Eric berjalan dalam diam. Tak sedikitpun ia merasa tertarik dengan alasan kenapa Alison Mayers kembali. Dalam diam matanya tertuju pada wanita berambut coklat dan bertubuh mungil yang baru saja keluar dari salah satu ruang meeting.
Bola mata coklat milik wanita itu tampak bergetar begitu ia berpapasan dengan Eric dan rombongannya.
"Ah, selamat pagi" Sapa Maira canggung sambil melirik jam tangan Oscar yang menunjukkan pukul 2 siang.
Dengan wajah memerah Maira mengangguk kecil lalu buru-buru berbalik dan berjalan menuju lift.
Oscar mengangkat tangan kirinya dan melihat jam di tangannya dengan tertawa geli ia mencoba mengoreksi ucapan Maira yang sudah kabur dengan malu.
"yahh, cukup pagi" ujarnya sambil mengangkat kedua bahunya.
Plak...
Elwin menepuk keras punggung Oscar membuat pria itu mengaduh kencang. Bahkan Maira yang berdiri jauh dari mereka dapat mendengar teriakan Oscar sebelum akhirnya wanita masuk ke dalam lift.
"sepertinya aku pernah melihat wanita itu sebelumnya"
"namanya Maira Shopie, bukan wanita itu" kesal Oscar sambil berjalan menjaga jarak dari Elwin.
"Kenapa jadi kau yang kesal?" Elwin menatap Oscar bingung.
"ohhh... kau menyukainya" goda Elwin.
Oscar dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil melirik ke arah Eric yang sejak tadi hanya diam saja sambil matanya tak lepas menatap ke arah lift.
"Tentu saja tidak, Maira itu salah satu karyawan terbaik di sini, jgn macam-macam dan jgn mengganggu nya"
Elwin tak menanggapi ucapan Oscar dan hanya tersenyum kecil sambil mengotak-atik HP nya seolah mencari sesuatu.
* * * * *
Maira duduk termenung di meja kerjanya masih jelas diingatannya kejadian Tiga tahun lalu. Kejadian dimana dirinya baru pertama kali menginjak kota London dan di tipu begitu saja oleh orang yang ia anggap sebagai teman.
Hari itu musim panas sedang berada di puncaknya. London yang jarang terkena matahari entah kenapa terasa begitu menyengat hari itu, Maira melangkah dengan pasti menuju sebuah alamat yang ada di ponselnya sambil menarik sebuah koper besar berwarna merah muda. Langkahnya terhenti di sebuah apartemen tua dan tak terlalu tinggi di depannya.
Dengan hati-hati Maira membuka pintu lobby apartemen dan seorang wanita berambut brunette datang menyambutnya dengan senyum lebar.
"Maira, I miss u alot, finally we living together" Ujar gadis itu dengan suara melengking yang selalu menjadi ciri khasnya.
Maira tersenyum lebar menerima sambutan hangat dari wanita itu.
"Mari masuk, biar ku bantu" ujar wanita itu sambil menarik koper milik Maira lalu menuntunnya menaiki beberapa anak tangga hingga mereka tiba di depan sebuah unit apartemen yang pintunya terlihat terbuat dari kayu yang sudah tua.
"Ini dia, rumah kita" Wanita itu membuka pintu apartemen dan membuat Maira tampak begitu kaget melihat kondisi kamar yang cukup berantakan.
Dengan senyum canggung wanita itu masuk ke dalam apartemen lebih dulu "Maaf, maaf, belum sempat ku bersihkan karena aku juga sebenarnya baru kembali dari somerset, silahkan masuk"
Dengan langkah Hati-hati Maira masuk kedalam apartemen sambil berusaha menghindar dari barang-barang yang berserakan di lantai agar tidak terinjak olehnya.
"Kamarmu ada disini" ucap wanita itu sambil membuka pintu kayu lainnya dan menunjukkan sebuah kamar yang tampak rapi dan bersih daripada situasi di ruang tamu.
"Kamar mandi ada di sebelah sana, dan untuk menjemur pakaian kau bisa menjemurnya di atap lalu untuk uang sewanya kita bagi berdua seperti kesepakatan" jelas wanita itu sambil terlihat sibuk memungut barang-barangnya yang tergeletak di lantai.
"Oh, karena ini hari pertamamu sampai di London bagaimana jika kita merayakannya? minum-minum sedikit bukanlah masalah, kan?"
"Ah maaf, aku agak capek bisakah kita melakukannya besok saja"
Gadis itu tampak terdiam sesaat namun dengan senyum ramah ia mengiyakan ucapan Maira.
"Baiklah, besok malam pukul 9, aku akan mengirimkan alamatnya melalui pesan" ujarnya lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya sambil membawa setumpuk barang-barang yang tadi ia pungut di lantai.
Maira menarik nafas lega, lalu menutup pintu kamarnya. Ia menghempaskan dirinya ke kasur dan mencoba memejamkan matanya hingga tanpa sadar ia tertidur.
Besok malam......
Maira sudah mendapati dirinya berdiri di sebuah klub. Wanita yang tadi membawanya ke sini sudah tak kelihatan lagi di balik lautan orang yang sibuk minum-minum dan berjoget mengikuti irama musik. Maira hanya bisa menghela nafas lagi-lagi merasa lelah karena tempat ini sangat tidak cocok dengannya.
"Hai, temanmu memintaku untuk menjemputmu" Seorang pria menarik tangan Maira tiba-tiba saat dirinya baru saja hendak berjalan keluar dari Club.
Maira menepis tangan Pria itu, dan dengan cepat menjaga jarak dari pria tersebut dan terlihat beberapa orang sudah mulai berkerumun di sekitar mereka.
"Tidak, anda mungkin salah orang" jawab Maira dengan nada sopan sambil berusaha melepaskan tangannya.
Pria yang sudah setengah mabuk itu tampaknya tidak menerima jawaban tidak, ia mempererat genggamannya pada tangan Maira membuat wanita itu tampak kesakitan. Ia memperhatikan keseluruh penjuru Club dan tidak ada satu orangpun yang berniat membantunya. Karena hal itu, sekuat tenaga Maira kembali menarik tangannya hingga membuat pria itu terjatuh ke lantai.
Merasa malu karena banyak orang yang melihat dirinya terjatuh membuat pria itu makin marah dan langsung kembali menarik lengan Maira dengan kasar. Ia menarik Maira berjalan menuju bar dan langsung meminumkan beberapa minuman yang ada di atas meja bar ke dalam mulut Maira secara paksa. Maira yang panik buru-buru menepis lengan pria itu yang masih memegangi gelas minum dan tanpa sengaja membuat pria itu menjatuhkan gelas di tangannya.