Marsha mengendus-endus bau sedap yang sudah tercium dari kamarnya. Ia terbangun karena bau makanan yang begitu menggiurkan. Bau masakan ini mengalahkan alarm. Ia pun bergegas ke dapur tanpa menyadari pakaian tidurnya yang begitu minim. Harga dirinya sebagai wanita dihancurkan oleh Marco karena seminggu ini Marco selalu bangun di pagi buta dan memasak. Harusnya itu pekerjaan wanita, tapi Marco melakukannya. Meskipun Marco tidak keberatan tapi tetap saja Marsha merasa tidak enak.
"Ehm," deham Marco, "bajumu itu.. kau sengaja menggodaku di pagi seperti ini?" Marco menatap Marsha dari ujung kaki hingga kepala. Ini sudah kesekian kalinya Marco mendapati Marsha seperti itu.
Marsha diam sesaat mencerna ucapan Marco. Hari masih terlalu pagi, sangat sulit tuk berpikir.
"Oh maaf," jawab Marsha, menyunggingkan bibirnya tanpa rasa berdosa. Ia pun kembali ke kamar mengganti pakaian tertutup. Jujur saja Marsha jika tidur lebih suka pakaian yang terbuka tapi tadi itu suatu kecerobohannya. Ia terlalu panik hingga lupa bahwa dirinya memakai pakaian tidur yang kekurangan bahan di hadapan Marco.
Beberapa minggu setelah tinggal bersama Marco, Marsha cukup bisa menerima Marco sebagai temannya walau pun kerap kali ada pertengakaran kecil. dan yang baru Marsha ketahui, ternyata Marco dulunya adalah seorang koki bahkan ia pernah menjadi juri Master Chef Amerika. Marco sendiri yang menceritakan hal itu.
"Ada tawaran untuk datang talkshow salah satu stasiun TV, bertanya seputar kita. Bayarannya lumayan, bisa untuk membeli satu unit mobil sport. Kau tertarik?" ujar Marco tiba-tiba tanpa menatap Marsha. Dia meletakkan sepiring spaghetti di depan Marsha.
Marsha langsung menggeleng tidak ingin. "Dibayar seharga istana presiden pun aku tidak tertarik." bukankah ia sudah memberitahu Marco bahwa dirinya tidak akan tampil di acara apapun? Kenapa Marco selalu saja bertanya?
Marco kini menatap Marsha, ia terkejut.
"Aku tidak suka diriku di ekspos di publik, apalagi bersamamu. Kau termasuk artis yang sangat terkenal, itu membuatku akan semakin dikenal oleh publik juga jika aku mendatangi acara Talkshow itu. Belum lagi, menyebar kebohongan. Mulut netizen begitu tajam, disaat mereka mengetahui kebenaran tentang kita, mungkin aku tidak akan tahan dengan mulut netizen. Jadi jangan pernah mengeksposku di depan publik, cukup dengan berita pernikahan kita saja. Itu sudah membuatku pusing. Aku hanya ingin menjadi wanita biasa yang bebas, bukan wanita yang harus selalu menyenangkan publik. Itu sangat merepotkan," jelas Marshal panjang lebar.
Jujur saja, Marsha sebenarnya penasaran bagaimana Marco bisa tahan menjadi seorang artis yang terkenal. Menjadi artis tidaklah bebas, terkadang hidupnya diatur sedemikian rupa, dan juga dia tidak bisa pergi sesuka hatinya karena banyak mata yang mengenalinya.
Marsha sekilas menatap Marco. Ia mengerutkan keningnya sesaat seperti raut orang yang sedang berpikir dalam. Marsha pun tak mempedulikannya. Ia segera memegang garpu dan memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya, menikmati makanan lezat yang dibuat oleh sang Master Chef. Jujur saja, masakan Marco lebih lezat daripada masakan ibunya. Itu membuat selera makan Marshal meningkat jika Marco yang memasak.
"Ya, kau benar. Mulut netizen begitu tajam. Banyak artis yang bunuh diri karena komentar pedas. Tapi itu hanyalah bagi artis yang bermental lemah," jawab Marco pada akhirnya setelah terdiam cukup lama. Ia juga mulai memakan makanannya.
Marsha menggeleng tidak setuju. "Setiap orang mempunyai tingkat psikis yang berbeda. Kau tidak bisa menyama-ratakannya."
