Sebuah mobil BMW berwarna hitam terparkir di depan kantor. Hari ini memang Gendis tidak membawa sepeda motornya. Malah muncul masalah baru. Dia mengenal persis siapa pemilik mobil itu. “Dis, Gendis.” Teriak seseorang memanggil nama Gendis dan Gendis sangat hapal sekali dengan suara itu.
Sudah hampir setahun lebih tepatnya tujuh bulan setelah perpisahan itu, dia tak mendengar suaranya. Gendis menoleh ke arah suara itu dan diam terpaku di tempat.
“Mau apa lagi, mas Janu. Sudah cukup. Ini sudah terakhir, mas. Jangan ganggu aku lagi.” rasanya tubuh Gendis lemas dan tak ingin berdebat terlalu lama. Apalagi ini jam pulang kantor, banyak karyawan yang keluar dari pintu utama. Dia tak ingin menjadi buah bibir di antara karyawan yang lain.
“Tunggu dulu, Dis. Dengarkan aku dulu. Atau setidaknya anggap aku sebagai seseorang yang kamu kenal dulu. Seseorang yang pernah ada dalam hidupmu walau sekarang tidak. Aku hanya ingin bicara. Beri kesempatan sekali ini saja.” Gendis tidak ingin ribut di depan kantor dan terlihat banyak orang lalu lalang. Dia memandang wajah Janu. Wajah yang terlihat tampak kurus dan tak terlihat agak menghitam. Raut wajahnya tampak melas dan terasa ingin dikasihi.
"Ada masalah bu Gendis?" seorang satpam mendekat dan bertanya pada Gendis.
"Ah tidak apa-apa Pak Andi. Ini kawan lama saya," sahut Gendis berusaha tersenyum. Senyum terpaksa. Untung saja satpam yang bernama Pak Andi itu pengertian. Dia terkenal sebagai orang baik dan mudah untuk memberikan pertolongan.
"Apa aku minta tolong Pak Andi untuk mengusir Janu dari hadapanku ya? Tapi bagaimana nanti tanggapan karyawan lain yang melihat insiden ini?"
"Bu Gendis, ada yang bisa saya bantu?" kata Pak Andi dengan sopan.
"Tidak, pak. Mari Pak Andi." Akhirnya ia pun luluh dan memberikan kesempatan pada lelaki itu. Lalu mengikut saja ke arah mobil Janu.
Janu melaju melesat menuju sebuah kafe. Sesampainya di kafe, Janu masuk dan mengambil tempat yang agak ke dalam dan tidak begitu bising. Seorang pelayan perempuan datang dan menyerahkan daftar menu kepada mereka berdua.
“Pesan seperti biasa?” tanya Janu meyakinkan makanan favorit gendis masih yang sama. Gendis hanya terdiam dan membuka teleponnya. Setelah beberapa saat dia membuka dan menjawab beberapa japrian lalu mulai berbicara dengan Janu. Sempat diliriknya kontak atas nama Dirja, masih dengan last seen yang sama.
“Mau bicara apa?” tanya Gendis dengan sedikit nada yang direndahkan dan datar. “Sebelumnya mas hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan proyekmu beberapa saat kemarin. Acara itu bahkan sampai diperbincangkan tiga hari berturut-turut. Kamu memang selalu saja membuat terobosan besar. That’s my girl.”
“Datang jauh-jauh dari Semarang hanya ingin mengucapkan selamat?” Gendis berusaha untuk tidak kasar. "Dan satu lagi, I'm not your girl."
“Tolonglah Gendis, beri mas kesempatan. Setidaknya angkat telepon dari mas. Atau balaslah japri mas. Mas tahu mas salah. Tapi jangan perlakukan mas seperti ini. Biarkan mas tahu apa kabar dan keadaanmu di sini.”
