Dirja Mahadri. Seorang lelaki seniman lulusan salah satu kampus negeri terkenal di daerah Jakarta. Jurusan yang diambil ketika kuliah tidak ada hubungannya dengan bidang pekerjaan yang digeluti sekarang.
Dirja adalah seorang lelaki berusia tiga puluh lima tahun yang sedang membangun kariernya. Telat memang. Toh semua orang akan memiliki masa sendiri. Suatu masa juga memiliki orangnya sendiri. Karier yang benar-benar dia rintis di tanah kelahirannya.
Sebelum kembali ke tanah kelahirannya, Dirja sempat bekerja di Jogjakarta tapi akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran. Di tempat bekerja yang dulu, Dirja mengalami tekanan mental. Yang mungkin bagi sebagian besar hanyalah masalah sepele tapi tidak untuk Dirja. Dirja memutuskan untuk menyembuhkan diri dan kembali ke kampung dan menetap di kota kelahirannya sampai sekarang. Walau sebagai lulusan filsafat tidak menjadikan dia menjadi seorang yang memiliki pekerjaan yang tetap, dia mampu menghidupi dan mencukupi kebutuhan hidupnya. Tapi dia sadar akan integritasnya. Dia sadar akan kompetensi kemampuannya dalam membuat sebuah karya, lukisan. Lukisan yang setiap orang akan mengenali itu adalah hasil goresan seorang Dirja.
Perempuan yang pernah hinggap dan berharga di dalam hidup juga pasti akan ditorehkan dalam coretan kanvas. Dirja akan menghadiahi sebuah lukisan dalam sebuah kanvas para wanita yang menyelinap masuk dan menetap sementara dalam hidupnya.
Sisi lain dari seorang Dirja adalah dia seorang pemegang ban hitam dalam olahraga pencak silat. Semasa di kampus dia pernah mendapatkan juara dan berhak mewakili kampusnya menuju Jakarta. Sayang dia harus puas sebagai juara tiga dan hilang sudah minatnya. Setelah sebuah kecelakaan yang menimpa lawan tanding, Dirja tampak menarik diri dari olahraga yang sudah dia gemari sedari masih kecil berusia delapan tahun. Dia mengambil langkah baru, mencoba untuk melukis. Entah mendapat kekuatan darimana Dirja tampak asyik dengan kegiatan barunya. Hidupnya untuk melukis.
Melukis bagi Dirja merupakan coping mechanism menghadapi setres yang menekan dirinya. Entah semenjak kapan dia merasakan sedikit adanya perubahan dalam perilaku. Dahulu, ketika jaman sekolah menengah atas dia pernah hampir tiga bulan tidak berangkat ke sekolah. Dikarenakan dalam dirinya seperti ada rasa ketakutan. Ibunya sudah membawanya ke berobat menemui beberapa dokter dan tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan keadaan tidak berangsur membaik. Tapi Dirja masih bertahan dan hidup sampai sekarang. Segala dilakukan untuk bertahan hidup. Toh hal ini tidak memberikan keraguan dalam diri Dirja, terbukti dia termasuk dalam sepuluh anak yang diterima di kampus negeri terkenal di Jakarta. Dirja tak bodoh bahkan cenderung cerdas. Berbagai penghargaan sudah disabetnya dalam dunia yang digelutinya.
Rasa tak berharga, sendirian, tidak dipahami oleh orang lain selalu hinggap dalam hidup Dirja. Entah darimana gen ini berasal. Ibunya tampak seperti wanita sempurna yang hebat. Ataukah gen dari bapak? Bapak yang di masa tua lebih memilih tinggal sendiri di kaki gunung dan tidak memiliki tetangga seorang pun. Menarik diri dari peradaban dan bertahan disana seorang diri. Kadang Dirja kecil datang untuk mengantar beberapa bahan pokok untuk bapak. Kadang Dirja hanya menatap dari jauh saja gubuk milik bapak.
***
Hubungan orang tua dan anak antara Dirja dan bapaknya tidaklah berjalan lancar seperti kebanyakan orang. Bapak ingin Dirja menjadi seseorang yang sukses dan bisa membanggakan keluarga. Mendapat pekerjaan yang baik, menikah, memiliki keturunan, memiliki rumah dan mendapat pandangan dari masyarakat. Tapi Dirja adalah merupakan jiw ayang bebas yang tidak bisa terkekang dalam sebuah doktrin kenormalan. Dirja berulang kali menjelaskan kepada bapaknya bahwa dia bukanlah tipe manusia seperti itu.
“Aku ingin menjadi seperti bapak.”
Bapak hanya menatap kejauhan sambil menyesap rokoknya dalam-dalam. Dihembuskannya asap rokok. Menerawang jauh. Lalu memandang Dirja.
“Seperti bapak? Maksudmu kamu bangga akan hidup seperti ini?” suara bapak terdengar berat,
Dirja mengangguk pelan, tatapan matanya memandang lekat ke dalam mata lelaki tua di hadapannya ini.
“Apa yang mau kau banggakan dengan hidup seperti ini? Tak ada, Dir. Sadarlah dan hiduplah dengan caramu. Lakukan apapun untuk bertahan hidup. Asal kau tidak membunuh orang lain. Lakukan.”
