Dira memandangi wajahnya yang nampak di cermin. Sekelebat pertanyaan lewat mampir dalam benaknya, apakah ia siap menikah dengan Rudy yang berarti juga akan terus menerus bertemu Farhan yang sebentar lagi menjadi keponakannya? Dira mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya. Mungkin ini yang paling tepat agar ia segera sadar Farhan tidak berharga untuk cintanya. Andai hal itu terjadi setelah mereka menikah tentulah jauh lebih menyakitkan. Dira mengumpulkan semua pikiran positif untuk menghalau bayang Farhan dalam benaknya.
Dira menatap ponselnya dan mulai menghapus semua foto, video dan seluruh kenangannya bersama Farhan. Andai menghapus kenangan semudah itu, bisik Dira dalam hati. Ada sedikit rasa sakit masih menyelinap dalam hatinya. Buru-buru ia tepiskan. Ia harus terus berpikir positif, memikiran perasaan semua orang. Bukankah perasaannya tidak penting lagi? Dira menatap sekali lagi wajahnya di cermin dan tersenyum. Ia siap menghadapi semua, harus.
Malam keluarga Rudy datang, Dira tidak ikut menemui, ada tradisi pingitan yang dijalani padahal Rudy pikir ia bisa bertemu Dira. Entah mengapa ia rindu, ya mungkin karena rasa penasarannya saja baru bertemu Dira sekali. Rudy tidak mau berpikir jauh. Mereka berdua tidak selisih pendapat saja sudah bagus. Rincian acara dan persiapan nampaknya sudah sesuai rencana.
Rudy lebih banyak memperhatikan sekelilingnya, dan mencoba menebak dimana kamar Dira berada. Ia bisa memandang foto-foto berbingkai emas di beberapa titik. Ia menikmati foto Dira sewaktu masih kecil hingga remaja. Sungguh gadis itu sangat cantik tanpa polesan apapun. Calon istriku, bisik Rudy dalam hati. Besok acara lamaran resmi akan dilangsungkan pukul tujuh malam, Rudy tidak sabar ingin semua segera selesai. Sungguh terasa sangat lama menuju pelaminan, padahal hanya tinggal tiga hari saja.
***
Farhan tidak datang dalam semua acara, ia berencana datang hanya di resepsi, bahkan untuk ijab pun ia merasa tidak kuat. Ada terselip rasa sakit yang menyengat masih sulit percaya kekasih hati menikahi Omnya.
Farhan tahu ia sangat menyakiti Dira, ia teringat saat melihat Dira pingsan, hatinya seperti tertusuk sembilu lalu berlanjut dengan stress yang Dira hadapi. Farhan tahu ia tidak pantas mendapat maaf dari Dira. Padahal tidak ada rasa sedikitpun tersisa untuk Lia. Hatinya masih milik Dira. Farhan menyumpahi kebodohannya berulang kali. Andai saja waktu bisa diputar. Farhan tahu semua sudah hancur. Andai saja Lia tidak hamil, toh ia tahu Lia sudah tidak kehilangan kegadisannya sejak dulu. Lia pernah mengutarakannya saat mereka awal berpacaran. Farhan menatap wajah Dira dalam ponselnya, ia tidak ingin menghapusnya. Ia ingin kenangan Dira tersimpan disana.
***
Semua prosesi berjalan sangat lancar, Sabtu pagi setelah sholat subuh berjamaah, semua mulai sibuk mempersiapkan diri. Rudy nampak sedikit tegang. Ibunya tersenyum menatapnya. Ia baru kali ini melihat Rudy seperti itu. Rudy biasanya selalu percaya diri, apapun yang dihadapinya, baru kali ini nampak gelisah. Ia mengusap lengan Rudy pelan.
"Kamu ganteng pakai jas begitu," puji ibunya seraya duduk disampingnya.
"Biasa juga ganteng Bu," ucapnya seraya menyeka keringatnya yang mengucur.
Ibunya tersenyum penuh kasih. Ada sedikit terselip rasa gundah tentang Farhan cucu pertamanya. Seusai keramaian pernikahan Rudy, ia harus merelakan cucu kesayangannya menikahi gadis yang ia tidak kenal. Ia berharap gadis itu adalah gadis yang baik. Cukup berat perjuangannya nanti untuk mendapatkan hati keluarga besarnya. Semoga gadis itu kuat. Berbeda dengan Dira, semua sudah mengenalnya, dan menyayanginya. Perhitungan waktu itu cukup menggemparkan karena mereka tidak berekspektasi Dira secantik itu. Terlebih sikap luwes dan ramah yang segera mencuri hati semua orang. Rudy saat itu tidak datang. Rudy berkilah akan datang waktu ijab saja.
"Aku takut jatuh cinta pada calonmu, aku datang waktu ijab saja," dalih Rudy saat itu.
