5. Terlalu Aneh untuk Dimengerti
Dua gelas latte dan satu buah Chicken Katsu Toast hadir di hadapannya. Ning membayar semua pesanan itu dengan kartu ATM milik Arka sesuai kesepakatan tadi.
Tidak lama kemudian Arka turun dengan tergesa-gesa. Resleting tasnya bahkan belum ditutup sempurna oleh laki-laki itu. Ning mengamatinya dari jauh. Begitu Arka berada di hadapannya, laki-laki itu langsung menarik Ning keluar dari kafe dan berjalan sangat cepat. Ning berusaha memberontak dengan susah payah karena Arka menarik tangan kirinya yang mana tangan itu tengah memegang toast sedangkan tangan kanannya memegang dua buah latte dan ponsel. Ning sangat kesulitan. Dia berusaha melepaskan tangan Arka dari tangannya, tetapi tidak bisa. Ning berkali-kali memanggilnya untuk segera berhenti. Semakin sering Ning memanggil nama arka, semakin cepat langkah Arka.
“Ka! Arka!”
Ning berteriak sangat kencang sehingga mereka berdua menjadi pusat perhatian sekitar. Untunglah, langkah Arka berhenti pada detik itu juga. Ning segera menepis tangan Arka. Telapak tangan Ning memerah terutama pada tangan kanannya. Arka melihat hal itu dan hanya bereaksi diam. Berhubung resleting tasnya belum tertutup rapat. Jadi, Arka menarik paksa plastik yang berisi dua buah minuman itu dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian, dia langsung menarik Ning lagi tanpa aba-aba. Kali ini bukan berjalan cepat, tetapi benar-benar berlari!
Ning buta arah. Dia tidak tahu sama sekali tentang daerah ini. Arka menuntunnya menuju jalan yang lebih sepi. Kecepatan mereka saat berlari semakin bertambah saat Arka semakin sering menengok ke belakang. Ning penasaran dengan apa yang terjadi, dia ingin bertanya kepada Arka, tetapi Arka pasti tidak mau menjawabnya.
Pada akhirnya Ning menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang mengikuti mereka. Jadi, buat apa mereka berdua lari seperti sedang dikejar seseorang begini?
“Ka! Stop, please!” pinta Ning, tetapi tetap diacuhkan oleh Arka.
“Ka, sumpah asli tolong berhenti. Kasih gue napas sebentar. Capek banget, Ka! ARKA!”
“KA! LO DIKEJAR SIAPA, SIH? ENGGAK ADA ORANG DI BELAKANG!”
Ning berteriak sekencang itu, tetapi Arka tetap tidak peduli dengannya. Ning berbicara dalam hatinya. Serius, ini akan menjadi terakhir kalinya. Ning tidak akan lagi mengikuti perjodohan aneh ini. Apa-apaan. Ning merasa sangat dipermainkan!
Arka tetap menarik Ning untuk tetap berlari, membawa perempuan itu ke arah perumahan. Namun, kecepatan mereka semakin melambat ketika mereka berada di depan rumah yang tidak diketahui siapa pemiliknya. Rumah itu terbengkalai. Ada banyak semak belukar. Tepatnya, khusus blok D memang sarang rumah tak berpenghuni.
Mereka benar-benar berhenti, tepat di depan rumah itu, dan Arka melepaskan tangannya dari tangan Ning. Pergelangan tangan Ning memerah. Rasanya sangat sakit karena ditarik paksa oleh Arka, tetapi laki-laki itu justru sangat santai.
Ning menatap Arka raut gusar. Perempuan itu takut diculik. Ini rumah angker. Di Indonesia, ada banyak mitos dan cerita seram tentang rumah yang tidak berpenghuni lagi. Kalau tidak ada manusia yang tinggal di sana, bisa jadi makhluk lain yang mengisinya. Saat ini, Ning sedang berkenalan dengan seorang manusia yang agak tidak waras, bukan untuk uji nyali. Selain itu, Ning sangat takut Arka berbuat m***m padanya. Siapa yang tahu dia diperkosa di rumah angker ini karena Arka mungkin saja tidak mampu membayar sewa kamar di hotel. Ning juga takut kalau dia tidak bisa pulang dengan selamat lagi. Segala pemikiran buruk berkecamuk dalam kepalanya.
“Kita ngapain?” tanya Ning, sangat gusar. Anehnya, Arka semakin santai.
Ning sangat takut. Sumpah! Benar-benar takut. Apa mungkin Arka yang sekarang bukanlah Arka yang sebenarnya? Apa ini Arka jadi-jadian?
“Gue tahu, lo di sini!”
