"???"
Wajah Maira tampak bingung, melihat itu Alison dengan sabar kembali melanjutkan ucapannya.
"Victor Benjamin adalah teman lamaku, ia membutuhkan agensi periklanan untuk memasarkan berlian-berlian miliknya, kebetulan di saat aku bergabung di sini ia meneleponku dan mengatakan akan bekerjasama dengan The Erland"
Seolah paham dengan tujuan Alison, Maira dengan sopan berdiri dari tempat duduknya.
"kurasa aku belum pantas untuk proyek sebesar itu, lagipula... masih ada proyek lain yang harus ku kerjakan " Ujar Maira menolak permintaan Alison tanpa berpikir panjang.
Alison terdiam sesaat, ia lalu tersenyum kecil seolah memahami maksud dari kata-kata Maira.
"Baiklah, jika kau berubah pikiran, kau bisa datang padaku kapan saja" Alison dengan pasrah menerima penolakan Maira lalu mempersilakan Maira keluar dari ruangan.
* * * * *
"Selamat datang kembali" sambut seorang petinggi perusahaan pada Eric Erland yang baru saja memasuki lobby perusahaan.
Eric menjabat tangan Pria di hadapannya lalu menepuk pundak pria itu. Keduanya melepaskan jabatan tangan mereka lalu pria itu memimpin jalan membawa Eric menuju lift.
"Bagaimana Irlandia, apakah berkembang cukup baik"
"Sesuai harapan" jawab Eric singkat dan langsung masuk ke dalam lift begitu pintu lift terbuka.
"Lalu bagaimana dengan disini?" Tanya Eric balik pada pria di sampingnya.
"Sesuai harapan" pria itu mengulang ucapan Eric membuat Eric mengerenyitkan dahinya.
"Aku bercanda, semuanya berjalan lancar proyek besar telah selesai dan hasilnya cukup memuaskan" pria di samping Eric buru-buru mengoreksi kata-katanya setelah melihat wajah kesal Eric.
Kemudian ia tersenyum bangga setelah mengatakan kata-kata yang ia koreksi membuat Eric tahu kalau pria itu telah bekerja keras dengan sungguh-sungguh.
"Oh, Elwin tidak kembali bersama?" tanyanya penasaran
"Dia sudah kembali dua hari yang lalu" jawab Eric malas.
"Elwin masih berjiwa bebas seperti biasa, dia bahkan tidak menghubungiku jika sudah kembali"
Eric tak membalas ucapan pria di sampingnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Elwin adalah orang yang bebas dan suka bermain-main. Dalam satu minggu Elwin terkenal suka berganti wanita sebanyak 7 kali. Bukan hanya itu, ia selalu berpesta dan minum-minum setiap ada kesempatan, meskipun begitu pria bebas yang tidak suka di kekang aturan itu tetap datang bekerja tepat waktu dan selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik meskipun sikapnya selalu terlihat santai bahkan ditengah masalah besar sekalipun. Tak perduli berapa banyak minuman yang ia konsumsi di malam hari, Elwin Erland selalu terlihat bugar setiap berada di kantor.
Namun, pagi ini tampaknya pria itu menghancurkan rutinitas biasanya. Itulah sebabnya pria di samping Eric bisa bertanya akan keberadaan Elwin pada Eric yang baru saja kembali.
Ting.....
Pintu lift terbuka, pria itu keluar lebih dulu dari lift lalu diikuti Eric yang berjalan di belakangnya dan sekretaris Eric yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka dalam diam.
"Saya akan menghubungi Tuan muda Elwin sekarang" ujar sang sekretaris begitu melihat Eric menoleh kearahnya.
Eric tak jadi membuka mulutnya dan kembali berbalik berjalan mengikuti pria di depannya.
Keduanya sampai di depan sebuah ruang meeting, pria itu membuka pintu dan langsung kaget begitu melihat sosok yang dari tadi mereka bicarakan sudah duduk santai sambil menurunkan handphone dari telinganya begitu melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Brandon kenapa menelepon?" Tanya Elwin pada sekretaris Eric.
"Aku yang menyuruhnya" potong Eric sebelum Brandon sempat membuka mulutnya.
"Huh, kenapa?"
"Oscar bilang kau tidak menghubunginya selama dua hari ini"
"Oh, Willard kau mengadu"
"Aku hanya khawatir"
Elwin menyipitkan matanya tak percaya dengan ucapan Oscar.
"aku benar-benar khawatir, karena kau tidak kelihatan bahkan menghubungiku setelah kembali dari Irland"
"Hahahaha, sejak kapan kau perduli dengan hal-hal remeh begitu"balas Elwin santai.
"Ck" Oscar hanya bisa berdecak kesal mendengar ucapan tak tahu malu dari Elwin.
Eric hanya menggelengkan kepalanya, ia duduk di pusat ruangan dan langsung membaca berkas yang baru saja di berikan oleh Brandon padanya.
Oscar ikut duduk di sebelah kiri Eric kursi yang berhadapan dengan Elwin yang kini telah berwajah serius.
"Mereka sudah datang?" Tanya Elwin pada Brandon
"Sedang di perjalanan" jawab Brandon cepat.
Tok....
Tok......
