Udara musim kemarau terasa sangat dingin kali ini, terasa menusuk sampai ke tulang. Gendis terbangun dari tidurnya dan membuka mata. Segera dia menyambar telepon miliknya. Ada satu pesan masuk. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka.
“Apa? Buat apa dia menghubungiku lagi? Kita sudah berakhir dan benar-benar selesai. Tamat.”
Gendis melempar telepon ke sebelahnya. Segera beranjak menuju dapur dan meminum segelas air putih. Lalu segera menuju kamar mandi. Segera dia melepas bajunya dan pergi membasuh badan. Selesai mandi dengan balutan handuk yang masih di kepala, Gendis mengambil hp kembali dan mengecek satu nama kontak. Lagi. Last seen yang masih sama.
“Kamu dimana?” Gendis berangkat bekerja dengan langkah gontai dan malas. Tidak seperti biasa, hari ini dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Rasa sakit, kecewa, marah. Masih terasa. Seperti luka baru yang masih tersayat.
"Hei ini sudah hampir setahun berlalu. Mengapa rasa sakit ini masih begitu nyata. Aku sudah merelakannya. Melepasnya. Dan tidak berharap apapun lagi. Aku lelah menjadi seperti ini. Aku tak ingin mengambil pusing. Aku ingin melupakan semua. Tak mungkin aku akan berada pada titik itu lagi. Aku kuat. Aku bisa. Kenapa hari ini pikiranku begitu riuh? Masa lalu yang hadir kembali. Ada satu sosok baru malah menghilang tanpa kabar sedikitpun.” Ada seujung air menggumpal di ujung mata Gendis. “Aku tak ingin menangisi dia lagi.” Gendis mengusap air mata di ujung matanya menggunakan punggung tangannya.
***
Kejadian pada malam itu tiba-tiba saja berkelebat. Malam yang menghancurkan dan meluluhlantakkan semua dunia mimpi yang dibangun oleh Gendis. Gendis merasa dunianya runtuh, hancur berkeping-keping. Hatinya terbagi menjadi serpihan-serpihan kecil dan tersebar dimana-mana. Gendis tak menyangka Aditya bisa berbuat sekejam itu kepadanya.
Sebuah pesan masuk dalam bentuk foto dan itu sudah membuktikan semua kecurigaan Gendis. Aditya, sosok lelaki itu berbaring tertidur lelap dengan seorang perempuan.
***
Aditya Janu Wicaksono. Lelaki bertubuh tinggi dan berkulit hitam manis. Sudah mengisi hari-hari Gendis. Gendis mengenalnya selepas SMA. Ketika dia sedang berkutat dengan kehidupan baru menjadi seorang mahasiswa. Bagi Gendis yang tinggal di sebuah kota kecil hal tersebut adalah impian besar yang selalu ditunggu. Perkenalan Aditya dan Gendis terjadi karena Aditya datang sebagai kakak kelas dari alumni salah satu universitas yang datang ke SMA Negeri itu.
Sejak pertama melihat Gendis, Aditya sudah jatuh hati padanya. Rambut panjang lurus nan hitam tebal sampai melebihi pinggang. Hal ini yang membuat Aditya langsung menaruh perhatian lebih pada Gendis. Iya, Aditya, Janu adalah orang yang sama.
***
Gendis sebenarnya di awal perkenalan merasa biasa saja. Gendis hanya menganggap Aditya sebagai seorang kakak laki-laki yang tak pernah dimilikinya. Dalam kamus Gendis tidak ada namanya berpacaran. Andai hati Gendis akan terusik maka itu harus menjadi cinta pertama dan terakhir. Aditya pernah suatu hari tiba-tiba datang ke rumah Gendis tanpa memberitahu Gendis. Gendis pun kaget. Karena merasa tidak memiliki teman Aditya. Baru ketika Aditya menceritakan dan memperkenalkan dirinya Gendis menjadi paham.
“Maaf saya tidak mengenali mas Adit. Ketika kedatangan rombongan kakak, saya dan teman-teman Osis sedang mengurus sesuatu. Jadi melihat kakak hanya sepintas lalu saja.” Gendis berusaha meminta maaf karena tidak mengenali Aditya.
“Tidak mengapa. Maaf juga jika saya membuatmu terkejut dengan tiba-tiba main ke rumahmu tanpa memberitahu dulu. aku mendapatkan alamat rumahmu dari Novi, teman sebangkumu.” Jelas Aditya panjang lebar. Mereka berdua mengobrol dengan asyik. Terkadang diiringi dengan diskusi serius. Tak terasa sudah dua jam mereka ngobrol dan Aditya berpamitan pulang.
“Besok-besok boleh mas Aditya main lagi?”
“Boleh, silahkan mas.”
Bagai mendapat angin segar, Aditya bertekad untuk mendapatkan Gendis. Menyelesaikan kuliah, wisuda, medapatkan pekerjaan dan menikahi Gendis. Itu tujuan hidupnya sekarang.
