Seorang perempuan muda memakai blazer abu-abu terang dan mengenakan daleman putih dengan syal tergantung di leher berwarna merah masuk melalui lobi parkiran sebuah gedung perkantoran yang cukup bonafid di Jakarta. Gendis nama perempuan itu. Seorang perempuan berusia dua puluh delapan tahun yang sangat mendiri dan benar-benar sangat tegar menghadapi hidup di dunia. Bukan hanya itu, di usia yang masih tergolong muda banyak sekali peristiwa pahit yang harus dialaminya. Kedua orang tua yang meninggal secara mendadak karena kecelakaan. Hidup seorang diri. Batal menikah. Sungguh bertahan pada hidup yang tak mudah.
Gendis menuju ruang kerja dengan tergesa-gesa. Semalaman dia tampak tak dapat memejamkan mata. Pikiran masih kalut. Bukan hanya lelah di badan tapi juga masuk ke dalam pikiran. Entah tiba-tiba saja dia teringat kembali pada hari itu di belakang parkiran Java Caffe. Tak ada pemicu. Hanya tiba-tiba saja kepingan memori itu muncul bagai slide berganti slide dalam pikiran. Hari yang sangat nahas dan menyakitkan. Peristiwa yang akan diingatnya seumur hidup.
“Ndis, dengarkan aku dulu.” sahut seorang lelaki dengan memakai kaos putih dan celana jins dengan suara lantang. Gendis berhenti sambil menyeka air mata. Dia berbalik arah,
“Ini sudah kali ketiga. Cukup.” Suara Gendis seperti tercekat di tenggorokan. Berusaha menahan air mata untuk tidak menetes di hadapan lelaki itu. Dia sudah melihat dengan mata kepala sendiri, lelakinya bersama dengan perempuan lain. Bermesraan.
“Tunggu sebentar,” lelaki itu ingin melangkah mendekatinya.
“Berhenti, stop Mas Jan. Tolong hentikan.”
Gendis membalikkan badan, segera berlari menuju parkiran dan memacu sepeda motor ke dalam lautan manusia yang tumpah ruah sore, selepas senja. Melebur bersama ribuan orang berjalan pulang menuju rumah masing-masing.
Janu hanya mampu memandang dari kejauhan dan melirik ke meja yang dia tempati bersama Irma. Irma perempuan itu tersenyum. Raut wajah Janu tampak bersalah tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Bayangan Gendis semakin menghilang tertutup dengan berbagai macam kendaraan yang menyesaki lalu lintas. Gendis berlari sambil membawa hati yang hancur berkeping-keping. Tangisnya meledak di atas sepeda motor. Dia memacu sepeda motornya dengan kencang. Berharap tak ada seorang pun yang tahu tangisnya. Cukup dia.
***
Gendis menyeka keringat, segera duduk di kursi dan mengambil cermin dalam laci meja kerja. Dia membenarkan mascara dan bedak yang luntur terkena keringat tadi. Dia poles bedak pada pipi dan dia torehkan pink nude lipstik pemberian Janu. Dibuka blazer biru dan hanya tampak kemeja putih saja. Setidaknya untuk mengurangi pengap karena berlarian kecil daei lobi kantor.
“Loh, ini kan?” batinnya dalam hati. Benda berwarna itu masih utuh dan tidak tersentuh. Gendis memang cendeeung menyimpan apa yang disukainya dan tidak menggunakannya sama sekali. Hanya menjadi barang koleksi saja. Baginya audah cukup.
Dia masih ingat ketika sepulang kerja dan Janu mengajak ke sebuah mall perbelanjaan terkenal di kotanya. Janu baru saja mendapatkan proyek pertama yang tembus setelah dia perjuangkan berbulan-bulan lamanya.
“Sudah cukup ini saja.”
“Kau boleh mengambil yang lain, aku yang traktir.”
“Tidak, ini saja. Pink nude no 4. Cukup.” Gendis mengenggam sebuah lipstik pink dan segera membawanya ke kasir sambil menggandeng Janu. Sang kekasih hatinya. Pada waktu itu. Dulu.
“Baiklah, terserah padamu saja.”
Gendis tersenyum getir. Berusaha untuk kembali ke kehidupan nyata dan tidak tenggelam dalam kenangan. Rasanya baru saja kemarin kejadian itu. Tapi sudah hampir enam bulan semenjak dia memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan Janu.
