Rudy berganti celana pendek dan kaos lalu memilih membuka laptop memgecek kemajuan pekerjaannya beberapa hari selama dia off. Ia memberikan kesempatan untuk Dira berganti baju dan membersihkan make upnya. Ia dapat merasakan kalau Dira.gelisah. Ia nampak kurang nyaman.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Rudy dengan heran.
Dira malah tersenyum nampak canggung. Ia masih menggunakan bath rope dan memegang sisir.
"Tidurlah, nanti aku bangunkan.
"Ehm, baju tidurku agak terlalu seksi, mau pakai kaos dan celana pendek aku sungkan," ujar Dira seraya menggigit bibirnya.
"Lha ganti saja. Aku kan suami kamu, ga apa-apa kamu mau pakai baju apa juga," jawab Rudy sambil berbalik menghadap Dira.
Rudy terdiam. Gadis paling seksi yang pernah ia lihat ada di hadapannya. Dengan bathrope diatas lutut, kaki Dira nampak jenjang, belahan bathrope juga tidak bisa menutup rapat, ia bisa melihat belahan d**a Dira walau kedua sisinya ditarik erat, wajahnya bersih dari make.up dan rambutnya basah karena kramas. Rudy malah yang terpaku menatapnya. Dira nampak makin malu. Rudy nyaris tetawa melihat Dira wajahnya kembali memerah. Ia menggerakkan jarinya meminta Dira mendekat, ia nampak enggan tapi akhirnya mendekati Rudy. Rudy membuka kedua tangannya menawarkan pelukkan.
Dira menghampiri suaminya dan menerima pelukannya. Ia mendapat satu ciuman dikepalanya. Ia memejamkan mata menikmati hangat pelukan suaminya.
"Jangan hiraukan aku, tidurlah. Aku yakin kamu lelah. Pakailah apapun yang membuatmu nyaman. Oh iya aku tidur sisi kanan, jangan ngacai atau ngiler disitu," goda Rudy mencairkan suasana.
Dira menatap Rudy dalam jarak dekat, ia tersenyum menghargai perhatiannya. Ia lalu melepaskan pelukan Rudy dan mengambil baju lalu balik lagi ke kamar mandi. Rudy menatapnya sambil tersenyum. Padahal rata-rata dulu semua kekasih Rudy malah sengaja tampil seksi menggodanya, lha istrinya malah malu-malu. Sengaja ia malah menunggu depan pintu kamar mandi. Tak lama Dira keluar dan menjerit kaget melihat Rudy ada dihadapannya.
Rudy terkekeh melihat baju pilihan Dira, ia memilih celana 3/4 dan kaos yang agak kebesaran dibadannya, seperti dugaan Rudy. Ia menarik pelan tangan Dira dan mengajak ya duduk dikursi tempat ia kerja tadi. Rudy ke kamar mandi mengambil sisir dan hair dryer. Ia menyisiri rambut Dira. Walau Dira meminta agar boleh melakukan sendiri tapi tidak diijinkan Rudy. Ia mengagumi rambut Dira. Setelah cukup kering, Rudy mematikan hairdryer, dan mengajak Dira tidur. Rudy memeluk Dira dan tangan kirinya perlahan membelai rambutnya. Tak lama Dira tertidur dan begitu pun Rudy.
Make up artist membangunkan mereka jam tiga sore dengan ketukan dipintu. Buru-buru Dira bangun walau masih merasa mengantuk. Rudy tidak terbangun. Dira baru tahu suaminya susah dibangunkan. Ia mengoncang pelan badan Rudy dan membisikan namanya. Rudy akhirmya terbangun juga.
"Belum sholat kan? Ayo kita sholat berjamaah," ajak Dira sebelum mulai persiapan make up.
Rudy mengangguk setuju, dan meminta Dira memberi tahu MUA-nya untuk bersabar sebentar. Bergantian keduanya wudhu, dan bersiap sholat.
***
Jam tujuh malam, tamu sudah memenuhi ballroom. Rudy dan Dira menuju pelaminan bergandengan tangan. Dira memakai gaun putih dan Rudy memakai jas berwarna putih pula.
Dira tahu banyak tamu pasti bertanya-tanya kenapa mempelai prianya bukan Farhan, terutama teman-teman kuliah. Ia berusaha tenang dan kalem. Mencoba menebar banyak senyuman tanpa makna. Dira dalam sekejap dapat melihat Farhan menggandeng gadis cantik berambut pendek. Hati Dira bergemuruh. Demi Allah ia mencoba ikhlas tapi perihnya tak terkatakan.
Rudy dapat melihat perubahan paras Dira, seolah darah hilang dari tubuhnya. Ia meremas lembut jemari Dira, berusaha berbisik mengalihkan perhatian Dira. Rudy tahu Dira akan butuh waktu untuk pulih.
Dira berusaha berkonsentrasi mendengarkan ucapan Rudy.
"Hmm, Mas bilang apa?" tanya Dira berusaha menepis pikiran negatifnya.
"Tadi aku bilang kalau ada bidadari disini," ucap Rudy lirih.
Dira mau tidak mau menatap suaminya. Ia tidak paham maksudnya.
"Bidadari?" tanya Dira bingung.
"Iya, kamu bidadariku," goda Rudy.
Dira tersenyum bingung.
Kedua sejoli yang meremukan hati Dira menuju pelaminan mengucapkan selamat. Lia tersenyum penuh kemenangan menatap Dira. Rudy tidak menyukai tatapan itu.
