Sepanjang perjalanan pulang Marsha tidak bisa duduk tenang.
Ia memilih taksi, bukan mobil yang disiapkan Marco, karena hari ini rasanya lebih aman menjadi orang yang tidak dikenal. Marsha menempelkan keningnya pada kaca jendela dan memandangi lampu-lampu kota yang berlarian ke belakang. Tapi yang terlihat di kepalanya bukan lampu, melainkan benda bulat kecil dengan lampu merah yang tadi ia cabut dari belakang bingkai foto.
Berapa lama benda itu ada di sana? Sebulan? Setahun? Dan berapa banyak yang sudah didengar Erwan?
Marsha merapatkan jaketnya. Tiba-tiba ia merasa dingin padahal jendela taksi tertutup rapat.
Ia mencoba mengingat-ingat semua yang tadi ia ucapkan di ruang tamu itu. Tentang Erwan yang menghamili Bella. Tentang Erwan yang memukul Bella. Tentang kata b******k yang keluar dari mulutnya sendiri berkali-kali. Semuanya diucapkan di ruangan yang sama dengan benda kecil itu.
Bodoh. Bodoh sekali, Sha, umpat Marsha pada dirinya sendiri.
“Sudah sampai, Mbak,” ujar sopir taksi.
Marsha tersentak. Ia bahkan tidak sadar taksinya sudah berhenti di depan gerbang.
Setelah membayar, Marsha berdiri sebentar di trotoar dan menoleh ke belakang. Jalanan sepi. Tidak ada mobil yang berhenti, tidak ada lampu yang mati mendadak, tidak ada siapa pun. Marsha merasa konyol pada dirinya sendiri karena melakukan itu, tapi ia tetap menoleh sekali lagi sebelum masuk.
Sejak kapan aku jadi seperti ini, batin Marsha.
***
Marco sedang duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuannya ketika Marsha masuk. Televisi menyala tanpa suara, menayangkan berita malam yang tidak ditonton siapa pun.
“Kau pucat,” ujar Marco tanpa mengangkat wajahnya dari layar.
Marsha berhenti melangkah. Bagaimana pria itu bisa tahu dia pucat kalau melihat saja tidak?
“Aku kelelahan. Paparazi mengikutiku sampai depan villa,” jawab Marsha.
“Hmm.”
Marsha melewati Marco menuju tangga, lalu berhenti di anak tangga pertama.
Sebenarnya ini kesempatan yang bagus. Marco ada di sana, tidak sedang marah, tidak sedang menghina masakan siapa pun. Marsha bisa saja duduk di seberangnya lalu mengatakan semuanya. Bahwa Erwan sudah tahu pernikahan mereka hanya di atas kertas. Bahwa Erwan memasang alat penyadap di rumahnya sendiri. Bahwa Erwan memaksanya untuk selalu mau ditemui kapan pun pria itu ingin.
Marsha membuka mulutnya.
“Ada yang mau kaukatakan?” tanya Marco, kali ini menoleh.
Dan seperti biasa, keberanian Marsha lenyap tepat pada saat ia paling membutuhkannya.
Kalau ia bicara, Marco akan bertanya sejak kapan. Marco akan tahu bahwa Marsha menyembunyikannya selama berhari-hari. Lebih dari itu, Marco akan tahu bahwa pernikahan kontrak yang ia rancang sendiri ternyata sudah bocor gara-gara Marsha. Dan Marsha belum siap melihat wajah pria itu ketika mengetahuinya.
“Tidak ada,” jawab Marsha. “Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Marsha menaiki tangga dengan langkah berat.
***
Pukul sepuluh lewat, ponsel Marsha bergetar di atas nakas.
Nomor tidak diketahui.
Marsha menatap layar itu selama lima detik penuh. Tangannya sudah dingin sebelum ia menyentuhnya. Ia tahu siapa. Di dunia ini hanya ada satu orang yang menelponnya dari nomor yang berganti-ganti.
“Apa?” jawab Marsha.
“Selamat malam juga, Mrs. Raynand.” Kekehan pelan terdengar di seberang sana. “Bagaimana teh hijau di villaku? Bella selalu menyeduhnya terlalu lama. Rasanya jadi pahit.”
Bulu kuduk Marsha berdiri semuanya.
Jadi benar. Benda itu memang milik Erwan.
“Kau menyadap rumahmu sendiri,” ucap Marsha. Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia mau. “Kau menyadap istrimu sendiri.”
“Aku mengamankan rumahku sendiri,” ralat Erwan tenang. “Ada perbedaan besar di situ, tapi kupikir kau tidak akan mengerti.”
“Kau gila.”
