Gendis memegang erat pinggang Dirja ketika Dirja memacu sepeda motornya dengan cepat.
“Kita makan dulu ya?”
Gendis tak mendengar kalimat apa yang diucapkan oleh Dirja. Dan dia juga tak mampu menjawab atau meminta pengulangan bahkan dia tak mampu untuk menolak ajakan Dirja. Entah apapun itu, dia hanya pasrah. Yang dia tahu hanya Dirja memasuki sebuah gang dengan banyak sekali penjaja makanan. Dirja mengurangi laju sepeda motornya, berbelok ke kiri lalu ambil kanan melewati beberapa penjual makanan dan berhenti di sebuah kios nasi goreng.
Nasi Goreng Pak Mul. Begitu tertulis pada banner di depan kiosnya.
Dirja memarkirkan sepeda motornya tepat di depan kios. Melepas helmnya diikuti oleh Gendis yang turun dari boncengan.
“Pak, nasi gorengnya dua dan es teh dua.”
“Oke mas Dirja. Tumben tidak dengan mbak Anna.”
“Anna lagi sibuk, Pak.”
Gendis terheran. Bagaimana sikap Dirja terhadap Pak Mul ini begitu sangat akrab dan hangat. Berbeda dengan dirinya yang bertemu pada pertama kali. Dingin dan kaku. Serasa asing dan terasing. Lalu tetiba saja bisa menjadi sangat hangat sekarang ini. Tak ada angin tak ada hujan lalu tiba menjadi dingin kembali.
“Anna? Siapa Anna? Wajar tidak jika aku bertanya? Apa hakku juga. Toh Dirja ini bukan siapa-siapaku. Tapi aku ingin sekali tahu, siapa Anna ini. Pacarnya? Gebetan? Atau hanya sebatas teman. Cantik atau tidak? Atau perempuan yang tadi telepon? Tapi mana ada teman sampai penjual makanan sampai hapal jika tidak sering bertemu. Sepertinya Dirja sering membawanya kemari. Bahkan penjual nasi goring itu saja sampai mengenalnya dengan baik.” Batin Gendis penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang melintas dan penuh sesak dalam d**a. Gendis berusaha menahan diri. Perempuan bisa saja menahan rasa marah, emosi yang meluap-luap. Tapi tidak untuk rasa cemburu.
“Disini adalah warung langganan favoritku. Harganya tidak begitu mahal dan porsinya gede banget. Portugal, seperti porsi tukang gali.” Jelas Dirja dengan disisipi tawa dan memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.
“Aku suka senyuman itu. Beruntung aku mengambil posisi duduk yang berhadapan sehingga aku bisa melihat jelas senyumannya dan bentuk wajahnya. Hidungnya yang besar dan mancung, bibirnya yang bagian bawahnya tebal dan berwarna pink sangat serasi dengan bibir atasnya yang agak tipis. Alisnya tebal dan membentuk sebuah lengkungan. Senyumnya manis. Tulang pipinya yang tidak begitu menonjol kalah dengan pipi yang berisi itu. Dan dengan jidat yang melebar menandakan jika seseorang itu sangat pintar dan berwawasan luas. Dan tentu saja, tatapan mata itu. Tatapan yang terasa sangat dekat, lekat dan menempel di hati. Entah bagaimana menjelaskannya. Sukar dijelaskan. Sulit digambarkan. Susah untuk diurai. Yang pastri aku sangat kenal tatapan itu.”
“Mikirin apa? Mikirin aku?”
“Eh, …” Gendis terkaget. Ucapan Dirja membuyarkan lamunannya, mengagetkan. Tampak Gendis salah tingkah dan segera pura-pura mengambil telepon genggam dan membuka chat yang tidak ada sama sekali yang masuk.
Dirja tersenyum melihat Gendis yang salah tingkah.
Dua buah porsi nasi goreng datang di hadapan Dirja dan Gendis. Yang terhidang di hadapan Dirja sebuah piring dengan ful penuh nasi goreng dengan toping irisan kol, irisan tomat, timun dan empat buah sate ayam. Dan di hadapan Gendis dengan porsi yang lebih kecil dengan toping yang sama dan dua tusuk sate ayam.
“Wah ada sate ayamnya. Baru kali ini tahu ada sate ayam di nasi goreng.” Sahut Gendis yang berbinar melihat nasi di hadapannya. Gendis langsung menyendok nasi goreng lalu menyuapkan ke mulutnya, “Enak. Seperti makanan di kafe.”
Tambahnya. Gendis memakan nasi goreng di hadapannya dengan lahap. Tandas.
Dirja tampak tak banyak bicara. Dia fokus menghabiskan nasi goreng dalam piring. Tak banyak pembicaraan dari ketika makan. Mereka berdua menikmatinya. Dirja melihat Gendis yang sudah menghabiskan makanan di hadapannya dengan lahap. Bahkan es tehnya pun sudah habis.
"Sudah?"
Gendis mengangguk. Tanda iya.
“Sampai ketemu lagi ya Pak Mul.” Dirja segera melambaikan tangan. Sebelumnya Dirja menyelipkan lima puluh ribu rupiah di bawah tempat sedotan. Gendis yang melihatnya heran. Belum sampai Gendis bertanya, Dirja langsung mengambil tangan Gendis, menggenggam, menarik dan segera keluar dari kios. Gendis tersentak kaget. Tapi tak bisa berbuat banyak selain mengikuti saja apa yang Dirja mau. Malam ini benar-benar berbeda. Banyak kejutan. Gendis tak bisa berbuat apa-apa sehingga dia hanya manut saja. Dirja banyak sekali misteri dalam hidupmu.
“Mampir lagi lain kali ya mas Dirja.” Sahut pak Mul yang sedang berada di depan kompor sedang memasak untuk pelanggannya.