“Mas Janu! Mas Janu harusnya bisa paham. Aku berterima kasih akan kebaikanmu dan hadirnya dirimu di hidup aku selama ini. Aku berterima kasih karena mas Janu sudah menemaniku selama ini. Tapi maaf mas. Untuk yang satu itu aku masih belum mampu untuk memaafkan. Oke memang bisa aku bilang memaafkan. Tapi mungkin untuk menyembuhkan rasa sakit hati ini masih belum bisa. Aku juga tidak ingin menyakiti hatimu, menyakiti kita berdua. Dua-duanya akan hancur, mas. Pun sama aku tak ingin menyakiti hatiku lagi. Aku juga tak ingin menyakitimu terus-terusan. Sudah cukup mas Jan. Sudah cukup. Mas Janu melakukannya bukan sekali dua kali mas, tapi empat kali. Apa … apa kita harus mengulang lagi keputusan yang sudah kita ambil bersama?” Gendis berusaha menjelaskan panjang dan lebar apa yang dia rasakan selama ini.
Janu terdiam.
“Mas Janu tidak akan paham apa yang sudah aku alami selama ini. bagaimana aku menghadapi orang-orang. Bagaimana aku menghadapi diriku sendiri. Aku merasa bersalah. Aku merasa tak berguna. Aku bahkan merasa terbuang mas. Dan ini semua karena aku merasakan bahwa duniaku runtuh. Runtuh bersama rusaknya kepercayaan yang sudah aku buat. Lalu mas sekarang tiba-tiba datang di hadapanku dan ingin mengulang masa lalu karena kita dulu pernah ada hati? Tega kamu mas.”
“Aku bisa jelaskan Gendis. Dengarkan aku dulu.”
“Cukup mas. Cukup.”
“Gendis, tolong. Dengarkan aku kali ini saja.” Gendis sudah hampir berdiri dari kursi dan tangan Janu dengan cepat memegang tangan Gendis. Gendis lalu duduk kembali.
“Baiklah Dis. Baiklah. Mas mengaku salah. Mas bersalah karena Rita sudah masuk ke dalam hidup kita. Mas terlena membiarkan Rita perlahan melesap dan merusak ini semua. Aku khilaf Gendis. Khilaf. Tuhan saja memberikan maaf pada hambanya yang mengakuyi dan memohon ampun. Kita sebagai umatnya tida? Mohon maafkan aku.” Janu dengan wajah memelas berusaha menjelaskan dari sudut pandangnya.
“Aku sudah berusaha menghubungimu di Semarang melalui seluruh teman-temanmu. Mereka tak ada yang mau membuka mulut memberikan informasi. Kamu bagai hilang ditelan bumi. Yang tidak tahu entah bagaimana cara aku akan menjelaskan tentang ini.”
Gendis hanya terdiam saja memandang ke luar dinding kaca dari kafe itu. Terlihat sebuah taman kecil hijau dengan bunga berwarna ungu kecil tergantung pada beberapa ranting sebuah pohon besar. "Tuhan katamu, mas? Tuhan yang mana yang bisa menduakan hati dan membagi cinta apalagi sampai bersetubuh tanpa ada ikatan, mas. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, mas."
“Tolong dengarkan aku sekali ini saja. Setelah itu terserah kau akan berbuat apa. Baiklah aku akan bercerita." Janu tampak menghela napas, menutup kedua matanya sebentar lalu memandang Gendis. "Rita sudah menunjukkan sifat aslinya. Dia hanya suka kepada uangku saja. Tolonglah Gendis. Beri aku kesempatan sekali ini saja. Biar aku membangun lagi dinding kepercayaanmu. Biarkan aku mewujudkan impianmu, impianku, impian kita berdua yang dulu. Ijinkan aku mencintaimu sepanjang sisa hidupku Dis. Please.” Suara Janu tampak mengiba.
Gendis tampak bergeming sedikit pun. Dia masih saja menatap keluar jendela. Minuman yang dipesan datang. Sebuah lemon tea dan juga jus alpukat untuk Gendis. Gendis meminum jus itu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa panas. Gendis menghela napas lalu berkata, “Mas Janu, keputusanku sudah bulat. Kau pasti juga sudah paham aku seperti apa orangnya. Bagiku menyalahgunakan kepercayaan yang sudah aku berikan itu sangatlah fatal dan damagenya bukan main. Jadi tolong mas Janu mau menghormati apa keputusan yang sudah kubuat. Dan mas pasti tahu, bagaimana konsekuensinya.”