Ingin rasanya Dirja menyanggah perkataan bapaknya tadi. Tetapi lelaki tua itu segera beranjak ke belakang rumah menuju bukit.
“Pulanglah, bilang pada ibumu, besok tanggal lima bapak akan mampir ke rumah.”
Dirja hanya memandangi punggung lelaki tua. Dirja hanya mampu berdiri di depan pintu dan menyaksikan sosok lelaki itu sampai menghilang.
***
Semenjak pertemuan pertama dengan Dirja, Gendis dua kali bertemu dengan Dirja. Menemaninya mengantar menuju lokasi launching dan menunjukkan beberapa toko untuk membeli beberapa peralatan untuknya melukis. Lalu beberapa kali bertemu untuk sekadar makan dan berdiskusi sedikit terkait dengan proyek yang mereka pegang.
Dirja mengikat rambut gondrong ke belakang dan menyelipkan rambut ekornya ke dalam ikatan terakhir membentuk manbun. Dirja seorang pelukis yang tidak merokok, minum atau pun mengkonsumsi obat-obatan. Pernah ketika Gendis menemani mencari cat sempat melihat seorang perempuan cantik yang menelepon Dirja. Suaranya manja, perempuan itu cantik bahkan seperti seorang puteri keraton, berambut panjang sebahu dengan bibir tipis.
“Cantik sekali. Itu pasti pacarnya.” Batin Gendis dalam hati.
“Gendis statusnya apa?”
“Eh, maaf. Apa?” jawab Gendis terbata-bata. Kaget mendapat pertanyaan yang blak-blakan dari Dirja. “Dasar orang aneh.”
Dirja tersenyum sambil menyibakkan anakan rambut pada sisi wajah kanan.
“Punya pacar?” Menatap dalam Gendis.
“Haaa …. Ini beneran Dirja bertanya apakah aku punya pacar atau tidak? Pertanyaan terlalu private. Pribadi banget sekali.”
Sahutnya dalam batin. Gendis menatap dalam ke arah kedua mata Dirja. Tatapan mata Dirja serasa membawa sesuatu yang membuat nyeri pada bagian d**a sebelah kiri. Rasanya seperti menusuk dalam. Nyeri.
“Ada tunangan tapi sudah putus enam bulan yang lalu.” Gendis terkejut akan jawaban yang begitu saja meluncur dari bibirnya. Gendis menutup mulutnya dengan jemari kanan sambil menarik kedua alis. Tatapan kedua mata itu seperti sihir yang membuat Gendis berbicara jujur apa adanya.
“Oh, belum jodoh, jika dia memang jodoh pasti kalian akan bersatu. Semesta selalu punya cara untuk memaksa manusia berbuat sesuatu di luar kuasanya.” Dirja menjawab pernyataan Gendis dengan tetap memandang lukisan besar sebagai latar belakang acara penting. Tanpa menoleh.
“Dingin.” Batin Gendis.
“Tadi yang telepon, pacarmu?” selidik Gendis?
“Pacar? Bukan. Cuma teman. Tapi kami dekat. Pernah melakukan beberapa kali proyek lukisan. Dia sebagai modelku. Sudah kuanggap seperti adik sendiri.” Jawab Dirja panjang kali lebar.
“Kenapa Dirja sampai menjawab panjang kali lebar tentang itu? Toh tak perlu seperti itu.”
“Nanti malam ada acara tidak? Mau datang ke kosku? Aku ingin menunjukkan sesuatu?”
“Berani sekali dia mengajakku ke kosnya. Apakah semua perempuan yang dikenalnya selalu diajak ke kos? Berdua saja? Lawan jenis? Ya aku bukan orang yang terlalu agamis. Tapi kami baru saja kenal. Seminggu.”
Gendis diam.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu tentang apa yang kita bicarakan kemarin itu?”
“Pertanyaanku yang mana? Ada banyak.” Sahut Gendis dalam hati.
Gendis hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara Dirja tampak sibuk membereskan apa yang ada di depannya. Berharap agar cepat selesai dan nanti akan segera menuju pulang. Ke rumah.
“Yuk, aku sudah selesai.”
Gendis terkejut akan kalimat ajakan Dirja. Tapi Gendis mengikuti Dirja berjalan menuju parkiran.
“Kosku dekat sini, tak mengapa tidak memakai helm. Kita lewat gang kecil nanti.”
Gendis hanya terdiam seperti kerbau tercucuk hidungnya. Gendis langsung naik ke jok belakang ketika Dirja mulai menyalakan mesin sepeda motor.
“Pegangan.”
Sepeda motor yang dinaiki dua insan itu menembus udara malam dan jalanan sepi. Langit tampak cerah. Beberapa bintang kelap-kelip mengiringi perjalanan mereka. Dedaunan tampak melambai ibarat memberikan tanda menyambut mereka. Hati Gendis bergetar. Jantung terpacu keras. Deru napas seperti tersekat. Dilingkarkan kedua tangan ke pinggang Dirja. Dirja memacu sepeda motor lebih keras.