Marsha tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan seperti ini seumur hidupnya.
Marco Raynand, aktor yang honor satu filmnya bisa membeli satu blok perumahan, sedang berjongkok di depan lapak sayur sambil membolak-balik seikat kemangi seperti orang yang sedang memeriksa berlian.
“Yang ini layu,” ujar Marco pada si penjual.
“Segar itu mas, baru dipetik pagi.”
“Kalau baru dipetik pagi, batangnya tidak akan patah begini.” Marco meletakkan ikatan itu dan mengambil yang lain. “Yang di belakang saja. Yang ditutupi karung.”
Si penjual melongo sebentar, lalu tertawa dan mengambilkan ikatan yang dimaksud.
Marsha berdiri dua langkah di belakang Marco sambil memakai topi, masker, dan kacamata hitam. Ia sudah menawarkan diri untuk menunggu di mobil tapi Marco menolak dengan alasan yang sangat khas dirinya, kau harus belajar membedakan bahan yang bagus dan yang tidak, kalau nanti keracunan aku tidak mau disalahkan.
Anehnya, tidak ada satu pun orang di pasar itu yang mengenali Marco. Pria itu hanya memakai kaos putih polos, celana pendek, dan topi bisbol yang sudah kusam. Tidak ada yang menyangka aktor papan atas mau berjongkok di antara becek dan bau ikan.
“Kau sering ke pasar?” tanya Marsha di dalam mobil, ketika kantong-kantong belanjaan itu sudah tersusun di jok belakang.
“Setiap minggu, waktu masih jadi koki.”
“Sekarang?”
“Sekarang orang lain yang membelikan, dan hasilnya selalu mengecewakan.” Marco menyalakan mesin. “Bahan yang jelek tidak bisa ditolong oleh koki sehebat apa pun. Itu satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang.”
Marsha memandangi sisi wajah pria itu. Kadang-kadang, sangat jarang tapi ada, Marco mengatakan sesuatu yang membuat Marsha lupa untuk kesal padanya.
***
Rumah orang tua Marsha berada di ujung sebuah komplek lama di pinggiran kota.
Dulu rumah itu terlihat besar di mata Marsha kecil. Sekarang, setelah beberapa minggu tinggal di rumah Marco yang seperti istana, rumah ini terlihat sebagaimana adanya. Cat temboknya mengelupas di bagian bawah, pagar besinya berkarat di sambungan, dan halaman depannya hanya berisi satu pohon mangga yang tidak pernah berbuah.
Marsha tidak pernah bercerita pada siapa pun bahwa rumah ini nyaris disita dua tahun lalu, dan bahwa dialah yang menebusnya dengan kontrak satu tahun yang dibencinya.
“Kau yakin tidak mau pulang saja?” tanya Marsha, tangannya masih memegang sabuk pengaman yang belum ia lepas.
“Turun.”
“Aku serius.”
“Aku juga.” Marco sudah membuka pintu dan mengangkat kantong belanjaan. “Bawakan yang kecil.”
Belum juga Marsha menekan bel, pintu sudah terbuka.
Mamanya berdiri di sana dengan daster batik terbaiknya dan senyum yang lebarnya tidak wajar. Rambutnya disanggul. Marsha yakin sekali mamanya baru saja pergi ke salon.
“Ya ampun, Nak Marco!” Mamanya menyambut dengan kedua tangan terbuka. “Mama sudah menunggu dari jam dua. Masuk, masuk. Aduh, ganteng sekali aslinya. Di televisi tidak setampan ini.”
“Terima kasih, Ma,” jawab Marco sambil sedikit membungkuk. Sopan sekali. Marsha hampir tidak mengenali pria itu.
“Ma, ini Marsha juga di sini,” sela Marsha.
“Iya, iya, kamu kan tiap hari mama lihat,” balas mamanya tanpa menoleh, tangannya sudah menggandeng lengan Marco masuk ke dalam.
Marsha berdiri sendirian di depan pintu sambil memegang satu kantong plastik berisi bawang. Selamat datang di rumah, gumamnya.
Di ruang tamu, televisi menyala. Papanya duduk di kursi rodanya yang menghadap layar, punggungnya tegak seperti biasa. Pria itu tidak menoleh sedikit pun meskipun sudah jelas mendengar suara orang masuk.
“Pa,” panggil Marsha.
Tidak ada jawaban.
