2. Big Deal
Nur Wahyuningsih Sumantri adalah anak satu-satunya dari pasangan Nur dan Sumantri yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya selama sepuluh tahun. Nur diambil dari nama ibunya yang mana dalam bahasa Arab, nur memiliki makna cahaya. Wahyuningsih merupakan gabungan antara Wahyu dan Ningsih. Wahyu memiliki makna sebuah petunjuk dan Ningsih memiliki makna dalam kasih atau yang terkasih. Terakhir, Sumantri adalah nama yang berasal dari nama ayahnya sekaligus memiliki arti sebagai hulubalang (kepala laskar) yang baik dalam bahasa Sunda.
Maka secara harfiah, Nur Wahyuningsih Sumantri memiliki makna cahaya petunjuk dalam kasih keluarga Sumantri.
Dia selalu dipanggil Ning oleh keluarga dan teman terdekat. Ning tidak pernah merasa keberatan dengan nama panggilannya yang terdiri dua suku kata dan empat huruf itu karena dia sangat menyukai arti nama panggilannya. Meskipun dalam bahasa Jawa, Ning memiliki makna mbak, yakni kata sapaan untuk memanggil perempuan yang lebih tua. Namun, Ning dalam bahasa Cina memiliki makna kedamaian yang berharga. Itu sebabnya dia menyukai nama panggilannya. Terdengar indah, tetapi sederhana.
Dia hanya dipanggil Ning oleh keluarga besar dan orang terdekatnya aja. Karena Ning memiliki nama panggilan yang lumayan banyak. Jadi, tidak semua orang memanggilnya Ning.
Ada 3 nama panggilan yang sering Ning dengar. Pertama, untuk orang asing biasanya memanggilnya Nur karena diambil dari nama depannya. Itu sederhana dan mudah diingat karena hanya memiliki tiga huruf. Ning jelas tidak menyukainya sebab itu nama mamanya juga. Agak ambigu. Rasanya sangat aneh ketika orang-orang memanggilnya Nur, seolah-olah Ning adalah bentuk reinkarnasi Mamak Nur saat masih muda. Padahal Ning tidak mirip sedikit pun dengan mamanya.
Kedua, Ningsih. Dia tidak terlalu sering sih dipanggil Ningsih sebagaimana dia dipanggil Nur oleh orang asing. Biasanya, saat masih sekolah Ning dipanggil Ningsih oleh teman kelasnya. Nama Ningsih tidak aneh. Arti namanya juga bagus walau maknanya terdengar seperti nama arti nama orang Kristen, dalam kasih. Mungkin karena arti nama Ningsih, jadi Ning merasa biasa saja saat dipanggil Ningsih. Tidak bisa dibilang suka, tetapi tidak bisa juga dibilang benci. Intinya, ada di tengah-tengah.
Nama panggilan ketiga inilah yang paling aneh. Ning pernah dipanggil Wahyuni beberapa kali, walau tidak sering seperti Nur atau Ningsih. Nama Wahyuni ini yang paling aneh dari semua nama panggilannya. Tentu saja nama ini sangat umum, terutama di Jawa. Namun, nama Wahyuni agak tanggung jika dilihat dari nama tengahnya, Wahyuningsih. Ning jadi suka gereget sendiri. Serius. Daripada itu, kenapa tidak langsung aja memanggilnya Wahyuningsih? Iya, sih, Ning tahu kalau itu terlalu panjang untuk sebuah nama panggilan. Namun, bukankah jauh lebih buruk jika dia dipanggil tanggung begitu? Wahyuni, artinya tentu saja bagus. Tidak ada yang buruk atau salah. Hanya saja, terdengar kurang pas.
Saat ini, hanya Tante Yuli yang memanggilnya Ningning atau Nining. Tidak tahu apa alasannya. Namun, itu tidak terdengar buruk. Jadi, Ning biasa saja.
Seperti halnya sekarang.
"Ningning, lesu banget."
