Selama kuliah dari awal masuk hati Dira sudah terpikat pada kakak tingkatnya, Farhan. Ternyata gayung bersambut, menjelang kelulusan, Farhan melamarnya. Sebentuk sepasang cincin disematkan sebagai bukti mereka telah mengikat janjiDira merasa sangat bahagia. Pemuda yang telah mengambil hatinya memiliki perasaan yang sama. Tak sabar Dira menanti hari bahagia tiba.
"Sayang, minggu depan ada reuni SMA, aku pamit ya mau datang sekalian aku mudik," ucap Farhan berpamitan pada Dira.
"Salam ya Mas buat Bapak dan Ibu, andai tidak ada kerjaan aku mau ikut," ucap Dira merasa berat melepas kekasihnya.
Farhan mengusap kepala Dira sambil tersenyum.
"Sebulan lagi Ra, habis itu kan kamu cuti kita bisa sekalian honeymoon nanti," kata Farhan menenangkan Dira.
Dira memaksakan sebuah senyuman. Dira memang sudah mulai bekerja disalah satu perusahaan kecil sambil menunggu ujian skripsi. Uang gajinya ia tabung untuk persiapan menikah. Ia tidak ingin merepotkan siapapun walau kedua belah pihak dari keluarga berada tapi Dira harap pernikahannya bisa dibiayai secara mandiri. Farhan hanya tersenyum melihat tekad Dira.
Dimata Farhan, Dira adalah gadis yang mudah membuat siapa saja jatuh cinta. Ia begitu cantik, pintar, ramah, penyabar, dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Farhan mencintainya, dan yakin Dira akan menjadi pendamping hidupnya yang hebat. Dari awal Farhan tahu mendapatkan Dira adalah hal terbaik dalam hidupnya. Bahkan orang tuanya begitu menyayangi gadis ini. Papanya suka memuji, kalau Farhan pria paling beruntung, dan jangan ditanya soal Mamanya, punya anak dua lelaki semua, Dira bagi Mamanya adalah anak gadisnya yang telah lama dirindukan.
***Farhan pulang ke rumah hari Jumat sore, Dira mengantarnya ke bandara. Keduanya berpelukan sebelum Farhan masuk untuk check in.
"Kalau sudah sampai telpon ya Mas," kata Dira masih enggan melepas pelukkannya.
"Pasti Sayang. Besok kerja sampai jam berapa?" tanya Farhan perhatian.
"Mungkin lembur sampai malam, audit laporan keuangan yang sebelumnya berantakan, padahal Senin pagi laporan harus sudah diserahkan. Dari sini pun aku balik ke kantor lagi," keluh Dira.
"Semangat Cantik, pasti kamu bisa," ucap Farhan memberi semangat.
Dira tersenyum kecut tapi buru-buru ia tersenyum lebar.
"Mas, balik kapan?" tanya Dira manja.
"Senin pagi aku dah balik. Senin malam kita bisa dinner," bujuk Farhan berusaha membuat Dira tersenyum.
Ternyata Farhan berhasil mengembalikan senyuman diwajah Dira. Tak lama keduanya terpisah. Dira menatap tunangannya berjalan menjauh. Farhan memang tidak terlalu tampan tapi kepandaiannya dan perhatiannya membuat Dira luluh.
***
Senin sore Dira menunggu Farhan tanpa kabar. Sejak minggu malam Farhan tidak dapat dihubungi. Kedua orang tua Farhan malah heran karena Farhan sudah ke bandara dari Senin pagi kembali ke Jakarta. Dira mencoba menghubungi kantor Farhan tapi tidak ada kejelasan. Farhan bagai hilang ditelan bumi. Senin malam akhirnya Dira sengaja mendatangi rumah Farhan. Aneh Dira melihat mobil Farhan terparkir, kalau dia ada kenapa sepertinya Farhan menghindarinya. Dira berpikir mungkin Farhan lelah. Ia mencoba memencet bel rumahnya dan tidak seorang pun keluar.
