. Padahal, hampir berhasil. Seandainya percakapan mereka langsung berhenti setelah Halim bertanya dengan pertanyaan yang agak tidak sopan itu, mungkin Ning bisa pulang cepat apalagi jika dia bersikap menyebalkan seperti yang Tante Yuli sarankan.
Tidak apa-apa. Ning tidak menyesal karena dia mungkin bisa melakukannya pada hari ini. Ning akan menjadi seseorang yang misterius, bedanya ini versi malas saja.
**
Setelah tiga kali transit Transjakarta kemudian berjalan kaki sebentar menuju kafe tersebut, tibalah Ning di depan kafe yang lebih ramai dari perkiraannya. Sama seperti sebelumnya, Ning sangat bingung. Dia tidak tahu di mana orang kedua yang akan dia temui itu berada.
Ning menengok ke kanan dan ke kiri. Kafe ini meskipun sangat terkenal di i********:, tetaplah terasa asing bagi Ning yang baru pertama kali ke sini.
Ning benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Orang kedua itu tidak dapat dihubungi melalu pesan ataupun panggilan telepon. Ning tidak mengenal seluk-beluk kafe ini, maka dari itu dia memutuskan untuk beranjak dari kafe. Belum apa-apa, orang itu sudah membuatnya kesal. Bagaimana bisa orang itu hanya menyuruhnya datang tanpa memberi tahu di mana letak tepatnya orang itu berada.
Baru beberapa langkah, tangannya tiba-tiba digenggam oleh orang asing. Sontak, Ning terkejut dan refleksi menghindar. Dia menepis tangan orang asing itu dengan agak kasar. Lalu, Ning mendongak. Seorang laki-laki, wajahnya lebih muda dari usia aslinya. Tubuhnya agak kurus, tetapi orang itu sangat tinggi. Karena Ning berada di radius sangat dekat, Ning mencium aroma kopi yang sangat harum dari laki-laki itu.
"Eh, sorry. Jangan pergi. Gue 'kan yang lo cari?"
Ning yang masih terkejut memundurkan beberapa langkahnya. Orang aneh ini entah bagaimana caranya tiba-tiba ada di depan mata, dan langsung menarik tangannya tanpa menyapa atau paling tidak berteriak memanggil namanya. Sangat tidak sopan. Pertemuan pertama dan pada detik itu juga langsung mendapatkan poin minus secara konstan.
"Lo siapa?" tanya Ning, meski kesal dengan orang itu, Ning harus tetap bersikap sopan, walaupun Ning melakukannya dengan setengah niat.
Cowok itu melipat tangan. Agak kesal. “Lo beneran enggak tahu gue? Gini, nama gue itu Arka dan lo adalah Nur, 'kan?"
Baiklah. Sepertinya Ning akan menuruti rencana Tante Yuli. "Nur?" tanya Ning dengan tenang. Hanya dengan satu kata, diikuti dengan salah satu alis yang terangkat. Ning jual mahal!
"Nama depan lo kan Nur. Apa gue harus panggil lo Wahyuni?"
"Ning aja."
Gila. Apa sekarang Ning sudah terlihat elegan?
"Kenapa enggak dipanggil Nur?"
Ning menatap tajam laki-laki itu. “Ya, karena memang Ning.”
Laki-laki itu tersenyum remeh. “Oke, Nur.”
“Terserah.”
“Kok lu bete?”
“Apa?” tanya Ning, agak galak.
“Butek banget mukanya. Enggak suka gue panggil Nur.”
“Terserah.”
“Ya, udah. Kenapa lu judes banget sama gue sih, Nur? ‘Kan kata lo terserah. Ya gitu deh gue panggil lo nur karena suka-suka gue, eh lo nya bete banget.”
"Karena Nur itu nama mama gue, puas? Mau lo itu apa, sih? Gue udah capek-capek dateng ke sini, sesuai tempat yang lo mau, dan ini ternyata sambutan lo?"
Gagal lagi. Kedua kalinya. Ning gagal jual mahal. Bukannya terpesona, kedua orang ini justru saling berkelahi.
Ya ampun, mimpi apa Ning semalam sampai-sampai bertemu dengan orang yang menyebalkan seperti dia.
"Mau minum apa?"
"Hah?"
Laki-laki itu berdecak. Perempuan memang sangat susah untuk dimengerti. Katanya terserah, ya udah di jawab sesuai yang dia mau, eh ternyata salah. Ditanya apa maunya, katanya lagi malah terserah. Arka benar-benar enggak habis pikir dengan perempuan. Semua perempuan itu sama aja, termasuk yang ada di hadapannya saat ini.
"Bukannya lo minta sambutan?"
"Makasih, tetapi gue enggak butuh."
Tuh, ‘kan!
Arka mengumpat dalam hati. Dia tidak tahu kalau Nur sangat menyebalkan.
Intinya, terserahnya perempuan itu terserah dia. Mau benar atau salah. Pokoknya terserah!
"Ayo." Arka mengajak paksa Ning. Ini terserah, ‘kan?
"Buat apa, sih?"
"Pesen aja minuman yang lo mau. Lebih dari satu juga enggak apa. Gue mau ke lantai atas, ngambil berkas yang sengaja gue tinggal saat gue turun ke bawah karena lo terlalu lama."
Ning kesal. Gila. Ini sangat gila. Arka sangat menyebalkan. Sia-sia Ning membuang waktunya untuk bertemu dengan orang seperti Arka.
"Lo gila, ya? Gue bahkan datang sampai di sini itu 20 menit lebih awal. Terlalu lama apanya?"
Arka enggak mau kalah. Berhubung dia enggak mengerti bahasa wanita sama sekali. Jadi, dia memaksa Ning untuk mengertinya. "Intinya, sekarang lo pesen minuman yang lo mau. Gue mau ke lantai atas, ngambil barang gue yang masih ada di sana. Pesan berapa kek terserah. Gue yang bayar enggak usah khawatir. Oke? Lo masuk terus langsung pesan menu yang Lo pengen. Jangan ke mana-mana.”
“Posesif banget memangnya lo siapa?”
“Nur, pesan aja dulu. Cepetan, masuk!”
"Dih, ya udah deh. Kalau gue pesan sampe seratus ribu, enggak apa nih? Lo ikhlas enggak?”
"Terserah. Gue banyak duit juga. Cepat, lo masuk ke dalam!"
"Iya, iya. Memangnya lo kenapa sih buru-buru?"
"Di dalam dulu, Nur! Nanti gue ceritain. Abis ini selesai, kita langsung cabut. Jangan di sini."
"Hah? Lo gila? Gue baru dateng bahkan belum sempat duduk langsung diusir terus di ajak pergi lagi.”
"Bukan diusir, Nur, tetapi kita berdua harus kabur bareng."
"Kenapa lagi?"
"Soalnya, di lantai atas ada orang yang sengaja ngelihatin kita dari tadi."
Ning benar-benar terkejut. Secara tidak sadar mulutnya terbuka lebar. Dia langsung masuk ke dalam kafe, mengikuti saran Arka. Meskipun dia tidak tahu dan masih tidak mengerti tentang hari ini, mungkin Arka tahu sesuatu. Manik matanya tidak melepas punggung Arka sampai akhirnya orang aneh itu benar-benar lenyap dari pandangan.
Gila. Ada apa dengan hari ini? Siapa sih Arka itu? Apa hubungannya dengan penguntit?