"Sayang, jangan buru-buru hamil, nanti kita tidak bisa honeymoon lama," ucap Rudy cukup jelas terdengar.
Farhan sedang ngobrol sebentar dengan ayahnya jadi tidak memperhatikan ucapan Rudy.
Raut wajah Lia memerah.
"Selamat ya Om, akhirnya dapat bekas keponakan," ucap Lia kurang ajar.
Rudy tersenyum lebar.
"Terima kasih, untung saja bukan bekas dipakai banyak orang jadi ga masalah," jawab Rudy menyindir Lia.
Lia nampak semakin merah padam, untung Farhan menghampiri dan mengucapkan selamat pada Omnya. Lia menjabat tangan Dira tanpa kata, hanya saja senyum kemenangan kembali terhias diwajah Lia.
Farhan menatap Dira cukup lama, ia ingin memeluk gadis itu dan minta maaf. Ia tidak ingin ini terjadi. Seharusnya ia yang disamping Dira. Farhan nampak berkaca-kaca. Dira malah tenang. Obrolan pedas Rudy dan Lia barusan membuatnya sadar ia tak pantas lagi menangisi Farhan. Dira menjabat tangan Farhan dan tersenyum.
Dira menarik lengan suaminya agar mendekat.
"Mas kenapa malah ngomong gitu sama Lia," tanya Dira heran.
"Kalau dia minta maaf padamu, atau at least she was sorry. Mungkin aku ga nyerang dia. Tapi aku tidak suka melihat senyumnya, sepertinya memang dia ada niat jahat," jawab Rudy pelan.
"Next jangan begitu, calon keponakan itu," sindir Dira halus.
Rudy hanya mengedikan bahu tidak menjawab.
"Sejauh ini apa kamu menyesal menikah denganku?" tanya Rudy pelan.
Dira menggeleng dan tersenyum. Rudy merasa sedikit lega. Ia masih tidak suka melihat mata Dira berkabut saat menatap Farhan. Ia ingin istrinya hanya melihat padanya tidak pada pria manapun juga, bisik Rudy dalam hati.
Acara foto keluarga Farhan nampak menjauh dari mempelai. Ia berusaha tersenyum dan merelakan Dira. Lia nampak sibuk berusaha menarik perhatian Farhan hanya Farhan sedang enggan. Berarkhir Lia ngambek dan minta diantar ke kamar. Farhan kembali tidak menghiraukannya, pikirannya masih penuh dengan Dira.
***
Resepsi berakhir Dira dan Rudy bernafas lega, lebih dari dua jam berdiri, dan menerima ucapan itu sungguh melelahkan. Rudy melihat Farhan masih ada di ballroom. Ia tidak ingin Farhan me dekati Dira dan mengacaukan ketenangan hati Dira. Entah mengapa Rudy merasa pengaruh Farhan masih kuat. Rudy berjanji akan menghilangkannya. Hanya dia yang boleh dalam pikiran Dira.
Ia menggenggam tangan Dira dan tidak mau melepasnya, di meja makan khusus keluarga, Rudy minta disuapi Dira.
"Ih, Mas makan sendiri saja, lepasin tangan Dira," rajuk Dira.
"Ga mau, pokoknya suapi. Aku ga mau kamu nanti didekati Farhan," ucap Rudy begitu saja.
Dira langsung tertawa.
"Mas cemburu gitu?" tanya Dira kaget.
"Engga, aku ga mau melihat kamu bersedih lagi," bisiknya sambil mencium pipi Dira.
Dira menatap Rudy dengan penuh teka-teki. Ia harus berhati-hati nampaknya Rudy dengan mudah akan membuatnya jatuh hati.
Seusai makan mereka berdua pamit ke kamar. Rudy mengandeng Dira ke lift dan didepan kamar setelah membuka pintu, Rudy menggendong Dira tiba-tiba. Dira langsung memekik karena kaget. Keduanya saling bertatapan. Entah seakan ada magnet yang menarik untuk berciuman. Rudy menghentikan ciuman dan meletakkan tubuh Dira diatas ranjang.
"Aku tidak akan memaksakan diri padamu Ra, aku akan menunggu kamu siap, jadi jangan tegang begitu mukanya," kelakar Rudy sambil mengelus pipi Dira.
Dira pun tersenyum. Ia menghargai suaminya mengerti dirinya. Tapi ia tahu kewajibannya sebagai istri. Ia tidak akan menolak saat suaminya memintanya nanti. Dira duduk dan menarik dasi Rudy pelan, lalu mengecup bibirnya sekilas. Rudy langsung protes.
"Jangan dipancing dong, emang aku cowok apaan," kata Rudy balas mengecupnya.
Dira langsung terbahak dan Rudy turut tertawa. Setidaknya suasana cair, tidak tegang. Baik Rudy dan Dira menikmatinya.
Tengah malam, Rudy terbangun mendengar isak tangis Dira. Rudy segera membangunkannya pelan.
"Ia there something wrong, baby?" tanya Rudy sambil mengusap rambutnya.
Perlahan Dira terbangun dan mengusap air matanya.
"Aku bermimpi, kejadian Farhan mengatakan soal Lia. Mas Rudy janji ya jangan menyembunyikan apa pun soal perempuan mana pun dari aku. Aku akan mencoba tidak marah tapi aku minta Mas jujur, bolehkah?" bisik Dira sebelum memeluk Rudy erat.
Rudy mengangguk, ia menyadari trauma itu masih berbekas di hati istrinya. Hatinya terasa sakit melihat wajah istrinya yang tadi bersimbah airmata.
***