Ning mengangguk tanpa banyak bicara. Kemudian, dia duduk di sofa sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah dengan jemari-jemari tangannya.
"Ayo, semangat. Jangan lesu banget kayak ini."
Ning menghela napas. "Tante ... bagaimana aku enggak lesu kalau aku sendiri males banget ke sana."
Tante Yuli tersenyum. "Biarpun kamu malas, seenggaknya harus ada semangat dong."
"Mau semangat bagaimana? Aku aja enggak tertarik apa-apa."
"Kita enggak tahu, jodoh tuh datangnya kapan aja. Di waktu yang mana? Apa pas kita lagi udah siap apa belum ... jodoh tuh enggak lihat kayak gitu, Ningning. Kita ini 'kan lagi berusaha. Kalau mau ada hasil bagus, ya usahanya harus maksimal dong. Kamu sendiri malah lesu banget kayak zombi."
Ning mengangkat bahu. "Ya terserah, deh. Aku kayak gini enggak apa-apa. Aku berdoa, jodohku terima aku apa adanya."
"Yakin?"
Ning mengernyit. "Apa?"
Tante Yuli tersenyum ganjil. “Seyakin apa kalau kamu bisa dapat apa jodoh yang kamu mau? Kamu sendiri aja malas-malasan. Memangnya menurut kamu jodohmu itu suka kaya perempuan kayak gini? Usaha aja dulu, usaha yang maksimal. Masalah hasil, nanti bisa disesuaikan kok sama keadaan. Jangan pesimis banget, Ning."
"Biar aku enggak pesimis, harusnya Tante jangan tuntut aku untuk cepat menikah, dong. Tahu enggak, Tante? Aku tuh masih nyaman sendirian kayak gini. Rasanya bebas banget. Mau rasain masa muda sepuas-puasnya, tanpa terhalang suami apalagi lagi anak. Aku mau habisin masa muda aku, biar nanti enggak nyesal di masa tua karena aku punya kenang-kenangan di masa muda. 26 tahun itu belum kepala tiga, jadi enggak usah takut berlebihan kalau aku enggak nikah-nikah. Bahkan kalaupun usia aku udah di kepala tiga dan aku masih sendiri, enggak apa. Mungkin memang waktu yang tepat buat aku ya di umur segitu."
Tante Yuli kehilangan kata-kata untuk membalas perkataan anak dari adiknya itu. Kemudian, Tante Yuli memcoba berpikir logis. "Tante tahu, kamu mau jadi wanita karier, 'kan? Bagaimana bilangnya, ya? Kamu sendiri milih re-sign dari jabatan yang agak lumayan, tetapi sampai sekarang kamu belum dapat panggilan kerja. Mau usaha, tetapi usaha kamu enggak berkembang. Omzet enggak bertambah, keuntungannya segitu-gitu aja. Justru modal yang makin yang makin tinggi, apalagi bahan baku semakin mahal. Usaha kamu enggak bisa dibilang maju, tetapi juga enggak mundur ke belakang. Ada ditingkat sedang, tetapi itu enggak cukup. Kalau mau jadi wanita karier, silakan. Namun, apa menjanjikan dari karier itu sampai-sampai kamu memilih untuk tetap sendirian?"
Ning terdiam. Membisu sepenuhnya.
"Karena karier kamu enggak bagus, enggak ada yang bisa kamu pertahankan. Jadi, apa alasan kamu memilih sendirian aja?" tanya Tante Yuli. Memainkan salah satu pionnya hingga tidak ada jalan keluar bagi Raja Putih selain mati. Ning skakmat sejak awal.
"Enggak ada, 'kan? Itu kenapa Tante dan mama kamu berkerja sama. Kami membentuk kongsi. Bukan bermaksud untuk jahat, tetapi kami memaksa mu untuk menikah karena kami tidak ingin kamu sendirian selamanya. Mau sendirian sampai kapan? Kariermu juga udah enggak bisa dipertahankan. Toh, selama ini kamu menganggur. Karena enggak ada kerjaan, jadi kamu di kamar terus. Main HP, makan, dan tidur. Mau kayak gitu selamanya, Ning?"