"Well, itu sudah menjadi resiko jika kau memilih kehidupan sebagai artis."
Marsha memilih diam. Dia tidak ingin membahasnya terus menerus, karena ucapan Marco terkadang ada benarnya. Jika ia terus menjawab dengan pendapat yang berbeda, itu mungkin bisa memunculkan perdebatan di antara mereka.
Marsha menyeka bibir merahnya menggunakan jempolnya, membersihkan sisa bumbu spaghetti. Ia tidak ingin kehilangan cita rasa spaghetti yang lezat itu sedikitpun, bahkan Marsha rasanya ingin menambah satu porsi lagi. Dia tidak peduli berat tubuhnya bertambah, yang terpenting adalah tenggorokan dan perutnya bisa merasa puas. Toh, dia sudah tidak terikat kontrak terhadap agensi manapun yang harus menyuruhnya diet setiap saat dan terlalu banyak pantangan makan. Sekarang ia bebas.
"Sepertinya kau sangat menyukai setiap masakanku," gumam Marco sedikit menyunggingkan senyumnya.
Marshal tanpa sadar menyeringai bodoh. Itu ekspresi yang sangat disesalinya, seperti tertangkap basah.
"Tapi itu masakan terakhirku. Untuk selanjutnya, urus makananmu sendiri. Kalau perlu, kau masakan aku juga. Kau wanita, harus pandai memasak," lanjut Marco, kali ini ia tersenyum menyindir.
Marsha mendengus. Apakah dirinya tak salah dengar? "Kau yakin? Yang kuingat, terakhir kali aku memasak sesuatu, kau menghinaku habis-habisan. Aku tidak mau kejadian itu terulang, sangat menyakitkan." Marsha menepuk dadanya, berpura-pura sedih.
"Ck. Wanita jaman sekarang memang pemalas. Pantas saja banyak pria yang menyukai sesama jenis," cibirnya. Marco beranjak dari duduknya.
"Ah, apakah kau juga seperti Itu?" Telapak tangan Marsha menutupi mulutnya yang menganga. Menunjukkan ekspresi pura-pura terkejutnya.
Marco tersenyum jahat. Dia menatap wajah Marsha dalam-dalam, lalu mendekati Marsha dan mendongakan wajahnya. "Tidak. Aku pria normal yang menyukai wanita. Perlu bukti?" tantangnya sambil menatap bibir merah Marsha. Anggap saja mengambil kesempatan dalam kesempitan, pikir Marco.
Marsha menyadari isi pikiran Marco. Segera ia menepis tangan Marco yang sedang mendongakan wajahnya, lalu menepuk-nepuk bibir Marco cukup keras. "Kau harus ingat isi perjanjian kontraknya Tuan Marco," ingatnya.
"Bukankah tidak masalah jika keduanya sama-sama ingin?" Marco tersenyum jahat.
"Aku yang tak ingin. Jangan merebut ciuman pertamaku. Itu hanya untuk orang spesial yang-" Marsha langsung mengatup bibirnya rapat-rapat. Tanpa disadari dia sedang mempermalukan dirinya sendiri mengatakan hal itu.
Ciuman pertama? Yang benar saja! Marco pasti mengira dirinya terlalu polos dan naif, pekik Marsha di dalam hatinya.
Marco mengangkat sebelah alisnya. Dia terdiam sesaat, dan kemudian tertawa lepas dan setelah puas ia terdiam lagi, membuat raut wajah yang serius.
Marsha sangat ingin meninju wajah Marco yang berani menertawakannya.
"Kau benar-benar wanita-" Marco menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah apa maksudnya itu. "Well, aku ramal ciuman pertamamu nanti adalah milikku, tidak tahu kapan itu akan terjadi. Tapi aku akan memastikannya," ujar Marco seperti sebuah sumpah.
Mendengar perkataan Marco, wajah Marsha memerah karena malu. Dia tidak bisa mengendalikan ekspresi bodohnya. Biasanya Marsha akan menatapnya dengan tatapan tajam dan memasang wajah dingin, tapi kali ini dia kehilangan kendali.