Janu berubah. Dulu dia adalah semangat hidup Gendis. Hanya untuk dia, dia seorang Gendis bertahan hidup karena ada Janu. Siapa lagi yang dimiliki oleh Gendis? Orang tua sudah meninggal dan saudara? Tak punya. Janu membuat hidup Gendis lebih hidup, sanggup dan mampu memahami apa yang diinginkan Gendis. Mampu meruntuhkan pertahanan yang cukup lama dibangun. Berhasil mengisi kekosongan relung hati. Sehingga Gendis yang mandiri, sigap dan selalu sendiri mau menerima Janu sebagai imam. Imam hidup yang akan menjadi sandaran kapal dan tempat untuk pulang.
Gendis pasrah dan menyerahkan hatinya pada Janu.
Tapi segala sesuatu yang tampak indah memang sering memudar oleh waktu. Kemudian semua menjadi tak sama lagi semenjak rekan kerja Janu yang bernama Irma mulai masuk dan mengisi hari-hari Janu dengan lebih intensif. Rekan kerja baru yang cantik, enerjik, periang dan paling bisa memguasai situasi. Siapa yang tidak akan jatuh hati padanya? Irma adalah seorang wanita yang dapat mencairkan suasana dan juga cekatan. Lelaki mana yang tidak takhluk padanya. Dia merupakan satu-satunya perempuan di devisi yang dipegang oleh Janu. Semenjak dari awal Irma dan Janu terlibat dalam proyek ini. Mengerjakan pekerjaan berdua, makan berdua bahkan pergi dinas mereka berdua. Tak akan ada Janu jika tak ada Irma. Mereka bagaikan sepasang sejoli, Mimi lan Mintuno, Shaggy dan Scooby Doo. Bagai botol bertemu tutup. Bahkan banyak sekali yang menggadang-gadang bahwa mereka akan menikah. Janu terasa bersinar jika ada Irma, begitu pun sebaliknya. Mereka berdua memang pasangan yang ideal.
"Ah rasanya takdir berkata lain. Takdir seakan tidak berpihak pada hubungan kami ini. Memang banyak sekali pepatah yang dilahap oleh Gendis tentang sebuah relationship."
Gendis memejamkan mata.
"Bagaimana Tuhan akan mematahkan hatimu untuk bertemu dengan orang yang tepat. Ya tapi apakah Tuhan juga tahu bahwa hati ini masih terasa sakit jika mengingatnya. Bagaimana dengan dia akan menghabiskan sisa hidupnya. Usiaku sudah dua puluh delapan tahun, bukan usia yang muda lagi. Bahkan wanita seusiaku jika aku bertempat tinggal di kampung pasti aku sudah menikah dan memiliki dua atau tiga anak. Huft.“ dengusnya kesal.
“Ibu Gendis, dipanggil Ibu Lia.” Suara seorang perempuan mengagetkan Gendis. Anak magang yang bernama Asri. Muda dan polos.
“Baiklah, nanti saya kesana. Terima kasih Asri.”
"Sudah tugas saya, Bu." Asri pamit undur diri dan menuju mejanya.
Gendis segera merapihkan meja dan membawa sebuah berkas menuju ruangan ibu Lia.
Seorang perempuan yang walau pun berusia lima puluh lima tahun tapi masih memiliki gurat kecantikan. Aura kuat sangat menyelimuti diri perempuan di hadapannya. Stylenya masih kekinian. Bahkan jika tidak tahu umur, orang pasti akan mengira dia adalah seorang perempuan yang berusia tiga puluh lima tahun. Awet muda. Gendis mendekat meja bosnya itu.
”Selamat pagi, Bu. Ini berkas yang ibu minta untuk launching acara kita besok.”
“Duduk, Dis. Ini yang akan ibu diskusikan dengan kamu. Kamu tahu bahwa acara kita ini selalu akan menjadi trendsetter bagi produk kecantikan yang ada di Indonesia. Saya ingin kita bisa melampaui target tahun lalu. Kamu paham kan? Jadi bagaimana perkembangannya? Sudah siap untuk acara dua minggu lagi? Saya tidak ingin kamu membuat kesalahan sedikit pun.”
“Iya, Bu. Paham. Saya sudah mengontak seorang pelukis yang sedang digemari oleh anak muda bernama Dirja, kami sudah berbicara panjang lebar dan nanti siang kami akan makan siang bersama membahas tentang rancangan desain yang akan beliau buat. Dirja ini salah satu seniman yang sedang naik daun akhir-akhir ini sesuai perintah yang Ibu Lia instruksikan.”