Pada akhirnya, permainan catur telah selesai. Raja putih telah mati, maka secara resmi si Hitam menang. Raja putih kalah telak, tidak ada suara yanng dapat terdengar di atas papan kosong, sekalipun itu hanya samar-samar.
"Oke. Aku akan sungguh-sungguh kali ini. Kalau nanti menurut aku enggak ada yang menarik, semuanya membosankan, Tante dan mamak tidak boleh memaksa aku untuk menuruti lagi apa yang kalian inginkan."
Tante Yuli tersenyum sumringah. "Oke, deal?"
Ning mengangguk ragu. Dia tidak begitu yakin dengan keputusan ini.
"Karena ini hari pertama, Tante punya rencana."
Firasatnya tidak enak. Sepertinya, akan begitu sulit untuk dijalani. Semua tampak terjal dan curam, sedangkan dia tidak punya apa-apa, hanya berbekal tangan kosong.
Ning menghela napasnya, berat sekali. Dia udah mengeluh capek, bahkan sebelum perempuan itu memulainya. Pesimis, tetapi harus tetap percaya diri.
Permainan catur kembali dimulai. Ini adalah ronde kedua. Kali ini, kira-kira siapa yang akan menang?
***
Jam makan siang itu selalu ramai. Penuh. Sesak. Berisik. Ning paling benci kalau ada pertemuan yang dilakukan saat jam makan siang. Paling tidak, 'kan bisa dilakukan pada pukul satu siang? Toh, setidaknya di jam itu mulai sepi, tidak padat seperti ini.
Ning sedikit bingung. Karena tempatnya ramai, jadi dia tidak tahu harus duduk di meja yang mana. Untungnya, ada sebuah tangan terangkat ke atas, memanggil namanya hingga Ning mendadak menjadi pusat perhatian. Orang yang pertama akan dia temui, ternyata sudah menunggunya di meja yang paling pojok. Ning agak kaget ketika orang itu belum memesan apa pun. Di meja, hanya ada ponsel. Nihil makanan, bahkan sekedar cemilan pun tetap tidak ada.
"Halo."
Ning sedikit membungkuk dengan sopan. Dia agak tercengang. Orang ini bersih, sangat wangi. Badannya agak besar. Tinggi juga. Pakaiannya dominan serba hitam. Tidak ada perhiasan atau apa pun yang mencolok, selain merek HP yang menarik perhatian Ning. iPhone 12 Pro Max.
"Makasih sebelumnya, sudah capek-capek menunggu," kata Ning, setelah menaruh tasnya di kursi.
Orang itu mengulurkan tangannya, bermaksud mengajak berkenalan. "Saya, Halim."
Ning menyambut uluran tangan itu, walau dia agak kikuk karena kurang terbiasa. "Aku, Ning."
Halim tersenyum manis. "BTW, sopan santun kamu sangat bagus, Ning. Jarang-jarang saya bertemu orang kayak kamu gini."
Ning tersenyum kikuk. "Ah, makasih ...."
Walau sebenarnya, dia berkata lain dalam hati.
Aduh, orang ini belum tahu aja aslinya gue itu kayak bagaimana.
"Kalau begitu, mau pesan apa?" tanya Halim, kembali membuka pembicaraan.
"Aku enggak tahu. Soalnya, kamu yang mengajak aku ke sini. Jadi, menurutku bagaimana kalau pesan menu yang menurut kamu enak aja? Tenang, Halim. Aku ini makhluk omivora, pemakan segalanya. Eh, kecuali daging babi sama yang diharamkan dalam agama aku. Itu enggak akan aku makan, sih."
"Ah, iya. Kalau gitu, saya pesan masakan Sunda aja bagaimana? Saya kalau ke sini kadang suka pesan masakan Sunda. Menurut saya ini enak."
"Iya. Samain aja menunya. Termasuk minuman."
Halim mengangguk. Pria itu segera menuju ke kasir, memesan makanan kemudian kembali lagi dengan membawa nota pembayaran.
