Orang tua Farhan sungguh tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Farhan.mengambil tanggung jawab menikahi Lia, mantan pacarnya bulan depan. Hal yang tidak bisa lama-lama ditunda. Walaupun mereka kecewa, marah dan sedih atas kelakuan Farhan, bagaimanapun mereka harus menerimanya. Mereka belum pernah bertemu Lia, tapi nampaknya dalam waktu dekat Farhan akan membawa mereka bertemu dengan keluarga Lia.
Sore itu, Rudy adik Papa Farhan datang berkunjung setelah menyelesaikan perjalanan bisnisnya di Jepang. Ia membawakan banyak oleh-oleh untuk kakak iparnya sekalian menanyakan rencana acara pernikahan keponakannya Farhan. Jam tujuh malam Rudy bertandang. Entah perasaan dia saja atau memang nyata adanya, keadaan rumah tidak seceria biasanya. Setelah ngobrol-ngobrol soal bisnis, Rudy menanyakan acara pernikahan Farhan, bagaimanapun ia harus hadir. Keponakan pertamanya itu sangat dekat dengannya. Tidak mungkin ia absen. Walau akan menyebalkan menjawab pertanyaan keluarga besarnya nanti, kapan ia menikah. Rudy tersenyum kecut.
"Kak, jadi dua minggu lagi kan acara pernikahan Farhan?" tanya Rudy membuka percakapan..
Mama Farhan terdiam, ia nampak berkaca-kaca. Papanya tertunduk malu. Rudy menatap mereka dengan aneh. Sepertinya ada masalah serius.
"Minggu depan Rud, bukan dua minggu lagi seharusnya," ucap Papa Farhan pelan.
"Seharusnya? Maksudnya?" tanya Rudy tidak paham..
Papa Farhan menghela nafas panjang.
"Farhan menghamili mantan pacar SMAnya," lirih suara Papa Farhan terdengar.
"Hah? Serius? Bukannya Farhan mencintai tunangannya?" tanya Rudy terkejut mendengarnya.
Mama Farhan mengambil tisu dan mulai menyeka hidungnya yang memerah, dan menyusuti air matanya yang mengalir deras.
Bedeb*h betul Farhan main gila menjelang pernikahan, umpat Rudy dalam hati.
"Lalu bagaimana nasib gadis itu?" tanya Rudy prihatin..
"Dia terpukul, sangat terpukul. Orang tuanya meminta psikolog mendampinginya melalui masa sulit," jawab Mama.Farhan terbata-bata, ia begitu menyayangi gadis itu. Menerima kiriman foto dari Ibu Dira membuat hatinya pun teriris.
"Berarti semua sewa gedung dan semua sudah dibatalkan?" tanya Rudy menebaknya.
Tangis Mama Farhan makin memilukan, ia buru-buru meninggalkan ruang tamu.
"Gadis itu tidak ingin membatalkan apapun. Ia meminta orang tuanya mencarikan mempelai pengganti. Hatiku sakit melihat kesedihan gadis itu, Rud. Anaknya baik, cantik, dan sekarang tertekan oleh ulah Farhan. Aku merasa bertanggung jawab mencarikan mempelai penganti baginya. Tapi dalam waktu dekat seperti ini sangat susah," desah Papa Farhan berat.
Rudy terdiam.
"Bagaimana kalau sampai tidak ada mempelai pengganti baginya?" tanya Rudy penasaran.
Papa Farhan terdiam dan menggeleng. Ia tidak tahu.
"Bagaimana kalau aku yang menggantikannya?" ucap Rudy tiba-tiba dan langsung hatinya mengumpat karena ucapan itu keluar begitu saja.
"Kamu serius? Aku tidak yakin orang tuanya akan mau menerima begitu juga Dira. Karena kamu masih Om-nya Farhan. Mereka pasti akan sering bertemu di acara keluarga. Apa kamu nantinya tidak cemburu?" tanya Papa Farhan penuh perhatian.
"Aku cemburu?" Rudy langsung terbahak.
Tidak ada dalam kamusnya jatuh cinta pada seorang gadis terlalu mendalam selama ini ia lebih banyak bermain cinta tanpa perasaan dengan gadis-gadis di sekelilingnya. Apabila ada yang mulai mengajak berkomitmen maka Rudy akan memutuskannya. Esok hari ia sudah menemukan cinta yang lain. Toh itu keuntungan berwajah tampan dan berduit tanpa seri bukan?
