Part 7
Dira terbangun dan meraih ponselnya di nakas. Ia melihat jam empat pagi kurang, saat hendak bangun tangan Rudy masih memeluk pinggangnya. Dira menghadap ke suaminya dan berusaha membangunkannya.
"Mas, bangun yuk sholat dulu," bisiknya.
Dira terpaku menatap wajahnya. Ia tersenyum Rudy nampak sangat tenang tidak berbahaya. Ia memegang pelan lengan suaminya.
"Mas," bisiknya.
Rudy terbangun dan menatapnya dengan bingung. Ia menarik Dira mendekat dan kembali memejamkan mata.
"Mas bangung, ayo sholat dulu," bisik Dira.
Rudy menggesekan jambangnya yang mulai tumbuh ke pipi Dira. Seketika Dira memekik berusaha menjauh. Rudy tertawa.
"Suka iseng banget Mas," gerutu Dira.
"Ayo sholat," ucapnya sambil mencium kening Dira.
Keduanya bergantian ke kamar mandi lalu bersiap sholat subuh berjamaah. Memandang suaminya dari belakang hati Dira terasa teduh. Seusai sholat ia menghampiri suaminya lalu mencium tangannya dan Dira mendapatkan ciuman di kepala dari suaminya. Keduanya saling bertatapan. Rudy tersenyum tapi malah hati Dira yang berdebar.
Rudy mengajaknya kembali tidur, tapi Dira menolak.
"Ya udah, sini kalau ga mau tidur, kamu temani aku saja,"ujar Rudy seraya memeluk Dira erat.
Dira tersenyum lebar dan menyandarkan kepalanya pada d**a bidang suaminya.
"Mas, kita belum pernah bicara apa yang akan kita lakukan setelah hari ini," bisik Dira pelan.
"Kamu maunya gimana,Ra?" tanya Rudy pelan.
"Aku ngikut maunya Mas saja, kalau masih disini, ya aku balik kerja, sambil menemani Bapak dan Ibu. Minggu depan aku ujian skripsi. Kalau Mas suruh aku ikut Mas ke Surabaya ya aku ikut saja," jawab Dira sambil mendongak melihat wajah suaminya.
"Kalau gitu kamu ujian skripsi dulu saja, setelahnya kita urus surat-surat pindah. Kamu mau di apartemen apa mau dirumah Ibu? Karena Ibu sendirian hanya ART dan sopir yang menemani. Kalau mau nyaman mending di apartemen, dekat Mall. Sementara itu pilihannya, tapi nanti kita bisa lihat-lihat rumah. Kamu bisa pilih mana yang kamu suka," ucapnya sambil mempermainkan rambut Dira.
Dira terdiam sesaat.
"Mas lebih sering dimana? Di rumah atau di apartment?" tanya Dira penasaran.
"Lebih banyak di apartemen karena kalau ada pergi subuh atau pulang malam, tidak mengganggu istirahat Ibu. Kerjaan kan kadang menuntut harus ambil penerbangan pertama, jam tiga atau jam empat pagi harus sudah siap-siap. Meeting misal dilanjut dinner bisa sampai larut. Ya begitulah pekerjaan suamimu," kata Rudy sambil menatap Dira dalam-dalam.
"Kalau gitu aku dirumah Ibu saja," kata Dira memutuskan.
"Kenapa?" tanya Rudy heran.
"Aku kayaknya bakal banyak sendirian kalau di apartment," jawab Dira mengelus rambut jambang di pipi suaminya
Rudy mengangguk, ya memang begitulah. Karena saat ini memang sedang sibuk dan banyak permintaan, ia agak sering pulang malam. Ia meremas jemari Dira yang ada di pipinya lalu membawanya ke bibirnya dan menciumnya lembut. Dira tersenyum lebar. Geli ternyata saat rambut itu menancap di telapak tangannya.
***
Keluarga besar Rudy saat sarapan di hotel sebelum check out sibuk membicarakan persiapan acara pernikahan Farhan. Walau rencananya sederhana tapi waktunya cukup mepet sedangkan Farhan sendiri masih ada seminggu di Jakarta untuk bekerja, sebelum cutinya turun.
Saat sarapan Farhan mendengar dari Mamanya kalau Dira akan pindah ke Surabaya minggu depan. Sempat berpikir untuk menemui Dira secara pribadi untuk meminta maaf, tapi Farhan tidak punya nyali. Terlebih ia tahu betul Dira akan sibuk persiapan ujian. Ia tidak bisa membahagiakan Dira, tapi setidaknya ia tidak ingin membebani Dira. Sekarang mereka adalah keluarga besar.
Farhan menatap Lia yang baru keluar lift ke tempat sarapan, ia mengenakan celana pendek dan kaos ketat. Saat Lia melihat Farhan tangannya secara demonstratif mengelus perutnya. Farhan langsung terdiam. Lia membawa piring berisi nasi dan lauk lalu duduk disebelah Farhan.
"Sayang, kok tadi ga jemput ke kamar, biar bisa sarapan bareng-bareng," ucap Lia manja.
"Aku pikir kamu masih butuh istirahat," ucap Farhan seraya meminum air putih di depannya.