"Itu totalnya berapa?"
Halim menggeleng. "Enggak usah, Ning. Saya yang bayar."
"Serius? Aku enggak enak sama kamu jadinya."
"Enggak apa, Ning. Lagi pula sekali-kali 'kan enggak jadi masalah."
Ning menggangguk setuju. "Oke."
Halim menatapnya dalam diam. Seolah-olah ingin melakukan sesuatu, tetapi ragu.
Ning tahu akan hal itu, jadi dia menatap balik Halim hingga lelaki itu jadi saling tingkah. “Halim, kalau mau tanya, silakan tanya aja. Selagi masih di sini.”
“BTW, Maaf kalau enggak sopan. Saya mau tanya tentang ini ... penasaran sih."
Ning menatap mata lawan bicara. "Kamu mau tanya apa memangnya? Bicara aja. Aku dengerin kok. Jangan khawatir.”
"I knows, ini privasi banget. Kamu bisa bilang ke saya kalau kamu enggak nyaman. Saya cuma mau tahu aja ... apa kamu pernah pacaran?"
"Iya, aku enggak nyaman ditanya kayak gitu."
"Ah, maaf. Anggap aja ucapan saya tadi itu sekedar angin lalu,” kata Halim. Dia ingin segera kabur dari sini. Tidak bisa membayangkan betapa malunya dia di pertemuan pertama. Kegugupan tidak bisa dia kuasai dengan baik. Sekarang, Halim kacau.
"Iya, Halim. Aku pernah pacaran," kata Ning sambil membuang muka, "tetapi mantanku cuma dua aja."
Halim bergeming sejenak. Dia tidak mengira bahwa Ning membalas pertanyaannya. Halim pikir Ning akan segera pergi lebih dulu. Halim menimang-nimang ucapan apa yang pantas untuk didengar oleh lawannya. "Begitu, ya ... kalau saya enggak pernah pacaran, sih,” ujar Halim, semakin gugup. Keringat bercucuran semakin banyak. Terutama di dahi yang membanjiri sekitar pinggir wajah.
Perasaan Ning memburuk sejak Halim menanyainya seperti itu. Entah mengapa, di matanya, Halim itu seperti seorang pria yang ... entahlah, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa pun yang terjadi hari ini belum selesai. Maka dari itu Ning harus tetap sopan,meski dari sekarang Ning sudah mulai tidak nyaman lagi dengan Halim.
Untunglah, makanan datang saat suasananya menjadi semakin canggung. Ning tetap fokus, tidak terpecah belah dan dia pasti bisa makan sekarang untuk menutupi kecanggungan di antara mereka berdua.
"Maaf."
Halim mengucapkan hal itu ketika pramusaji sudah pergi dari meja mereka.
Ning menatap Halim. "Maaf buat apa?"
"Saya sudah buat kamu enggak nyaman. Maaf, ya. Padahal, ini pertemuan pertama kita."
Ning hanya mengangguk. "Iya, enggak apa-apa, Halim. Sekarang, boleh enggak makanannya dimakan dulu? Kalau keburu dingin, nanti jadi enggak selezat pas masih anget kayak gini."
Oh, tidak. Ning tidak mungkin melewatkan makanan Sunda. Meskipun dia tidak pernah datang ke restoran ini sebelumnya, tetapi saat aroma merebak harum, Ning langsung ngiler. Sebagai pecinta kuliner, mana bisa dia menahan diri saat makanan lezat sudah di depan matanya.
"Iya. Tentu saja."
Halim tidak ambil pusing. Ning tampak sangat santai dan lebih tertarik pada makanan yang ada di depan mata perempuan itu alih-alih seorang Halim Syah Hakim. Halim agak risau, takutnya Ning membencinya. Untunglah rasa gugupnya berkurang. Tidak separah tadi.