Tiba-tiba, Arka berteriak kencang. Laki-laki itu kembali menarik tangan Ning dan menjaga perempuan ini agar tetap berada di sampingnya.
Ning semakin kalut, dia sangat panik. Di kepalanya, ada beragam cara agar dia dapat melarikan diri sini. Namun, saat Arka kembali menggenggam tangannya, Ning tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena Arka sangat kuat. Tenaga Ning tentu saja tidak sebanding dengannya.
“Ka, siapa?” tanya Ning sembari berbisik. Arka tidak menjawab, laki-laki itu justru meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Ning disuruh diam dalam keadaan sangat panik.
Ning mencoba tenang. Dia harus tenang agar dapat keluar dari sini. Ini sangat menyeramkan. Jantungnya berdetak kencang. Dia sangat gugup dan tegang. Peluh mulai membanjiri dahi. Tanpa sadar, dia meremas toast untuk mengurangi rasa tegangnya hingga isi toast itu keluar. Ning tersadar dan langsung menghentikan aktivitasnya. Dia menatap dingin pada toast yang belum pernah disentuhnya sama sekali. Dia tidak lapar. Melihat toast itu justru membuatnya mual. Inilah yang membuktikan betapa suramnya suasana saat ini. Terlalu hampa sampai desau angin pun dapat terdengar.
Detak jantung Ning semakin berpacu kencang. Tangan Ning gemetaran memegang toast. Sebisa mungkin dia tampak tenang, tetapi gagal karena dia benar-benar ketakutan.
Arka tahu Ning sangat takut. Dia menaruh tangannya di pinggir bahu Ning, merengkuhnya dan berbisik samar, “Gue enggak akan pergi ninggalin lo. Gue di sini. Sorry, gara-gara gue lo masuk ke dalam masalah ini.”
Sumpah! Demi apa pun Ning tidak tahu apa-apa. Dia bahkan belum sempat duduk sebentar, sudah langsung ditarik oleh Arka. Dia dibawa ke sini tanpa diberi penjelasan apa pun. Dia terseret pada masalah yang tidak pernah dia ketahui. Ning tidak tahu apa urusan Arka ke sini, yang pasti Ning tahu bahwa dirinya benar-benar dalam keadaan berbahaya.
“Rissa, enggak usah sembunyi lagi. Keluar aja! Jangan jadi pengecut yang sembunyi di belakang aja!”
“Jangan nengok ke belakang, Ning!”
Arka tiba-tiba berteriak lagi. Ini membuat Ning sangat terkejut. Ning sangat ketakutan. Tubuhnya bergemetar. Ning sangat ingin keluar dari sini. Ning patuh pada Arka. Meskipun, agak ragu. Hanya Arka satu-satunya yang dapat dia percaya.
“Dia di sini, Rissa!”
Tunggu! Apa? Dia?
Maksudnya Ning?
Ning sangat marah. “Lo mau jadiin gue tumbal?” tanya Ning dengan gemetar. Perempuan itu berusaha keras untuk mengalahkan rasa takutnya.
“Bukan.”
Arka menoleh ke belakang. “Sa! Rissa! Woy! Udahan main petak umpetnya!”
Ning menatap Arka dalam diam. Sampai detik ini dia tidak tahu apa maksudnya.
Rissa yang dimaksud Arka tidak lama kemudian muncul dari balik pohon besar. Perempuan itu mengenakan baju serba hitam. Kantong matanya turun seolah-olah sudah tidak tidur lebih dari satu Minggu. Rambutnya diikat ekor kuda dengan rapi. Si Rissa ini agak bau aneh. Meskipun, Ning berada tidak terlalu dekat dengan perempuan itu, tetapi Ning bisa mencium baunya. Ning tidak bisa menjelaskan bagaimana aromanya, intinya bau badan Rissa sangat aneh. Agak membuatnya mual. Ning sebisa mungkin bersikap sopan karena dia masih ingin hidup dengan tenang.
“Ini Rissa, Ning. Mantan gue. Dia yang ngikutin kita dari tadi. Lo enggak lihat dia karena dia udah sembunyi duluan.”
Ning sangat terkejut. Benar-benar kaget.
“Rissa, gue udah bilang sama lo. Kalau kita itu udah putus dari setahun yang lalu. Berhenti ngurusin hidup gue lagi.”
“Kenapa harus dia?” tanya Rissa menunjuk Ning.
“Memangnya kenapa? Apa itu jadi masalah buat lo?”
“Iya, Ka! Iya! Semua cewek yang pernah dekat sama lo enggak ada yang lebih baik dari gue, Ka! Apa yang Lo cari dari mereka? Apa, Ka? Mereka enggak spesial sama sekali, tetapi lo malah milih mereka dibanding gue! Liat gue, Ka! Lo tahu kan kalau gue masih sayang sama lo?”