“Baik, I trust you, Dis. Lakukan sebaik-baiknya,”
“Baik, Bu. Saya pamit,”
Setelah dibalas dengan sebuah anggukan kecil, Gendis pergi meninggalkan ruangan ibu Lia dan kembali ke mejanya. Disana dia melihat jadwal yang akan dia laksanakan sehari ini. Ternyata tak banyak. Hanya akan ada makan siang bersama Dirja dan melihat lokasi acara untuk peluncuran parfum terbaru dari perusahaannya.
Pukul 11.45 siang. Gendis sudah berada di depan Java Caffe, sebuah kafe kecil tempat dia akan berjumpa dengan Dirja, rekan kerja proyek ini. Gendis membuka pintu kaca dan menebarkan pandangan. Gendis menata kembali kacamatanya dan menebar pandangan ke sekelilingnya. Di sudut kanan ada tiga orang yang berada dalam satu meja. Tampak seperti anak kuliahan yang sedang mengerjakan tugas. Laptop mereka terbuka masing-masing di hadapannya. Mereka tampak tenggelam sendiri-sendiri. Di samping meja itu ada ibu dan anak perempuan yang lucu berusia lima tahun. Entah dimana sosok sang ayah. Atau mereka memang menunggunya untuk makan siang bersama. Mungkin mereka sedang menunggu sang ayah. Lalu di pojok kiri ada seseorang lelaki yang mengucir rambutnya ke belakang dengan memakai jaket berwarna hitam.
“Orang model apa yang siang-siang memakai jaket tebal dalam ruangan?”
Lalu Gendis segera mendekati meja yang berada di sebelah kiri,
“Maaf, Dirja?”
“Iya, saya Dirja.”
“Hai selamat siang. Saya Gendis utusan dari Ibu Lia, beliau tidak dapat kemari dan menyerahkan semuanya kepadaku.” Gendis tersenyum manis dan sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat erat.
Dirja hanya tersenyum tanpa menatap lawan bicaranya dan berkata, “Silahkan duduk, saya sudah pesan duluan tadi.” Tangannya sibuk membuka-buka layar telepon genggam dan sedang memilih cat untuk lukisan. Tanpa memandang Gendis sedikit pun.
“Lelaki yang aneh.” Batin Gendis. Gendis segera menarik kursi dan duduk di depan Dirja. Dirja masih saja sibuk untuk melihar layar teleponnya. Gendis tak ambil pusing dan membiarkan Dirja tetap dengan kesibukannya dan dia memesan makanan dan minuman untuk makan siang.
“Eh iya, siapa tadi namanya? Gadis? “
akhirnya Dirja angkat bicara.
“Gendis.”
“Oh, gula jawa. Eksotis.” Sahutnya sambil mengulurkan tangan, menatap mata.
“Dirja, kita belum jabat tangan tadi.” Dirja mengulurkan tangan kanan ingin berjabat tangan.
“Ini orang benar-benar aneh. Tadi diajakin salamann malah sibuk sendiri. Sekarang mengulurkan tangan.” Gendis lalu mengulurkann tangannya. Mereka lalu berjabat erat.
Deg … Dirja tersenyum. Mereka beradu tatap. Tatapan mata Dirja. Kedua bola mata itu. Mata berwarna coklat dan memiliki entah apa namanya. Gendis serasa tersedot masuk ke dalam tatapan mata itu. belum berhenti disitu ketika tangan mereka saling menjabat, Gendis merasakan ada sengatan yang mengalir dalam tubuhnya. Seperti setruman yang entah mengapa, atau apa, karena apa. Entah. Gendis juga tak tahu dan menjadi penasaran. Seperti sesuatu yang mengangetkan tapi juga menenenangkan sekaligus misterius.
“Apa-apaan ini?”
Udara di luar ruangan sangat terik berubah menjadi sejuk tertutup awan besar. Angina bertiup dengan tenang membawa sampah dedaunan. Angin membawanya menari, berputar dan terbang ke atas udara. Entah dimana akan berhenti.
Ada rasa hangat yang menjalar pada tubuh Gendis. Rasa akrab, dekat dan intim. Seperti pernah terjadi. Entah kapan. Dimana. Tapi dia mengenali rasa ini. Rasa apa?