“Pa, ini Marco.”
Marco meletakkan kantong belanjaannya di lantai, lalu berjalan mendekat dan berdiri di samping kursi roda itu, tidak di depannya, dan tidak menunduk. Persis seperti yang Marsha katakan semalam.
“Selamat sore, Pa. Saya Marco.”
Papanya akhirnya menoleh. Matanya menyapu Marco dari sepatu sampai rambut dengan cara yang sama seperti orang menilai barang di pasar loak.
“Aku tahu kau siapa. Televisi di rumah ini masih menyala,” jawab papanya. Lalu kepalanya kembali menghadap layar. “Erwan datang ke sini bulan lalu. Dia membawa dua keranjang buah dan duduk bicara denganku dua jam.”
Marsha memejamkan matanya sebentar. Baru lima menit dan nama itu sudah keluar.
“Kalau begitu saya harus datang lebih sering supaya bisa mengalahkan dua jam,” ujar Marco enteng.
Papanya mendengus. Bukan tertawa, hanya mendengus.
“Sha,” panggil mamanya dari arah dapur, “uang yang kamu kirim minggu lalu sudah dipakai papa untuk bayar yang di koperasi. Masih kurang tujuh puluh lima juta. Nanti dipikirkan ya.”
Marsha memejamkan matanya untuk yang kedua kalinya dalam lima menit. Baru sampai. Belum duduk. Belum minum. Sudah ada angka.
“Ma, nanti saja bicara begitunya,” ujar Marsha pelan.
“Kenapa? Kan Nak Marco bukan orang lain. Sekarang dia keluarga kita.”
Keluarga. Kata itu keluar dari mulut mamanya dengan sangat mudah, dan justru itu yang membuat Marsha ingin tertawa getir. Selama bertahun-tahun kata itu hanya muncul kalau ada yang perlu dibayar.
Marsha melirik Marco, takut melihat wajah pria itu berubah. Tapi Marco hanya tersenyum tipis pada mamanya, seolah tidak mendengar apa-apa.
“Nak Marco, sebenarnya mama mau tanya,” mamanya duduk di sofa dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. “Kenapa kalian menikah tidak bilang-bilang? Mama malu sama tetangga. Semua orang tanya, kok anaknya menikah tidak ada resepsinya.”
“Ma,” desis Marsha.
“Apa? Mama kan cuma tanya.”
“Nanti saya jelaskan sambil makan, Ma,” ujar Marco sambil mengangkat kembali kantong belanjaannya. “Sekarang saya minta izin memakai dapur mama. Kalau perut sudah kenyang, orang biasanya lebih mau mendengarkan.”
Mamanya melongo. “Kamu mau masak? Nak Marco mau masak di dapur mama?”
“Kalau mama tidak keberatan.”
“Ya ampun, ya ampun. Dengar tidak, Pa? Menantunya mau masak!”
Papanya tidak menjawab dan menaikkan volume televisinya.
***
Dapur rumah itu sempit, dan Marco terlihat terlalu besar di dalamnya.
Marsha bersandar di kusen pintu, memperhatikan pria itu mengeluarkan bahan-bahan satu per satu, menyusunnya berjajar, lalu mencuci tangannya di wastafel yang keran airnya harus diputar dua kali baru mau keluar.
“Kau tidak perlu melakukan ini,” ujar Marsha.
“Aku tahu.”
“Papaku tidak akan berterima kasih. Dia akan makan, lalu tetap menghinamu.”
“Aku tahu.” Marco mengambil pisau dapur mamanya, mengetuk sisi bilahnya dengan jari, lalu meletakkannya lagi dengan wajah yang sangat menderita. “Pisau ini tumpul sekali. Bagaimana kalian bertahan hidup?”
Marsha tertawa. Kecil, tapi tertawa juga. Ia sendiri kaget bisa tertawa di rumah ini.
“Kalau kau tahu, kenapa masih mau?” tanyanya kemudian.
Marco berhenti sebentar. Ia tidak menoleh.
“Karena orang yang tidak mau kalah biasanya berhenti setelah dihina sekali,” jawabnya. “Dan aku bukan orang yang berhenti.”
Marsha tidak tahu harus menjawab apa. Ia menunduk, memandangi lantai dapur yang keramiknya sudah retak di dua tempat sejak ia masih SMA.