"Kan adek bayinya mau sama Papanya," kata Lia dengan suara dibuat-buat seperti anak kecil.
Farhan langsung terbatuk dan menyemburkan air putih yang belum sempat ia telan.
Lia langsung berdiri dan sibuk membantu calon suaminya itu tapi tatapannya mengarah ke Dira yang baru masuk bersama Rudy. Ia ingin menegaskan Farhan miliknya. Lia tersenyum lebar. Sewaktu reuni sempat Farhan memamerkan foto tunangannya yang langsung dapat banyak pujian karena kecantikannya tapi Lia membuktikan tubuh seksinya mampu menggoda Farhan. Lia tersenyum puas. Hanya saja menatap Rudy yang nampak lebih mapan, dan tampan Lia sedikit menyesal ia belum sempat menaklukannya tapi mendapatkan Farhan sudah merupakan anugerah baginya. Keluarga Farhan kaya raya, pasti warisannya juga besar nantinya, bisik Lia dalam hati.
Rudy mengangkat alisnya melihat perilaku Lia. Dia bisa melihat tatapan Lia ke arahnya yang nampak menggoda. Rudy tersenyum kecut, ia menatap Farhan dengan iba. Keponakannya jelas telah salah langkah. Rudy menggandeng istrinya menjauhi meja Farhan. Ia mengantarkan Dira ke meja Ibunya.
"Para gadis cantik, mau sarapan apa?" tanya Rudy menggoda ibunya.
Ibunya terkekeh mendengar ucapannya.
"Gadis apa?" gerutu ibunya masih sambil tertawa.
"Ya gadis, Bu. Gadis tahun enam puluhan," jawab Rudy ikut tertawa.
Dira tersenyum lebar. Ibu mertuanya mengelus rambut panjang Dira.
"Cah ayu, kon ga salah pilih ta? Dapat suami kaya gitu," tanya mertuanya lembut.
"Wah Bu jangan pengaruhi Dira, telat dia kalau mau batalin," jawab Rudy sambil mencium pipi ibunya.
"Aku ambilkan makan dulu, Ibu sama Dira jangan kemana-mana. Ra, jangan biarkan Ibu sendirian, itu kasihan Mas-mas yang disana takut nanti dirayunya," ucap Rudy usil menggoda Ibunya.
Ibu Rudy kembali terkekeh. Ia menatap Dira masih dengan senyumannya.
"Rudy ngirim di WAG keluarga, katanya kamu pindah Minggu depan. Yakin mau di rumah sama Ibu?" tanyanya.
Dira mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, Ibu ada teman di rumah, kabari kalau nanti mau datang, Ibu nanti masak istimewa," kata Ibu mertuanya dengan ramah.
Tiba-tiba perhatian teralih ke Lia dan Farhan. Lia duduk di pangkuan Farhan dan mencium bibirnya di depan semua orang.
"Dasar bocah ga tau malu," desah Ibu mertuanya tampak sebal.
Rudy menatap Dira dari kejauhan, ia memastikan istrinya tidak terpengaruh. Dira malah tersenyum ke arah Rudy. Rudy buru-buru menghampiri Dira. Tangan kanannya membawa piring berisi buah untuk ibunya.
"Gimana sayang, apa perlu kita membuat pertunjukan tandingan? Halal lho," goda Rudy sambil mengecup bibir Dira.
Wajah Dira langsung memerah, ia tertawa kikuk dan menutupi bibirnya.
"Malu ah," kata Dira.
Rudy tersenyum lebar. Sikap Dira yang malu-malu malah jauh menggoda daripada sikap Lia yang sok genit.
"Kamu ini lho Rud, kasihan Dira sampai merah gitu mukanya," protes Ibunya.
Rudy hanya tersenyum lebar tidak menjawabnya. Ia hanya ingin Dira tidak terpancing, itu saja.
***
Di bandara saat semua menunggu boarding, Ibu Rudy ke restroom ia menunggu disamping pintu. Ia mendengar suara plastik dirobek dan cukup lama perempuan didalam kamar kecil itu tidak keluar. Beberapa menit berlalu akhirnya ia baru keluar. Ibu Rudy melihat ternyata Lia yang keluar. Saat menatap Ibu Rudy ia nampak gugup nampak ingin masuk lagi ke dalam tapi sungkan tahu Omanya Farhan pasti menunggu cukup lama. Ibu Rudy hanya tersenyum dan mengangguk lalu masuk ke ruangan itu. Ia melihat tempat sampah terbuka yang tidak ditutup lagi, dan nampak ada pembalut yang dibuang asal.
Ibu Rudy langsung merasa jijik, kenapa Lia tidak menutup kembali tempat sampah itu. Petugas yang jaga memang pasti membersihkan, tapi tindakan seperti itu sangat tidak ia sukai. Sayang kamar mandi sebelah sedang ada perbaikan. Terpaksa ia menggunakan kamar mandi itu. Tapi seketika ia terdiam, bagaimana mungkin seorang yang sedang hamil, mengganti pembalut. Seketika wajahnya penuh amarah ia akan minta penjelasan pada Lia.
***