“Dengarkan mas dulu Dis.”
“Mas, …. Tolong, dengarkan kali ini. Sekali ini Gendis ingin mas berhenti. Cukup mas. Sudah cukup mas berusaha dan aku menganggap ini sudah impas. Keputusanku masih sama. Maafkan aku mas.”
Janu diam lalu mengambil napas. Pesanan makanan mereka berdua datang. Tapi rasanya napsu makan pun hilang menguap entah hilang kemana. Sama seperti rasa yang hambar dan tidak bertepi dalam hati Gendis.
Gendis memandang wajah lelaki di depannya ini. Tampak lebih kurus dan tirus. Mata yang sayu, kantung mata yang menunjukkan kelelahan karena tak cukup tidur. Lelaki yang dulu pernah mencintainya dan dicintainya. Sesosok yang dulu begitu menghiasi setiap hari. Dan ya, apa yang begitu cintai, biasanya yang menyakiti pula paling besar. Sesuatu yang paling dekat dengan kita berpotensi lebih besar untuk menyakiti.
“Ah itu bukan urusanku lagi.” Gendis berkata dalam hati sambil membuang wajahnya ke dinding luar lagi.
“Kamu makan ya?” Janu berkata sambil memberikan sendok dan garpu ke depan Gendis. Raut wajahnya tampak berat. Dia mulai menghabiskan makanan yang ada di depannya. Begitu pun dengan Gendis walau rasanya hampir seperti tidak tertelan dan terhenti di tenggorokan.
“Mbak, bisa pesan air mineral?” Gendis memanggil pelayan untuk mengambilkan air. Setidaknya tenggorokannya akan basah dan tidak terasa kering. Gendis memaksakan makanan di depannya masuk ke dalam perutnya. Dia tidak ingin membuang makanan. Makanan ini sebenarnya termasuk makanan favorit. Janu yang memperkenalkan menu ini dulu ketika awal masa kuliah. Mix Grill dari salah satu restoran di Adi’s Culinary, Pleburan. Tapi hari ini rasanya terasa hambar. Tak ada rasa sama sekali. Gendis pamit menuju kamar mandi untuk menata dirinya. Sebenarnya yang ingin ditata kembali bukan dari kosmetik yang digunakan oleh Gendis. Hati Gendislah yang butuh penataan. Gendis menghela napas panjang. Dia menatap wajahnya di cermin.
“Kamu kuat Gendis!” Gendis lalu menuju Janu. “Aku pamit ya. Capek banget hari ini?”
“Aku antar ya?”
“Gak usah repot-repot mas. Biar aku naik angkutan online aja.”
“Gapapa Dis. Tidak merepotkan sama sekali.” Janu mengambil kunci mobilnya. Dan mulai berdiri dari kursinya.
“Mas, biarkan aku pulang sendiri.”
Janu tertegun melihat Gendis. Tapi juga sadar tak mungkin untuk memaksakan kehendaknya. Ia sadar bahwa Gendis sudah jauh melangkah untuk meninggalkannya. Sudah memiliki kekuatan untuk pergi dari dirinya. Sebuah penyesalan hadir dalam benak Janu. Ia sadar tak bisa memaksakan kehendak lagi kepadanya. Ia ternyata sudah menghancurkan sendiri mimpi yang dibangunnya dulu. Dan semua karena menutupi nafsu. Janu menutup kedua matanya.
“Baik. Hati-hati di jalan ya?”
Gendis segera keluar menuju depan kafe tersebut. Dia melihat kea rah jalanan yang sudah mulai gelap dan diterangi oleh cahaya lampu. Tiba-tiba saja pandangannya tertumbuk pada sebuah sepeda motor hitam.
“Dirja …” teriaknya dalam hati. Sesosok pengendara dengan jaket dan helm hitam tampak sedang menaiki sepeda motor lalu tampak seorang perempuan berambut panjang duduk manis di sampingnya.
“Siapa perempuan itu?”