Langit London masih sama kelabunya. Kabut tipis menggantung di antara gedung pencakar langit, seolah menjadi tirai yang memisahkan realitas dan perasaan yang tak kunjung selesai.
Adrian duduk di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Mesin dimatikan, musik pun tak menyala. Tapi matanya menatap lurus ke arah gedung kaca dengan logo Phillips & Co. yang tertempel besar di dinding depan.
Sudah hampir tiga puluh menit sejak ia tiba. Tapi ia belum bergerak, belum berniat mengetuk pintu apa pun.
Ia tidak mengerti apa yang membawanya ke sini atau mungkin, ia hanya tidak ingin mengakuinya.
Setelah pertemuan kemarin, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Alexandra muncul di setiap ruang kosong di kepalanya. Tatapannya yang dingin tapi jujur, senyumnya yang pahit, bahkan cara ia menghindari kedekatan tapi tidak menolak kehadiran.
Ia mencoba menenangkan pikirannya. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya ketertarikan sesaat. Hanya dampak dari dua jiwa yang terluka saling mengenali. Tapi nyatanya, setiap kali ia mengingat wajah Alexandra, dadanya terasa sesak.
Bukan karena cinta.
Tapi karena keinginan.
Adrian ingin melihatnya lagi. Mendengarnya berbicara dalam nada yang tajam tapi penuh makna. Ingin menyentuh dinginnya, hanya untuk tahu apakah ia benar-benar beku, atau hanya berpura-pura agar tak terbakar.
Ia memejamkan mata.
Alexandra, perempuan yang nyaris tak menyisakan jejak, kini menguasai ruang pikirnya tanpa ampun.
***
Adrian tidak masuk ke kantor itu hari itu. Ia hanya menatap dari kejauhan, lalu pergi. Tapi pikirannya tidak ikut melangkah menjauh.
Malamnya, ia kembali ke apartemen. Bukannya tidur, ia justru membuka ulang berkas-berkas tentang Alexandra. Bukan untuk informasi bisnis, tapi untuk mencari celah.
Foto masa kecil. Berita lama. Potongan artikel saat ibunya ditemukan meninggal karena overdosis di bathtub. Alexandra, yang saat itu baru berusia tiga belas tahun, tidak pernah menangis di depan kamera.
Adrian menyentuh layar tablet yang memuat foto lama itu. Anak perempuan dengan mata yang sama. Kosong dan terjaga.
Sama seperti sekarang.
"Kau tidak pernah membiarkan siapa pun masuk, ya?" gumamnya pelan.
Dan entah kenapa, itu justru membuat Adrian semakin ingin menjadi pengecualian.
***
Beberapa hari berlalu. Mereka tidak bertemu secara langsung. Hanya beberapa email dingin seputar kelanjutan kerja sama, ditulis dengan bahasa profesional yang steril dari emosi.
Tapi satu sore, saat Adrian hendak meninggalkan kantor, ia melihat sebuah undangan di meja pribadinya.
Charity Gala Night - St. Clarisse Foundation.
Host: Phillips & Co.
Venue: The Glass House, Kensington.
Adrian menatap kertas itu lama. Ia tahu Alexandra akan ada di sana. Ia tahu ini bukan undangan personal. Tapi ia juga tahu, kalau ia datang, ia bisa melihatnya lagi.
***
Malam itu, Adrian tiba lebih awal dari yang seharusnya. Setelan jas hitam dengan kemeja abu gelap membuatnya menyatu sempurna dengan atmosfer formal gala tersebut. Musik klasik mengisi ruangan, dan lampu gantung kristal menggantung megah di langit-langit kaca.
Namun Adrian tidak peduli dengan tamu-tamu penting atau kilauan berlian di leher wanita-wanita sosialita.
Ia hanya mencarinya.
Dan saat akhirnya Alexandra muncul di tengah keramaian, dibalut gaun satin hitam dengan garis punggung terbuka dan rambut digelung setengah. Adrian merasa seluruh ruangan redup, kecuali dirinya.
Wajah Alexandra tidak memakai riasan mencolok. Matanya tetap tajam. Bibirnya hanya diberi warna darah gelap, seperti peringatan. Seolah berkata: jangan terlalu dekat, aku bisa melukai.
Adrian tidak mendekat saat itu juga. Ia hanya berdiri di sisi ruangan, memperhatikannya dari kejauhan. Alexandra berbicara dengan beberapa donatur, menyapa dengan senyum sopan yang tidak pernah mencapai mata.
Semua yang dilihat Adrian malam ini, justru membuatnya semakin yakin.
Alexandra adalah teka-teki yang tidak ingin dipecahkan.
Dan ia ingin terjebak di dalamnya.
Ketika akhirnya mereka bertemu mata, itu bukan kebetulan.
Alexandra tengah berjalan keluar dari ballroom menuju balkon terbuka saat ia menyadari seseorang mengikutinya dengan langkah sunyi.
Ia tidak menoleh.
"Terlalu mudah ditebak, Adrian," katanya datar, menyalakan sebatang rokok tipis.
Adrian berdiri di belakangnya, hanya beberapa langkah. "Tapi tetap saja kau membiarkanku mengikutimu."
Alex menarik napas dari rokoknya, lalu meniupkan asap ke langit malam. "Mungkin karena aku ingin tahu seberapa jauh seseorang bisa bertahan dalam ketidaktahuanku."
Adrian mendekat. "Dan kalau aku bilang aku ingin tahu semua tentangmu?"
Alex menoleh. Kali ini, mereka hanya terpisah oleh udara yang terasa lebih berat dari biasanya.
"Berbahaya," ucapnya, lirih. "Mengenalku, bisa menghancurkanmu."
Adrian tersenyum kecil. "Aku tidak takut hancur. Aku hanya takut kehilangan rasa."
Alex menatapnya lama. Sorot matanya melunak sesaat bahkan nyaris tak terlihat, sebelum ia kembali menguatkan wajahnya.
"Aku tidak bisa memberimu cinta, Adrian."
"Aku tidak mencarinya," balas Adrian cepat.
"Aku hanya ingin mencari kebenaran. Tentang siapa dirimu sebenarnya. Tentang mengapa kau terlihat seperti seseorang yang butuh disentuh, tapi memilih memasang duri dan bersembunyi."
Suasana menjadi sunyi.
Hanya terdengar suara piano dari dalam ruangan, dan suara angin malam yang membawa dingin London ke sela-sela d**a mereka.
Lalu tiba-tiba, Alexandra berkata lirih, tanpa menatapnya, "Kalau kau mendekat lebih jauh, aku mungkin akan menyakitimu."
Adrian tidak mundur. Ia berdiri di sana, tetap tak menyentuh. Hanya diam. Tapi dalam diam itu, hasrat mengalir deras seperti sungai hitam yang tenang di permukaan, namun menghanyutkan di dalam.
"Aku tidak ingin menyelamatkanmu, Alex," bisiknya. "Aku hanya ingin bersamamu, bahkan saat semuanya terbakar."
Dan untuk pertama kalinya, senyum Alexandra muncul. Bukan dari kebahagiaan, tapi dari pengakuan. Pengakuan bahwa dirinya mungkin tidak akan bisa lari lebih lama lagi.