Dan perjuangan cinta mendapatkan Gendis pun dimulai. Aditya sering berkunjung dan main ke rumah bahkan kos Gendis. Sering juga Aditya mengantarkan ke rumah murid les privatnya. Selain menjadi mahasiswa Gendis juga ikut dalam sebuah lembaga pendidikan di luar kampusnya. Karena Gendis juga menyukai anak kecil. Toh ini juga tidak mengganggu sama sekali aktifitasnya yang ada. Bahkan bisa cukup untuk membeli berbagai macam kebutuhan pribadinya. Skinker, perawatan rambut, tangan dan kuku.
“Nanti aku akan antar Gendis ke rumah Aisha ya? Jangan menolak. Mas tidak suka ditolak.”
“Gendis gak enak mas. Takut ganggu kegiatan mas. Masak diantar jemput terus. Udah kayak tukang ojek saja.”
“Sudah, tidak mengapa. Kamu ini kayak sama siapa aja.”
“Iya deh iya. Oke siap bos.” Jawab Gendis lalu mengangkat tengannya menuju pelipis membentuk gerakan hormat. Mereka pun tertawa.
Walau ternyata Gendis tidak masuk ke dalam universitas yang sama dengan Aditya tetapi Aditya masih terus mendampingi Gendis mengantar kemana-mana. Ini tak menjadi masalah dengan keluarga. Karena Aditya ini juga memiliki karakter yang sopan, hormat pada yang lebih tua dan seperti anak baik-baik. Menantu idaman banget. Adit memang selalu bersikap manis kepada Gendis. Dia memperlakukannya dengan sangat hati-hati bagaikan barang pecah belah. Adit sangat saying kepada Gendis dan mereka berdua tahu itu.
“Nanti kita pergi keluar ya? Aku mau ngomong sesuatu yang serius ke kamu.” Suatu hari Aditya memberanikan diri untuk menyatakan isi hatinya.
“Oke, aku akan pulang cepat sepertinya hari ini.”
“Sampai ketemu nanti malam.” Gendis mengangguk dan langsung memasuki kosnya.
Sore itu Aditya Nampak memakai baju kemeja kotak-kotak dengan kaos berwarna putih di dalamnya dan celana jins berwarna biru tua. Dengan sepeda motornya dia menjemput Gendis. Lalu membawanya ke sebuah kafe kecil di kota itu. Pengunjung kafe itu tidak begitu padat dan terdiri dari hanya beebrapa anak muda saja. Mungkin karena ini tanggal tua jadi setoran para mahasiswa out menjadi menipis sehingga tidak bisa digunakan untuk hidup hedon.
“Hari ini mas Adit sudah diterima bekerja di salah satu perusahaan yang sudah lama mas incar. Kita disini merayakan peristiwa penting ini.”
“Wah selamat ya mas. akhirnya tercapai juga impianmu selama ini. Selamat sekali lagi.” Gendis ikut berbahagia akan berita yang Aditya disampaikan itu.
“Selain itu aku juga ingin berbicara serius denganmu Dis. Jadi gini, kita sudah hampir setahun dekat dan sekarang mas juga memiliki pekerjaan tetap. Mas ingin nanti secepatnya akan melamarmu. Mas tidak ingin didahului orang lain. Mas ingin melamarmu.”
Gendis hampir tersedak larena ketika Aditya berkata dan membuat pengakuan Gendis sedang menyeruput jus alpukat kesukaannya. Gendis mengambil tisu di depannya dan melap mulutnya.
“Gimana mas Aditya?” tanya Gendis membuka mata lebar karena terkejut.
“Iya secepatnya mas akan melamarmu. Kamu mau kan?”
“Ta tapi mas. Aku belum selesai kuliah. Lagipila mas tahu kana pa yang menjadi impianku kali ini.”
“Aku tidak akan memaksamu. Sama sekali tidak. Tapi mohon, terima saja pertunangan kita ini ya?”
Gendis pun tak dapat menutup rasa bahagia. Walau ada terselip rasa ketakutan disana. tapi dia tetap memiliki kepercayaan bahwa mas Aditya akan menjadi imam yang baik bagi keluarganya kelak.
“Mas Adit, Gendis boleh minta sesuatu?” tanya Gendis sambil tersenyum.
“Apa? Semampuku akan aku dapatkan buat Gendis.”
Gendis menggelengkan kepalanya. “Aku ingin mulai sekarang memanggil mas Aditya mnenjadi mas Janu.”
Aditya mengerutkan dahinya dan lalu tersenyum.
“Iya senyamanmu saja.”
Mereka berdua tampak bahagia di bawah sinar rembulan dan diiringi oleh suara musik di kafe itu. Entah mengapa, ada rasa kosong di salah sudut hati Gendis. Ruang kosong yang tak dapat dijabarkan seperti apa. Gendis menepis rasa itu. Dan tenggelam bersama Janu. Bahwa dia bisa yakin, mungkin suatu saat dia bisa menerima sepenuhnya Janu sebagai pendamping hidupnya.
Gendis memandang laki-laki di depannya. Janu melihatnya, membalas dengan senyuman. Tangan Gendis digenggam erat olehnya. Hangat.