“Maaf soal yang tadi,” ujar Marsha akhirnya. “Yang tujuh puluh lima juta itu. Mamaku memang begitu.”
“Kau minta maaf untuk sesuatu yang bukan perbuatanmu,” balas Marco tanpa menoleh. “Berhenti melakukan itu. Capek melihatnya.”
Jadi ia melakukan hal yang paling aman, mengambil bawang dari kantong plastik dan mulai mengupasnya.
“Jangan,” ujar Marco.
“Kenapa?”
“Kau akan merusak bawangnya.”
“Kau tahu kan aku bisa menusukmu dengan bawang ini?”
Akhirnya Marsha tetap diizinkan mengupas, dengan syarat tidak boleh menyentuh pisau. Selama satu jam berikutnya dapur kecil itu penuh dengan bau bawang yang ditumis, santan yang mendidih pelan, dan asap yang membuat mata Marsha berair. Marco bekerja tanpa banyak bicara, tangannya bergerak cepat, dan Marsha diam-diam mengakui bahwa memandangi orang yang benar-benar mahir melakukan sesuatu itu menyenangkan.
Sesekali mamanya masuk untuk mengintip, memekik kecil, lalu keluar lagi untuk melapor pada papanya yang tidak peduli.
“Ini masakan apa?” tanya Marsha, menatap panci yang kuahnya berwarna cokelat kemerahan.
“Kau tidak perlu tahu namanya. Kau hanya perlu menghabiskannya.”
“Menyebalkan.”
***
Meja makan rumah itu hanya cukup untuk empat kursi, dan satu kursinya harus disingkirkan supaya kursi roda papanya bisa masuk.
Marsha memindahkan piring-piring dengan tangan yang entah kenapa berkeringat. Ia sudah puluhan kali makan di meja ini bersama kedua orang tuanya, tapi malam ini rasanya seperti ujian yang tidak pernah ia pelajari.
Marco meletakkan hidangan terakhir di tengah meja, lalu duduk di sebelah Marsha.
Papanya datang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mendorong sendiri kursi rodanya sampai ke ujung meja, mengambil serbet, dan menaruhnya di pangkuannya.
“Silakan, Pa,” ujar Marco.
Papanya tidak menjawab. Tapi tangannya mengambil sendok.
Marsha menahan napas.
Suapan pertama masuk. Papanya mengunyah pelan. Wajahnya tidak berubah sama sekali, dan selama beberapa detik Marsha yakin pria itu akan meletakkan sendoknya lalu mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
Yang terjadi justru sebaliknya. Papanya menyendok lagi. Lalu lagi. Lalu menarik mangkuk kuah itu lebih dekat ke arahnya sendiri tanpa menawarkan pada siapa pun.
Mamanya yang pertama kali bersuara.
“Ya ampun.” Mamanya menutup mulutnya dengan punggung tangan. “Ini enak sekali. Sumpah, Ma tidak bohong. Ini lebih enak dari yang di restauran tempat kita kondangan bulan lalu.”
“Terima kasih, Ma,” jawab Marco.
“Papa juga suka, ya kan Pa?” Mamanya menoleh pada suaminya, yang sedang menambah nasi untuk kedua kalinya. “Tuh, lihat. Papa itu paling susah makan. Tiga hari ini cuma mau bubur. Sekarang habis dua piring.”
Marsha menatap piring papanya. Benar. Dua piring.
Ada sesuatu yang aneh menekan di dalam dadanya. Marsha tidak tahu apa itu, dan ia tidak mau tahu, karena kalau ia pikirkan lebih lama ia takut matanya ikut basah di meja makan.
“Ini pesan dari mana, Sha?” tanya mamanya sambil menyendok lagi. “Kasih tahu mama nama restaurannya. Nanti mama pesan lagi kalau ada arisan.”
Marsha meletakkan sendoknya.
Sebenarnya ia bisa menjawab apa saja. Ia bisa menyebut nama restauran mana pun dan malam ini akan berakhir dengan damai. Tapi Marsha melirik pria di sebelahnya, pria yang tadi sore berjongkok di pasar becek dan berdiri satu jam di dapur sempit demi orang-orang yang bahkan tidak mau menoleh padanya, dan tiba-tiba Marsha merasa tidak sanggup berbohong untuk yang kesekian kalinya.
“Tidak dipesan, Ma,” jawab Marsha. “Marco yang masak. Semuanya.”