Semalam Gendis pulang dengan selamat diantar oleh taksi online yang sudah dipesankan oleh Dirja. Dan pagi ini Ia berangkat bekerja dengan perasaan yang entah apa namanya. Gendis memegang bagian d**a berusaha untuk menenangkan jantung berdebar dengan sangat kencang. Sejak semalam rasanya jantung terasa ingin copot. Dia masih tak menyangka kejadian semalam masih begitu membekas dan terasa begitu nyata di ingatan. Rasanya seperti mimpi. Entah mimpi indah atau malah menjadi mimpi buruk. Hangat bibir Dirja masih terasa lembut di bibir. Hampir semalaman dia tidak dapat memejamkan mata untuk tidur karena kejadian itu. Kejadian yang sama sekali tidak disangka oleh Gendis sama sekali. Mana berani Gendis berkhayal jika Dirja akan mencium bibir. Mana ada terlintas di pikirannya dia akan bersama dengan Dirja pada malam itu. Semua terjadi begitu saja. Ciuman yang terasa hangat dan lembut. Tak terasa jemari Gendis menyentuh bibir sendiri dan merabanya.
“Ah apa yang kulakukan? Mengapa pikiranku menjadi tidak tenang. Sekelebat wajah Dirja selalu terbayang. Membayangi bahkan melekat erat. Tak jenak, gundah dan tak karuan rasanya. Sudah dari semalam bahkan Dirja tidak ada tanda-tanda memberinya kabar atau setidaknya meminta maaf atas perbuatannya.” Gendis berdebat dalam hati. “Hari ini pasti akan terasa lama.” Gendis menghela napas dan mengambil telepon genggam. Melihat kontak pada aplikasi biru dan melihat sebuah kontak: Dirja, last seen 02.49.
“Berarti seharian ini Dirja belum membuka teleponnya. Apa aku yang harus menghubunginya duluan? Ah tidak mungkin, nanti apa katanya jika aku menghubungi duluan. Malu. Harga diri.” Gendis masih bergelut dengan batinnya.
“Cukup hari ini dengan Dirja. Eh tentang Dirja. Fokus kerja!” seru gendis dalam hati lalu mengambil beberapa file yang akan diberikan kepada Bu Lia.
***
Malam selepas Dirja mengantar Gendis naik taksi online, ia masuk ke dalam kamar dan merasa sangat bersalah kepada Gendis. Parfum yang digunakan oleh Gendis mengingatkan Dirja kepada salah seorang perempuan yang dulu pernah dicintainya. Perempuan yang pernah dia sangat sayangi dan yang juga mematahkan hati lalu dengan tega menyakiti.
Dari pertama berjumpa dengan Gendis, perasaan Dirja juga tak karu-karuan. Ada degup, debar dan rasa tersengat di sekujur tubuh. Dirja sendiri tak tahu menahu tentang perkara apa itu. Dirja sebenarnya sudah memasang batas antara dirinya dengan Gendis. Dia tidak ingin untuk terlibat terlalu dalam dan terlalu jauh. Tapi entah, tubuhnya serasa memiliki pikirannya sendiri sehingga insiden malam itu terjadi. Insidean yang sebenarnya sangat diharapkannya. Mampu mengecup bibir milik perempuan itu.
“Aku hanya merasa bersalah. Haruskah aku minta maaf kepada Gendis? Toh itu hanya sebuah ciuman. Itu tak berarti apa-apa.”
Dirja baru saja membuka matanya. Diliriknya jam pada meja di samping tempat tidur. Jarum jam menunjukkan pukul Sembilan lebih dua puluh.
“Ah tidurku mulai kacau.”
Dirja bangkit kemudian mengambil segelas air dan meminumnya. Dirja mendekati desain yang semalam dia ajukan kepada Gendis. Dirja bertekad dalam hati akan menyelesaikannya hari ini juga. Dirja segera membawa contoh desain itu menuju lantai atas. Sebuah kamar khusus tempat kerjanya. Dia menghabiskan harinya disitu.
Tepat pukul delapan malam. Semua desain yang diajukan kemarin pada Gendis sudah selesai.
“Besok akan kubawa menuju tempat showroom dan selesai sudah tugas kali ini. Tak perlu bertemu Gendis. Aku masih merasa bersalah kepadanya.”. Dirja mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
***
Acara yang dipegang oleh Gendis sukses besar sehingga mendapatkan pujian dari tamu undangan yang datang maupun oleh Bu Lia.. Peningkatan yang melebihi target menjadi tolak ukur keberhasilan proyek yang dipegang oleh Gendis. Berulang kali Bu Lia memuji Gendis sebagai chief terbaik di divisinya. Hari ini memang hari terbaik untuk dirayakan. Wajah Bu Lia tampak sumringah serta bangga. Dia tak salah memilih project manager.
“Tapi dimana Dirja?” tanya Gendis dalam hati sambil memandangi sebuah desain lukisan berwarna merah dengan latar hijau yang sangat hidup. Memberikan kesan sederhana tapi elegan. Gendis menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Tak ada sosok Dirja. Tak ada sekelebat lelaki berambut gondrong itu.
“Bagaimana bisa dia tidak datang ke acara ini. Aku ingin merayakan hasil kerja kami berdua.” batin Gendis merajuk.
“Selamat ya Gendis, kamu memang bisa diandalkan. Saya tidak salah menunjukmu untuk menjadi penanggung jawab kali ini.” Bu Lia memberikan pujian kepada Gendis. Senyum di wajahnya sedari tadi tak luntur.
“Ini semua berkat kerja tim, Bu. Tanpa mereka saya bukan apa-apa.” Sahut Gendis sambil tersenyum simpul.