“Aku hati-hati. Orang yang tidak hati-hati itu kalian berdua. Ngomong-ngomong, siapa yang mengajari kalian mencabut alat orang lain? Sekarang aku jadi harus memasang yang baru.” Erwan terdengar seperti sedang tersenyum. “Kau tahu bagian yang paling lucu? Aku tidak perlu benda itu untuk tahu kau ke sana hari ini. Ada dua belas kamera di jalan masuk villa itu, Marsha. Semuanya milikku.”
Marsha memejamkan matanya. Bella benar. Pria ini mengerikan.
“Kau tidak takut aku menyimpan rekaman percakapan ini?” ujar Marsha, berusaha terdengar berani padahal jantungnya sudah berlari.
“Simpanlah. Aku bahkan bisa membantumu mengunggahnya,” jawab Erwan tanpa jeda sedikit pun. “Lalu besok pagi akan ada empat puluh berita yang menjelaskan bahwa suara itu bukan suaraku, dan istri Marco Raynand sedang mencari perhatian karena pernikahannya bermasalah. Kau mau mencoba? Silakan.”
Marsha mengatupkan rahangnya. Ia tidak punya jawaban dan pria itu tahu.
“Apa maumu?”
“Aku hanya menagih kesepakatan kita. Kau ingat kesepakatan kita?”
“Aku tidak pernah menyepakati apa pun.”
“Kau tidak menolak. Di duniaku itu sama saja.” Suara Erwan berubah, tidak lagi bermain-main. “Aku ingin bertemu. Tidak sekarang. Aku akan memberi tahu waktunya.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Maka besok pagi keluargamu akan tahu bahwa putri kesayangan mereka menikah kontrak dengan seorang aktor. Dan lusa, seluruh Indonesia yang tahu.” Erwan berhenti sebentar. “Aku punya stasiun televisi, Marsha. Aku tidak perlu menyewa siapa pun untuk menghancurkan orang.”
Marsha menggigit bibir bagian dalamnya sampai terasa perih. Ia benci mengakuinya, tapi Erwan memegang satu-satunya kartu yang benar-benar bisa menghancurkan hidupnya.
“Di tempat ramai,” ujar Marsha akhirnya. “Kalau aku harus bertemu denganmu, itu di tempat ramai. Bukan di ruangan tertutup, bukan di mobil, bukan di kantormu.”
Hening sesaat di seberang sana. Lalu Erwan tertawa kecil.
“Bella yang mengajarimu bicara begitu, ya?”
Marsha membeku.
“Tidak apa-apa. Aku akan menuruti syaratmu,” lanjut Erwan santai. “Aku tidak keberatan dilihat orang banyak. Yang harus kau khawatirkan justru itu.”
Sambungan diputus.
Marsha menurunkan ponselnya perlahan-lahan dan menatap layar yang kembali gelap. Tangannya bergetar dan ia tidak bisa menghentikannya. Ia melempar ponsel itu ke ranjang seolah benda itu yang bersalah.
Sekarang Marsha mengerti kenapa Bella bilang lebih baik mereka tidak bertemu dulu. Setiap kata yang Marsha ucapkan bisa berbalik menjadi pisau untuk sahabatnya sendiri.
Marsha mengambil kembali ponselnya dan menekan nomor Bella. Nada sambungnya berbunyi lama sekali sampai akhirnya berhenti sendiri. Ia mencoba sekali lagi. Hasilnya sama.
Marsha ingin menelpon Erico dan menyuruh pria itu menjaga Bella seperti yang tadi ia tawarkan. Tapi Bella sudah melarangnya, dan Marsha tahu kalau ia memaksa, yang celaka justru Bella. Jadi Marsha hanya bisa mengetik satu pesan singkat. Kabari aku kalau kau baik-baik saja. Pesan itu tidak dibalas sampai layar ponselnya redup dengan sendirinya.
Marsha duduk di tepi ranjang cukup lama, memeluk lututnya.
Pintu kamar diketuk dua kali.
“Sha.”
Marsha buru-buru menyeka matanya walau sebenarnya tidak ada air mata di sana. Hanya kebiasaan.
“Ya?”
Pintu terbuka sedikit. Marco berdiri di ambangnya, tidak masuk.
“Aku dengar ada yang membanting sesuatu.”
“Ponselku jatuh.”
Marco menatapnya. Lama. Terlalu lama untuk ukuran orang yang percaya bahwa ponsel itu jatuh sendiri. Tapi anehnya, pria itu tidak bertanya lagi.
“Turunlah. Aku membuat teh.”
“Aku tidak-”
“Aku tidak bertanya,” potong Marco, lalu pergi.
Marsha menghela napas panjang. Menyebalkan. Tapi entah kenapa kakinya tetap berdiri dan mengikuti.
