"Kita putus saja"
Maira tampak tak bergeming. Ia meletakan cangkir tehnya sambil tersenyum pahit.
"Baiklah" balasnya cepat dengan ekspresi wajah yang masih datar.
Pria di hadapannya mendengus begitu mendegar jawaban cepat dari wanita itu.
"Kau memang selalu seperti ini, tak memperdulikan apapun dan tak berperasaan"
Maira terdiam sejenak. Ia tak tahu harus membalas ucapan pria dihadapannya dengan jawaban yang seperti apa.
Pria itu tampak tak sabar menunggu jawaban dari Maira, ia beranjak bahkan sebelum Maira sempat membuka mulutnya.
"Ku harap kita tidak bertemu lagi"
Ucap pria itu tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun sambil berjalan keluar meninggalkan Maira yang masih terpaku di tempat duduknya.
"Huft..." Maira menghela nafas panjang merasa terbiasa akan situasi saat ini.
Ini bukanlah pertama kali hubungannya berakhir sia-sia. Seperti terkena sebuah kutukan, sangat sulit bagi Maira untuk dapat menemukan pria yang tepat. Usianya yang telah kepala tiga membuatnya semakin khawatir akan masa depan percintaannya.
Beberapa kali ia datang menemui pria yang di jodohkan oleh teman-temannya namun semua selalu berakhir seperti sekarang.
"Kau terlalu sibuk"
"Kau terlalu dingin"
"Sangat tidak perhatian"
"Kau sangat cantik tapi sangat membosankan"
Kata-kata tersebut sangat sering keluar dari mulut para pria yang memutuskan hubungan dengannya.
Maira menoleh kearah jendela cafe, ia dapat melihat pantulan dirinya dari kaca jendela. Wajah cantik dengan ekspresi dingin terpantul jelas di jendela. Tak tampak kesedihan ataupun air mata menetes dari matanya, bahkan setelah hubungannya yang baru 2 bulan itu berakhir begitu saja.
"Hmm, dia pergi begitu saja tanpa membayar Bill nya" gumam Maira sambil beranjak ke meja kasir.
Kasir cafe yang memiliki senyum ramah itu menyapa Maira dengan ceria seolah dirinya mengenal Maira dengan baik.
"Totalnya 40 pounds, bisa tempelkan kartu di sebelah sana"
Kasir menujuk sebuah mesin kecil yang ada di depan Maira. Wanita itu menempelkan kartunya dan tanpa mengambil struk dari sang kasir ia pergi begitu saja keluar dari cafe.
"Terimakasih, sampai jumpa lagi" Teriak sang kasir terdengar samar pada Maira yang sudah berada di luar cafe.
Terlihat staff cafe langsung bergegas merapikan meja tempat Maira duduk tadi dan membalik papan di depan pintu cafe dengan tulisan "Tutup".
Maira yang telah bediri di luar cafe merapatkan syal miliknya lalu berjalan menuju halte bus dengan langkah cepat. Deru mesin kendaraan memenuhi malam kota London. Meskipun telah memasuki akhir bulan februari, salju masih tetap terlihat turun seolah enggan meninggalkan London yang sebentar lagi memasuki musim semi. Kepulan asap keluar dari setiap helaan nafas Maira yang masih berjalan begitu cepat namun hati-hati menuju halte bus yang telah menampakkan wujudnya.
Ia kemudian duduk di salah satu bangku halte yang kosong. Tak banyak orang yang menunggu bus malam itu. Selain karena hawanya yang begitu dingin, jarum jam juga telah hampir menunjukan pukul 9 malam.
Cukup ironis bagi Maira melihat London yang merupakan sebuah kota besar, namun toko-toko dan pusat perbelanjaan selalu tutup lebih awal bahkan lebih awal dari jam dirinya biasa pulang kerja.
Maira kembali tersenyum pahit begitu mengingat kejadian yang baru beberapa menit lalu ia alami. Ia tidak merasa sedih namun ada sedikit perasaan kecewa di hati kecilnya, hubungan yang awalnya ia harapkan akan berlanjut namun malah menemukan akhir yang tidak menyenangkan seperti sekarang.
Setelah berhasil menahan cukup lama akhirnya bulir bening menetes dari pelupuk matanya. Maira buru-buru mengelap air matanya begitu sebuah bus merah tingkat dua berhenti di depannya. Dengan cepat Maira melompat masuk ke dalam bus dan langsung duduk di tempat kosong yang berjarak empat baris dari sang supir.
Sementara itu, dari luar bus seorang pria yang sejak tadi duduk di samping Maira tampak tersenyum sinis seolah dirinya baru saja melihat pertunjukan yang luar biasa.
Mata biru milik pria itu menatap bayangan Maira begitu lekat dari tempat duduknya. Bayangan yang bergerak perlahan seiring dengan pintu bus yang tertutup. Terlihat gumpalan asap putih setiap pria itu menghela nafas. Matanya menangkap sebuah benda berkilau di depannya dan tanpa pikir panjang pria itu memungut benda bersinar itu.