Beberapa hari terus berlangsung seperti itu. Masuk minggu ke dua yang artinya dua minggu lagi mereka akan menikah Farhan malah semakin menjauh. Dira sungguh tidak mengerti. Ia berusaha mencari Farhan tapi Farhan seperti enggan bertemu. Di kantor selalu sekretarisnya mengatakan Farhan sibuk meeting, sedang ada dinas luar. Bahkan saat Dira sengaja menyusul dan menunggu Farhan pulang kantor tetap tidak mendapatkan hasil. Dira tahu ada yang salah tapi ia tidak tahu apa.
Entah bagaimana malamnya malah Farhan datang ke rumah tanpa memberi tahu Dira. Ia menemui kedua orang tua Dira. Akhirnya jelas sudah kenapa Farhan tiba-tiba berubah. Reuni SMA dilanjutkan party ternyata membuat Farhan mabuk dan meniduri mantan pacarnya di SMA. Gadis itu bekerja sebagai SPG, memang pembawaannya cantik dan seksi. Farhan tidak berani menemui Dira. Ia pun masih menunggu apakah mantan pacaranya itu hamil atau tidak. Sehari lalu keraguan Farhan terjawab. Gadis itu sekarang positif hamil. Farhan menangis meminta maaf pada kedua orang tua Dira. Dira pingsan di depan pintu, ia mendengar kabar itu tepat saat ia akan masuk rumah dengan hati gembira karena melihat mobil Farhan terparkir diluar. Orang tua Dira langsung mengusir Farhan. Walau Farhan ingin menolong, tapi dengan murka Ayah Dira mengusirnya. Hatinya sakit melihat gadis yang dicintainya terkulai tak berdaya. Ada ribuan andai terlintas dalam benaknya. Farhan sungguh menyesali tindakannya yang gegabah. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah memiliki Dira. Farhan sempat berpikir untuk bunuh diri tapi ada janin yang menanti pertanggungjawabannya.
***Pernikahan tinggal dua minggu bagaimana mungkin untuk membatalkannya? Semuanya telah siap, hanya mempelai pria saja yang belum ada. Dira sendiri menjadi tertutup dan terus menerus menangis. Ia mencoba memahami tapi rasanya ini seperti mimpi buruk saja. Ia ingin bangun dan semua baik-baik saja. Seorang Psikolog dihadirkan orang tua Dira untuk mendampingi Dira anak tunggal mereka. Ketakutan terbesar mereka kalau sampai Dira menderita gangguan jiwa. Fokus utama mereka saat ini hanya itu saja.
Orang tua Farhan merasa sangat malu. Berulang kali mereka menelpon menanyakan keadaan Dira. Perlahan kemarahan orang tua Dira mereda dan menanggapi baik komunikasi tersebut. Toh nasi sudah menjadi bubur.
"Dira, Ayah dan Ibu akan membatalkan semua undangan, gedung untuk katering Ayah dan Ibu berencana membagikan ke beberapa panti asuhan," ucap Ibunya pelan saat Dira nampak tenang.
"Pokoknya Dira mau nikah. Dira ga mau jadi bahan tertawaan semua orang, dipandang kasihan, dicemooh atau malah jadi cibiran. Kalau Dira ga menikah sesuai rencana, Dira ga mau nikah seumur hidup. Lebih baik Dira mati, daripada jadi bahan omongan terus," jawab Dira histeris.
"Dira ga sanggup Bu, apa Ibu mengerti sakitnya Dira? Apa orang tahu kalau hati dan perasaan Dira rasanya mati?" tangis Dira semakin histeris.
Kedua orang tuanya saling bertatapan. Dimana bisa membeli seorang mempelai pria dalam hitungan hari. Ibu Dira ikut menangis dan memeluk erat suaminya. Karyawan di restoran keluarga rata-rata sudah menikah, sepupu jauh Dira rata-rata perempuan yang umurnya sebaya dengan Dira. Disaat itulah kebingungan melanda.
***