***
Dua cangkir teh mengepul di meja ruang tengah. Marco duduk di sofa seberang, laptopnya sudah ditutup.
“Ayahmu menelpon Ryan,” ujar Marco tiba-tiba.
Marsha yang baru saja menyentuh cangkirnya langsung menariknya kembali. “Apa?”
“Dua kali. Kemarin dan tadi sore. Dia mencari nomorku.”
“Ya Tuhan.” Marsha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Maafkan aku. Aku akan bicara padanya.”
“Uangnya sudah kutransfer minggu lalu. Lewat rekeningmu, jadi dia mengira itu darimu.”
Marsha menurunkan tangannya, menatap Marco tak percaya. “Kenapa kau melakukan itu? Aku sudah bilang jangan.”
“Karena kalau dia tahu uang itu dariku, dia akan menagih setiap bulan,” jawab Marco enteng, menyeruput tehnya. “Orang seperti itu tidak menagih orang yang sudah memberi. Dia menagih orang yang bisa dipaksa.”
Marsha terdiam. Kalimat itu terlalu tepat sampai terasa menyakitkan.
“Aku ingin kita ke rumah orang tuamu,” lanjut Marco.
“Tidak.”
“Besok.”
“Kubilang tidak.”
Marco meletakkan cangkirnya. “Kau sudah lihat berita minggu ini? Marco dan Marsha menikah tanpa restu orang tua. Itu judul yang sudah dipakai tiga media sekaligus. Kalau kita diam saja, minggu depan judulnya berubah jadi pertanyaan kenapa tidak ada restu, dan orang akan mulai mengorek-ngorek. Kau yakin kita sanggup menahan orang yang mengorek?”
Marsha membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia paling benci kalau Marco benar.
“Kau tidak mengenal keluargaku,” ujar Marsha akhirnya, suaranya pelan. “Papaku bukan tipe orang yang bisa dibujuk dengan senyum dan karangan bunga. Dia akan menghinamu di depan mukamu sendiri. Dia akan menyebut nama Erwan. Berkali-kali.”
“Aku tahu.”
“Kau tidak tahu.”
“Marsha.” Marco menatapnya lurus. “Aku ini aktor. Setiap hari ada orang yang tersenyum di depanku sambil berharap karierku hancur. Ayahmu tidak akan menjadi orang paling tidak menyenangkan yang pernah kutemui.”
Marsha ingin tertawa dan menangis di saat bersamaan.
“Ada satu lagi,” ujar Marsha. Ia memutar-mutar cangkirnya. “Papaku duduk di kursi roda. Jangan pernah membantu mendorongnya kalau tidak diminta, jangan menunduk waktu bicara padanya, dan jangan sekali-kali menawarkan sesuatu yang terdengar seperti belas kasihan. Dia akan menganggapnya penghinaan dan kau akan langsung diusir.”
Marco mengangkat sebelah alisnya. “Kau menghafal semua itu?”
“Aku tumbuh dengan menghafal semua itu,” jawab Marsha pelan.
Ada jeda yang cukup panjang di antara mereka. Marco tidak berkomentar apa-apa, dan untuk pertama kalinya malam itu Marsha bersyukur pria itu tahu kapan harus menutup mulutnya yang pedas.
“Kalau kau dipermalukan, jangan salahkan aku,” ujar Marsha.
“Aku tidak pernah menyalahkan siapa pun untuk hal yang aku pilih sendiri.” Marco bangkit dari duduknya. “Besok jam empat sore kita berangkat. Sebelum itu aku mau ke pasar.”
Marsha mengerutkan dahinya. “Pasar? Untuk apa?”
“Memasak.”
“Kau mau memasak di rumah orang tuaku?”
“Kenapa? Kau mau membawa oleh-oleh telur gosong buatanmu?”
Marsha melempar bantal sofa ke arah Marco dan meleset jauh sekali.
***
Marco menutup pintu kamarnya, lalu menempelkan ponsel ke telinganya.
“Ryan. Cari tahu semua utang ayah Marsha. Ke siapa, berapa, sejak kapan. Aku mau tahu juga apa hubungannya dengan Erwan Hardan.”
“Kau yakin? Ini di luar urusanmu,” jawab suara di seberang.
Marco menatap pintu kamar Marsha di ujung lorong. Lampunya masih menyala. Sudah lewat tengah malam dan lampu itu masih menyala.
Wanita itu berbohong tentang ponsel yang jatuh. Marco tahu, karena Marco terlalu sering berpura-pura untuk tidak mengenali orang yang sedang berpura-pura.
“Sekarang urusanku,” jawab Marco. “Emailkan besok pagi sebelum jam sepuluh.”