Sebelum makan, Ning harus memfoto lebih dulu sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, dia tergesa-gesa memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tangannya dengan lincah mengambil sendok dan garpu. Ini adalah makanan Sunda yang sangat familier. Ning memang tidak sering memakannya, tetapi dia pernah makan masakan Sunda seperti ini saat dulu masih kuliah. Satu piring yang penuh dengan lauk-pauk. Ada lalapan yang melimpah ruah; aroma Sambal Terasi yang sangat harum, disajikan dengan porsi besar tanpa perlu khawatir akan kurang; nasi Liwet yang sangat gurih dengan ikan teri yang nyata adanya; dan terakhir sepotong paha ayam yang digoreng garing. Siapa pun tidak dapat menolak santapan selezat ini. Ning menjamin. 100%.
Ketika mulutnya sibuk menguyah, tiba-tiba Ning menjadi kepikiran dengan kata-kata yang belum sempat ia lontarkan.
"Sebenernya, aku enggak marah, kok, Halim. Agak kaget aja kamu tanya begitu. Apa mungkin karena aku jarang ditanyai kayak gitu makannya aku belum terbiasa, mungkin. Namun, kalau dipikir-pikir itu normal, sih. Jadi, jangan merasa bersalah. Santai aja, ya.”
Halim kembali gugup. Dia menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja karena gemetaran. "Saya enggak bermaksud apa-apa ke kamu, kok. Enggak ada niat buruk sama sekali. Saya malu mengatakan tentang ini sebenarnya ...." Halim mendesah. "Kadang saya tanya ke perempuan, mereka sudah pernah pacaran apa belum bukan berarti saya m***m atau apa, tetapi saya mau tahu aja. Kalau misalnya belum, saya jadi lega. Rasanya saya enggak sendirian yang selama hidupnya enggak pernah punya pacar. Namun, kalau sudah, saya agak takut, takutnya saya dibilang cupu karena enggak pernah pacaran."
Apa lagi ini?
Ning sangat terkejut mendengarnya sampai kehilangan kata-kata.
etelaht, takutnya saya dibilang cupu karena enggak pernah pacaran."
Apa lagi ini?
Ning sangat terkejut mendengarnya sampai kehilangan kata-kata.
etelah Karen menghantarkannya pulang, Ning duduk di pelataran rumahnya. Dia sangat malas untuk masuk ke dalam.
Halaman rumahnya ini masih sangat asri. Ada banyak tumbuh-tumbuhan di sini. Ning dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang merupakan keturunan suku Jawa. Jadi, rumahnya agak identik dengan ornamen kayu jati. Tidak ada kolam ikan karena bapaknya tidak menyukai itu. Rumah Ning sangat asri di tengah-tengah polusi kota. Dia sangat menyukai suasana rumahnya. Rasanya sangat tenang, aman, dan damai. Melihat tumbuhan yang tumbuh segar meski udara sangat buruk. Inilah yang membuatnya rileks dari kepenatan hidup.
Saat sedang merasa tenang, entah mengapa pikiran buruk selalu datang. Dia tiba-tiba kepikiran dengan hal yang terjadi waktu itu.
"Soal umur kamu?"
Dia menganggukkan kepala, lalu menyeruput secangkir hot americano dengan elegan, tetapi karena rasa pahit sudah menjelajahi indra perasa dengan cepat, jadi dia tidak dapat mengontrol ekspresi wajahnya dengan baik. Agak kaku, dan dia menyadarinya. Sangat memalukan.
Kalau boleh, dia ingin menghilang sekarang.
Situasi canggung, pria di hadapannya sengaja berdeham yang membuat suasananya semakin tidak bagus. Secara otomatis kepalanya terangkat bersama dua kerut alis samar-samar, yang menandakan bahwa dia telah tak lagi muda.
"Kamu khawatir?" Pria itu yang berbicara lebih dulu.
"Eh, enggak sih. Aku mah biasa aja, tetapi enggak tahu yang lain. Kamu sendiri? Kamu lebih muda lima tahun dari aku."
Ah, sial. Karena kejadian itu, dia sangat ingin benar-benar menghilang.