“BASI! Lo enggak sadar, ya? Justru lo yang jadi masalah, Sa! Lu selalu ngikutin gue ke mana pun. Lo enggak pernah biarin gue buat deket sama cewek siapa pun. Setiap gue bareng cewek, Lo selalu gangguin. Buat mereka ketakutan sampai ninggalin gue sendiri. Lo masih belum puas juga sekarang? Kita ini udah putus, Sa! Udah putus! Kita enggak ada hubungan apa-apa lagi. Lo itu hanya mantan gue! Bukan siapa-siapanya gue lagi! Lo enggak berhak sama sekali buat ikut campur dalam masalah gue. Mau gue dekat sama siapa pun, itu terserah gue, Sa! Itu hak gue! Lo enggak bisa ikut campur sekalipun lo enggak suka sama orang yang lagi dekat dengan gue! Ini hidup gue, bukan hidup lo! Yang bertanggungjawab itu gue! Bukan lo! Jadi, berhenti gangguin gue lagi! Gue punya kehidupan sendiri!” Arka berteriak kencang. Dia mencurahkan segala perasaan yang selama ini dipendam. Rissa benar-benar keterlaluan. Alasan basi. Cinta? Mana ada cinta dari Rissa untuk Arka? Yang ada, Arka seolah-olah dikurung dalam ruang dalam ruangan kecil dan sempit. Tidak diberi kesempatan untuk keluar, bertemu dengan siapa pun karena selalu dicurigai. Apa artinya hubungan kalau tidak bisa mengontrol rasa curiga?
Rissa adalah mantannya. Dia pernah berpacaran dengan Rissa selama empat bulan dan kemudian putus karena Rissa terlalu posesif padanya. Setelah putus, Arka sebelumnya tidak memblokir media sosial Rissa karena dia ingin putus dengan baik-baik. Namun, Rissa semakin menjadi-jadi dan beranggapan bahwa Arka belum bisa melupakannya sehingga Arka tidak memblokir media sosialnya seperti yang dilakukan mantan Rissa sebelumnya. Kata Rissa, tidak ada namanya putus baik-baik. Kalau memang hubungan mereka masih baik, pasti tidak akan putus. Kemudian, Arka mencoba menjelaskan kenyataan yang sebenarnya kepada perempuan itu, tetapi Rissa tidak mau mendengarkannya. Bagi Rissa, hanya dia yang paling benar di sini. Arka mungkin berbohong agar Rissa dapat memaafkannya. Jadi, menurut Rissa, sebelum Rissa memaafkan Arka, Rissa harus tahu lebih dulu siapa saja teman dekat perempuan Arka? Sebab Rissa tidak ingin Arka menghindarinya lagi. Rissa masih menyayangi Arka sepenuhnya dengan cara yang salah.
“Rissa, lo tahu siapa dia?” tanya Arka menunjuk Ning. “Ini, Nur. Ibu gue bilang kalau gue harus mencoba kenalan sama dia. Sekarang, gue lagi lakuin apa yang ibu gue katakan. Seharusnya, ini berjalan lancar kalau lo enggak datang tiba-tiba ke kafe itu dan pura-pura nyamar jadi orang lain. Lo pikir gue enggak tahu, Sa? Lo masih berpikir kalau gue cowok bodoh yang enggak bisa apa-apa? Sa! Buat apa lagi sih lo gangguin gue terus? Lo memang spesial, Sa, tetapi lo itu enggak lebih tinggi dari orang lain. Berhenti beranggapan kalau cuma lo aja yang paling pantas! Ada banyak yang lebih dari lo, tetapi dia enggak kayak lo sama sekali!”
“Ibu lo pilih dia? Dia bahkan enggak cantik meski udah dandan! Badannya biasa aja. Daritadi ketakutan sampai gemetaran. Dia penakut, beda sama gue yang pemberani! Serius, Arka lo cari cewek kayak gini? Bagaimana gue—“
“LO CUMA MANTAN GUE! ENGGAK ADA URUSANNYA LAGI DALAM HIDUP GUE!” Arka benar-benar marah.
“Ka! Jujur deh—“
“Rissa, kalau lo enggak mau gue benci seumur hidup, gue mohon banget sama lo. Mulai sekarang, tolong jauhin gue.”
“Enggak bisa, Ka! Gue masih cinta sama lo!”