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Beberapa orang masuk kedalam ruangan meeting. Terlihat orang-orang yang baru saja masuk merupakan orang-orang terbaik dari setiap divisi yang ada di perusahaan mereka. Bahkan, sang produser juga merupakan seorang produser papan atas yang selalu membuat iklan-iklan viral dan menangani setiap proyek besar dari perusahaan mereka.
Mata Eric tertuju pada seorang wanita yang tak asing baginya. Alison Mayers, wanita cantik bak model itu melangkah masuk dengan angkuh seolah dirinya tak perduli dengan pasang mata yang menatap dirinya. Sudah menjadi rahasia umum kalau dirinya adalah wanita yang tiba-tiba meninggalkan seorang Eric Erland di hari pertunangan mereka.
"Sejak kapan Mayers kembali ke London?" Bisik Elwin pada Oscar yang ada di hadapanya sambil menundukan kepalanya.
"Sejak minggu lalu, Alison Mayers adalah salah satu syarat kerja sama dari Benjamin" jawab Oscar, juga sambil berbisik dan kepala yang tertunduk.
"Ehemm....." Eric berdehem pelan membuat kedua orang itu mengangkat kepala mereka dan duduk dengan tegap di kursi mereka masing-masing.
Beberapa menit kemudian pintu ruang meeting kembali terbuka, menampilkan sosok seorang pria dengan pakaian perlente dan seorang wanita cantik berwajah latin mengekorinya dari belakang.
"Selamat pagi, maafkan aku sedikit terlambat lalu lintas London cukup gila" Sapa pria itu, dan langsung menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan.
Victor Benjamin, seroang pengusaha muda asal Italia, Pria tampan dengan rambut hitam legam yang di tata rapi itu berjalan masuk dan tersenyum ramah pada semua orang yang ada di dalam ruangan termasuk Alison yang membalas senyumnya dengan sumringah.
Oscar berdiri dari tempat duduknya dan mempersilakan Victor untuk duduk di tempatnya sementara itu ia menempatkan dirinya di samping Elwin.
"Lama tidak bertemu Eric" Sapa Victor ramah
Eric tersenyum ramah membalas sapaan Victor.
"Pamela" Victor memberikan isyarat pada sekretarisnya.
Sekretaris cantik milik Victor langsung memberikan beberapa dokumen yang ia siapkan pada seluruh orang yang ada di ruang meeting.
"Seperti yang kalian tahu, Benjamin Jelwery merupakan toko berlian ekslusif dari Italia, kami saat ini baru saja membuka cabang baru di pusat kota London, dan mendengar tentang The Erland yang sepertinya dapat meningkatkan publikasi kami di London membuat kami bersemangat untuk langsung bekerjasama. Kami mengharapkan hasil yang luar biasa seperti iklan-iklan The Erland sebelumnya" jelas Pamela sambil memberikan contoh berlian-berlian mereka pada setiap orang yang ada di ruangan.
Semua orang mengangguk mengerti, mereka membaca profil perusahaan milik Benjamin dengan begitu serius. Beberapa menit kemudian suasana ruang meeting semakin menegang. Terlihat Victor cukup vokal menyuarakan idenya bahkan ia tampak tak begitu puas dengan saran dan gagasan dari semua orang yang ada di sana.
"Ku harap minggu depan aku bisa melihat ide yang cukup menarik" ucapnya menutup rangkaian meeting hari itu.
Setelah ucapan Victor beberapa orang buru-buru keluar dari ruang rapat seolah mereka akan semakin stress jika berlama-lama di sana.
"Wahh, Benjamin benar-benar gila" gerutu Tanya pada rekannya yang terlihat lebih lemas darinya.
"Ya, kepalaku sampai berputar-putar"
"Bahkan, jam makan siang telah lewat, benar-benar menyebalkan"
Keduanya terus mengeluh sepanjang jalan sambil berjalan terseok-seok karena lelah setelah berada di ruang meeting terlalu lama.
Sementara itu, di dalam ruang meeting hanya tersisa beberapa orang yang masih tampak belum enggan meninggalkan ruangan termasuk Alison yang baru saja mau beranjak menyapa Victor.
"Mayers" Victor lebih dulu menyapa Alison sambil membuka lebar kedua tangannya.
Alison menyambut hal itu, dan langsung memeluk erat Victor seolah melepas kerinduan.
"Oh, Victor senang bertemu denganmu" Alison menepuk pundak Victor lembut.
"Hahahaha, tentu saja...aku sangat senang bisa bertemu dengan wanita cantik sepertimu lagi"
"Kau ini..." Wajah Alison memerah mendengar godaan dari Victor, dan langsung melepaskan pelukannya.
Sementara itu, Eric dan rombongannya berjalan melewati kedua orang yang tengah memadu rindu itu tak peduli. Melihat itu Alison hanya tersenyum pahit namun ia kembali tersenyum lebar begitu mendengar candaan dari Victor yang tidak pernah gagal.
"sepertinya Eric Erland cukup membenci ide ini" ujar Pamela mendekat ke arah Alison dan Victor.
"Eric Erland cukup profesional bukan gayanya melibatkan perasaan saat bekerja" bantah Alison sambil menatap pintu ruangan yang baru saja tertutup.
Victor hanya tersenyum sinis mendengar pembicaraan keduanya seolah sebuah ide aneh muncul dari kepalanya.