"Haha. Kau benar-benar unik, Sha." Marco mengusap puncak kepala Marsha. "Aku harap ciuman pertamamu nanti orang yang benar-benar berada di hatimu dan baik hati. Aku terlalu b******k untuk menjadi yang pertama. Mungkin yang kedua?" lanjut Marco dengan intonasi bercanda.
"Baguslah kalau kau sadar diri." Akhirnya setelah beberapa saat, ia bisa mengendalikan dirinya dan juga ekspresi wajahnya. Dia tidak ingin terlihat bodoh di depan siapapun. Ia harus selalu terlihat high value. "Apakah kau selalu bercanda seperti ini? dan selang beberapa waktu, apakah kau akan menjadi orang yang galak? Sikapmu ini terkadang menjengkelkan setengah mati tapi terkadang sebaliknya."
Marco mengangkat kedua bahunya. "Kita berada di atap yang sama, jadi kita harus saling mengakrabkan diri agar nyaman."
***
Marsha melepaskan topi, masker dan kaca mata hitamnya ketika ia sudah tiba di villa Bella. Banyak paparazzi yang mengikutinya, membuatnya selalu tidak nyaman untuk berpergian. Hari ini ia memiliki janji untuk bertemu dengan sahabatnya. Awalnya, ia enggan bertemu dengan Bella karena khawatir Erwan bersamanya, tapi Bella mengatakan bahwa Erwan sedang mengunjungi kantor cabangnya di luar kota. Setiap mendengar nama Erwan, bulu-bulu di tubuh halus Marsha bergidik ngeri dan ia selalu mengingat-ingat kejadian terakhir kali bersama Erwan.
"Ya Tuhan. Harus berapa lama aku diikuti paparazzi terus," keluhnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau baik-baik saja? Bukankah kau sudah tau resikonya menikahi seorang publik figur?" tanya Bella, ia membawakan dua cangkir teh hijau dan meletakkannya di meja sofa.
Marsha melirik Bella. "Ya, harusnya begitu. Aku hanya risih saja."
Bella tertawa geli. "Jika aku menjadi kamu, mungkin aku akan menghadapi para wartawan itu atau menghadiri semua acara yang mengundangku. Itu bisa saja menjadi kesempatanku untuk menjadi artis, bermain film bersama suami sendiri dan tentu saja bayarannya akan sangat mahal. Kau tahu kan Marco Raynand sekali bermain film bisa menghasilkan triliunan?"
Marsha yang sedang menyesap teh hijaunya secara refleks tersedak ketika mendengar 'trilliunan'. Itu uang bukan daun! Dia benar-benar tidak menyangka Marco bisa sangat begitu kaya. Seharusnya ia meminta jatah bulanan lebih di kontraknya, pikir Marsha.
"God, damn it." Menyadari keterkejutan Marsha, Bella menyadari bahwa Marsha sama sekali tidak menyadari itu. "Marsha! Jangan bilang kau tidak tahu itu? dan jangan bilang kau tidak tahu latar belakang Marco, keluarganya, asalnya dan lainnya! Demi apapun, kau istrinya!" pekik Bella, sedikit berlebihan.
"Tentu saja, aku tahu. Tapi, mengenai penghasilannya aku tidak tahu. Aku tidak pernah bertanya."
Bella menepuk jidatnya sambil menggeleng tidak percaya. "Aku lupa, kau tidak peduli tentang uang. Apalagi semenjak kau menikahi Marco, tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi."
"Secara tidak langsung kau mengataiku wanita matre?" Marsha cukup tersinggung dengan ucapan sahabatnya. Marsha tahu sifat Bella suka bercanda dan bicara sesuka hatinya. Tapi jika sudah menyindirnya tentang uang, Marsha sangat tidak suka. "Well, jika aku matre, aku pasti akan memilih menikahi Erwan suamimu itu. Tidak peduli dia menghamili orang lain atau tidak. Tapi masalahnya adalah hidup tidak selalu tentang uang."
"Maaf Sha. Aku tak bermaksud-"
"Ya, aku tahu. Jangan bahas itu lagi, oke? Maaf jika ucapanku keterlaluan."