Ibu Rudy menarik nafas panjang. Terbukti Rudy-lah yang datang untuk ijab bukan Farhan. Ia berdoa kebahagiaan untuk kedua anak dan cucunya itu. Kedua pria yang yang sangat dekat dengan hatinya.
***
Jam tujuh pagi rombongan keluarga besar meninggalkan kamar dan menuju ballroom hotel untuk persiapan ijab. Rudy menatap ibunya berulang kali, memastikan ibunya baik-baik saja karena ia bisa melihat ibunya tampak termenung. Ia meraih jemari tangan ibunya dan menciumnya penuh perasaan. Jemari keriput dan nampak rapuh inilah yang telah memberikan banyak cinta dalam hidupnya. Ibunya menoleh dan tersenyum. Rudy pun ikut tersenyum.
Persiapan ijab sudah siap. Petugas, wali, saksi dan semuanya sudah duduk rapi. Rudy berjalan pelan menuju meja tempat ijab akan berlangsung. Ia menebarkan pandangan. Ia tidak menemukan raut wajah cantik Dira. Gadis itu akan masuk saat ijab sudah selesai. Rudy menarik nafas panjang dan mengucapkan bismillah. Perasaannya menjadi tenang dan ia siap menjalani semua.
Ijab qobul berlangsung dengan hikmat dan lancar. Semua menyatakan sah, Rudy bisa tersenyum lega. Mulai detik itu ia tahu ada perempuan yang menjadi tanggung jawabnya dunia dan akhirat. Dira masuk didampingi Mama Farhan dan Ibunya. Gadis paling cantik yang pernah ia lihat ada di hadapannya dan tersenyum malu-malu. Dira di hantarkan ke hadapannya. Gadis itu meraih tangan Rudy dan menciumnya dengan takzim. Rudy mengusap kepalanya dan mencium kening Dira pertama kali. Nampak jelas sekali Dira malu-malu. Saat mereka berdampingan, Rudy berbisik.
"Finally I can kiss you. Second date right?" goda Rudy.
Dira meliriknya dengan wajah malu, ia mengangguk lalu tersenyum dan pura-pura menatap sekitarnya.
"Boleh cium lagi ga?" tanya Rudy menggodanya karena gemas melihat wajah cantik itu merona malu.
Dira meliriknya dan mencubit lengan Rudy pelan. Rudy merasa ada kehangatan menyelinap dalam hatinya.
Dira kembali melirik Rudy dan tersenyum, ternyata suaminya suka iseng. Ucapannya tempo hari jadi senjata makan tuan. Well, mungkin belum ada cinta, tapi ada rasa nyaman berada didekatnya walaupun ia belum terlalu mengenal suaminya. Semoga waktu akan berbaik hati padanya. Ia akan belajar mencintai Imamnya.
Ia digandeng Rudy masuk ke lift setelah menerima ucapan dan doa dari saudara, teman dan tamu. Saat ini keduanya digiring untuk beristirahat, karena malam hari mereka akan bersiap untuk acara resepsi. Rudy dapat melihat kelelahan pada wajah Dira.
"Kamu lelah ya?" tanyanya pelan.
"Lelah tidak, mengantuk iya karena dandan dari subuh. Semalam pun susah terpejam," jawab Dira sambil tersenyum.
Rudy kembali mencium pelipis Dira.
"Kamu tidur saja habis ini. Nanti malam masih butuh tenaga untuk menyambut tamu. Aku tidak ingin kamu kelelahan dan malah sakit," kata Rudy pelan.
Dira tersenyum dan mengangguk. Hatinya berdebar masuk ke dalam kamar suite yang akan menjadi saksi pertama mereka tidur berdua nanti malam. Wajah Dira langsung merona. Rudy menatapnya dengan heran.
"Kamu demam? Wajahmu memerah gitu?" tanyanya penasaran.
Dira buru-buru menggeleng dan nampak salah tingkah.
"Ah, aku bisa tebak. Kamu ngelamun jorok kan?" kata Rudy jahil.
Dira langsung membuang muka. Wajahnya seperti kepiting rebus.
"Tenang saja, aku pun juga memikirkan hal yang sama," jawab Rudy menggoda Dira.
"Baguslah, aku membayangkan Mas tidur di sofa kamar malam ini," balas Dira sambil tertawa kecil.
Rudy langsung protes dan keduanya lalu tertawa.
"Aku tahu, Ra. Kamu ga sekejam itu," ucap Rudy seraya membuka pintu kamar mereka.
Dira membalasnya dengan senyuman dan seketika senyuman itu hilang saat menatap buket mawar merah di meja kamar. Itu adalah permintaan Dira pada Farhan kala itu. Ia ingin kamar pengantin mereka beraroma segar wangi bunga mawar. Dira menghela nafas panjang dan menatap suaminya. Ia tidak ingin larut dalam pikiran negatifnya. Rudy seakan bisa membaca pikirannya. Ia tersenyum dan meremas lembut jemari Dira yang ada di tangannya.
***