"Kenapa kamu mau menikahi mantan tunangan Farhan? Kamu kan belum pernah bertemu?" lanjut Papa Farhan menyelidik.
"Ya kalau dia seperti yang Kakak ceritakan gadis itu mendekati sempurna, kenapa tidak? Aku juga ingin punya anak, dan tentu saja butuh istri yang juga calon ibu yang hebat," ucap Rudy ringan.
Entah jawaban itu ada di ujung lidahnya. Begitu saja keluar tanpa saringan. Rudy pun tidak mengerti. Ia saat datang tadi bahkan tidak sekejap pun mempertimbangkan pernikahan.
Papa Farhan mengangguk paham. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikan ponselnya. Ia memperlihatkan foto dan video Dira pada Rudy.
Rudy terpesona melihatnya, pantas saja Farham bisa jatuh cinta. Aneh juga padahal Farhan tidak tampan, dan belum mapan tapi gadis itu mau menyerahkan cintanya pada keponakannya itu. Rudy tersenyum sekilas, dan mengembalikan ponselnya pada Papa Farhan.
"Kamu yakin mengambil jalan ini?" tanya Papa Farhan meyakinkan.
Rudy mengangguk.
"Toh aku menyenangkan Oma kan? Toh Oma selama ini terus memaksaku menikah," kata Rudy sambil tersenyum membayangkan reaksi ibunya.
"Coba aku hubungi orang tua Dira. Kalau mereka mau menerima tentu saja itu terserah kalian bagaimana mengaturnya," ucap Papa Farhan menelpon Ayah Dira.
***
Papa Farhan berulang kali menarik nafas menunggu nada tunggu terhubung. Ia berharap keputusan tidak terduga ini bisa sedikit membantu kondisi Dira. Ia berharap walaupun mereka menolak Rudy, setidaknya ia sudah mencoba. Akhirnya telpon itu terhubung.
"Mas, bagaimana kondisi Dira?" tanya Papa Farhan menyapa.
"Dira tetap ngotot tidak mau membatalkan acara, Bang. Kami belum menemukan juga mempelai pengganti. Dira mengancam akan tetap datang di gedung dengan menggunakan kebaya yang telah dikirimkan dari penjahit tiga hari lalu. Aku takut Dira jadi gila Bang," terdengar suara Ayah Dira kuatir.
Papa Farhan terbatuk kecil sambil menatap Rudy dengan serius seakan memastikan Rudy tidak akan mundur dari ucapannya.
"Adikku Rudy, sedang mencari jodoh Mas. Kalau Dira dan kalian berkenan besok Rudy akan datang melamar dan sekaligus mempersiapkan diri untuk semua acara," kata Papa.Farhan sambil memejamkan mata dan memijit pelan keningnya.
Jujur ia merasa masalah ini begitu rumit.
"Bolehkah minta nomer telpon Rudy? Kebetulan saya di kamar Dira. Nanti biar langsung video call. Biar Dira sendiri yang menentukan," tutur Ayah Dira.
"Langsung saja Mas, Rudy kebetulan ada disini," kata Papa Farhan mengubah panggilan ke video call.
Tak lama Rudy tersambung dengan Ayah Dira. Seteah basa basi dan berkenalan, ia pun terhubung dengan Dira. Gadis itu nampak begitu cantik tapi rapuh. Penampilannya rapi. Mereka saling bertatapan.
"Hai Dira," sapa Rudy ramah.
Dira nampak mengangguk dan tersenyum tipis.
"Aku sudah mendengar semua, bolehkah aku melamarmu?" tanya Rudy to the point.
Dira menatap Rudy cukup lama. Ia lalu tersenyum lebar. Rudy terpesona melihatnya. Andai keadaan berbeda pasti Rudy akan mendekatinya dan mengajaknya berkencan.
"Will you marry me?"ucap Rudy lagi meyakinkan Dira.
Dira mengangguk.
Entah apa yang ada di benak Dira saat ini. Rudy tidak dapat mengetahui yang jelas gadis itu sudah bersedia. Ini adalah win-win solution buat semua pihak. Rudy yakin lama-lama Dira akan melupakan Farhan. Belum ada gadis yang bisa menolak pesonanya.
***