Di ruangan kaca yang temaram, suasana menjadi sunyi saat suara hak sepatu berhenti tepat di depan meja rapat.
Alexandra Phillips berdiri tegak. Tubuhnya tegap namun lentur, seperti seseorang yang terbiasa memimpin dan menyembunyikan tekanan di balik postur yang terlalu sempurna. Rambutnya kali ini digulung rapi ke belakang, hanya menyisakan sedikit helai yang menjuntai di dekat telinga. Ekspresi wajahnya bersih dari senyum, dingin seperti musim dingin yang belum pergi dari kota.
Dan mata itu—mata yang sama seperti yang menatap Adrian dari balik gelas wine di pub Soho—kini memandangnya dari seberang meja panjang, dalam suasana yang sangat berbeda.
Adrian hanya menatap. Untuk sepersekian detik, ia lupa bagaimana caranya bernapas.
Tatapan mereka bertemu.
Bukan kebetulan.
Bukan sapaan.
Lebih seperti dua rahasia yang tanpa sadar saling mengenali.
"Senang bertemu Anda, Miss Phillips," ucap Sebastian, berdiri dan mengulurkan tangan. "Saya Sebastian McAllen."
Alexandra menjabat tangan Sebastian tanpa sepatah kata pun, lalu mengangguk tipis ke arah Adrian.
"Mr. McAllen," sapanya pelan. Suaranya nyaris tanpa nada, tetapi Adrian tahu—dia tahu—ada sesuatu yang terkunci di balik cara Alexandra menyebut namanya.
Sebastian, seperti biasa, tidak menyadari ketegangan di ruangan itu. Baginya, pertemuan ini hanyalah urusan bisnis. Tapi bagi Adrian, meja kayu panjang ini terasa seperti medan perang.
"Silakan duduk," ujar Sebastian. "Kita mulai dari overview proyek."
Alex duduk di kursi seberang Adrian. Mata mereka hanya bersitatap satu kali, singkat—tapi cukup membuat napas Adrian terhenti di tenggorokan. Alexandra membuka map presentasinya. Jemarinya yang panjang, kukunya berwarna nude, dan gerakannya tenang... terlalu tenang. Terlatih.
Namun Adrian melihat yang tak tampak.
Cara Alexandra sesekali menahan napas sebelum menjawab. Cara ia menyembunyikan gerak kecil bibirnya ketika Adrian memandanginya. Bahkan cara ia menahan tatapan lebih dari dua detik sebelum kembali ke layar presentasi.
Semua itu... bukan tanpa alasan.
***
Setelah satu jam penuh presentasi berjalan kaku dan formal, Sebastian melirik jam tangannya.
"Maaf, aku ada meeting dengan investor Jepang. Kalian lanjutkan saja diskusi detail teknisnya."
Dan begitu Sebastian keluar, sunyi kembali turun seperti kabut.
Tinggal mereka berdua.
Alex tetap memandangi layar presentasi. Adrian bersandar di kursinya, menatapnya tanpa ragu sekarang.
"Kau tahu?" Adrian akhirnya bersuara.
Alex menoleh pelan.
"Aku tidak menyangka akan melihatmu lagi. Apalagi seperti ini."
Alex tidak langsung menjawab. Ia menutup map presentasinya dengan tenang, lalu melipat tangan di pangkuan.
"Dunia itu kecil," katanya, pendek.
Adrian tersenyum tipis. "Atau nasib yang sedang bermain-main."
Tatapan Alexandra tetap terjaga. "Apa yang kau inginkan sekarang, Adrian? Sebuah kebetulan kedua? Atau pengakuan bahwa kita pernah duduk di sudut pub seperti dua orang asing?"
"Kau ingat," gumam Adrian, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau mengingatnya."
"Tentu saja aku mengingatnya," jawabnya pelan. "Orang tidak lupa percakapan di antara dua luka."
Adrian mengangguk. Ia ingin tertawa, ingin menjawab dengan sarkasme atau sindiran manis, tapi bibirnya justru kelu. Karena ia tahu, mereka tidak sedang bermain.
"Aku tidak tahu siapa kau malam itu," kata Adrian, akhirnya. "Tapi aku merasa... aku sedang bicara dengan seseorang yang mengerti bagaimana rasanya tenggelam dalam nama yang tidak kita pilih."
Alexandra menatap Adrian lebih lama kali ini. Tidak ada senyum. Tidak ada respons langsung. Hanya sunyi. Tapi di dalam diam itu, terasa sesuatu yang dalam, yang rapuh namun tak ingin dikasihani.
"Kita sama-sama ahli menyembunyikan," bisiknya. "Dan terkadang... terlalu banyak menyembunyikan hanya membuat kita makin kosong."
Adrian menghela napas pelan. "Kau merasa kosong, Alex?"
Matanya bergerak. "Bukankah kau juga?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Tidak ada jawaban, karena jawaban itu sudah jelas dari tatapan mereka.
Beberapa menit berlalu. Mereka berbicara, bukan lagi soal proyek atau kerja sama. Tapi soal jalan-jalan di Soho, soal kenapa seseorang memilih minum wine di pojok ruangan tanpa memerhatikan waktu, soal keluarga yang menuntut terlalu banyak, dan nama belakang yang lebih berat dari batu.
Mereka bicara dengan jeda. Dengan napas panjang dan kalimat yang terasa lebih seperti pengakuan daripada percakapan. Tanpa sadar, ruang rapat itu berubah menjadi ruang pengakuan yang sunyi, tempat dua hati yang retak bertemu bukan untuk disembuhkan, tapi untuk dikenali.
Adrian berdiri lebih dulu. Ia mengambil jasnya, lalu menoleh ke arah Alexandra yang sedang menyusun ulang berkas-berkasnya.
"Kau tidak sendiri, Alex," ucapnya.
Alex menghentikan gerakannya. Ia tidak menoleh. Tapi ia mendengarkan.
"Kalau kau lelah berpura-pura kuat... aku bisa diam di sebelahmu."
Alex menunduk sebentar, lalu berdiri perlahan. Ia membawa map itu, lalu menatap Adrian dari jarak dekat. Wajah mereka hanya terpaut sejengkal.
"Kau tahu, Adrian?" katanya lembut. "Itu hal paling manis yang pernah dikatakan seseorang padaku. Sayangnya... aku bukan orang yang tahu caranya ditemani."
Satu senyum—tipis, pahit, indah dan penuh luka.
Lalu ia berjalan keluar, meninggalkan Adrian sendirian di ruang rapat, dengan satu kenyataan baru: ia sudah terlalu dalam untuk mundur.
Dan Alexandra?
Alex tak menoleh ke belakang. Tapi saat pintu lift tertutup, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk seseorang yang katanya sudah kebal.