Dirja menyalakan sepeda motornya, memakai helm dan Gendis naik ke boncengan. Ditariknya gas perlahan menuju kos Dirja.
“Mas Dirjaaaa ….” Teriak pak Mul dari kejauhan sambil memegang tinggi uang kertas berwarna biru ke atas. Dirja hanya mengklakson dan tetap memacu sepeda motornya.
Setelah beberapa saat, tibalah mereka berdua dalam sebuah perkampungan yang lumayan elit. Dirja memacu sepeda motornya berkelok ke kiri lalu ke kanan menuju pojok kanan. Sebuah rumah yang mungil dengan pagar berwarna putih. Ada sebuah car port dan beberapa kanvas rusak di dinding dalam.
“Ayo masuk.” Sahut Dirja
Rumah Dirja tidak menampakkan bahwa dirinya adalah seorang pelukis. Hanya tergantung beberapa lukisan bunga kamboja berwarna kuning berkelopak lima di dinding ruang tamu. Rumah yang dingin.
“Mau minum apa? Dingin atau panas? Kopi mau? Atau teh saja ya? Disini adanya teh. aku tidak begitu suka kopi.”
“Tidak usah repot-repot. Air putih saja.”
“Begini, ini beberapa contoh sketsa yang aku akan ajukan kepadamu. Entah dalam dua hari ini aku ingin mengubah desain yang aku ajukan sebelumnya.” Dirja membawa beberapa lembar sketsa hasilnya di hadapan Gendis. “Menurutku desain sebelumnya ada yang kurang pas dan tidak sreg saja.” Dirja menyodorkan beberapa sketsa ke Gendis. Gendis menerima sebuah tumpukan sketsa dari tangan Dirja. Setelahnya Gendis tenggelam dalam guratan-guratan sketsa milik Dirja yang ada di hadapannya. Sesekali Gendis mengulang sketsa yang terlewati, Mendalaminya, memandang cukup lama dan berusaha memahami apa sebenarnya yang diinginkan Dirja. hasil yang kemarin saja sudah cukup bagus dan sangat ideal di mata Gendis dan Bu Lia. Dimana letak salahnya?
“Kamu yakin kita akan tepat waktu jika akan menggantinya dengan desain baru?” Gendis bertanya.
“Sebenarnya jika kamu bisa mengamatinya lebih teliti, ini tidak sepenuhnya mengubah semua desain sebelumnya. Hanya butuh beberapa tambahan yang sangat mencolok maka hasilnya akan berbeda. Coba lihat deh.” Dirja mendekat ke Gendis dan mengambil sebuah sketsa dan mengambil sebuah plastik mika dan menaruhnya di atasnya lalu mencorat-coret beberapa warna pada mika tersebut.
“Bagaimana menurutmu? Terlihat berbeda bahkan seperti gambar yang baru kan? Bahkan jauh berbeda.”
Gendis mengambil sketsa itu dari tangan Dirja dan melihatnya kembali dengan seksama. Diangkatnya kertas mika lalu dia menaruhnya kembali di atas sketsa itu. Benar lukisan itu tampak berbeda jauh. Seperti desain baru dan tampak lebih hidup.
“Brilliant! Tampak lebih hidup.”
Dirja tersenyum melihat wajah Gendis yang tampak suka dengan hasil karyanya. Dirja segera masuk ke dalam dapur. Beberapa saat kemudian keluar membawa dua buah gelas teh hangat. Ketika Dirja akan memberikan gelas untuk Gendis, secara tak sadar Gendis berdiri dan ingin menerima gelas itu. Lalu kepala mereka bertumbukan.
“Aduh,” kata Gendis.
“Maaf. Sakit?” tanya Dirja segera meletakkan dua gelas teh hangat itu dan menuju wajah Gendis. Dirja mendekatkan wajah ke arah Gendis. Jarak kedua wajah mereka begitu dekat. Bahkan napas Gendis dapat dirasakan oleh Dirja. Begitupun sebaliknya. Jantung Gendis berdetak dengan kencang, tubuhnya serasa terkunci, napasnya seperti terhenti di tenggorokan. Dengan perlahan Dirja semakin mendekati wajah Gendis. Dekat. Dekat. Semakin mendekat. Gendis menutup mata. Kejadiannya begitu cepat. Bibir Dirja mendarat di bibir Gendis. Dirja merasakan basah, hangat dari bibir Gendis. Dirja menggerakkan bibirnya dan memagut bibir Gendis lebih dalam. Gendis diam. Lalu bereaksi membalas apa yang dilakukan oleh dirja. Dia hanya bisa mengikuti apa yang diperbuat oleh Dirja. Selama beberapa saat, waktu tampak berhenti. Udara tampak terasa gerah. Dua insan ini tampak seperti dua buah patung yang membisu dan beradu. Saling berpagut. Tangan kanan Dirja memegang belakang kepala Gendis. Gendis masih menutup mata.
“Aku … aku tak bisa berpikir. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku.” Batin Gendis.
“Tapi entah apa ini? serasa ada kekuatan besar yang membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Aku bahkan tak kuasa untuk melawannya. Dirja, siapakah sebenarnya dirimu?” Jantung Gendis berdetak semakin keras. Serasa jantung terpompa keluar.
Dirja menghentikan gerakan bibirnya yang memagut Gendis dengan erat. Dirja memundurkan tubuhnya, melepas pagutan dan dengan wajah merasa bersalah berkata, “Maaf, …." Dirja menatap wajah Gendis yang tampak bingung. "Aku pesankan taksi online.”
Dirja meraih telepon genggamnya dan membuka sebuah palikasi online dan memesan sesuai dengan alamatnya.
Gendis masih terpaku di kursi. Diam seribu bahasa dan berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.