“Kau harus mulai terbiasa mendapatkan pujian macam ini. Kau memang berhak mendapatkannya.”
“Terima kasih, Bu Lia.”
“Sini akan kukenalkan pada beberapa teman bisnis perusahaan kita. Mereka mengagumi konsep kita ini.”
Gendis menurut saja ketika dibawa untuk menyambut dan diperkenalkan pada para tamu oleh Bu Lia. Raut Bu Lia pada malam hari ini sangat bersinar karena kesuksesan acara ini. Gendis turut lega dan ikut merasa bangga. Pikiran Gendis tetap terpaku pada Dirja. Tubuh Gendis ada di showroom tapi jiwanya melayang entah kemana.
"Ini semua berkatmu juga, Dir."
Tak terasa dua jam telah berlalu. Gendis segera menghindari kerumunan dan menuju ruang pojok untuk menyendiri. Dibukanya balkon dan ia keluar menikmati angin malam. Tampak bulan bersinar redup, membagikan langit hitam untuk bintang bersinar.
"Apakah Dirja ada di salah satu bintang yang bersinar itu? Ataukah dia menjelma menjadi bintang yang paling bersinar satu-satunya di langit yang kupandangi malam ini?" Angin berhembus dengan perlahan membelai kulit Gendis.
Malam ini terasa melelahkan. Terlebih lagi tak ada berita dari Dirja.
“Kemana dia?”
Gendis membalikkan badan dan menyapu kembali pandangan di seluruh ruangan besar itu. Tak ada jejak Dirja. Tak ada bayangan sedikit pun tentang Dirja. Tidak ada kabar berita, tak ada pesan, tak ada apa pun. Hilang. Lenyap. Bagaikan ditelan bumi.
“Dirja dimana kamu?” tanpa sadar Gendis mengucap namanya dengan lirih.
“Apakah aku harus ke rumahnya? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Atau bagaimana jika dia mengalami serangan jantung atau ada perampok yang masuk ke dalam rumahnya?”
“Ah pikiran macam apa ini?”
“Mbak Gendis dipanggil Bu Lia.” Anak magang ini, Asri, mendekati dan membuyarkan lamunan Gendis.
“Baik, saya akan kesana.” Gendis berusaha untuk tetap tersenyum. Ia kembali bergabung dengan yang lain.
Sampai acara selesai tidak ada sosok Dirja menampakkan diri. Gendis bersiap untuk pulang ketika sebuah pesan masuk ke dalam gawainya.
“Selamat atas kesuksesan proyeknya. Kamu memang pantas untuk dipuji. Dan malam ini kau terlihat berbeda, kamu cantik.” Dirja. Sebuah pesan pendek masuk ke dalam gawai miliknya. Terkirim baru saja.
Gendis segera menengok ke kiri dan kanan menebarkan pandangan. Tak ada seorang pun. Tak ada Dirja. Gendis berlari menuju pintu depan. Tak ada sosok Dirja.
“Oh mungkin saja Dirja hanya melihat dari beberapa story kontak teman-temannya.” Batin Gendis berusaha memupus apa yang sedang mengusik hatinya.
Gendis menaiki taksi pesanannya dan menuju rumahnya. Pulang.
***
Dirja melihat Gendis dari kejauhan. Dia paham bahwa ia ingin ditemani olehnya. Dirja menatap lama memandang gaun yang dipakai oleh perempuan yang baru diciumnya tadi malam itu berkibar terkena angin. Tata rias dan rambut sesuai dengan gaun dan kepribadian Gendis.
"Semoga kau paham apa yang kumau. Jangan menantiku karena aku tak akan datang malam ini. Rasa bersalah ini masih besar." Dirja mengambil handphone miliknya dan mengirimkan pesan kepada perempuan itu.
Dirja menutup kaca helm, memasukkan gigi dan tancap gas pulang.
***
Gendis bolak balik menata tubuhnya untuk tidur. Pikirannya kemana-mana. Siapa lagi kalau bukan Dirja. Sosok Dirja ini begitu menyesak dan melesap ke dalam rongga hati dan pikirannya.
“Kemana Dirja? Setidaknya dia harus menjelaskan kejadian itu. Kejadian bagaimana dia dengan entengnya mendaratkan sebuah kecupan di bibirku. Aku yang bukan apa-apanya. Aku dia anggap apa? Bagaimana dia memandangku yang hanya diam ketika dia perlakukan begitu? Lantas apakah harus aku yang menjelaskan dan meminta maaf bahwa aku hanya diam dan tidak berbuat apa-apa selama kejadian itu. Apakah aku harus menjelaskan bahwa tubuhku saja tak dapat kugerakkan. Aku seperti freeze.” Gendis membalikkan badannya dari kiri ke kanan. Gendis mengambil teleponnya dan segera membuka aplikasi hijau itu.
“Online.”
Teriak Gendis sehingga dia segera bangkit dari tidur dan duduk sambil memandang gawainya.
“Haruskah aku kirim pesan kepadanya? Mau bilang apa? Terima kasih atas ucapannya? Kamu kemana tidak terlihat hari ini? Bahkan kemana saja selama tiga hari ini? Kapan kita bisa bertemu?” Gendis masih memegang teleponnya. Menatap layar.
Last seen 02.39.
“Dirja offline.” Gendis tampak kecewa lalu merebahkan dirinya kembali.
Dipandanginya layar telepon genggamnya dengan seksama. Pertanyaan yang sama masih berputar-putar dalam dirinya.
Tak terasa Gendis pun terlelap.
***
“Ada waktu? Bagaimana jika kita bertemu selepas kau pulang dari kantor hari ini.” sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi hijau itu.