“Lo enggak cinta sama gue! Cinta apaan yang bikin gue kehilangan hak gue! Lo bilang kalau lo itu cinta gue, tetapi yang gue lihat lo itu cuma takut kalau kehilangan gue. Lo enggak benar-benar cinta sama gue, Sa! Lo terlalu mengekang gue sampai gue bahkan enggak tahu kebebasan itu kayak apa pas masih sama lo. Itu yang lo sebut cinta? Maksudnya, cinta yang bikin gue ngerasa terancam, enggak nyaman, dan enggak aman? Apa cinta kayak begitu? Enggak, Sa! Ini bukan cinta! Ini obsesi!”
Ning setia mendengarkan perdebatan mereka tanpa berkata sepatah kata pun. Ia memilih diam dan bergeming melihat dua manusia yang sedang bertengkar itu.
Ini terlalu aneh untuk dimengerti.
***
Arka dan Ning keluar dari perumahan tak berpenghuni setelah meninggalkan Rissa yang berkutik di tempat. Mereka mendiamkan satu sama lainnya. Setelah kejadian itu, semua orang bergeming. Suasana canggung mulai menyelimuti keduanya. Kejadian tadi sangat aneh dan memalukan. Tidak ada yang berani membuka mulut lebih dahulu, terlalu malu untuk bersuara.
Arka mengajak Ning ke mall terdekat melalu isyarat. Ning mengangguk setuju. Kemudian, mereka berjalan beriringan tanpa banyak suara.
Arka menundukkan wajahnya. Dia sangat malu dengan Ning. Dia telah membuat Ning masuk ke dalam ranah yang tidak seharusnya Ning berada. Ning hanya orang asing, Ning baru mengenalnya hari ini. Seberapa banyak hal yang Ning tahu tentang Arka? Sekalipun dengan kejadian tadi, tetap saja jumlahnya masih sangat sedikit.
Sedangkan Ning tidak berani untuk memulai percakapan. Ning tidak enak karena dia mengetahui hal yang seharusnya tidak perlu dia ketahui. Ning tidak ingin membahas hal ini karena Arka pasti tidak nyaman. Namun, dia juga tidak tahu harus berbuat apa agar suasana ini tidak canggung lagi. Ning tidak bisa menghibur orang lain yang tengah bersedih. Dia tidak punya lelucon yang bisa membuat orang lain tertawa. Dia juga tidak bisa sulap. Yang Ning lakukan sekarang adalah membiarkan dirinya menemani Arka sampai laki-laki itu menyuruhnya pulang. Setidaknya, itulah yang bisa Ning lakukan walau sebenarnya dalam hati Ning sudah ingin pulang sejak awal.
Waktu berlalu begitu cepat hingga mereka tidak sadar sudah sampai di depan mall. Saking larutnya dalam lamunan masing-masing hingga keduanya lupa apa tujuan mereka sebenarnya ke mall ini?
“Lo mau beli sesuatu, enggak? Apa aja. Biar enggak sia-sia kita ke sini,” kata Arka. Dia memulai percakapan setelah lama berdiam. Pemuda itu mengabaikan segala kemungkinan yang akan terjadi. Arka tidak mau menerka. Dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Ning. Bahkan jika Ning berpikir buruk tentangnya, Arka tetap santai. Selagi masih tersimpan rapat di dalam pikiran perempuan itu, Arka tidak peduli dan tidak mau ambil pusing. Buat apa Arka menerka-nerka sesuatu hal yang berada di luar batasnya? Enggak logis.
“Eh, enggak tahu. Beli apa, ya? Gue juga enggak kepikiran sih mau beli apa aja, soalnya mendadak juga.”
Mereka saling bersitatap. “Nur, gue baru ingat kalau minuman yang lo beli tadi ada di tas gue.”
“Latte?”
“Iya, deh. Kayaknya. Yah, pasti udah enggak dingin.”
Ning menatap Arka dengan antusias. “Enggak apa-apa, Ka. Keluarin aja. Gue ada ide.”
“Ide apaan?”
Ning mengambil satu latte dan membiarkan satunya lagi ada di tas Arka.
“Daripada kita diam aja di sini, bagaimana kalau kita keliling mall aja. Sambil minum ini. Biar enggak menyedihkan banget hehe. Nah, pas lagi keliling nanti pikir aja deh mau beli apa. Biasanya kalau yang tiba-tiba kepikiran, pasti pengen beli, ‘kan. Bagaimana?”
Arka mengangguk setuju. Itu sangat baik. “Sekalin beli toast lagi aja. Kasian tadi toast-nya lo remes sampai ancur begitu.”
“Ye, itu semua gara-gara mantan lo!”
Wajar Arka datar. “Terus ini satu lagi enggak diambil dari tas gue?”
“Enggak. Itu memang sengaja gue kasih buat lo, Arka.”
“Makasih. Padahal enggak minta.”
“Ayo cepat! Keburu makin sore, nih!”
“Ini masih jam dua woy! Sore dari mananya?”
***