Bella mengangguk. Marsha masih memandangi perubahan ekspresi wajah sahabatnya. Ekspresinya berubah seketika dia menyebut nama Erwan. Marsha merasa ada yang aneh mengenai hubungan Bella dan Erwan. Apakah Erwan memperlakukannya dengan buruk mengingat Bella dan Erwan tiba-tiba menikah? Oh, jangan lupa, mereka menikah karena dirinya yang kabur dari pernikahan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Erwan?" tanya Marsha tiba-tiba. Ia ingin memastikan bahwa Bella diperlakukan dengan baik.
Marsha bangkit dari duduknya. Ia mulai menyusuri ruang tamu yang di d******i warna putih, di dinding banyak foto-foto Erwan dan Bella yang dipajang. Foto pernikahan, foto saat di taman dan foto-foto lainnya. Banyak sekali foto mereka berdua. Di semua foto itu wajah keduanya terlihat sangat bahagia seperti benar-benar pasangan kekasih yang saling mencintai.
"Kapan kau pertama kali bertemu dengan Erwan?" tanya Marsha lagi, penasaran.
"Hubungan kami kurang baik. Sekitar dua tahun lalu. Semua foto-foto itu diambil ketika kami masih pacaran kecuali foto pernikahan. Dulu Erwan sangat penyayang, dia tidak pernah menyakitiku. Dia sering membawaku berpergian ke luar negeri. Tapi semenjak aku tahu sesuatu tentangnya dan semenjak perjodohan kalian ditentukan, Erwan berubah. Dia mencampakkanku dan menjadi pria dingin."
"Apa kau masih menyukainya sekarang?"
"Entahlah. Aku sudah tidak memikirkan perasaan itu. Yang kupikirkan sekarang adalah anakku. Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa ayah."
"Tapi rasanya kau juga akan menyakiti anakmu jika kau tidak bahagia hidup dengan ayahnya."
Jari Marsha menyentuh sebuah bingkai foto Erwan yang memakai pakaian olahraga dan meneguk sebotol air mineral. Marsha merasa aneh dengan bingkai foto itu, di bagian ujung kanan atas bingkai tersebut seperti ada lampu kerlap-kerlip. Karena penasaran, Marsha mengambil bingkai itu dan mengambil benda yang menempel di belakang bingkai. Keningnya berkerut. "Benda apa ini?" tanya Marsha, ia berbalik dan menunjukkan benda bulat kecil yang lampunya menyala berwarna merah.
Bella yang ikut penasaran, mendekat. Ia mengambil alih benda bulat kecil itu. "Astaga!"
Marsha semakin penasaran. "Apa?"
Bella menarik Marsha keluar dari villa. Wajahnya luar biasa terkejut dan panik, sedangkan Marsha ekspresinya masih penuh tanda tanya. Ia tidak mengerti mengapa Bella bereaksi seperti itu dan menyeretnya keluar.
"Kenapa Bell?"
"Sssttt…" Jari telunjuk di bibirnya, kemudian Bella berbisik, "Itu alat penyadap. Aku rasa Erwan yang menaruhnya…"
Mata Marsha melotot tak percaya.
"Aku rasa untuk sementara waktu kita tidak perlu bertemu dulu dan jika Erwan menemuimu, kau harus berusaha menghindar. Jika tidak bisa, bertemulah di tempat yang ramai. Dia pasti akan mengintrogasimu tentang pertemuan kita hari ini. Aku baru menyadari bahwa dia pria yang sangat mengerikan," lanjut Bella.
"Kau seharusnya tidak menikah dengan pria b******k itu!" pekik Marsha.
"Sssttt… pelankan suaramu itu, Sha."
"Lapor polisi. Dia begitu mengerikan."
Bella menggeleng cepat. "Tidak. Aku akan mengurusnya sendiri. Lebih baik kau pulang sekarang."
"Kalau begitu aku akan menyuruh Erico untuk menjagamu."
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja, Sha. Jika terjadi sesuatu yang buruk menimpaku, aku pasti akan memberitahumu. Percayalah."
Marsha mengangguk ragu. Ia pun pergi.
Marsha merasa senang dan juga sedih. Senang karena tidak jadi menikahi Erwan, sedih karena sahabatnya menikah dengan Erwan. Untuk apa Erwan memasang alat penyadap itu di villanya sendiri? Apakah pria kaya dan berkuasa selalu melakukan hal seperti itu? Mungkin jika Marsha yang menikah dengan Erwan, Marsha bisa menjadi wanita gila karena memiliki suami yang mengerikan seperti itu.